AI (Artificial Intelligence) kini semakin dekat dengan keseharian anak muda. Mulai dari mencari ide tugas, memahami materi pelajaran, membikin rangkuman, sampai membantu menyusun beragam pekerjaan, penggunaan AI sudah menjadi bagiankecil dari aktivitas sehari-hari.
Melihat hal tersebut, OpenAI memperkenalkan PandAI untuk Keluarga (Panduan Praktis AI untuk Keluarga) pada 30 September 2026. Panduan ini datang berbarengan dengan peluncuran ChatGPT untuk Remaja dan ditujukan untuk membantu remaja serta orang tua memahami penggunaan AI dengan lebih terlindungi dan bertanggung jawab.
Baca juga: 6 Kampus dengan Jurusan AI di Indonesia untuk Jenjang Sarjana dan Magister!
OpenAI Kenalkan ‘PandAI’ untuk Pengguna Remaja

AI memang bisa mempermudah banyak hal. Namun, semakin sering digunakan, semakin krusial juga untuk memahami metode menggunakannya dengan tepat.
Misalnya, ketika menggunakan AI untuk mencari informasi, kita statis perlu mengecek balik jawabannya. Begitu juga dengan keterangan pribadi yang dibagikan saat berhubungan dengan chatbot.
Hal-hal seperti berpikir kritis, menjaga privasi, dan mengetahui kapan perlu mencari bantuan menjadi bagiankecil dari PandAI.
OpenAI mengatakan panduan ini dibuat agar famili bisa memahami penggunaan AI berbareng dan membangun kebiasaan yang sesuai dengan kebutuhan serta usia remaja.
Kehadiran PandAI juga berhubungan dengan statis terbatasnya pemahaman sebagian orang tua tentang AI. Berdasarkan survei mendunia UNICRI pada 2025, 44% orang tua merasa belum memiliki ilmu yang cukup untuk membimbing anak menggunakan AI.
Artinya, bukan cuma remaja yang perlu belajar soal AI. Orang tua juga perlu memahami sepertiapa teknologi ini digunakan dalam hayat sehari-hari.
PandAI Dilengkapi Kartu mAIn

PandAI dikembangkan berbareng Good Enough Parents, platform edukasi parenting Indonesia. Salah satu bagiankecil dari panduan ini adalah Kartu mAIn, yaitu kartu percakapan yang dirancang untuk membantu orang tua dan remaja membicarakan penggunaan AI.
Topiknya mencakup berpikir kritis, privasi, hingga situasi ketika seseorang perlu mencari sokongan dari orang lain.
Dengan begitu, pembicaraan mengenai AI diharapkan enggak muncul ketika ada masalah. Orang tua dan remaja bisa mulai membicarakannya dari pengalaman sehari-hari.
Sandy Kunvatanagarn, Head of Policy, Southeast Asia, OpenAI, mengatakan:
“AI dapat membuka beragam kesempatan bagi generasi muda untuk belajar dan mengeksplorasi hal baru. Di saat yang sama, orang tua tentu mau statis merasa percaya bahwa AI digunakan dengan perlindungan dan pendampingan yang tepat. Keluarga enggak perlu memilih antara akses terhadap teknologi dan keamanan karena keduanya dapat berjalan beriringan. Karena itu, keterlibatan orang tua statis krusial untuk menciptakan ruang yang terbuka bagi remaja untuk berbincang dan menentukan limitasi bersama. Melalui PandAI, kami mengharapkan semakin banyak famili yang merasa lebih siap untuk menjalani proses ini bersama,”
Ada Juga ChatGPT untuk Remaja

Selain PandAI, OpenAI sebelumnya memperkenalkan ChatGPT untuk Remaja, pengalaman yang diterapkan secara otomatis bagi pelanggan yang teridentifikasi berumur di bawah 18 tahun.
Pengalaman tersebut menghadirkan perlindungan yang disesuaikan dengan usia, fitur keamanan dan pembelajaran tambahan, serta sokongan dari orang dewasa tepercaya.
ChatGPT untuk Remaja juga dilengkapi sejumlah fitur untuk membantu penggunaan AI yang lebih sehat dan terarah. Beberapa di antaranya adalah:
Beberapa fitur yang tersedia meliputi:
- Pengingat Istirahat: membantu pelanggan memungut selang dari penggunaan ChatGPT.
- Jam Tenang: memungkinkan pengaturan waktu ketika ChatGPT tidak digunakan.
- Mode Belajar: membantu proses belajar agar lebih terarah.
- Pengawasan Orang Tua: memungkinkan orang tua menghubungkan akun dengan akun remaja untuk mengelola sejumlah pengaturan dan menerima notifikasi keamanan dalam situasi tertentu.
Meski begitu, orang tua enggak dapat melihat percakapan remaja. Privasi percakapan statis dijaga.
Baca juga: 7 Tools AI untuk Bantu UMKM Buat Konten Lebih Mudah
Orang Tua Tak Harus Selalu Punya Semua Jawaban

Menurut Damar Wahyu Wijayanti, Parenting Educator dan Co-Founder Good Enough Parents, mendampingi remaja menggunakan AI bukan berarti orang tua mesti selalu menjadi orang yang paling memahami teknologi.
“Mendampingi remaja di tengah evolusi AI bukan berarti orang tua mesti selalu memiliki semua jawabannya. Hal yang lebih krusial adalah keinginan untuk belajar bersama, mendengarkan sepertiapa remaja menggunakan AI, dan membuka ruang bagi mereka untuk bercerita tentang pengalaman tersebut. PandAI dapat menjadi titik mula bagi famili untuk membangun kebiasaan tersebut dan menentukan metode menggunakan AI yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing,”

Sementara itu, Pritta Tyas Mangestuti, Psikolog Klinis dan Keluarga sekaligus Co-Founder Good Enough Parents, menilai perlindungan yang disesuaikan dengan usia dapat melengkapi peran orang tua dalam mendampingi remaja menggunakan AI.
“Remaja statis eksis dalam proses belajar mengenali limitasi dan memungut keputusan secara mandiri. Kehadiran perlindungan yang disesuaikan bagi remaja, seperti yang diterapkan OpenAI dalam ChatGPT untuk Remaja, menjadi cara positif untuk melengkapi peran orang tua dalam mendampingi penggunaan AI. Teknologi dapat membantu menciptakan ruang yang lebih aman, tetapi keterlibatan orang tua statis krusial agar remaja memiliki tempat untuk bertanya dan mencari sokongan ketika membutuhkannya,”
Jadi, Apa yang Perlu Diingat Saat Pakai AI?

Kehadiran PandAI memberitahu bahwa pembicaraan soal AI kini enggak berhubungan dengan seberapa canggih teknologinya. Cara menggunakannya juga menjadi hal yang penting, terutama bagi remaja yang semakin sering berhubungan dengan AI.
Mulai dari menjaga privasi, enggak langsung percaya pada semua balasan AI, berpikir kritis, hingga tahu kapan mesti mencari bantuan, semuanya menjadi bagiankecil dari kebiasaan menggunakan AI dengan lebih bertanggung jawab.
AI bisa menjadi alat yang membantu belajar dan mengeksplorasi beragam hal. Namun, statis ada limitasi yang perlu dipahami. Dengan semakin banyaknya remaja yang menggunakan AI setiap minggu, kapasitas untuk menggunakan teknologi ini secara terlindungi dan bijak pun menjadi semakin relevan.
Baca juga: Dampak Negatif AI yang Harus Dihindari di Dunia Pendidikan, Bikin Kehilangan Skill!
Gabung kelompok Girls Beyond Circle dan dapatkan keterangan menarik lainnya!