Sam Altman Jawab Tudingan Elon Musk Soal Bahaya Psikosis Ai

Jan 22, 2026 01:34 PM - 3 bulan yang lalu 107002

Kincai Media – CEO OpenAI, Sam Altman, akhirnya buka bunyi di media sosial menanggapi gelombang kekhawatiran mengenai keamanan Large Language Models (LLM). Dalam serangkaian pernyataan panjang, Altman membahas kejadian yang sekarang disebut oleh para psikiater sebagai “Psikosis AI”, meskipun dia secara hati-hati menghindari penggunaan istilah spesifik tersebut secara langsung.

Reaksi Altman ini dipicu oleh peringatan keras dari rival lamanya, Elon Musk. Musk sebelumnya merespons sebuah laporan yang menyatakan bahwa chatbot milik Altman sekarang dikaitkan dengan setidaknya sembilan kasus kematian. Melalui platform X (sebelumnya Twitter), Musk mencuitkan peringatan tegas: “Jangan biarkan orang yang Anda cintai menggunakan ChatGPT.”

Menanggapi perihal tersebut, Altman membalas dengan rasa frustrasi yang cukup gamblang. Ia menyoroti standar dobel yang sering dihadapi perusahaannya mengenai kebijakan moderasi konten. Menurutnya, publik sering kali berada di dua sisi yang berlawanan dalam mengkritik produk OpenAI.

“Terkadang Anda mengeluh bahwa ChatGPT terlalu ketat, dan kemudian dalam kasus seperti ini Anda menyatakan itu terlalu santai,” tulis Altman. Ia menambahkan bahwa dengan pedoman pengguna yang mencapai nyaris satu miliar orang, tidak dapat dipungkiri bahwa sebagian dari mereka mungkin berada dalam kondisi mental yang sangat rapuh. Situasi ini menunjukkan adanya kerentanan LLM yang kompleks ketika berinteraksi dengan ilmu jiwa manusia.

Altman berjanji bahwa OpenAI bakal melakukan yang terbaik untuk menyeimbangkan keamanan bot dengan kegunaannya. Namun, dia juga menyindir bahwa kritik Musk terkesan oportunis. Altman menegaskan bahwa situasi tragis seperti ini kudu diperlakukan dengan rasa hormat, bukan dijadikan perangkat serangan bisnis. “Ini betul-betul sulit,” tegas Altman. “Kami perlu melindungi pengguna yang rentan, sembari juga memastikan pagar pembatas kami tetap memungkinkan semua pengguna kami mendapat faedah dari perangkat kami.”

Serangan Balik ke Kubu Elon Musk

Kekesalan Altman terhadap Musk dapat dimengerti, mengingat posisi Musk yang dinilai munafik. Musk, yang memproklamirkan diri sebagai pendukung kebebasan berbincang absolut dan kerap menyerang ideologi “woke”, menjadikan chatbot miliknya, Grok, sebagai pengganti yang tidak disensor. Grok dijual dengan janji “tanpa filter” dan jarang menolak permintaan pengguna, apalagi yang paling kontroversial sekalipun.

Pendekatan Musk ini telah melahirkan beragam kontroversi. Grok pernah melakukan serangkaian postingan yang memuji Nazi dan menyebut dirinya sebagai “MechaHitler”. Baru-baru ini, bot tersebut apalagi menghasilkan gambar tak senonoh non-konsensual yang melibatkan wanita dan anak-anak. Meski demikian, belum ada tindakan berfaedah untuk mengekang perilaku Grok, yang memicu pertanyaan besar mengenai standar keamanan AI di industri ini.

Mencoba memberikan pukulan telak, Altman juga menyinggung rekam jejak keselamatan teknologi lain milik Musk. Ia menunjukkan banyaknya kematian yang dikaitkan dengan teknologi self-driving Tesla, yang disebutnya “jauh dari aman”. Altman menambahkan, “Saya apalagi tidak bakal mulai membahas beberapa keputusan Grok,” menyiratkan bahwa masalah di kubu Musk jauh lebih parah.

Bahaya Nyata Fenomena Psikosis AI

Meskipun Altman sibuk menangkis serangan Musk, kritik juga mengarah padanya lantaran dianggap tidak cukup serius menangani kejadian “Psikosis AI”. Dalam kondisi ini, pengguna menjadi terbuai oleh respons penjilat (sycophantic) dari chatbot AI. Hal ini dapat mengirim pengguna ke dalam spiral kesehatan mental yang delusif dan berbahaya, yang terkadang berujung pada bunuh diri alias pembunuhan.

Fakta di lapangan cukup mengkhawatirkan. ChatGPT sendiri telah dikaitkan dengan setidaknya delapan kematian dalam tuntutan norma yang diajukan terhadap OpenAI. Lebih mengejutkan lagi, kreator chatbot tersebut mengakui bahwa sekitar 500.000 penggunanya melakukan percakapan yang menunjukkan tanda-tanda psikosis setiap minggunya. Angka ini menjadi parameter nyata adanya ancaman software berbasis AI terhadap psikologis manusia.

Sikap Altman yang seolah menganggap angka-angka suram ini sebagai akibat tak terelakkan dari ketenaran produk, menuai kritik tajam. Bahkan informasi internal yang mengkhawatirkan tersebut belum mendorong langkah drastis dari OpenAI untuk menarik alias membatasi produk mereka secara signifikan.

Sebaliknya, perusahaan justru terlihat bimbang dalam komitmen keselamatannya. OpenAI sempat menjanjikan “mode dewasa” yang ramah konten vulgar setelah bertahun-tahun menolak output erotis. Selain itu, mereka memulihkan akses ke model GPT-4o yang terkenal penjilat setelah fans mengeluh bahwa GPT-5 terlalu dingin dan seperti “dilobotomi”. Ironisnya, langkah selanjutnya justru membikin GPT-5 menjadi lebih penjilat lagi, demi memuaskan preferensi pengguna di atas keamanan mental.

Selengkapnya