Terbukti di 200 Anak, Ini Cara Membesarkan Anak yang Tangguh dan Sukses Menurut Pakar

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 151x dilihat
Terbukti di 200 Anak, Ini Cara Membesarkan Anak yang Tangguh dan Sukses Menurut Pakar

Bagikan Postingan

Saat membahas metode membesarkan anak yang sukses, banyak orang tua berfokus pada prestasi, seperti harga akademik, kemenangan dalam olahraga, kedisiplinan, dan kemandirian. Namun, berdasarkan pengalaman mendampingi lebih dari 200 keluarga, ada hal yang jauh lebih krusial daripada sekadar pencapaian.

Anak belajar banyak hal dari keseharian, terutama dari metode bunda menyikapi kesulitan, kegagalan, perbedaan pendapat, dan situasi ketika anak tidak sesuai dengan harapan.

Dari pengalaman tersebut, terdapat enam pelajaran krusial yang ditanamkan orang tua sejak awal untuk membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, tangguh, bisa beradaptasi, serta membangun hubungan yang sehat.


6 Pola asuhan orang tua yang membantu anak handal dan sukses

Mengutip dari laman CNBC, berikut enam pola asuhan orang tua yang membantu anak tumbuh handal dan sukses:

1. Kegagalan tidak mengubah metode Bunda melihat anak

Anak memperhatikan sepertiapa bunda bersikap ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan. Mereka mengamati reaksi bunda saat menerima hasil nilai, baik ketika mereka berhasil maupun ketika mengalami kekalahan.

Anak perlu merasa bahwa kegagalan tidak membikin dirinya kehilangan penghargaan dan kasih sayang dari bunda.

Daripada langsung menanyakan karena mereka kurang belajar, bunda bisa mengawali percakapan dengan, “Bunda tahu Anda mengharapkan hasil yang lebih baik. Bagaimana perasaanmu setelah mengetahui hasilnya?”

Ketika anak memahami bahwa hasil yang kurang memuaskan tidak mengubah pandangan bunda terhadap dirinya, mereka akan lebih berani menghadapi tantangan. 

2. Membuat orang lain kecewa bukan berarti selalu salah

Anak yang terbiasa menilai kebaikan dari sikap menyenangkan orang lain, bisa menganggap frustrasi orang lain sebagai tanda bahwa dirinya telah berbuat kesalahan.

Akibatnya, mereka mungkin lebih sibuk memahami keinginan orang lain daripada mengenali kebutuhan dan perasaannya sendiri.

Bunda dapat mengajarkan bahwa tidak semua orang mesti menyetujui pilihan yang diambil. Misalnya, bunda bisa mengatakan, “Mungkin ada orang yang kecewa dengan keputusanmu, tetapi bukan berarti keputusan itu salah.”

Anak perlu memahami bahwa perbedaan gagasan dengan bunda tidak mesti membikin mereka kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri.

Pemahaman ini akan berguna ketika mereka menjalin pertemanan, membangun hubungan dengan pasangan, maupun menghadapi lingkungan kerja di masa depan.

3. Kemampuan dan prestasi bukan seluruh identitas anak

Pujian yang terdengar positif terkadang dapat menjadi beban jika terus-menerus dikaitkan dengan identitas anak.

Ketika bunda sering mengatakan anak sebagai pribadi yang pintar, atlet berbakat, maupun anak yang selalu bertanggung jawab, mereka mungkin merasa mesti terus mempertahankan deskripsi tersebut.

Akibatnya, mendapatkan harga yang lebih rendah, gagal dalam pertandingan, maupun mengalami kesulitan bisa terasa seperti intimidasi terhadap jati diri mereka, bukan sekadar pengalaman biasa.

Karena itu, bunda sebaiknya tidak cuma menyoroti hasil yang diperoleh, tetapi juga menghargai upaya dan proses yang telah dijalani. 

4. Anak boleh berbeda gagasan dan statis mendapatkan kasih sayang

Anak perlu belajar bahwa mereka boleh memiliki gagasan yang berbeda dari bunda tanpa mesti cemas hubungan mereka akan menjadi renggang.

Hal ini bukan berarti anak bebas menentukan semua hal tanpa batasan. Bunda statis memiliki tanggung jawab untuk menetapkan ketentuan dan memungut keputusan yang diperlukan, sambil statis menghargai emosi anak.

5. Anak perlu belajar menghadapi emosi tidak nyaman

Saat melihat anak mengalami kesulitan emosional, bunda mungkin mau segera menghibur, menenangkan, maupun mencari solusi agar mereka balik merasa baik-baik saja. Namun, tidak setiap situasi membutuhkan penyelesaian secara langsung.

Terkadang, anak cuma membutuhkan kedatangan dan sokongan sederhana dari bunda, seperti mengatakan, “Bunda tahu ini terasa berat. Bunda ada di sini untuk menemanimu.”

Anak perlu memahami bahwa emosi tidak betah merupakan bagiankecil wajar dari kehidupan. Mereka bisa merasa malu tanpa mesti menyerah, merasa gugup tetapi statis berani mencoba, serta menghadapi frustrasi tanpa kehilangan harapan.

6. Rumah tempat anak diterima tanpa mesti membuktikan diri

Dalam hayat sehari-hari, anak sering menghadapi beragam penilaian, mulai dari harga sekolah, prestasi olahraga, peringkat, hingga ketenaran di lingkungan pergaulan. Ketika bergeser dewasa, mereka juga akan menghadapi tuntutan pendidikan, pekerjaan, dan pencapaian lainnya.

Jika lingkungan luar terus menilai anak berdasarkan apa yang berhasil mereka raih, rumah seharusnya menjadi tempat yang memberikan rasa aman. Anak perlu mengetahui bahwa dirinya statis bermutu meskipun sedang tidak memiliki prestasi untuk dibanggakan.

Prestasi memang dapat menjadi bagiankecil yang membanggakan dalam hayat anak. Namun, bunda perlu memastikan bahwa anak tidak menjadikan pencapaian sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai harga dirinya.

Jadi, Bunda metode membesarkan anak bukan cuma tentang membantu mereka meraih prestasi, tetapi juga membangun rasa percaya diri, ketangguhan, dan kepercayaan bahwa mereka statis bermutu dalam keadaan apa pun.

Melalui kasih sayang, dukungan, dan bimbingan sejak dini, bunda dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, bisa menghadapi tantangan, dan menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain.

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads