Di tengah kekuasaan movie tindakan yang semakin berjuntai pada pengaruh visual digital dan skala blockbuster, “The Furious” (2025) datang sebagai pengingat bahwa kekuatan utama aliran laga tetap berada pada koreografi fisik, stunt praktikal, dan pertarungan yang dapat dirasakan bobotnya. Disutradarai oleh Kenji Tanigaki, sosok yang telah lama dikenal sebagai stunt coordinator dan action director di industri Hong Kong dan Jepang, movie ini merupakan surat cinta bagi sinema martial arts klasik yang dipadukan dengan ritme modern.
Ceritanya mengikuti Wang Wei, seorang ayah tuna wicara yang hidup sederhana berbareng putrinya. Hidupnya berubah drastis ketika anaknya diculik oleh jaringan perdagangan manusia yang mempunyai hubungan dengan abdi negara korup. Dalam pencariannya, dia berjumpa Navin, seorang wartawan yang juga kehilangan istrinya saat menyelidiki sindikat yang sama. Dari sinilah lahir aliansi yang dibangun bukan atas persahabatan, melainkan rasa kehilangan dan kemarahan yang sama. Premisnya memang sederhana, tetapi cukup efektif untuk menjadi fondasi bagi rentetan tindakan yang mendominasi film.
Dari sisi script dan screenplay, “The Furious” memilih jalur yang efisien. Naskah tidak berupaya membangun intrik politik yang rumit alias drama family yang bertele-tele. Motivasi setiap karakter disampaikan secara lugas sehingga movie dapat segera masuk ke inti konflik. Pendekatan ini memang membikin beberapa karakter pendukung terasa kurang berkembang, tetapi keputusan tersebut tampak disengaja agar ritme tidak terganggu. Screenplay karya tim penulisnya lebih berfaedah sebagai penghubung antaradegan tindakan daripada sebagai ruang eksplorasi psikologis yang mendalam.

Plot berkembang secara linear. Setelah penculikan terjadi, perjalanan Wei dan Navin menjadi serangkaian investigasi yang berujung pada konfrontasi demi konfrontasi. Struktur seperti ini sebenarnya sangat klasik, apalagi mengingatkan pada film-film balas dendam Hong Kong era 1980-an. Namun justru kesederhanaan tersebut menjadi kelebihannya. Film tidak pernah kehilangan konsentrasi terhadap tujuan utama, ialah pengamanan sang anak sekaligus penghancuran organisasi pidana yang menjadi pusat konflik.
Aspek paling menonjol tentu berada pada koreografi aksi. Sebagai sutradara yang berasal dari bumi stunt, Tanigaki memahami gimana menyusun pertarungan yang mudah diikuti tanpa mengorbankan intensitas. Kamera tidak dipenuhi potongan gambar yang berlebihan. Sebaliknya, banyak segmen memanfaatkan long take dan medium shot sehingga keahlian para tokoh bela diri betul-betul terlihat. Setiap pukulan mempunyai dampak, setiap tendangan terasa menyakitkan, dan setiap duel mempunyai identitas berbeda. Tidak mengherankan jika banyak kritikus menyebut movie ini sebagai salah satu movie laga terbaik dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam aspek sinematografi, karya penata kamera sukses memanfaatkan ruang urban sebagai arena pertarungan yang dinamis. Gudang, lorong sempit, gedung terbengkalai, hingga area industri menjadi letak yang tidak hanya menarik secara visual tetapi juga mendukung ragam koreografi. Warna-warna yang condong dingin memperkuat nuansa kelam cerita, sementara pencahayaan kontras membantu menonjolkan aktivitas para petarung.
Akting menjadi kejutan yang menyenangkan. Pemeran Wang Wei sukses menyampaikan emosi tanpa berjuntai pada perbincangan panjang. Keterbatasan berbincang justru memperkuat ekspresi bentuk karakter, sehingga setiap tatapan dan aktivitas terasa mempunyai makna. Sementara itu, Joe Taslim tampil karismatik sebagai Navin. Ia menghadirkan sosok wartawan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bisa berkompetisi ketika keadaan memaksanya. Kehadirannya memberikan keseimbangan antara emosi dan aksi, sekaligus menjadi salah satu daya tarik utama bagi penonton Asia Tenggara. Film ini juga menghadirkan nama-nama seperti Yayan Ruhian, Jija Yanin, dan Brian Le yang semakin memperkaya kualitas segmen laga.

Dari sisi penyutradaraan, Tanigaki menunjukkan disiplin yang luar biasa. Ia memahami bahwa penonton datang untuk menikmati aksi, tetapi dia juga tahu kapan kudu memberi jarak agar tensi tidak terasa monoton. Walaupun sebagian besar lama dipenuhi pertarungan, movie tetap menyisipkan momen emosional yang cukup untuk membikin motivasi karakter tetap terasa masuk akal.
Meski demikian, “The Furious” bukan tanpa kelemahan. Cerita yang sangat sederhana membikin beberapa perkembangan mudah ditebak. Antagonis juga tidak memperoleh pendalaman karakter yang memadai sehingga lebih berfaedah sebagai simbol kejahatan daripada sosok dengan motivasi yang kompleks. Di beberapa bagian, eskalasi tindakan juga mulai mengorbankan logika realistis, meskipun perihal tersebut tetap dapat diterima dalam konteks movie laga bergaya Hong Kong.
Terlepas dari kekurangan tersebut, “The Furious” sukses mencapai tujuan utamanya: menyajikan pengalaman tindakan yang menghibur dan penuh energi. Film ini tidak mencoba menjadi drama pidana yang rumit ataupun thriller psikologis yang penuh lapisan. Sebaliknya, dia merayakan sinema laga dalam bentuknya yang paling murni—fisik, brutal, dan penuh kreativitas.
“The Furious” adalah bukti bahwa koreografi yang matang tetap bisa mengalahkan ledakan CGI dalam menciptakan sensasi menegangkan. Dengan penyutradaraan yang presisi, tindakan yang spektakuler, serta kehadiran para praktisi bela diri terbaik Asia, movie ini layak disebut sebagai salah satu movie martial arts paling menonjol dalam beberapa tahun terakhir.
Pesan moral
Film ini menegaskan bahwa cinta seorang orang tua bisa mendorong seseorang melampaui pemisah kemampuannya. Di sisi lain, “The Furious” juga menjadi kritik terhadap korupsi dan perdagangan manusia yang menghancurkan kehidupan banyak keluarga, sekaligus mengingatkan bahwa keberanian perseorangan tetap dapat menjadi pemicu perubahan ketika sistem kandas menjalankan fungsinya.
Dampak budaya
“The Furious” memperlihatkan kebangkitan sinema laga Asia yang kembali mengutamakan stunt praktikal dan koreografi nyata di tengah kekuasaan tindakan berbasis pengaruh visual. Film ini juga memperkuat kerjasama lintas negara Asia dengan menghadirkan tokoh dan koreografer dari beragam latar belakang, termasuk Indonesia melalui Joe Taslim dan Yayan Ruhian. Keberhasilannya mendapat pujian luas dari kritikus semakin mengukuhkan bahwa movie martial arts tradisional tetap mempunyai tempat krusial dalam perfilman internasional.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·