Jakarta -
Bagi sebagian perempuan, kehamilan mungkin terasa seperti perjalanan yang sudah menjadi bagian alami dari kehidupan. Namun, bagi sebagian lainnya, jalan menuju menjadi seorang ibu bisa penuh tantangan dan memerlukan support teknologi medis.
Salah satunya dialami oleh seorang wanita yang terlahir tanpa rahim, Betty Mukherjee. Kondisi langka itu membuatnya tidak bisa mengandung secara alami, tetapi dia tetap mempunyai angan untuk menjadi ibu melalui perkembangan bumi medis, termasuk program bayi tabung alias in vitro fertilization (IVF).
Kisah Bunda terlahir tanpa rahim
Dikutip dari BBC, ketika Betty Mukherjee berumur 16 tahun, master mengatakan kepadanya bahwa dia dilahirkan tanpa rahim. Lebih dari 12 tahun kemudian, dia menjalani perawatan IVF untuk mencoba mempunyai anak setelah berbincang tentang kondisinya saat menjadi kontestan di kegiatan Race Across the World di BBC.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu adalah masa yang sangat sulit, menjadi remaja saja sudah cukup sulit," kata wanita berumur 28 tahun itu tentang diagnosisnya.
"Saya tidak mengalami menstruasi, jadi saya mulai mengembangkan orasi jiwa bahwa ada sesuatu yang tidak beres," sambungnya.
Setelah pemindaian dan tes, Betty, dari Gargrave di North Yorkshire, dia pemeriksaan menderita sindrom Mayer Rokitansky Küster Hauser (MRKH), yang memengaruhi satu dari 5.000 perempuan. Hal itu mengakibatkan dia dilahirkan tanpa rahim dan hanya dengan satu ginjal, tetapi dia tetap mengalami pubertas dan perubahan hormonal yang terkait.
"Ketika saya mendapatkan pemeriksaan itu, ada rasa lega lantaran akhirnya saya mendapatkan jawaban yang selama ini saya inginkan, tetapi kemudian itu adalah masa yang sangat menakutkan memikirkan apa yang bakal terjadi di masa depan," jelas Betty.
"Pasti ada narasi tentang gadis-gadis muda yang tumbuh dengan hatikecil keibuan, memulai sebuah keluarga, dan pada usia 16 tahun saya mempertanyakan semua itu. Saya kira selama 10 tahun berikutnya, saya mengalami masa-masa yang cukup gelap, kemudian merasa baik-baik saja, dan kemudian berfluktuasi di antara keduanya," tambahnya.
Diagnosis MRKH adalah sesuatu yang disembunyikan Betty tentang dirinya, lantaran takut dia bakal dianggap 'berbeda'.
Perempuan yang lahir tanpa rahim bisa mengalami kondisi yang disebut Mayer-Rokitansky-Küster-Hauser (MRKH) syndrome. Kondisi ini terjadi ketika rahim dan bagian tertentu dari saluran reproduksi tidak berkembang sempurna sejak lahir.
Biasanya, tanda yang membikin seseorang mengetahui kondisi ini adalah ketika tidak mengalami menstruasi saat remaja. Meski begitu, banyak wanita dengan MRKH tetap mempunyai ovarium yang berfaedah normal sehingga tetap dapat menghasilkan sel telur.
Artinya, secara biologis mereka tetap mempunyai kemungkinan mempunyai anak melalui teknologi reproduksi berbantu, meski memerlukan support medis lantaran tidak mempunyai tempat untuk tumbuhnya janin.
Berjuang lewat program IVF
Dalam program IVF, master bakal membantu mempertemukan sel telur dan sperma di laboratorium hingga terbentuk embrio. Embrio yang sukses kemudian dapat digunakan sesuai kondisi medis pasien.
Bagi wanita yang tidak mempunyai rahim, IVF sering menjadi bagian dari perjalanan menuju kehamilan dengan support metode lain, seperti penggunaan rahim pengganti (surrogacy) alias dalam beberapa kasus melalui transplantasi rahim.
Teknologi ini memberi kesempatan bagi wanita dengan masalah kesuburan tertentu untuk tetap mempunyai hubungan genetik dengan anaknya.
Transplantasi rahim: Harapan baru bumi fertilitas
Dalam beberapa tahun terakhir, bumi medis mengembangkan transplantasi rahim sebagai pilihan bagi wanita yang mengalami infertilitas lantaran tidak mempunyai rahim yang berfungsi.
Prosesnya cukup kompleks. Perempuan penerima transplantasi kudu menjalani operasi besar, mendapatkan terapi untuk mencegah penolakan organ, lampau menjalani program IVF agar embrio dapat ditanamkan ke rahim hasil transplantasi.
Penelitian besar pertama yang sukses menunjukkan bahwa transplantasi rahim dapat menghasilkan kehamilan terjadi di Swedia. Pada tahun 2014, lahir bayi pertama di bumi dari rahim hasil transplantasi, membuka jalan baru bagi wanita dengan infertilitas akibat tidak mempunyai rahim.
Dalam prosedurnya, wanita penerima transplantasi menjalani operasi pemasangan rahim donor. Setelah tubuh menerima organ tersebut dan kondisi rahim dinilai siap, embrio hasil IVF dapat ditanamkan.
Salah satu keberhasilan besar terjadi pada wanita yang mempunyai MRKH syndrome. Beberapa bayi telah lahir setelah ibunya menjalani transplantasi rahim dan program IVF.
Perjuangan medis dan emosional
Bagi banyak wanita yang menghadapi kondisi seperti ini, perjuangannya bukan hanya soal prosedur medis. Ada perjalanan panjang menghadapi rasa kehilangan, pertanyaan tentang masa depan, hingga angan untuk merasakan pengalaman menjadi seorang Bunda.
Kisah seperti ini menunjukkan bahwa perjalanan menjadi orang tua tidak selalu mempunyai satu jalan yang sama. Kemajuan medis membuka kemungkinan baru bagi mereka yang sebelumnya merasa pintunya tertutup.
Meski begitu, transplantasi rahim dan prosedur mengenai tetap menjadi bagian yang berkembang dan belum tersedia luas di semua negara. Penelitian terus dilakukan untuk membikin prosedur ini lebih kondusif dan dapat diakses oleh lebih banyak perempuan.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·