Review Novel Love On The Brain

Mar 11, 2026 02:32 PM - 1 bulan yang lalu 14788

Love on the Brain – Apa jadinya jika cinta tidak hanya diuji oleh perasaan, tetapi juga oleh logika? Ketika hati berbicara “iya”, tapi otak sibuk menghitung kemungkinan yang terjadi.

Cinta pakai logika mungkin terdengar seperti sesuatu yang mustahil, terutama ketika hubungan romantis sering membikin seseorang kehilangan kejernihan berpikir. Perasaan yang begitu kuat kerap menyingkirkan logika, apalagi ketika kita tahu semestinya berpikir lebih rasional. Namun novel yang bakal dibahas dalam tulisan ini justru menghadirkan romansa yang unik, di mana para tokohnya mencoba menavigasi cinta dengan pertimbangan logika yang tajam dan cerdas.

Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika) merupakan karya Ali Hazelwood yang terdiri dari 448 halaman. Edisi terjemahan bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 9 Maret 2025. Buku ini termasuk best seller karya penulis yang masuk daftar The New York Times, sekaligus menjadi global best seller dan kejadian di TikTok. Novel ini juga mendapat pengakuan di arena Goodreads Choice Awards dan dikenal sebagai bagian dari cerita bertema STEMinist yang menyoroti wanita di bagian sains dan teknologi. Setelah mengenal sekilas tentang penulisnya, selanjutnya kita bakal masuk ke pembahasan sinopsis dan ulasan novel ini!

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Profil Ali Hazelwood – Penulis Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika)

Ali Hazelwood dikenal sebagai penulis romcom sekaligus pengarang The Love Hypothesis yang sukses menjadi kitab terlaris New York Times. Ia juga menulis beragam tulisan ilmiah tentang pengetahuan saraf yang sepenuhnya bebas dari segmen romantis dan sering kali tidak berhujung manis. Berasal dari Italia, Ali pernah menetap di Jerman dan Jepang sebelum akhirnya pindah ke Amerika untuk menempuh pendidikan doktoral di bagian pengetahuan saraf. Belakangan ini dia mulai mengajar dan perihal itu membuatnya cukup gugup. Di luar pekerjaannya, Ali biasanya menghabiskan waktu dengan berlari, menikmati cake pop, alias menonton movie fiksi ilmiah berbareng dua kucing kesayangannya. Ia menyukai kucing, Nutella, serta style rambut kuncir kuda samping. Saat ini dia juga sedang belajar merenda, jadi jelas bahwa hidupnya selalu dipenuhi kegiatan yang seru dan penuh warna.

Sinopsis Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika)

Bee Konigswasser tak ragu menerima tawaran NASA untuk memimpin proyek neuroengineering. Kesempatan itu betul-betul terasa seperti mimpi yang akhirnya terwujud. Hanya saja, dia kudu berbagi posisi sebagai co-lead dengan Levi Ward, laki-laki yang sejak masa S3 tampaknya tidak pernah menyukainya. Meski Levi luar biasa tampan, tinggi, dan mempesona, di mata Bee dia tetap saja menyebalkan. Namun keadaan mulai berubah saat Bee menghadapi masalah dengan peralatannya dan pendapatnya kerap diabaikan hanya lantaran dia perempuan. Tiba-tiba Levi muncul sebagai sekutu yang tak terduga. Ia selalu memihak Bee, mendukung gagasannya, apalagi membikin Bee terjebak dalam sorotan mata hijaunya yang memukau. Perubahan sikap Levi yang drastis itu membikin Bee kewalahan, seolah neuron dalam kepalanya berloncatan tak karuan. Pertanyaannya, apakah Bee sanggup membuka hatinya lagi untuk cinta?

Kelebihan dan Kekurangan Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika)

Pros & Cons

Pros

  • Premis menarik.
  • Komedia yang pas.
  • Latar belakang mengagumkan.
  • Gaya bercerita menyenangkan.
  • Cover yang elok dan menarik.

Cons

  • Karakter yang tidak mudah disukai.
  • Plot kurang mendalam.

Kelebihan Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika)

Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika) karya Ali Hazelwood mempunyai banyak sekali kelebihan yang membuatnya digemari dan dicari dalam skala global. 

  • Premis menarik

Sebagai novel best seller, ceritanya menawarkan romansa tidak suka jadi cinta yang selalu sukses menarik perhatian. Perjalanan dua orang yang awalnya bentrok lampau perlahan berubah menjadi pasangan memberikan dinamika yang seru, manis, dan susah untuk dilepaskan.

  • Komedi yang pas

Novel ini dipenuhi dengan komedi yang terasa alami dalam narasinya. Pembaca nyaris pasti dibuat terpingkal alias tersenyum oleh lawakyang ringan namun tetap berkualitas, sehingga suasana cerita terasa hidup.

  • Latar belakang mengagumkan

Ali Hazelwood menyajikan bumi STEM dengan perincian yang memukau. Setting laboratorium serta suasana proyek NASA terasa hidup dan autentik. Setiap bab apalagi dilengkapi dengan istilah ilmiah, sementara hubungan Bee dan Levi banyak terjadi di lingkungan riset. Kehadiran para intelektual lain juga memberi warna yang memperkaya bumi ceritanya.

  • Gaya bercerita menyenangkan

Ada daya tarik tersendiri dari langkah Ali bercerita, terutama kombinasi lawakdan sarkasme yang begitu khas. Pembaca bakal sering dibuat tersenyum lantaran komentar Bee yang jenaka dan tajam. Dialog maupun orasi Bee terasa pandai dan mudah membangun kedekatan dengan pembaca.

  • Cover yang elok dan menarik

Sampul novel ini juga patut dipuji lantaran tampil begitu elok dan bisa merepresentasikan isi cerita. Desainnya membikin kitab ini menonjol dan semakin mengundang rasa penasaran.

Kekurangan Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika)

Meskipun novel ini mempunyai banyak kelebihan, tapi tidak luput dari kekurangan.

  • Karakter yang tidak mudah disukai

Bagi yang tidak langsung cocok dengan sosok Bee, perjalanan membaca bisa terasa lebih berat. Suaranya kerap terdengar kekanak-kanakan dan terlalu blak-blakan seolah sedang berbincang langsung kepada pembaca. Gaya narasinya mirip catatan harian yang penuh curahan pribadi, sesuai dengan karakternya, namun tidak semua pembaca dapat menikmatinya. Terlebih dengan jumlah laman yang cukup tebal, karakter yang kurang menarik bagi sebagian orang bisa membikin pengalaman membaca terasa melelahkan.

  • Plot kurang mendalam

Cerita ini sebenarnya mempunyai banyak potensi dari beragam buahpikiran yang ditanamkan penulis. Namun beberapa plot tidak dikembangkan secara maksimal sehingga beberapa bagian terasa kurang kuat. Pendalaman bentrok dan perincian cerita semestinya bisa lebih tajam agar keseluruhan alurnya terasa lebih memuaskan.

Pengertian, Komponen, dan Manfaat STEM

Novel Love on the Brain menghadirkan suasana cerita yang kuat di bumi STEM. Namun, apakah Grameds sudah betul-betul memahami apa itu STEM? Istilah ini merupakan singkatan dari Science alias Sains, Technology alias Teknologi, Engineering alias Rekayasa, dan Mathematics alias Matematika. STEM merujuk pada pendekatan belajar yang memadukan keempat bagian tersebut secara terpadu untuk menyelesaikan persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan akhirnya adalah menumbuhkan keahlian krusial abad ke-21 seperti keahlian berpikir kritis, kreativitas, keahlian bekerja sama, dan mempersiapkan peserta didik menghadapi beragam pekerjaan di bagian terkait.

Berikut adalah komponen utama dalam STEM.

  • Science (Sains)

Ilmu yang mempelajari alam melalui bagian seperti fisika, kimia, dan biologi, yang bermaksud melatih keahlian observasi serta pola pikir ilmiah.

  • Technology (Teknologi)

Mencakup keahlian menggunakan maupun menciptakan perangkat digital, termasuk pemrograman, pembuatan aplikasi, hingga kepintaran buatan.

  • Engineering (Rekayasa)

Berhubungan dengan penggunaan prinsip matematika dan sains untuk merancang, membangun, serta menguji solusi nyata, misalnya membikin prototipe alias sistem otomatis.

  • Mathematics (Matematika)

Memberikan dasar numerik dan pemodelan untuk menganalisis data, membikin prediksi, dan menyelesaikan masalah dalam semua bagian STEM.

Manfaat pendekatan STEM

  • Pemecahan masalah

Peserta didik dilatih memecahkan persoalan nyata dengan memadukan beragam disiplin ilmu.

  • Keterampilan abad ke-21

Pendekatan ini menumbuhkan keahlian berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi yang sangat dibutuhkan di era modern.

  • Relevansi bumi nyata

Peserta didik dapat memandang gimana beragam mata pelajaran saling terhubung dan bekerja berbareng untuk menghasilkan solusi yang inovatif.

  • Persiapan karier

STEM membantu mengembangkan minat serta keahlian yang dibutuhkan untuk bekerja di bagian sains, teknologi, dan rekayasa di masa depan.

Penutup

Love on the Brain adalah referensi yang manis, menggemaskan, dan membikin siapa saja jatuh hati. Novel ini bukan hanya sekadar kisah romansa yang memadukan ketegangan dan kehangatan, tetapi juga menghadirkan perjalanan dua insan yang belajar menghadapi prasangka, membangun kepercayaan, dan menemukan keberanian untuk membuka diri. Di tengah dinamika pekerjaan, ambisi, dan tantangan di bumi STEM, cerita Bee dan Levi mengingatkan kita bahwa hubungan manusia sering tumbuh dari tempat yang tidak terduga. Kisah mereka relevan dengan kehidupan saat ini ketika banyak dari kita berjuang menyeimbangkan mimpi, tekanan kerja, serta kebutuhan untuk betul-betul dipahami oleh seseorang. 

Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika) karya Ali Hazelwood memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan dan membuka wawasan baru. Bagi Anda yang berkeinginan untuk membacanya, Anda bisa mendapatkan kitab ini dan kitab best seller yang lainnya di Gramedia.com! Sebagai #SahabatTanpaBatas, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu. 

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

1. The Love Hypothesis (Hipotesis Cinta)

The Love Hypothesis (Hipotesis Cinta) 

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Demi meyakinkan sahabatnya bahwa dia sedang berkencan, Olive Smith memerlukan asumsi dan bukti layaknya seorang ilmuwan. Di tengah kepanikan, dia mencium laki-laki pertama yang dia lihat. Laki-laki itu tak lain adalah Adam Carlsen, pengajar muda yang tampan serta cerdas, yang juga terkenal sebagai pengajar killer. 

Itulah sebabnya Olive terperangah ketika laki-laki itu mau berpura-pura menjadi pacarnya. Bahkan ketika pekerjaan Olive di ujung tanduk, Adam mengejutkannya lagi dengan support yang tanpa henti serta… otot perut menggiurkan yang tak terduga. Lama-kelamaan, penelitian mini mereka terasa berbahaya. Olive juga menyadari perihal yang lebih rumit dari asumsi cinta adalah meneliti hatinya sendiri.

2. Deep End

https://image.gramedia.net/rs:fit:0:0/plain/https://cdn.gramedia.com/uploads/product-metas/1e482e-z3v.jpg

button cek gramedia comScarlett Vandermeer berenang melawan arus. Seorang mahasiswa tingkat tiga di Stanford dan atlet pelajar yang berspesialisasi dalam loncat indah, Scarlett lebih suka menundukkan kepalanya, berkonsentrasi untuk masuk sekolah kedokteran dan memulihkan diri dari cedera yang nyaris mengakhiri kariernya. Ia tidak punya waktu untuk menjalin hubungan—setidaknya, itulah yang dia katakan pada dirinya sendiri.

Kapten renang, juara dunia, dan anak emas akuatik serba bisa, Lukas Blomqvist, tumbuh subur lantaran disiplin. Begitulah caranya dia memenangkan lencana emas dan memecahkan rekor: konsentrasi penuh pada setiap gerakan. Di permukaan, Lukas dan Scarlett tidak mempunyai kesamaan. Hingga sebuah rahasia yang dijaga ketat terbongkar, dan segalanya berubah.

Maka mereka pun memulai sebuah kesepakatan. Dan seiring tekanan menjelang Olimpiade memanas, begitu pula hubungan mereka. Seharusnya itu hanya hubungan sementara yang saling memuaskan. Namun ketika menjauh dari Lukas menjadi mustahil, Scarlett menyadari bahwa hatinya mungkin sedang terjerumus ke dalam air yang berbahaya.

3. Anonymous Crush 

Anonymous Crush

button cek gramedia com

Hidup Abeyla memang datar, tidak seru, dan lurus-lurus saja. Namun, bukan berfaedah dia juga mau hidupnya diporak-porandakan lantaran berjumpa dengan crush-nya di sebuah aplikasi berjulukan Telegram.

Selengkapnya