Puisi Hari Pendidikan biasanya menjadi ungkapan menyentuh hati, terutama saat Bunda mau mengenalkan makna pendidikan kepada Si Kecil. Lewat rangkaian kata sederhana hingga mendalam, Bubun telah merangkum 25 puisi yang siap menginspirasi untuk Hari Pendidikan Nasional.
Dalam momen peringatan Hari Pendidikan Nasional pada tanggal 2 Mei, puisi bisa menjadi media yang hangat untuk menanamkan nilai dan semangat belajar. Mulai dari puisi Hari Pendidikan Nasional singkat hingga yang penuh makna, semuanya bisa Bunda temukan di sini dengan pilihan yang beragam.
Puisi Hari Pendidikan juga datang dalam corak yang dekat dengan anak-anak, termasuk puisi Hari Pendidikan Nasional untuk anak SD yang mudah dipahami. Tak hanya itu, ada pula karya dengan struktur puisi pendidikan empat bait yang cocok untuk tugas sekolah maupun lomba.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setiap bait dalam puisi-puisi ini tidak sekadar indah, tetapi juga sarat pesan tentang masa depan dan harapan. Tema puisi pendidikan dan angan dihadirkan untuk membangun semangat serta rasa percaya diri anak dalam meraih cita-cita.
Penasaran gimana rangkaian puisi ini bisa menyentuh hati sekaligus memberi inspirasi? Yuk, Bunda temukan kumpulan puisi terbaik yang sesuai dengan kebutuhan Si Kecil dan momen spesial Hari Pendidikan Nasional di bawah ini!
15 Contoh puisi Hari Pendidikan tentang bumi sekolah, belajar, dan pentingnya ilmu
Berikut ini 15 kumpulan puisi Hari Pendidikan tentang bumi sekolah, semangat belajar, dan pentingnya pengetahuan yang Bubun rangkum dari beragam sumber.
Puisi ini cocok sebagai referensi puisi pendidikan SD hingga SMA dan jadi inspirasi puisi tentang pendidikan yang penuh makna.
1. Bintang
Pertama, hadir puisi pendidikan karya Chairil Anwar yang berjudul Bintang. Puisi Hari Pendidikan ini dikutip dari kitab Masa Lalu Mencahayai Masa Depan (SMA Kolese De Britto 1948-1958) oleh Y. Sumardiyanto, M. Dwi Prasetyo, dan tim.
Adapun puisinya sebagai berikut:
Bintang
Aku mencintai kelasmu
Kamu membantuku tuk melihat
Bahwa untuk hidup bahagia
Belajar adalah kuncinya
Kamu
memahami muridmu
Kamu
perhatian dan pandai
Kamu pembimbing terbaik yang pernah ada
Aku tahu itu dari awal kita bertemu
Aku memperhatikan kata-katamu Kata-kata dari seorang pembimbing sejati
Kamu lebih dari teladan terbaik
Sebagai guru, Anda adalah bintang
2. Belajar Membaca
Selanjutnya, terdapat puisi pendidikan karya Sutardji Calzoum Bachri dengan titel Belajar Membaca. Puisi Hari Pendidikan ini dikutip dari kitab Makna Harfiah Puisi Kontemporer Indonesia: Puisi Konkret oleh Mahmud Hidayat.
Belajar Membaca
kakiku luka
luka kakiku
kakikau lukakah
lukakah kakikau
kalau kakikau luka
lukakukah kakikau
kakiku luka
lukakaukah kakikau
kakiku luka
lukakaukah kakiku
kalau lukaku lukakau
kakiku kakikaukah
kakikaukah kakiku
kakiku luka kaku
kalau lukaku lukakau
lukakakukakiku
lukakakukakikaukah
lukakakukakikaukah
lukakakukakiku
3. Elegi Ujian Nasional
Puisi Hari Pendidikan berikutnya berjudul Elegi Ujian Nasional yang dikutip dari Buku Kumpulan Puisi Pintu Hati karya Dra. Hj. Susilowati.
Elegi Ujian Nasional
Lima bulan sudah berlalu ujianku
Empat bulan berita ceria sudah kuterima
Nilai mata pelajaranku tinggi semua Sampai-sampai juara satu tingkat provinsi
Hatiku hambar, bercampur baur
Kutengok pada daftar nilaiku Alhamdulillah memang bagus Alhamdulillah kebenaran ini dapat kuraih
Anak-anakku bisa sukses mengharumkan nama
Sekolah yang setiap tahun ada program bahasa
Si jelita dua belas bahasa nyaris semua
Mata pelajaran berpredikat A
Ada Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Antropologi, Matematika, dan Sastra Indonesia juga A
Kini ku hitung sudah lima bulan
Kepala sekolahku baru sosialisasi hasil UN itu
Dan saya lebih percaya kini
Mengapa dulu hatiku hambar
Mengapa tidak manis meski sudah bergula?
Rupa warna rasa dan karsa menyatu di sana
Ragu antara original dan palsu
Tak elok dipandang
Tak layak mau diucap
Namun kau sudah taburkan racun dalam duniamu
Kau pula meneguk menikmati pahitnya
Duniaku apa yang kudu ku perbuat sekarang Tulangku lunglai, jiwaku menderita karenanya
Tuhanku, bisakah ku bingkai kembali semangatku
Mempertahankan predikat yang pernah ku raih itu?
Membangun semangat yang pisah berai ini?
Kini anak-anakku yang bungsu
Kau jangan malas membaca, tanya pada guru, berlatihlah
seperti kakakmu dua belas bahasa dulu
Setetes Madu Kehidupan
Hari-hari tlah ku lewati
Bersama legitnya madu kehidupan
Menggapai satu demi satu kenikmatan
Bagai bukit kelezatan mengalir legitnya
Di sini berkah Mu berlimpah-limpah
Di sana nikmat-Mu kuraih mesra
Bersama alunan merdu suara
Burung berkicau panjatkan doa
Tak terasa hari pun sudah tinggi
Tegak berdiri kaki sendiri
Penopang family saya bahagia
Sebagai ratu madu kehidupan
Setiap kali siap sedia
Tetesan madu kehidupan keluarga
Subhanallah... lezat-Mu terkecap di ujung lidah
Membakar semangat antusiasme berkarya
Susilowati Kelepak Hitam
Di bilik yang hening, malam itu
Kumengadu pada-Mu ada sesuatu
Lalu lalang kelepak elang, dari mana
Kumerintih serasa pedih
Kelepak kedua datang pula
Menyambar-nyambar air muka
Namun tak kuheran ini hewan apa
Menjelang rekaat kedua, habis
Berputar tujuh kali menggeliat-geliatkan sayapnya
Kusedang mengadu pada-Nya jangan usik aku
Hangus tak berbekas seketika sirna
Kelepak sayap tak berwarna,
Binatang apakah itu?
Atau utusan sesuatu
Kubersujud takzim namun tetap waspada
Aku tidak takut namun asing aja
Sirnalah dia sirnalah si kelepak sayap
Pulang padanya saya sedang mengadu
Kesedihan anakku ditabrak orang dari belakang.
Cerita tua
Di ujung jalan seorang tua terseok
Membimbing langkah mendaki bukit
Tiada pegangan
Gontai tapi Berani,
Kaki satu maju kaki kedua mendahului
Tak terdengar derap langkahnya
Terseok mengiringi jalan menanjak
Semakin berani, semakin terjal
Batuan menjilat telapak kaki kiri
Dingin membimbing langkahnya
Tegar berdiri jalan terpampang
Serasa dekat, alamat tujuan
Serasa nikmat angin berbisik mesra
Tinggal seratus langkah kau kan sampai padanya
Batinku mengadu, kan sampaikah kita?
Batu yang dulu dingin membimbingku
Kini menghangatkan suasana
Kau bakal tepat waktu sampai padanya Masih setia kaki tegak melangkah seratus langkah
Tak ada aral, namun hari semakin tinggi
Tengoklah terus ke atas bukitmu
Tak perlu lagi batinmu mengadu
Kini tinggal terhitung jari
Gemuruh angin bertiup kencang
Menyambut cerita yang kan kau bawa
Ya Tuhan pembuat alam, ijinkan daku menggapainya
Sebagai cerita di hari tua
4. Cita-cita Seorang Anak Yatim
Masih dari sumber yang sama, berikut ini puisi tentang pendidikan berjudul Cita-cita Seorang Anak Yatim oleh Dra. Hj. Susilowati.
Cita-cita Seorang Anak Yatim
Sejak roda berputar cepat
Bagai kereta api pagi
Menjerit merayap mengejar sinar mentari
Mengeluh mengaduh hanya sendiri
Menyeberangi sungai dalam gelapnya mata
Tak hiraukan dinginnya pagi buta
Dia meronta meminta doa
Tuk mencapai cita-cita mulia
Katanya, kan ku pimpin anak-anak yatim
Yang berceceran dimana-mana
Kan ku angkat mengangkasa raya
Menjadi cerdas pandai yang budiman
Menjadi manusia yang kaya raya
Hati dan jiwanya sampai tak
Menjerit lagi sampai tak berteriak lagi
Kau sekarang tak merayap lagi
Tak terlilit utang di tanah berseri
Katanya dalam hati
Kan ku bangun jiwa masyarakat madani
Berkarakter dan berbudaya
Agar tanah air tercinta tetap milik kita bersama
Tetap bagus bergejolak seperti dalam lagu Indonesia Raya
Ku titipkan salam pada para bunda
Yang jauh dari papa
Bersabarlah ibu mengasuhku ananda
Esok hari kan bercahaya lagi
Karena di sana jalannya terpatri
5. Kini Tunas yang Keenam
Berikut ini puisi Kini Tunas yang Keenam karya Dra. Hj. Susilowati.
Kini Tunas yang Keenam
Senja kemerahan menyinari langit ibu kota
Tergenang gumpalan awan menghitam dalam angan
Kuberdiri dekat pintu hati yang dalam
Memanjat angan keselamatan tunas baru
Ku tengarai isi hatinya manis tak berduri
Ranum wajahnya bagai tak berbeban
Tenang bagai lautan siang menyegarkan
Teguh pada pokok kayu tua
Di sanalah tunas keenam tumbuh
Bongkahan batang yang tegak berdiri
Telah subur tumbuhnya tunas keenam
Rabu Kliwon nama hari istimewanya
Enam Mei nama tanggal lahirnya
Dan dua ribu lima belas jumlah tahunnya
Terus tumbuhlah meraih kehidupan
Menggapai angan yang telah kau tunaikan
6. Belajar
Berikutnya, terdapat puisi Belajar karya Michelle Joe Fransiska Hadinata yang dikutip dari buku Pijar: Antologi Puisi Pendidikan oleh Benny D Setianto, et.al:
Belajar
Bagaimana reaksi Kimia dapat terjadi?
Bagaimana gempa bumi dapat terjadi?
Bagaimana proses terjadinya rotasi bumi?
Pertanyaan yang sederhana bukan?
Namun butuh waktu berpikir untuk menjawabnya
Tidak cukup berpikir sendiri, tidak mungkin bisa
Ya, kita kudu berupaya mencari tahu
Berusaha belajar
Pergi ke sekolah, membaca buku, mendengarkan guru
Belajar memenuhi rasa mau tahu
Belajar menjadikan kita pintar
Belajar membikin kita mengeksplorasi perihal yang belum
pernah kita tahu sebelumnya
Kita menjadi sadar bakal perihal yang tidak pernah disadari
Kita dapat membedakan mana yang baik, mana yang buruk
Kita menjadi orang yang bisa menguasai diri
Memang tidak semua perihal menarik untuk dipelajari
Memang tidak semua orang tertarik untuk belajar
Memang setiap perseorangan mempunyai kesukaan yang berbeda
Tetapi kita kudu tetap belajar
Agar tidak tersesat dalam bumi yang berlika-liku
Tak lupa sebagai bekal untuk dibagikan kepada anak cucu di masa depan
Belajarlah sampai menggapai langit impian
Belajarlah sampai menjadi jembatan sinar bagi banyak orang
Belajarlah sampai menjadi kembang bangsa yang membanggakan
7. Tujuan Ilmu
Puisi Hari Pendidikan yang berikut ini berjudul Tujuan Ilmu karya David Aribowo dan dikutip dari kitab Pijar: Antologi Puisi Pendidikan oleh Benny D Setianto dkk, Civitas Akademika Unika Soegijapranata
Tujuan Ilmu
Aku melangkah tanpa arah tujuan
Hingga angan menjadi suram
Aku berimajinasi seperti elang
Hingga rintangan terlihat ringan
Aku membuang waktu untuk tujuan
Hingga pengetahuan tampak luas dan terang
Aku sukses menuntut ilmu
Hingga pekerjaan terasa kesenangan
8. Pendidikan dan Harapan
Berikutnya terdapat puisi pendidikan karya Dwi Arif dengan titel Pendidikan dan Harapan. Puisi Hari Pendidikan ini dikutip dari sumber yang sama, ialah kitab Pijar Antologi Puisi Pendidikan - Universitas Katolik Soegijapranata.
Pendidikan dan Harapan
Pendidikan adalah tangga harapan
Tangga itu menuntun manusia untuk mencapai tujuan
Semua manusia berkuasa untuk menggunakan
Untuk mengubah mimpi menjadi kenyataan
Tangga itu tidak boleh disembunyikan
Dari semua insan yang mau perubahan
Tangga tersebut tidak boleh disalahgunakan
Hanya untuk meraih keuntungan
Tangga itu kudu betul-betul kuat
Agar bisa merubah manusia menjadi bermartabat
Tangga tersebut kudu selalu dirawat
Agar bisa membimbing kita meraih logika sehat
Tangga itu kudu bisa beradaptasi
Dari jaman yang begitu kencang berlari
Tangga itu tidak boleh dinodai
Agar bisa mengantar kita menjadi manusia beradab yang hakiki
9. Gerbang Masa Depan
Bersumber dari Goresan Pena: Antologi Puisi Pendidikan, terdapat pula puisi tentang pendidikan berjudul Gerbang Masa Depan karya Ni Nengah Restari.
Gerbang Masa Depan
Aku melangkah...
Dari lembah yang gelap Helaan napas yang terhempas
Untuk menggapai secercah harapan
Terhempas gelombang, berpijak batu karang
Kau datang...
Tangan halusnya menyentuh...
Meraba...
Membuai...
Membelai penuh kasih...
Hingga ke dasar hati yang dalam...
Menuntunku...
Menuju gerbang masa depan
Dengan tatanan sikap... pengetahuan...
Dan ketrampilan yang kau tebar...
Karena kebodohan...
Aku yang dulu bukan apa-apa...
Kini saya bisa berdiri tegak
Dengan tatanan sikap... pengetahuan...
Dan ketrampilan yang kau tebar...
Aku yang dulu bukan apa-apa...
Karena kebodohan...
Kini saya bisa berdiri tegak
Menjadi siapa... dan siapa…
Berkat ketekunanmu dan kesabaranmu
Menorehkan ilmu...
Demi merengkuh sejuta angan dan impian
Sungguh jasamu tak terbalaskan...
Aku tersentuh... merenung...
Tanpa berasa butir cerah menetes...
Dari sudut-sudut mataku...
Teriring sayup senandung lagu...
Engkau bagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Namamu bakal selalu hidup dalam sanubariku
Pujiku dan terima kasihku...
Untuk sang penyebar ilmu
Senandung ini bakal tetap tergaung
Dalam relung hati dan jagat raya ini
10. Ilmu Please Stand By Me
Puisi Hari Pendidikan berikut ini berjudul Ilmu Please Stand By Me karya Indra Haksari yang telah dikutip dari kitab Pijar: Antologi Puisi Pendidikan oleh Universitas Katolik Soegijapranata.
Ilmu Please Stand By Me
Saat malam tak juga berjumpa mimpi
dan segelas kopi tak cukup untuk menemani
Ah ilmu... kenapa engkau susah ku rangkai disini
engkau seakan melayang dan mau pergi...
Kalau sudah begini, siapa sebenarnya yang tak mau mengerti?
aku yang terlalu tolol tak terajari
Guruku yang kandas memaparkan metodologi
atau Anda yang terlalu tinggi tak bisa kuikuti...
Ayolah ilmu... jika Anda terus menari dan berlari
aku jadi takut berjumpa mentari pagi
mengalirlah sejenak disini
supaya saya bisa duduk tegak di bangku uji
Akhirnya kucoba menyelamimu lagi
Di antara tumpukan kertas berdebu kutelusuri
hingga saya mengerti, bukan seperti merapal mantra tak berarti
tapi engkau pun butuh untuk dipahami...
Kini saya siap hadapi hari
Melawan gelap kegoblokan yang menyelimuti
Aku bukan lentera tanpa api
Aku seperti anak panah yang siap menembus awan mimpi
11. Literasi
Puisi Hari Pendidikan selanjutnya yang bisa jadi inspirasi adalah puisi Literasi yang dikutip dari Apresiasiku untuk Pendidikan karya Kiswoyo, MPd.
Literasi
Direbahkannya di atas pembaringan badan ini
Terdengar debar waktu menyapa dalam sunyi
Ku ingat samar-samar dan ku resapi dalam hati
Yang terlintas tidak ada kata lain selain literasi
Membaca penuh makna menjelajah angan
Berbicara menutur kata menelusur impian
Menghitung bintang membayangkan harapan
Menggoreskan pena menulis dalam bayangan
Menyalurkan ekspresi diri mengayuh khayalan
Menatap masa yang jauh bakal khasanah bacaan
Berbicara, membaca, bercerita, dan menulis jadi acuan
Muara literasi yang berilmu dan berperadaban
Membaca membikin pikiran sadar
dan tak sadar serentak
Dua potensi luar biasa dalam diri
Saat membaca berdecak
Keduanya menangkap bagian yang sedang berdetak
Yang melahirkan macam-macam literasi bagus berkepak
12. Menggapai Impian
Puisi berjudul Menggapai Impian karya Ni Nengah Restari juga cocok dijadikan inspirasi untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional. Puisi ini dikutip dari kitab Goresan Pena: Antologi Puisi Pendidikan.
Menggapai Impian
Senyum terukir tipis
Menghias bibir yang manis
Langkah demi langkah berpijak
Mengejar angan yang bijak
Sejuta angan ku rengkuh
Laksa rintangan ku tempuh
Laksa Menuju kemenangan
Menggapai impian
Riang ceria jalan hidup
Hati tulus senang datang
Perjuangan dan angan penuh ikhlas
Bawa berkah yang berlimpah
13. Pendidikan
Masih berasal dari kitab yang sama, berikut ini puisi Pendidikan karya Sriyatun yang juga cocok untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional.
Pendidikan
Beribu makna terkandung dalam huruf di bacaanmu "Pendidikan"Pondasi kokoh peradaban bangsa
Empati dan etitut tercermin dalam uraian dan pelaksanaanmu
Negeri maju dan berkembang lantaran tuntunan
Dedikasi diri untuk kemajuan dan kemandirian bangsa Indeks prestasi dalam sikap, pengetahuan, dan keahlian adalah tujuan utama
Dunia luas dinaungi kemajuan teknologi menjadi tantangan terbesar
Inspirasi dari setiap insan yang berlindung di duniamu menjadi pemenang
Koreksi adalah semangat untuk memandang peluang
Antarkan bangsa menuju peradaban besar yang bisa bersaing
Nominasi tertinggi bisa bangsa raih jika maknanya dalam penerapan
Itulah pendidikan bagiku
Pendidikan yang berbudi pekerti dalam etika
Pendidikan yang berspiritual dalam tindakan
Pendidikan yang bersosial dalam pergaulan
14. Mengejar Mimpi
Puisi Hari Pendidikan berikutnya berasal dari kitab Antologi Puisi Detak Kehidupan oleh Asri Lolita, Agis Maisuryanti, Shitra Dwi Afriza, dkk, dengan titel Mengejar Mimpi.
Mengejar Mimpi
Aku gelisah
Perasaanku bercampur aduk
Deru nafasku menggebu
Seakan sedang berlari jauh
Aku takut melakukan kesalahan hari ini
Aku mengerti tentang diriku hari ini
Namun...
Aku berdiri di tengah lapangan yang kosong
Dan saya mulai merasa takut bakal kekosongan ini
Perasaan ini dengan takdirku
Aku mencoba untuk menghibur diri
Berkata bahwa bumi tak bisa menjadi sempurna
Aku mau seperti ini dulu sejenak
Di bawah rintikan hujan
Aku berlari
Bahkan jika saya terjatuh saya bakal terus berlari mencapai mimpiku
Mimpi dan harapan
15. Ilmu Abadi
Salah satu puisi lainnya yang juga bisa jadi inspirasi untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional adalah puisi Ilmu Abadi karya Medina Muncar Irmaranti. Puisi ini dikutip dari kitab Antologi Puisi Pendidikan yang diterbitkan oleh Unika Soegijapranata.
Ilmu Abadi
Ilmu adalah sinar kehidupan
Menjadi penerang dalam gelapnya kehidupan
Begitu luas untuk dijelajahi
Ilmu ibaratkan petunjuk
Penuntun ke jalan yang benar
Menjadi dasar atas apa yang kita lakukan
Ilmu tak pernah lekang oleh waktu
Berkembang seiring berkembangnya waktu
Dan bakal terus berkembang hingga akhir kehidupan
10 Contoh puisi Hari Pendidikan untuk wali kelas dan pembimbing yang punya makna mendalam
Hari Pendidikan Nasional tidak bakal bisa lepas dari sosok pembimbing dan wali kelas yang telah berjasa terhadap pendidikan kita.
Berikut ini kumpulan 10 puisi Hari Pendidikan untuk wali kelas dan pembimbing yang sangat menyentuh hati dan telah dirangkum dari kitab Pijar Antologi Puisi Pendidikan yang diterbitkan Universitas Katolik Soegijapranata.
1. Guruku
Puisi Hari Pendidikan yang pertama untuk pembimbing dan wali kelas berjudul Guruku karya Irfan Putra Hura.
Guruku
Guru, sebuah nama yang sederhana
Namun dapat melahirkan pemimpin bangsa
Sebuah nama yang mudah diucapkan
Namun susah untuk dilupakan
Pagimu adalah pagiku
Ilmumu adalah ilmuku
Teguranmu mendidikku
Hingga saya tahu apa siapa diriku
Engkau laksana lampu di dalam kegelapan
Yang menerangi dalam kegelapanku
Engkau ibaratkan angin
Yang selamanya berbisik tentang kebaikan
Namamu selamanya bakal bergelora
Tanpa kudu diingatkan ku pasti mengingatnya
Jasa yang kau tanamkan, sudah bertumbuh
Guruku, terimakasih untuk semuanya
2. Guruku Pahlawanku
Masih dari sumber kitab yang sama, berikut ini puisi Hari Pendidikan berjudul Guruku Pahlawanku karya Pieter Wattimury.
Guruku Pahlawanku
Jika Matahari tidak ada
Jika Matahari tidak bercahaya lagi
Maka gelaplah bumi ini
Tak ada setitik pun sinar menyinarinya
Tidak ada kehangatan yang terpancar
Guru...
Engkau seperti matahari
Bersinar dan memberi sinar pendidikan
Dengan ketulusan engkau mendidik
Engkau mengajar dan membagi ilmu
Terimakasih atas segala jasamu
Engkaulah pahlawan bagiku
3. Jejak Pelita
Berikutnya, terdapat puisi Hari Pendidikan untuk pembimbing yang berjudul Jejak Pelita karya Keigo Gabriel.
Jejak Pelita
Masa ini saya dapat terbang dan memijak mentari
Cahaya bintang bagiku tak lebih jauh dari cakrawala
Dan segala gunung bebatuan dapat ku belah
Segala lena dan buai seketika mengetuk memori
“Bagaimana awal ku capai semua ini?
"Siapa yang menerimaku di kala lampau memberi segala detik mereka untukku?"
Satu per satu angan membawa siluet figur yang Tuhan kirim padaku
Terekam dalam akal nama yang kulupakan
Guru ku, pembimbingku.. Sudahkah saya berterima kasih?
Sudahkah saya menghargai waktumu yang dulu ku ambil demi ego masa depan diri ini hanya dengan sekedar sapa?
Aku terhenyak sadar bahwa mentari yang ku injak mempunyai warna sinar mu
Batu yang ku belah adalah kekuatan yang ku genggam dari mu
Nilai-nilai di atas kertas usang tak lagi berarti
Tak lagi terekam coretan nilai alias kertas usang, terlebih hukuman-hukuman bandel yang dulu ku terima
Tapi saya tak bakal lagi menganggapmu sebagai nama yang sejenak singgah
Aku, yang tlah mendewasa ini, hanyalah purnama
Dimana terang ku adalah lantaran sinar mu, pembimbing ku.
4. Pahlawan Hidupku
Puisi Hari Pahlawan berikut ini berjudul Pahlawan Hidupku karya Roberta Nurlita.
Pahlawan Hidupku
Ku lihat kau mengajar
Ku dengar kau menjelaskan
Ku senang saat melihatmu
Ku lihat kau setiap hari di bangku ku di perspektif kelas
Ku mau menjadi sepertimu dalam lamunanku
Semangatmu saya menyukainya
Lelah dirimu saat mengajarku pun tak kau risaukan
Tak pernah kau mengeluh padaku saat ku tak mengerti sesuatu
Karna hanya senyuman dan rayuan di rambutku yang kau tunjukkan
Ini semua bukti pengabdianmu
Jasa-jasa mu tak bakal pernah bisa tergantikan
Terimakasih guruku kau pahlawan bagi masa depan ku
Ingin ku berpesan padamu
Janganlah kau jenuh guruku
Jadilah panutanku selamanya
Semangatmu bakal selalu ku ingat di setiap belajarku
Untukku juga menjalani kehidupanku
Terimakasih untukmu ku ucapkan
Sang pahlawan ku
Sang pelita kehidupanku
5. Guruku Hebat
Inspirasi puisi pendidikan pendek untuk memperingati Hari Pendidikan 2026 adalah puisi Guruku Hebat karya David Aribowo.
Guruku Hebat
Engkaulah sumber masa depanku
Engkaulah sumber angan ku
Engkaulah sumber jasaku
Hampir setiap hari ku menatap rautmu
Setiap hari ku mencari pengetahuan darimu
Hampir setiap hari kau di sisiku
Impianku terbentuk lantaran jasamu
Harapanku terwujud karna semangatmu
Kesuksesanku tercapai lantaran kehebatanmu
6. Aku Rela Dididik
Puisi Aku Rela Dididik karya David Aribowo juga bisa jadi salah satu inspirasi puisi Hari Pendidikan Nasional empat bait untuk disampaikan ke pembimbing dan wali kelas.
Aku Rela Dididik
Aku rela kau tegur demi kesabaranmu
Aku rela belajar giat lantaran nasihatmu
Aku rela dididik lantaran saranmu
Aku tidak rela untuk mencontek lantaran janjimu
Kau rela mendidiku untuk merubah hidupku
Kau rela membimbingku meskipun saya bandel
Kau rela menyayangiku meskipun saya letih
Kau rela memberi jasa untuk beragam masa depan muridmu
7. Terima Kasih Guru
Berikutnya, puisi Terima Kasih Guru karya David Aribowo.
Terima Kasih Guru
Doa pembimbing mengiringi masa depanku
Doa orang tua menemani semangat belajarku
Kepergianku tidak bakal menggantikan jasa guruku
Kepergianku bakal menggantikan buah dari hasil kesabaran guruku
Terima kasih guru, sudah terlibat membentuk masa depanku
Terima kasih guru, telah membuatku menjadi orang yang hebat
Terima kasih guru, sudah menggantikan peran ortu-ku
Terima kasih guru, telah memancarkan harapanku yang nyaris sirna
8. Penerang Bangsa
Inspirasi puisi Hari Pendidikan untuk pembimbing dan wali kelas berikutnya berjudul Penerang Bangsa karya Fei Bheola.
Penerang Bangsa
Pukul empat ku bangun dari kasurku
Ku memandang gelap gulita tetap menyelimuti pagiku
Ku minum segelas susu, mandi, dan berangkat sekolah
Ku memandang ibu pembimbing tersenyum padaku di depan gerbang sekolah...
Ku cium tangannya yang sangat berbobot itu...
Saat jam 12 siang ku tetap memandang guruku di depan sana mengajar dengan bibirnya yang tetap tersenyum
Berusaha menutupi segala kelelahan yang ada
Menerangkan, menulis tanpa henti sampai kami mengerti
Mengisi beragam pengetahuan untuk masa depan kami nanti
Ibu guruku selalu menerangiku..
9. Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Puisi Hari Pendidikan selanjutnya berjudul Pahlawan Tanpa Tanda Jasa karya Erica Rosalinda.
Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Sinaran sang mentari
Tanda tuk memulai hari-harimu
Tak ada kata capek dari dirimu
Kata semangat yang selalu kau ingatkan padaku
Guruku ...
SemangatMu dan perjuanganMu
Akan selalu ada di hatiku
Dan sampai kapanpun
Ajaranmu bakal selalu termeterai di hidupku
Trimakasih guruku
Kau pahlawan tanpa tanda jasa
10. Kepadamu Guru
Puisi Hari Pendidikan berikut ini berjudul Kepadamu Guru karya Virgiawan Aryo Wibisono.
Kepadamu Guru
Kepadamu Guru
Ibunda belajarku
Gertakanmu saya ingat
Amanatmu saya simpan
Wajahmu saya bayangkan
Di tengah musibah
Engkau bertahan
Gertakanmu tetap terasa
Amanatmu tetap bersuara
Wajahmu hanya di kaca
Kepadamu Guru
Ibunda belajarku
Perjuanganmu saya kenang Semangatmu saya cerna
Ilmumu saya terapkan
Bunda, itulah kumpulan puisi Hari Pendidikan yang bisa menjadi inspirasi untuk memperingati Hari Pendidikan 2026. Semoga setiap rangkaian kata-katanya diharapkan bisa menginspirasi serta menumbuhkan apresiasi terhadap pentingnya pendidikan dalam kehidupan sehari-hari, ya Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·