10 Hal Yang Tidak Disukai Gen Z Dari Cara Kerja Gen X Dan Boomer Di Tempat Kerja

Jun 22, 2026 08:30 PM - 2 jam yang lalu 48

Jakarta -

Tahukah Bunda? Terdapat perbedaan generasi yang besar di antara sebagian golongan usia, antara generasi Z dengan generasi X dan boomer, dan perbedaan tersebut semakin terasa di tempat kerja.

Di sat pendapatan menjadi bagian yang sangat emosional dan tidak pasti dari kesejahteraan setiap orang, dalam lingkungan kerja, perbedaan antara pekerja muda dan tua dapat terasa sangat kuat dan membara.

Meskipun ada banyak perihal yang dianggap tidak menarik oleh generasi Z tentang gimana generasi X dan baby boomer berperilaku di tempat kerja, perihal itu bertindak dua arah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


10 Hal yang tidak disukai Gen Z dari langkah kerja Gen X dan boomer di tempat kerja

Dilansir Your Tango, berikut beberapa perihal yang menurut Gen Z tidak menarik tentang perilaku generasi X dan baby boomer di kantor.

1. Tetap setia dengan mengorbankan diri sendiri

Banyak generasi pekerja yang lebih tua sangat menjunjung tinggi loyalitas di tempat kerja, termasuk lembut dan mentolerir bayaran rendah demi menjaga hubungan baik dengan atasan.

Dibandingkan dengan Gen Z, yang jauh lebih condong berpindah-pindah pekerjaan demi budaya perusahaan dan kompensasi yang lebih baik, jelas ada perbedaan.

Terutama lantaran keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sangat krusial bagi kaum muda, mereka merasa frustrasi dengan preseden yang telah ditetapkan oleh orang-orang yang lebih tua di tempat kerjanya.

Mereka diharapkan mempunyai semacam loyalitas terhadap kepentingan perusahaan, apalagi ketika mereka tidak tidak diperhatikan dan didukung sebagai imbalannya, Bunda.

2. Membutuhkan struktur untuk berkembang

Menurut sebuah studi dari Futures, generasi Z sering kali mempunyai etos kerja yang berpusat pada keseimbangan dan pertumbuhan, dibandingkan dengan generasi yang lebih tua yang memprioritaskan struktur dan stabilitas, serta motivasi yang didorong oleh tujuan.

Kaum muda menginginkan fleksibilitas, biasanya melalui struktur kerja hybrid dan jarak jauh, sementara generasi yang lebih tua mendambakan kesamaan.

Tentu saja, pada tahapan dan tingkatan pekerjaan yang sangat berbeda, perbedaan dalam struktur dan lingkungan kerja ini dapat menyebabkan banyak ketegangan antar generasi.

Ketika ada tambahan lapisan generasi baby boomer dan Gen X yang menginginkan kaum muda mengalami ujian dan kesulitan yang sama seperti yang mereka alami pada usia yang sama, maka timbul pula rasa tidak senang.

3. Menganggap pekerjaan sebagai seluruh hidupnya

Meskipun banyak anak muda yang menginginkan tujuan dalam kariernya, mereka juga condong tidak menjadikan pekerjaan sebagai seluruh bagian hidupnya.

Identitasnya tidak perlu sepenuhnya berjuntai pada apa yang mereka lakukan di tempat kerja lantaran mereka juga melindungi waktu pribadi dan menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan untuk memastikan mereka mempunyai perihal lain yang membentuk identitasnya.

Bagi generasi yang lebih tua, pekerjaan adalah puncak kehidupan dan kesuksesannya. Itulah sebagian alasan, berbareng dengan kesulitan keuangan, kenapa begitu banyak orang yang lebih tua menunda pensiun.

Mereka memerlukan bagian dari identitas ini untuk merasa seperti manusia sejati, dibandingkan dengan generasi Z, yang sering merasa sebaliknya ketika mereka sedang bekerja.

4. Gaya komunikasi

Setiap generasi mempunyai karakter unik komunikasi sendiri, termasuk frasa dan kata slang spesifik yang mendefinisikan rasa kebersamaan dengan orang lain.

Namun, banyak generasi yang lebih tua telah menjadi ahli bicara bahasa gaul perusahaan di kantor, biasanya dengan mengorbankan semua orang lain yang bekerja di sana.

5. Berpegang teguh pada tradisi

Banyak anak muda melaporkan merasa diabaikan dan tidak didengar di tempat kerja oleh generasi yang lebih tua, sehingga pekerjaan terasa tidak berarti dan toxic setiap harinya.

Baik itu merasa tidak didengarkan alias mencoba mengubah tradisi yang tidak lagi sesuai dengan atasannya, sembari merasa terikat pada mitos yang tidak realistis dan tidak betul tentang generasi mereka, Gen Z menganggap perilaku tradisional semacam ini tidak menarik.

6. Menghindari teknologi

Meskipun betul bahwa penggunaan AI yang berlebihan di tempat kerja dan menghabiskan terlalu banyak waktu di depan layar jelek bagi kesehatan, dalam beberapa situasi, menggunakan perangkat tersebut dapat membikin pekerjaan lebih mudah dan produktif.

Namun, sebagian besar pekerja telah menyaksikan rekan senior dan sebaya mereka menolak teknologi dan alur kerja baru.

Baik itu dengan menolak alias mengharapkan semua orang bekerja lebih lama untuk mempertahankan kebiasaan dan rutinitas tradisional, Gen Z merasa frustrasi dengan kurangnya keterbukaan dan fleksibilitas.

7. Menganggap libur sebagai sesuatu yang buruk

Banyak Gen Z merasa lebih nyaman mengambil libur kerja, baik itu hari kesehatan mental dengan libur sakit alias libur berbayar, sebagian besar lantaran nilai-nilai work-life balance mereka.

Namun, generasi yang lebih tua sering menghindari libur berbayar atas nama loyalitas perusahaan alias etos kerja, dan malah bekerja terlalu keras tanpa istirahat.

Meskipun mereka tetap mengambil libur dan libur ketika ada kesempatan, kaum muda condong merasa lebih bersalah.

Budaya menolak libur alias bekerja lembut demi kesejahteraan pemimpin dapat mendorong Gen Z untuk merasa bersalah lantaran menggunakan waktu yang mereka butuhkan di luar pekerjaan.

8. Menormalisasikan kelelahan

Begitu banyak generasi lebih tua telah menjadikan kelelahan kerja mereka sebagai tanda kehormatan, berpura-pura bahwa kesibukan terus-menerus dan lembur di instansi adalah bagian dari identitas pribadi.

Beberapa apalagi mengaitkan nilai diri mereka dengan keahlian di tempat kerja, membikin hal-hal seperti umpan kembali alias penolakan dari kolega yang lebih muda terasa seperti serangan pribadi.

9. Terlalu sering rapat

Menurut sebuah studi Jabra, sebanyak 58 persen waktu rapat sepanjang minggu sama sekali tidak perlu, menciptakan beragam macam inefisiensi dan pemborosan finansial, baik bagi perusahaan maupun karyawan.

Banyak pemimpin tetap membikin tenaga kerja mereka kelelahan akibat rapat dan menjadwalkan terlalu banyak perihal yang sebenarnya bisa diselesaikan melalui email.

10. Mengabaikan percakapan tentang kesehatan mental

Banyak Gen Z mengubah lanskap percakapan tentang kesehatan mental, apalagi di tempat kerja. Mereka mencari dan menerima akomodasi kesehatan mental, baik itu dengan mengambil libur kesehatan mental alias merasa nyaman berbincang tentang kesulitan dengan manajer di tempat kerja.

Namun, banyak generasi yang lebih tua tetap menghadapi stigma kesehatan mental yang mereka alami di masa muda, yang menyebabkan mereka menutup diri alias menghindari topik-topik penting.

Hal ini mempersulit kaum muda di tempat kerja untuk mengungkapkan kerentanan dan mencari dukungan, sehingga semakin memperlebar kesenjangan yang sering dialami generasinya.

Nah, itulah beberapa perihal yang tidak disukai Gen Z tentang langkah kerja generasi X dan boomer. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.

Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!

(asa/som)

Selengkapnya