Sakit Kaki Dan Ruam Dikira Campak, Anak Ini Ternyata Didiagnosis Leukemia

Mar 12, 2026 08:25 PM - 1 bulan yang lalu 18222

Jakarta -

Nasib malang menimpa seorang anak berjulukan Aubrey. Awalnya, sakit kaki dan ruam yang muncul membikin orang tuanya mengira itu adalah perihal yang normal.

Seperti anak pada umumnya, Aubrey pertama kali mengeluh sakit lantaran cedera otot di kakinya. Sang Bunda, Madeleine Shipp, mengira itu hanyalah bagian dari pertumbuhan anak.

"Dia sebenarnya pernah melakukan aktivitas split di sekolah, jadi kami juga mengira dia mengalami cedera otot di kakinya," kata Madeleine, dikutip dari The Sun.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Beberapa bulan kemudian, Aubrey bangun dengan tubuhnya yang penuh dengan bintik-bintik merah. Bunda Madeleine pun mengira putrinya terkena campak, penyakit menular dan bisa menimbulkan masalah serius pada sebagian orang.

Namun, ketika Aubrey mulai muntah darah, sang Bunda sadar ada yang tidak beres. Ternyata, setelah pemeriksaan, sang anak didiagnosis menderita leukemia.

Awal mula Aubrey didiagnosis leukemia

Aubrey dipindahkan ke rumah sakit Great Ormond Street di London. Di sana, master memastikan dia menderita Leukemia Limfoblastik Akut (ALL), ialah kanker darah dan sumsum tulang yang tergolong langka.

Bagi Madeleine dan suaminya, James, berita jelek itu tetap terasa seperti mimpi. Sebelum sakit, Madeleine bercerita bahwa putrinya adalah anak yang sehat dan jarang sekali sakit.

"Sebelum didiagnosis, Aubrey adalah anak yang sehat, jenis anak yang tidak pernah sakit," katanya.

"Dia periang, dia senang berjumpa teman-temannya dan pergi ke sekolah. Mata pelajaran favoritnya adalah sains dan dia mau menjadi intelektual ketika dewasa nanti," lanjutnya.

Sebelumnya, tes darah Aubrey menunjukkan hasil negatif untuk kanker. Hal ini terjadi lantaran saat itu dia tetap terlalu awal untuk mendeteksi penyakit tersebut, Bunda.

"Dia tidak menunjukkan indikasi lain. Banyak anak yang menunjukkan indikasi penurunan berat badan, kelelahan, dan sakit, tetapi Aubrey tidak mengalami perihal itu," ungkapnya.

Seiring waktu berjalan, kesehatan Aubrey tiba-tiba memburuk dengan begitu cepat. Awalnya, sang Bunda mengira putrinya terkena campak, sehingga dia menghubungi jasa medis di Inggris, NHS 111.

"Dia terbangun dengan bercak-bercak di sekujur tubuhnya dan dia mulai muntah darah," katanya.

Melihat kondisi Aubrey, tim medis pun langsung membawanya ke rumah sakit Broomfield di Chelmsford. Madeleine pun merasa beruntung lantaran saat itu ada master yang sedang bertugas.

Setelah diberitahu hasil pemeriksaan Aubrey, Madeleine mengaku sangat sedih dan merasa bingung, Bunda. Semua yang terjadi pada putrinya itu terasa begitu cepat.

"Para master berkata, 'Saya sangat menyesal, tetapi dia menderita kanker, sepertinya leukemia,'. Saya sangat sedih, sangat bingung, dan saya mulai menangis dan berteriak," jelasnya.

Selama perjalanan menuju rumah sakit, Aubrey dipasang perangkat bantu pernapasan. Sang Bunda pun terus berambisi putrinya bisa memperkuat hingga mendapatkan perawatan.

"Sepanjang waktu saya berpikir, 'Bertahanlah sampai kita sampai di sana. Tunggu saja sampai kita sampai di sana. Kumohon, jangan pergi selagi kita di dalam ambulans'," kata Madeleine.

Perjuangan Aubrey melawan penyakit leukemia

Hasil biopsi sumsum tulang menunjukkan bahwa Aubrey menderita ALL sel B (B-cell Acute Lymphoblastic Leukemia). Ia mengalami jangkitan yang cukup parah, sehingga bakal terlalu sakit jika langsung memulai pengobatan.

Tak berselang lama, Aubrey mulai menjalani kemoterapi, yang kemudian dilanjutkan dengan imunoterapi, ialah metode pengobatan untuk menghancurkan sel kanker.

Selama perawatan, Aubrey mengalami kerontokan rambut dan beberapa komplikasi, termasuk penumpukan cairan di paru-parunya. Namun, kondisinya sekarang diketahui mulai membaik, Bunda.

Aubrey yang sekarang berumur enam tahun sedang menjalani kemoterapi kedua dan bakal menjalani tahap perawatan lanjutan selama 18 bulan ke depan.

Meski sempat tidakhadir sekolah selama berbulan-bulan, semangat Aubrey tetap tinggi dan dia sangat mau kembali ke kelas. Karena itu, Bunda Madeleine mengajaknya pergi ke sekolah untuk berjumpa pembimbing dan teman-temannya.

"Kami membawanya menemui pembimbing kelas duanya dan dia menangis kepadanya, sembari berkata, 'Aku mau kembali sekolah sekarang'," ujarnya.

"Dia sangat menyukainya, dia berkembang pesat di sekolah. Dia punya semua temannya di sana dan dia sangat aktif dalam pelajaran," tuturnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Selengkapnya