Sumatra Selatan sejak lama dikenal sebagai Bumi Sriwijaya, tanah kelahiran salah satu kerajaan maritim terbesar dalam sejarah Nusantara: Kerajaan Sriwijaya.
Kerajaan ini pernah menguasai jalur perdagangan Asia Tenggara dan menjadi pusat pembelajaran kepercayaan Buddha yang berpengaruh hingga mancanegara.
Jejak kejayaan itulah yang sekarang bisa kita telusuri di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS), sebuah area pelestarian sejarah yang berdiri megah di tepi Sungai Musi, Palembang.
Bukan sekadar taman biasa, TPKS adalah ruang sejarah terbuka yang menyimpan bukti-bukti arkeologis krusial tentang peradaban Sriwijaya.
Sriwijaya: Kerajaan Maritim yang Mendunia
Kerajaan MaritimPada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi, Sriwijaya menjadi kekuatan besar di area Asia Tenggara. Letaknya yang strategis di jalur perdagangan Selat Malaka membuatnya berkembang sebagai pusat ekonomi dan pelayaran.
Tak hanya kuat dalam bagian maritim, Sriwijaya juga dikenal sebagai pusat studi kepercayaan Buddha. Catatan dari musafir Tiongkok I-Tsing menyebut bahwa Sriwijaya menjadi tempat singgah krusial bagi para pelajar sebelum melanjutkan perjalanan ke India.
Pengaruh Sriwijaya apalagi disebut-sebut mencapai Madagaskar di Afrika, menunjukkan sungguh luasnya jaringan perdagangan dan diplomasi yang dibangun kerajaan ini.
Dari Penelitian Modern Hingga Pembangunan TPKS
Nama Sriwijaya kembali mencuat di bumi akademik setelah sejarawan Prancis George Coedes menerbitkan kitab Le Royaume de Criwijaya pada tahun 1918.
Penelitiannya membuka mata bumi bahwa di Sumatra Selatan pernah berdiri kerajaan besar yang lama terlupakan.
Seiring banyaknya temuan prasasti, bagian keramik, sisa gedung bata, hingga manik-manik di area Karang Anyar, pemerintah Indonesia akhirnya membangun TPKS pada tahun 1990.
Proyek ini rampung dalam waktu empat tahun dan diresmikan pada 22 Desember 1994 oleh Presiden Soeharto.
Lokasi Strategis di Kelokan Sungai Musi
TPKS berdiri di Situs Karang Anyar, Kecamatan Gandus, Palembang, tepat di tepi utara Sungai Musi.
Pemilihan letak ini bukan kebetulan. Berdasarkan interpretasi foto udara dan temuan arkeologis, area ini diyakini sebagai salah satu pusat kegiatan krusial Sriwijaya.
Letaknya di kelokan sungai menunjukkan sungguh pentingnya peran Sungai Musi sebagai jalur transportasi dan perdagangan pada masa lampau.
Luas Area dan Tata Kawasan
Kawasan Taman PurbakalaTaman Purbakala Kerajaan Sriwijaya mempunyai luas sekitar 20 hektare. Kawasan ini dirancang sebagai taman edukatif sekaligus ruang pelestarian situs sejarah.
Di dalamnya terdapat tiga gedung utama:
- Gedung Museum – Menyimpan koleksi artefak dan temuan arkeologis.
- Gedung Pendopo – Tempat kegiatan budaya dan obrolan sejarah.
- Gedung Prasasti Peresmian – Dilengkapi panggung outdoor di sisi kiri dan kanan.
Area taman dipenuhi pepohonan rindang, jalur pedestrian, dan kolam yang menjadi karakter unik situs ini.
Sistem Tata Air yang Canggih
Salah satu daya tarik utama TPKS adalah sistem kolam dan parit antik yang menunjukkan kecanggihan tata air Sriwijaya.
Kawasan ini terbagi menjadi tiga subsitus yang saling terhubung:
1. Subsitus Karanganyar 1
Kolam utama berukuran sekitar 623 x 325 meter, membujur utara–selatan.
Di tengahnya terdapat dua pulau:
- Pulau Nangka
- Pulau Cempaka
Kolam ini menjadi pusat sistem tata air.
2. Subsitus Karanganyar 2
Kolam mini di sebelah barat berukuran 40 x 40 meter, terhubung dengan subsitus lainnya.
3. Subsitus Karanganyar 3
Kolam di sebelah timur berukuran 60 x 60 meter, juga terhubung dalam jaringan air.
Sistem parit yang saling terintegrasi ini memperlihatkan keahlian masyarakat Sriwijaya dalam mengatur aliran air, baik untuk transportasi, irigasi, maupun pertahanan.
Temuan Arkeologis yang Menguatkan Eksistensi Sriwijaya

Berbagai artefak ditemukan di area ini, antara lain:
- Sisa gedung bata
- Fragmen gerabah dan keramik
- Manik-manik kaca
- Sisa perahu kayu
- Struktur parit dan kolam
Temuan ini menjadi bukti bahwa area Karang Anyar pernah menjadi pusat permukiman dan kegiatan manusia yang ramai.
Keberadaan jaringan air menunjukkan bahwa Sriwijaya sangat mengandalkan sistem perairan dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman Berkunjung: Wisata Sejarah yang Tenang
Berjalan di TPKS terasa seperti menyusuri bab demi bab sejarah. Suasana taman yang luas dan hijau menciptakan kesan damai.
Pengunjung bisa:
- Menjelajahi museum
- Menyusuri tepi kolam
- Berfoto dengan latar situs bersejarah
- Mengikuti kegiatan budaya di pendopo
Tempat ini cocok untuk wisata keluarga, edukasi sekolah, hingga penelitian akademik.
Pagi dan sore hari menjadi waktu terbaik untuk berjamu lantaran udara lebih sejuk dan sinar alami membikin suasana lebih dramatis.
Nilai Edukasi dan Penguatan Identitas Bangsa
TPKS dibangun bukan hanya untuk wisata, tetapi sebagai upaya revitalisasi makna Sriwijaya bagi masyarakat Indonesia.
Mengetahui bahwa Nusantara pernah mempunyai kerajaan maritim besar menjadi kebanggaan tersendiri. Hal ini krusial untuk memperkuat jati diri bangsa di tengah arus globalisasi.
Sriwijaya mengajarkan bahwa kekuatan maritim, perdagangan, dan toleransi budaya bisa menjadi fondasi kemajuan.
Akses Menuju TPKS
Lokasi TPKS berada di Kecamatan Gandus, Palembang. Dari pusat kota, waktu tempuh sekitar 30–40 menit.
Akses bisa menggunakan:
- Kendaraan pribadi
- Ojek alias taksi online
- Transportasi umum
Jalur menuju letak cukup mudah meski sedikit menjauh dari pusat keramaian kota.
Kenapa TPKS Wajib Masuk Daftar Wisata?
- Situs krusial peninggalan Sriwijaya
- Sistem tata air antik yang unik
- Area luas dan asri
- Edukatif dan historis
- Ikon kebanggaan Palembang
TPKS bukan hanya taman, tetapi ruang memori kolektif tentang kejayaan masa lalu Nusantara.
Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya adalah simbol kebangkitan ingatan sejarah Bumi Sriwijaya. Di sinilah kita bisa memandang gimana peradaban maritim besar pernah tumbuh dan berhasil di tepi Sungai Musi.
Berkunjung ke TPKS bukan hanya soal rekreasi, tetapi perjalanan memahami akar sejarah bangsa.
Di tengah modernisasi Palembang, situs ini berdiri sebagai pengingat bahwa Indonesia pernah menjadi pusat peradaban dunia.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·