Serba-serbi Tren Quiet Quitting Menurut Pakar

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 4 menit 532x dilihat
Serba-serbi Tren Quiet Quitting Menurut Pakar

Bagikan Postingan

Apakah “Quiet Quitting” alias Tren Kerja Secukupnya Bagus di Dunia Kerja? Ini Kata Pakar/ Foto: Magnific.com/Partystock

Pernahkah Beauties merasa kudu selalu bekerja lebih lama agar dianggap sebagai tenaga kerja yang baik? Belakangan, muncul istilah quiet quitting, ialah kebiasaan bekerja sesuai tugas dan jam kerja tanpa terus mengambil pekerjaan tambahan. Namun, apakah ini berfaedah seseorang malas bekerja? Jawabannya belum tentu.

Quiet quitting bisa menjadi langkah untuk menjaga pemisah antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Namun, kebiasaan ini juga bisa menjadi masalah jika membikin seseorang betul-betul kehilangan motivasi dan tidak lagi peduli dengan pekerjaannya. Lantas, sebenarnya apakah quiet quitting baik untuk dilakukan? Berikut penjelasan para pakar.

Apa Itu Quiet Quitting?

Quiet quitting bukan berfaedah berakhir bekerja, melainkan bekerja sesuai tanggung jawab tanpa merasa kudu selalu melakukan lebih dari kewajiban/ Foto: Magnific.com/Prostooleh
Quiet quitting bukan berfaedah berakhir bekerja, melainkan bekerja sesuai tanggung jawab tanpa merasa kudu selalu melakukan lebih dari kewajiban/ Foto: Magnific.com/Prostooleh

Quiet quitting bukan berfaedah betul-betul berakhir dari pekerjaan. Istilah ini lebih mengarah pada sikap bekerja sesuai tanggung jawab yang sudah diberikan, tanpa merasa kudu selalu melakukan lebih. Misalnya, menyelesaikan tugas selama jam kerja, tidak terus-menerus lembur, alias berani mengatakan tidak pada pekerjaan tambahan yang memang tidak diperlukan.

Mengutip CNBC, Michael Timmes, senior specialist dari perusahaan konsultan sumber daya manusia Insperity, mengatakan bahwa konsep ini sebenarnya bukan perihal baru. Namun, istilah quiet quitting semakin terkenal lantaran dibicarakan luas di media sosial.

Kenapa Banyak Pekerja Melakukannya?

Keinginan menjaga work-life balance dan menghindari kelelahan menjadi salah satu argumen pekerja mulai menetapkan pemisah dalam pekerjaan/ Foto: Magnific.com/Magnific

Salah satu alasannya adalah kemauan untuk mempunyai work-life balance yang lebih sehat. Terlalu sering bekerja lembur alias selalu mengatakan “iya” pada pekerjaan tambahan bisa membikin seseorang kelelahan. Jaya Dass, Managing Director Randstad untuk Singapura dan Malaysia, memandang quiet quitting sebagai corak kemauan pekerja untuk mengambil kembali kendali atas kehidupan kerja dan pribadinya.

Sementara itu, Kelsey Wat, seorang career coach, mengatakan bahwa tren ini juga dapat menjadi respons terhadap dugaan bahwa seseorang kudu selalu melakukan lebih untuk bisa dianggap sukses di tempat kerja.

Apakah Quiet Quitting Bisa Berdampak Positif?

ika dilakukan dengan tetap bertanggung jawab, quiet quitting dapat membantu pekerja menjaga energi, beristirahat, dan mempunyai kehidupan di luar pekerjaan/ Foto: Magnific.com/Magnific

Bisa, terutama jika tujuannya adalah menjaga pemisah kerja, bukan bermalas-malasan. Dengan waktu rehat yang cukup, pekerja dapat merasa lebih segar dan menggunakan waktu kerjanya dengan lebih efektif. Michael Timmes menilai quiet quitting dapat memberi pekerja lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal di luar pekerjaan, sehingga mereka bisa kembali bekerja dengan pikiran yang lebih segar dan apalagi lebih efisien.

Kelsey Wat juga menyebut bahwa mengambil jarak dari pekerjaan untuk sementara dapat membantu seseorang memulihkan diri dari burnout dan memahami kembali batas yang dibutuhkan di tempat kerja.

Kapan Quiet Quitting Justru Jadi Masalah?

Quiet quitting menjadi masalah ketika pemisah kerja berubah menjadi sikap tidak peduli, minim usaha, dan enggan berkembang alias bekerja sama dengan tim/ Foto: Magnific.com/Benzoix

Quiet quitting mulai menjadi masalah jika berubah menjadi sekadar melakukan pekerjaan seminimal mungkin tanpa peduli pada hasilnya. Timmes menegaskan bahwa ada perbedaan antara menjaga work-life balance dan betul-betul tidak terlibat dalam pekerjaan.

Contohnya, seseorang terus menolak tugas tanpa argumen yang jelas, tidak mau mengembangkan keterampilan, tidak fleksibel, alias tidak tertarik bekerja sama dengan tim. Menurutnya, kondisi seperti ini apalagi dapat memicu bentrok lantaran rekan kerja bisa merasa kudu menanggung beban pekerjaan yang lebih besar.

Jadi, Haruskah Ikut Quiet Quitting?

Tidak perlu mengikuti tren. Yang terpenting adalah menemukan pemisah kerja yang sehat tanpa mengabaikan tanggung jawab dan kualitas pekerjaan/ Foto: Magnific.com/Kamranaydinov

Tidak perlu mengikuti tren ini hanya lantaran sedang populer. Hal lebih krusial adalah menemukan langkah bekerja yang sehat, tetap bertanggung jawab, dan sesuai dengan pemisah diri. Maggie Perkins, yang pernah menerapkan quiet quitting saat menjadi guru, mengatakan dirinya tetap menghargai pekerjaan dan menjalankan tanggung jawab, tetapi mau lebih menghormati waktu serta energinya.

Ia apalagi kembali bersedia memberikan upaya ekstra ketika bekerja di lingkungan yang sehat dan merasa dihargai. Jadi, quiet quitting bukan tentang bekerja sebanyak-banyaknya alias sesedikit mungkin, melainkan mengetahui kapan kudu memberikan yang terbaik dan kapan perlu menetapkan batas.

***

Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik wanita dan juga laki-laki, kami juga mempunyai organisasi unik untuk Anda yang tetap berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(dmh/dmh)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads