Beruntung bagi Generasi muda Gen Z ke atas untuk menikmati karya dari seorang musisi. Tak perlu lagi kudu bersusah payah ke toko kaset untuk bisa mendapatkan musik yang kita inginkan. Dengan ada Spotify, iTunes, maupun Youtube Music, mendengarkan musik jauh lebih simpel, irit ongkos dan mudah didapat. Membuat musik semakin dekat hingga jadi kerabat di keseharian.
Kendati musik digital terasa mudah didapat, namun dia tidak lagi memenuhi ekspektasi para pendengar. Kini, pendengar musik tak hanya menginginkan sensasi bunyi sonik alias kerasnya teriakan scream yang sebatas kagum dalam indera pendengaran. Lebih jauh dari itu kemauan yang intim terhadap kekaryaan musisi, ialah dari segi histori, visual, hingga makna yang diterima. Hal itu bisa terjadi kala menggenggam sebuah rilisan fisik: kaset pita, compact disc (CD), dan vinyl.
Bagi saya, kejadian rilisan bentuk tetap relevan saat ini apalagi merambah ke generasi baru. Berkaca saat peluncuran vinyl album pertama Perunggu "Memorandum" oleh besutan label rekaman independen Bandung, Disaster Records, yang ludes terjual hitungan menit, waktu silam. Di tengah gemuruh jasa streaming hingga algoritma, rilisan bentuk semacam ini bakal menjadi pengalaman intim dengan musisi lewat diskografi nyata, lebih lagi identitas alias simbol baru di kalangan Generasi Z.
demajors Akan Edarkan Vinyl David Bayu, ERK, Indra Lesmana, dan Lorjhu’ dalam Format Prapesan/ Foto: demajors |
Identitas Baru Skena Musik Gen Z
Beragamnya saluran digital musik, seperti Spotify, iTunes, dan Youtube Music, membikin pengalaman kita dalam mendengarkan musik tak lagi berciri unik alias lewat begitu saja dari tubuh kita. Kita hanya didengarkan oleh gubahan melodic alias teriakan melengking seniman vokal yang tak begitu membekas di batin. Tak seperti rilisan bentuk yang membaurkan semua pengalaman: keelokan visual hingga kepuasan batin. Begitu yang saya rasakan.
Begitupun penyuguhan lagu-lagu dalam saluran digital, serasa kita didikte oleh platform ini dengan algoritma yang dikemas untuk mendongkrak popularitas. Tak ayal, kemunculan TikTok musik semakin mengganaskan algoritma musik di media daring hingga mengubah pendengar musik kiwari. Kita saat ini dicekoki dengan ringtone yang sama, yang susah untuk kita hindarkan. Seakan sekarang lagu terjerembab pada wahana viralitas.
Dengan begitu, terjadi jarak keintiman antara sebuah kekaryaan dengan penikmat karya (kita) akibat dari platform musik digital yang terpaku pada algoritma. Membuat karenanya kembali kepada rilisan bentuk kiwari dapat menjadi pelipur keganasan algoritma hingga memperluas pengalaman baru alias kembali menggelorakan masa lalu.
Pengalaman tersebut akhirnya saya rasakan kala menjemput vinyl album "Vakansi" White Shoes and The Couples Company besutan label rekaman independen, demajors. Dibuahi dengan 13 lagu dan dua Long Playing vinyl 12' inch yang dikelilingi oleh visual-visual band tersebut yang memanjakan mata.
Kini, Ihwal tersebut juga teraktualkan di kalangan Generasi Z lainnya, dengan kembali meramaikan toko kaset alias sebatas menjemput peralatan tenar era 90-an ini di lokapasar. Kegandrungan generasi baru bakal media bentuk terutama vinyl telah ditinjau oleh Vinyl Alliance bahwa Gen Z mendominasi pasar vinyl dunia sebesar 76%.
Bahkan ada 61% dari mereka beranjak mendengarkan musik analog. Dasar mereka sederhana, mau memberikan jarak dari kehidupan digital yang mengganas. Seraya kejengahan akibat disetir oleh algoritma, menggenggam diskografi bentuk seniman dapat menjadi sebuah identitas diri.
Vinyl album Perunggu yang baru./ Foto: Instagram |
Ia bukan lagi sekadar media pemutar musik lawas, melainkan simbol tiap perseorangan dalam masyarakat. Hal ini dikemukakan oleh Russel W. Belk, seorang mahir perilaku konsumen, dalam teori konsumsi simbolik, bahwa peralatan yang kita konsumsi bukan lagi dilihat dalam kacamata utilitarian (manfaat), tetapi untuk menyampaikan suatu identitas sosial.
Kini, menggenggam rilisan bentuk pun menyiratkan seperti itu. Bagaimana kepemilikan barang-barang tertentu, dalam perihal ini rilisan fisik, menjadi bagian dari ekspresi "diri yang diperluas" alias extended self. Membuat rilisan bentuk tak terpaut hanya barang meninggal alias membelinya sebatas didengar, lebih jauh menjadi simbol di kehidupan: selera hingga status sosial.
"Gue anak vintage". Kira-kira seperti itu di gambaran mereka. Pasalnya banyak juga anak muda sekarang yang membeli rilisan bentuk ialah vinyl hanya diukur dari nilai estetika. Barang ini jadinya berubah kegunaan hanya menjadi pajangan/aksesoris rumah, tak lagi diindahkan dengan indera pendengaran. Tak apa, itu hanya preferensi. Bagaimanapun membeli rilisan bentuk bakal membantu si band tersebut tetap eksis termasuk label rekaman.
Namun, ada yang lebih fenomenal di generasi baru saat ini dalam menyikapi media fisik, ialah melahirkan suatu aktivitas alias resistensi terhadap algoritma. Resistensi massif itu dinamakan "Rebellion Against Subscription Base and Digital Platform".
Sebuah perlawanan dari kalangan Gen Z yang jengah terhadap algoritma musik kiwari. Fenomena bangkitnya rilisan bentuk di genggaman Gen Z menjadi simbol plural: selera, status sosial, hingga perlawanan di tengah gegap gempita algoritma.
Sebab dari menjemput rilisan bentuk kita hanya dapat mengonsumsi musik yang mau kita dengarkan, apalagi lebih jauh: khazanah yang didapat dari diskografi tersebut, yakni: sejarah, visual hingga makna musik yang terpotret dalam sampul rilisan fisik.
Penulis: Iqra Ramadhan Karim
Editor: Dian Rosalina
*Segala pandangan dan opini yang disampaikan dalam tulisan ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab penulis dan tidak mencerminkan pandangan resmi lembaga alias pihak media online.*
(ktr/DIR)
demajors Akan Edarkan Vinyl David Bayu, ERK, Indra Lesmana, dan Lorjhu’ dalam Format Prapesan/ Foto: demajors
Vinyl album Perunggu yang baru./ Foto: Instagram