Wamenkomdigi Dorong Adopsi Small Language Model Untuk Solusi Sektoral

Jan 21, 2026 09:41 PM - 4 bulan yang lalu 121383

Kincai Media – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, kembali menegaskan arah kebijakan teknologi nasional yang lebih taktis. Dalam pernyataannya usai menghadiri AI Pre-Summit 2026 di Jakarta, Nezar tidak hanya berbincang soal tren global, melainkan mendorong pengembangan platform kepintaran buatan berbasis Small Language Model (SLM). Langkah ini dinilai krusial untuk menciptakan penemuan AI yang lebih relevan, presisi, dan bisa menjawab kebutuhan sektoral yang spesifik.

Pernyataan ini muncul sebagai respon pandai terhadap hegemoni Large Language Model (LLM) yang selama ini mendominasi diskursus teknologi. Menurut Nezar, meskipun LLM mempunyai kapabilitas luas, kebutuhan industri vertikal seperti kesehatan dan pendidikan memerlukan pendekatan yang berbeda. SLM digadang-gadang menjadi kunci untuk membuka potensi solusi digital yang lebih tajam dan efisien di sektor-sektor tersebut.

“SLM ini krusial untuk mengembangkan AI di sektor-sektor khusus. Dan kita mendorong itu dalam rangka penemuan mengembangkan solusi-solusi di sektor-sektor khusus, misalnya di kesehatan, pendidikan,” tegas Nezar Patria di hadapan awak media, Rabu.

Dorongan ini bukan tanpa alasan. Dalam lanskap teknologi yang bergerak cepat, efisiensi komputasi dan kecermatan informasi menjadi mata duit baru. Dengan konsentrasi pada pengembangan AI model kecil, pemerintah berambisi dapat menghadirkan perangkat bantu yang tidak hanya pandai secara umum, tetapi betul-betul mahir dalam bidangnya masing-masing.

Dikotomi Cerdas: Membedakan Fungsi SLM dan LLM

Dalam kesempatan yang sama, Nezar memberikan pandangan kritis mengenai perbedaan mendasar antara LLM dan SLM. Alih-alih mempertentangkan keduanya, Wamenkomdigi memandang kedua model ini sebagai instrumen yang saling melengkapi dalam ekosistem digital Indonesia. Ia menekankan bahwa pemahaman mengenai kegunaan dan kelebihan masing-masing model sangat vital bagi para developer dan pemangku kepentingan.

LLM, menurut Nezar, dirancang dengan arsitektur yang masif untuk menangani persoalan berskala luas. Kemampuannya dalam memproses info umum, membikin karya audio-visual, hingga menjawab pertanyaan general sudah tidak diragukan lagi. Banyak platform besar lahir dari rahim teknologi ini. Namun, ketika masuk ke ranah yang memerlukan spesialisasi tinggi, LLM terkadang menghadapi tantangan dalam perihal efisiensi dan relevansi konteks.

Di sinilah peran SLM menjadi krusial. Nezar menjelaskan bahwa SLM lebih konsentrasi dan spesifik pada satu kegunaan alias sektor tertentu. Ia mengibaratkan SLM sebagai agent AI yang tajam secara vertikal. Model ini dilatih dengan dataset yang lebih spesifik, sehingga bisa memberikan jawaban alias solusi yang jauh lebih jeli untuk bagian yang digelutinya.

“Ini krusial saya kira. SLM hanya salah satu pendekatan, selain LLM yang memang mencoba memecahkan persoalan-persoalan yang lebih luas. SLM biasanya lebih dedicated untuk satu fungsi. Kita support semuanya, baik LLM maupun SLM,” ujar Nezar menambahkan.

Pernyataan ini sejalan dengan upaya pemerintah yang menempatkan teknologi sebagai bagian dari program prioritas nasional. Dengan adanya SLM, bias info yang sering terjadi pada model bahasa besar dapat diminimalisir lantaran informasi training yang digunakan lebih terkurasi dan relevan dengan konteks lokal maupun sektoral.

Membangun “AI Talent Factory” Bersama Kampus

Visi besar mengenai SLM dan kemandirian teknologi ini tentu tidak bisa dijalankan sendirian oleh kementerian. Nezar menyadari perlunya kerjasama strategis antara pemerintah dan akademisi. Untuk itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) telah menggandeng beragam universitas ternama di Indonesia sebagai pusat riset.

Tujuan utamanya adalah membangun apa yang disebut Nezar sebagai “AI Talent Factory”. Inisiatif ini dirancang untuk mencetak talenta-talenta digital yang siap pakai dan bisa mengembangkan model AI yang sesuai dengan kebutuhan dalam negeri. Kolaborasi ini tidak hanya sebatas wacana, namun sudah mulai melangkah secara konkret.

“Sudah melangkah di Universitas Brawijaya, tahun ini kita bakal expand ke ITS, lampau ke UGM, dan mungkin juga selanjutnya sejumlah kampus lain yang sudah berkomunikasi dengan Komdigi untuk mengembangkan satu project ini,” tutur Nezar.

Langkah menggandeng Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) menunjukkan kesungguhan pemerintah dalam menciptakan ekosistem riset yang solid. Kampus-kampus ini diharapkan menjadi dapur pacu yang memproduksi penemuan SLM, yang nantinya bisa diaplikasikan langsung ke masyarakat alias industri.

Peluang kerja sama ini juga terbuka bagi lembaga pendidikan lain yang mempunyai visi serupa. Dengan melibatkan bumi akademik, pemerintah berambisi pengembangan AI di Indonesia tidak hanya menjadi konsumen teknologi asing, tetapi bisa menjadi produsen solusi yang adaptif terhadap tantangan lokal.

Pada akhirnya, support Wamenkomdigi terhadap SLM dan LLM secara simultan menandakan kedewasaan strategi digital Indonesia. “SLM berbeda dengan LLM, lantaran SLM dilatih dengan data-data spesifik dan lebih jeli dalam menjawab pertanyaan di bagian tersebut,” pungkas Nezar.

Selengkapnya