The Smiths — “The Smiths”: Melankolia, Gitar Jangly & Lahirnya Bahasa Baru Indie Pop

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 9 menit 518x dilihat
The Smiths — “The Smiths”: Melankolia, Gitar Jangly & Lahirnya Bahasa Baru Indie Pop

Bagikan Postingan

Ketika ‘The Smiths’ dirilis pada Februari 1984, musik pop Inggris sedang sangat identik dengan synthesizer, produksi mengilap, dan estetika New Romantic. Di tengah lanskap tersebut, empat musisi dari Manchester datang membawa sesuatu yang secara teknis terdengar jauh lebih tradisional: gitar, bass, drum, dan vokal. Namun justru dari perangkat yang sederhana itu The Smiths menciptakan salah satu identitas musikal paling unik dasawarsa 1980-an.

Debut self-titled mereka mempertemukan Johnny Marr, Morrissey, Andy Rourke, dan Mike Joyce dalam formula yang segera susah ditiru. Marr memainkan gitar dengan arpeggio yang berkilau dan menghindari heroisme solo gitar rock. Rourke mengisi ruang melalui bassline yang aktif dan melodis. Joyce memberikan ketegasan ritmis, sementara Morrissey berdiri di atas semuanya dengan vokal bariton yang teatrikal dan lirik tentang kesepian, seksualitas, frustrasi, kelas sosial, kematian, hingga emosi tidak mempunyai tempat di dunia.

‘The Smiths’ memang belum menjadi album terbaik mereka. Produksinya terkadang terlalu muram dan beberapa lagu terasa belum menemukan keseimbangan sempurna antara musik Marr dan bumi lirik Morrissey. Tetapi nyaris seluruh DNA The Smiths yang kemudian menjadi begitu berpengaruh sudah tersedia di sini.

Johnny Marr dan Revolusi Gitar Tanpa Guitar Hero

Salah satu perihal paling radikal dari The Smiths justru datang dari langkah Johnny Marr memainkan gitar.

Pada masa ketika banyak band rock tetap menjadikan solo gitar sebagai pusat perhatian, Marr memilih pendekatan berbeda. Ia membangun lagu melalui layering, chord voicing, arpeggio, serta riff yang berfaedah sebagai bagian dari melodi utama.

AllMusic menilai bahwa gitar Marr sekilas memang berakar pada tradisi British guitar pop, tetapi penggunaannya pada album ini membalik banyak konvensi struktur tersebut. Bahkan sejumlah lagunya tidak terlalu berjuntai pada pola verse-chorus standar.

“What Difference Does It Make?” merupakan salah satu contoh terbaiknya. Riff gitar bergerak seperti roda yang terus berputar sementara bass Rourke melangkah di bawahnya. Marr tidak sedang mengiringi Morrissey; gitarnya seperti mempunyai percakapan sendiri dengan vokal.

“Hand in Glove” apalagi lebih penting. Lagu yang sebelumnya menjadi single debut mereka pada 1983 tersebut langsung menetapkan banyak karakter esensial band: gitar jangly, kekhawatiran romantis, ambiguitas seksual, dan emosi bahwa hubungan manusia selalu berada satu langkah dari kehancuran.

Kesederhanaan format instrumental inilah yang kemudian menjadi salah satu cetak biru besar indie rock.

The Smiths

Morrissey: Kesepian yang Menolak Menjadi Pasif

Namun mustahil membicarakan debut The Smiths tanpa Morrissey. Sejak album pertama, pendekatan penulisannya sudah sangat berbeda dari kebanyakan frontman rock. Ia tidak tertarik memainkan karakter macho. Sebaliknya, narator dalam lagu-lagunya sering merasa canggung, tersingkir, romantis, frustrasi, dan secara emosional tidak cocok dengan lingkungannya.

Pitchfork menyebut periode awal The Smiths mempunyai kualitas yang lebih muram dan berakar kuat pada suasana post-punk dibanding karya-karya mereka berikutnya.

“Reel Around the Fountain” menjadi pembukaan yang sangat berani untuk sebuah album debut. Dengan lama sekitar enam menit dan tempo yang lambat, lagu ini tidak berupaya memperkenalkan band melalui single pop yang mudah dicerna. Atmosfernya intim sekaligus tidak nyaman, diperkuat lirik yang sengaja ambigu.

“You’ve Got Everything Now” menawarkan contoh berbeda. Di sini Morrissey mencampurkan rasa rendah diri dengan kesombongan. Karakternya dapat mengeluh tentang kegagalan sembari terdengar seolah dirinya lebih menarik daripada orang yang dianggap sukses. Kontradiksi semacam ini menjadi salah satu karakter terbaik tulisannya.

Kesedihan dalam The Smiths jarang berdiri sendiri. Selalu ada humor, ironi, alias sedikit rasa superioritas yang membikin narrator-nya terasa lebih kompleks daripada sekadar orang patah hati.

“Still Ill”: Alienasi Menjadi Lagu Pop

“Still Ill” mungkin merupakan salah satu lagu yang paling utuh merangkum identitas awal The Smiths. Musiknya relatif ringan dan bergerak cepat, sementara liriknya berbincang tentang ketidakpuasan terhadap kehidupan, perubahan Inggris, dan rasa keterasingan terhadap bumi sekitar. Kontras tersebut penting.

The Smiths tidak memainkan musik depresi untuk menyampaikan kesedihan. Marr sering justru memberikan musik yang terang dan melodis sementara Morrissey mengisinya dengan kecemasan.

Formula inilah yang kemudian diwarisi begitu banyak band indie: musik yang bisa terdengar romantis alias apalagi menyenangkan, tetapi menyimpan narasi muram di dalamnya.

Ketika Album Menjadi Lebih Gelap

Tidak semua bagian ‘The Smiths’ mudah dicerna. “The Hand That Rocks the Cradle” mempunyai atmosfer nyaris seperti lullaby yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang mengganggu. “Pretty Girls Make Graves” membahas seksualitas dan ketidaknyamanan terhadap hubungan secara ironis.

Puncak kegelapannya terdapat pada “Suffer Little Children”.

Lagu tersebut membahas Moors Murders, pembunuhan anak-anak yang dilakukan Ian Brady dan Myra Hindley pada 1960-an di sekitar Manchester. Karena sensitivitas materinya, lagu tersebut sempat menimbulkan kontroversi, meski pendekatannya lebih dekat dengan elegi bagi korban dibanding pemanfaatan kejahatan tersebut. AllMusic mencatat bahwa kontroversi mengenai lagu ini menjadi salah satu dari sejumlah polemik yang mengikuti fase awal perjalanan band.

Keputusan memasukkan tema seperti itu menunjukkan sesuatu tentang ambisi The Smiths sejak awal: musik pop bagi mereka tidak hanya menjadi tempat untuk membicarakan romansa. Kota, sejarah, kematian, trauma, dan keterasingan dapat masuk ke dalamnya.

Produksi yang Menjadi Kelebihan sekaligus Kekurangan

Jika ada satu komponen yang membikin debut ini terasa berada di bawah “The Queen Is Dead” alias apalagi kompilasi “Hatful of Hollow”, jawabannya adalah produksi.

‘The Smiths’ mempunyai sound yang jauh lebih murky dibanding kilau gitar yang kemudian menjadi trademark band. Beberapa aransemen terdengar terlalu berat dan kurang memberikan ruang terhadap perincian permainan Marr serta Rourke.

Pitchfork juga menyoroti bahwa secara musikal band belum sepenuhnya mencapai corak finalnya pada album ini. Produksi drum yang besar dan beberapa pilihan aransemen membikin bagian tertentu terasa lebih dekat dengan post-punk awal 1980-an daripada identitas The Smiths yang kemudian semakin terang dan elastis.

Perbandingan dengan jenis BBC sessions yang kemudian muncul dalam “Hatful of Hollow” membikin perbedaannya semakin jelas. Beberapa lagu justru terdengar lebih hidup, raw, dan spontan dalam jenis tersebut. AllMusic apalagi mencatat kualitas nervous dan raw dari rekaman BBC tersebut sebagai salah satu daya tarik utama kompilasinya.

Tetapi produksi muram debut ini juga mempunyai keuntungan. Membuat album terdengar seperti Manchester yang basah, dingin, dan suram—sebuah atmosfer yang secara tidak sengaja menjadi bagian dari identitasnya.

Kekuatan Empat Musisi, Bukan Hanya Morrissey dan Marr

Narasi sejarah The Smiths sering disederhanakan menjadi pasangan Morrissey–Johnny Marr. Padahal album debut memperlihatkan bahwa Andy Rourke dan Mike Joyce sangat penting.

Bass Rourke sering menjadi melodi kedua. Ia tidak hanya mengikuti root note gitar, tetapi bergerak secara aktif di antara permainan Marr dan vokal Morrissey.

Joyce, sementara itu, memberikan tenaga yang dibutuhkan agar permainan gitar Marr yang kompleks tidak terasa terlalu lembut.

Kombinasi tersebut membikin The Smiths mempunyai kualitas yang unik: gitar mereka bisa terdengar rapuh, tetapi rhythm section-nya membikin musik tetap mempunyai tubuh. Inilah yang membedakan mereka dari banyak band jangle-pop yang kemudian mengikuti.

Debut yang Belum Sempurna, tetapi Sudah Memiliki Identitas

Sebagai album utuh, “The Smiths” memang tidak mempunyai konsistensi luar biasa seperti “The Queen Is Dead”.

“Miserable Lie”, misalnya, berubah menjadi bagian punk berkecepatan tinggi yang terasa sedikit tidak natural bagi karakter mereka. Beberapa bagian album juga terlalu panjang dan tidak semuanya mempunyai hook setajam “Still Ill” alias “What Difference Does It Make?”.

Tetapi kekurangan tersebut terasa seperti produk sebuah band yang sedang menemukan langkah terbaik untuk menyampaikan gagasannya. Dan yang lebih penting: mereka sudah terdengar seperti The Smiths.

Hanya dalam hitungan detik, kombinasi gitar Marr dan vokal Morrissey nyaris mustahil disalahartikan sebagai band lain. Untuk sebuah debut, pencapaian itu jauh lebih krusial daripada kesempurnaan.

Dampak Budaya: Ketika Menjadi Outsider Mendapat Soundtrack

‘The Smiths’ mempunyai akibat budaya yang jauh melampaui performa awalnya. Album tersebut mencapai posisi No. 2 UK Albums Chart, sementara ketenaran mereka tumbuh sangat sigap sepanjang 1984. Namun warisan terbesarnya bukan nomor penjualan.

The Smiths memberikan pengganti terhadap dua kutub besar musik Inggris saat itu: pop elektronik yang sangat polished dan rock yang tetap banyak membawa maskulinitas tradisional.

Mereka membuktikan bahwa sebuah band gitar dapat terdengar lembut tanpa kehilangan keberanian, literer tanpa menjadi pretensius, dan emosional tanpa kudu mengikuti formula power ballad.

Lebih krusial lagi, Morrissey membantu mengubah posisi outsider dalam pop culture. Kesepian tidak lagi hanya menjadi kondisi yang kudu disembuhkan. Ia bisa menjadi identitas, humor, apalagi corak perlawanan. Pitchfork menggambarkan kontribusi tersebut sebagai keahlian mengubah misery dan exclusion menjadi kekuatan serta pose budaya—sebuah pendekatan yang kelak bergaung hingga emo dan alternative rock generasi berikutnya.

Dari indie pop Inggris, Britpop, alternative rock hingga generasi bedroom pop, pengaruh kombinasi lirik introspektif dan gitar jangly The Smiths terus terasa. R.E.M., The Stone Roses, Belle and Sebastian, Suede, Oasis, Radiohead hingga beragam generasi band gitar setelahnya berada dalam ekosistem yang ikut dibentuk oleh perubahan tersebut, sekalipun pengaruh masing-masing tidak selalu berkarakter langsung.

Dan ada paradoks historis yang membikin warisan album ini semakin rumit: karya The Smiths tetap mempunyai daya emosional sangat besar sementara figur Morrissey sendiri kemudian menjadi semakin kontroversial akibat beragam pernyataannya di ruang publik. Memisahkan karya dari penciptanya akhirnya menjadi bagian tak terhindarkan dari pengalaman mendengarkan The Smiths pada masa kini. Namun musiknya tetap bertahan.

“The Smiths” menangkap momen ketika empat anak muda Manchester menemukan bahasa untuk orang-orang yang merasa tidak sesuai dengan zamannya. Mereka belum menyempurnakan bahasa tersebut, tetapi mereka sudah membikin jutaan pendengar merasa bahwa alienasi mereka mempunyai suara.

Verdict

‘The Smiths’ bukan album terbaik The Smiths, dan justru itu yang membuatnya menarik untuk didengarkan kembali.

Kita mendengar band yang belum sepenuhnya matang tetapi sudah mengetahui apa yang tidak mau mereka lakukan. Mereka menolak synthesizer sebagai pusat musiknya, menolak kultur guitar hero, menolak maskulinitas rock konvensional, dan menolak dugaan bahwa lagu pop kudu berbincang dengan bahasa sederhana.

Johnny Marr menghadirkan salah satu vocabulary gitar paling berpengaruh pada era modern. Morrissey menciptakan karakter lirik yang sekaligus arogan, kesepian, lucu, dan tragis. Andy Rourke serta Mike Joyce memberikan fondasi yang membikin seluruh pertentangan tersebut dapat hidup sebagai musik pop.

Empat dasawarsa kemudian, debut ini tetap mempunyai keahlian langka: membikin keterasingan terdengar indah.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
Close Right Ads
Close Left Ads