23 perancang tersebut adalah Adeline Esther, Andreas Odang, Carmanita, Chossy Latu, Danny Satriadi, Denny Wirawan, Didi Budiardjo, Eddy Betty, Era Soekamto, Eridani, Ghea Panggabean, Hian Tjen, Ivan Gunawan, Liliana Lim, Mel Ahyar, Priyo Oktaviano, Rama Dauhan, Ria Miranda, Sebastian Gunawan, Wilsen Willim, Yogie Pratama, Yongki Budisutisna, dan Yosafat Dwi Kurniawan./Foto: Beautynesia/Nadya Quamila
Peragaan dibuka dengan menampilkan elemen esensial dalam lemari baju, yaitu kemeja putih, yang membawa sentuhan dan ciri khas khas masing-masing tiap desainer./Foto: Beautynesia/Nadya Quamila
Melalui DRAFT, 22 perancang IFDC menafsirkan ulang kemeja putih dari perspektif pandang imajinatif mereka masing-masing, mengubah siluet yang familiar menjadi sesuatu yang baru lewat potongan, teknik, dan detail rancangan yang khas./Foto: Beautynesia/Nadya Quamila
Dibuat menggunakan bahan katun yang halus dan berkualitas tinggi dari Cotton USA dan Danar Mas, setiap karya merayakan keelokan katun sekaligus mencerminkan karakter khas sang desainer./Foto: Beautynesia/Nadya Quamila
Kemeja putih ini tampil dalam beragam kreasi, mulai dari dirancang sebagai outer dengan siluet elegan, kemeja putih dengan lengan bervolume, embellishment pada bagiankecil kerah, hingga dikreasikan dengan sentuhan adat tradisional Indonesia./Foto: Beautynesia/Nadya Quamila
Hasil penjualan karya-karya ini akan didonasikan untuk mendukung penduduk yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang disalurkan melalui Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB)./Foto: Beautynesia/Nadya Quamila
Segmen kedua menampilkan peragaan busana Kanvas Budaya: Satu Napas, sebuah perayaan warisan adat yang dimaknai ulang melalui perspektif pandang kontemporer./Foto: Beautynesia/Nadya Quamila
Didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation, tahun ini, 23 perancang IFDC memadukan Batik Kudus (teknik cap) dengan denim, menciptakan percakapan antara tradisi dan modernitas./Foto: Beautynesia/Nadya Quamila
Peragaan Kanvas Budaya: Satu Napas membawa pesan bahwa warisan adat tidaklah dimaksudkan untuk tertinggal di masa lalu. Ia berevolusi, bertransformasi, dan terus hidup./Foto: Beautynesia/Nadya Quamila
Saat warisan adat berjumpa dengan irama masa kini, Batik Kudus membawa kisah-kisah tradisi sementara denim menuturkan bahasa modernitas./Foto: Beautynesia/Nadya Quamila
Kanvas Budaya: Satu Napas menjadi wadah bagi perancang IFDC dalam memaknai ulang harta warisan Batik Kudus melalui mode kontemporer dan denim./Foto: Beautynesia/Nadya Quamila