Studi Ungkap Perempuan Cerdas Lebih Sering Dinilai Negatif di Tempat Kerja

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 92x dilihat
Studi Ungkap Perempuan Cerdas Lebih Sering Dinilai Negatif di Tempat Kerja

Bagikan Postingan

Kenapa ya perempuan cerdas justru lebih sering dinilai negatif di tempat kerja? Mari simak kata studi soal hal ini.

Punya kecerdasan dan kapasitas berpikir kritis menjadi modal krusial untuk membangun karier. Perempuan yang bisa menganalisis permasalahan dengan cepat, memberikan ide cemerlang, hingga menemukan solusi atas masalah pekerjaan umumnya diharapkan mendapat apresiasi dari mitra kerja.

Sebuah riset terbaru menemukan bahwa kapasitas ilmuwan tinggi rupanya tidak selalu mendatangkan respon positif, terutama bagi perempuan di lingkungan profesional. Studi mengungkap adanya perbedaan perlakuan terhadap perempuan dan lelaki dengan tingkat kecerdasan yang sama.


Perempuan yang memiliki kapasitas kognitif tinggi justru lebih berisiko dipandang negatif, mendapatkan sokongan lebih sedikit, hingga mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari mitra kerja. Sebaliknya, lelaki dengan kapasitas serupa cenderung tidak menghadapi akibat sosial yang sama.

"Selama ini, kita cenderung menganggap kecerdasan sebagai kualitas yang selalu membawa akibat positif di lingkungan kerja. Namun riset kami memberitahu bahwa kecerdasan dapat menimbulkan akibat interpersonal yang sangat berbeda bagi perempuan dan laki-laki," ujar penulis utama penelitian, Dr. Nitya Chawla dilansir dari Daily Mail.

Temuan ini balik menyoroti sepertiapa stereotip jenis gender statis dapat memengaruhi hubungan antarpegawai di bumi kerja. Mari ulas mengenai stigma perempuan cerdas di lingkungan kerja menurut pakar.

Perempuan cerdas lebih rapuh dengan penilaian negatif

Penelitian berjudul Understanding the Intersection of Gender and Cognitive Ability on Interpersonal Outcomes: A Multistudy Investigation yang diterbitkan pada 18 Mei 2026 dalam Journal of Applied Psychology ini melibatkan 826 orang dari 140 himpunan kerja.

Para peneliti meminta peserta menjalani tes kapasitas kognitif. Mereka juga mengumpulkan penilaian mengenai hubungan antarpegawai, termasuk persepsi terhadap sikap mitra kerja, sokongan yang diterima, serta pengalaman perlakuan tidak menyenangkan di lingkungan profesional.

Hasilnya memberitahu bahwa perempuan dengan kapasitas ilmuwan tinggi lebih sering dianggap memiliki sikap bertikai maupun kurang ramah. Mereka juga cenderung mendapatkan pertolongan lebih sedikit dari mitra satu tim dan melaporkan pengalaman buruk yang lebih banyak di tempat kerja.

Sementara itu, lelaki dengan kapasitas kognitif sederajat tidak memberitahu pola serupa. Bahkan dalam beberapa kondisi, mereka justru memperoleh sokongan lebih besar dari rekan-rekannya.

Dr. Nitya Chawla menjelaskan bahwa kecerdasan selama ini sering dipandang sebagai kualitas positif dalam bumi profesional. Namun hasil riset mereka memperlihatkan bahwa kapasitas tersebut dapat menimbulkan akibat sosial yang berbeda bagi perempuan dan laki-laki.

Stereotip jenis gender statis mempengaruhinya

Salah satu klarifikasi yang diajukan peneliti berhubungan dengan ekspektasi sosial terhadap perempuan. Dalam lingkungan kerja, perempuan sering kali diharapkan memiliki karakter hangat, kooperatif, gampang diajak bekerja sama, dan memperhatikan kebutuhan orang lain.

Ketika seorang perempuan memperlihatkan kapasitas analisis yang kuat, berani menyampaikan pendapat, maupun menonjol karena kompetensinya, orang lain bisa saja menilainya sebagai pribadi yang kurang ramah maupun sulit didekati. Padahal kapasitas berpikir kritis dan ketegasan dalam memungut keputusan tidak memberitahu bahwa seseorang memiliki sikap buruk.

"Temuan kami memberitahu bahwa stereotip jenis gender berpartisipasi dalam membentuk metode orang memaknai kecerdasan. Ketika perempuan memiliki kecerdasan tinggi, mereka secara otomatis juga dipersepsikan kurang hangat dan lebih bermusuhan. Sementara itu, lelaki tidak menghadapi beban persepsi yang sama," ucap Dr. Chawla.

Dengan kata lain, kualitas sama bisa menghasilkan kesan berbeda bersandar pada siapa yang memilikinya. Laki-laki yang kompeten lebih gampang mendapatkan pengakuan atas kemampuannya, sedangkan perempuan terkadang merasa mesti membuktikan bahwa dirinya tidak cuma pintar, tapi juga menyenangkan dan gampang diajak bekerja sama.

Perlakuan tidak fair bisa terjadi pada perempuan di tempat kerja

Diskriminasi terhadap perempuan cerdas di tempat kerja tidak selalu ditunjukkan melalui komentar kasar maupun kritik terbuka terhadap kapasitas mereka. Bentuknya justru bisa muncul dalam hubungan sehari-hari yang kelihatan sepele, seperti tidak dilibatkan dalam diskusi informal, jarang dimintai pendapat, tak mendapatkan pertolongan ketika menghadapi kesulitan, maupun kurang memperoleh sokongan dari mitra satu tim.

Jika terus berulang, pengalaman tersebut dapat memengaruhi kenyamanan seseorang dalam bekerja sekaligus menghalangi evolusi kariernya. Seseorang yang tidak memperoleh informasi, bantuan, dan kerja sama secara memadai tentu akan menghadapi tantangan lebih besar dalam menyelesaikan tugas.

"Pengalaman interpersonal ini sering kali tidak cuma terjadi dalam satu interaksi. Sebaliknya, perlakuan tersebut cenderung berulang sehingga memengaruhi rasa memiliki perempuan di lingkungan kerja, akses mereka terhadap sumber daya, serta kapasitas untuk berkembang secara profesional," tambah Dr. Chawla.

Penelitian sebelumnya temukan gejala serupa

Temuan tersebut sejalan dengan riset lain yang diterbitkan pada 2024. Studi itu meneliti hubungan antara persepsi kecerdasan dahsyat maupun brilliance dengan ekspektasi tradisional terhadap karakter feminin.

Penelitian tersebut melibatkan 920 peserta dalam empat percobaan yang telah dirancang sebelumnya. Hasilnya memberikan bukti bahwa perempuan yang dianggap sangat cerdas berpotensi menghadapi akibat sosial, termasuk penilaian negatif dalam penilaian yang berhubungan dengan pekerjaan.

Hal ini memberitahu bahwa permasalahan yang dihadapi perempuan bisa tinggi bukan semata-mata berhubungan dengan hubungan di satu instansi maupun himpunan kerja tertentu. Stereotip mengenai sepertiapa perempuan seharusnya bersikap juga dapat memengaruhi metode lingkungan menilai kecerdasan dan kompetensi mereka.

Meski demikian, temuan dari kedua riset tidak berarti semua perempuan cerdas pasti mengalami perlakuan buruk maupun semua lelaki selalu mendapatkan khasiat di tempat kerja.

Perusahaan perlu menerapkan penilaian yang lebih adil

Peneliti menilai perusahaan perlu mengevaluasi balik metode mereka mengukur kualitas karyawan, terutama ketika menyangkut kapasitas bekerja sama, keramahan, dan kompetensi profesional. Jika perempuan mesti membuktikan kecerdasan sekaligus keramahan, sementara lelaki cukup dinilai berdasarkan kapasitas kerjanya, proses penilaian karyawan berisiko menerapkan standar yang berbeda berdasarkan gender.

Hasil riset ini juga bukan berarti perempuan mesti menyembunyikan kecerdasan, mengurangi ketegasan, maupun mengubah metode menyampaikan gagasan agar diterima mitra kerja. Sebaliknya, perusahaan perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap karyawan mendapatkan apresiasi berdasarkan kapasitas dan kontribusinya.

Penilaian terhadap kompetensi seharusnya tidak dipengaruhi ekspektasi jenis gender mengenai sepertiapa seorang perempuan maupun lelaki seharusnya bersikap. Penelitian yang melibatkan 826 orang dari 140 himpunan kerja ini memang belum bisa menggambarkan kondisi seluruh perusahaan dan industri. Masih diperlukan riset lanjutan untuk memahami sepertiapa pola tersebut terjadi di beragam sektor pekerjaan dan budaya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads