Jakarta -
Mastitis adalah peradangan di tetek yang dapat dialami ibu menyusui. Kondisi ini tak hanya menyebabkan nyeri, bengkak, dan rasa tidak nyaman pada payudara, tetapi juga bisa mengganggu proses menyusui.
Menurut master dan konselor menyusui dr. Anastasia Lilian, S, CBS, IBCLC, mastitis rentan terjadi kurang dari satu hingga dua bulan pertama sejak bayi lahir. Penyebabnya bisa lantaran Bunda yang sedang beradaptasi dengan perubahan usai melahirkan.
"Risiko rentan terjadi kurang lebih satu alias dua bulan pertama setelah lahir. Ibunya tetap belajar, baby-nya belajar, jadi tetap perlu penyesuaian waktu. Ibu belum bisa membedakan pelekatan dan posisi optimal, dan jadwalnya seperti apa juga belum jadi rutinitas," ujar Anastasia, dalam Exclusive Media Interview RS Pondok Indah Group via Zoom, Selasa (4/8/26).
Penting bagi Bunda untuk mengenali mastitis sejak sebelum melahirkan. Memahami penyebab dan indikasi mastitis dapat mengurangi akibat terjadinya peradangan sekaligus lebih siap mengatasinya jika kondisi ini muncul selama masa menyusui.
Ada kebenaran dan mitos mengenai mastitis yang perlu Bunda ketahui. Simak penjelasannya berikut ini ya!
Fakta dan mitos tentang mastitis selama menyusui
Berikut kebenaran dan mitos tentang mastitis yang perlu Bunda ketahui sebelum dan selama menyusui Si Kecil:
1. Mastitis dapat terjadi secara berulang
Mastitis berulang adalah fakta. Anastasia mengatakan bahwa mastitis berulang bisa terjadi lantaran beberapa penyebab, ialah pengosongan tetek yang tidak sempurna lantaran posisi pelekatan menyusui yang salah dan agenda pengosongan tetek yang tidak tepat.
"Pengosongan tetek tidak sempurna bisa terjadi lantaran posisi pelekatan tidak benar, sehingga menyebabkan lecet. Kalau terluka di kulit, maka ada akibat kuman masuk lewat lecet itu," kata Anastasia.
"Selanjutnya, agenda pengosongan tetek tidak tepat, harusnya dilakukan tiap dua hingga tiga jam, lampau tiba-tiba terlewat satu sesi dengan jarak yang jauh. Itu bakal menumpuk dan menyebabkan bengkak dan rawan terjadi clogging dan mastitis.
Selain masalah pengosongan payudara, mastitis juga dapat dipicu oleh kondisi emosional. Bunda yang mengalami stres rentan terkena jangkitan mastitis.
"Lalu, ibu dalam kondisi emosional sedang stres, juga bisa terpengaruh ke imunitas, jadi lebih mudah terkena jangkitan saat menyusui. Itu biasanya yang menyebabkan mastitis berulang," ungkap Anastasia.
2. Gejala mastitis susah dikenali
Gejala mastitis sebenarnya sama sekali tidak susah dikenali, Bunda. Menurut Anastasia, indikasi mastitis cukup khas, ialah munculnya nyeri di salah satu tetek dan disertai demam.
"Gejala mastitis itu produksi ASI turun, adanya kemerahan, bengkak, dan nyeri di satu payudara, serta demam, menggigil, alias meriang," ungkap Anastasia.
"Kalau hanya demam tapi tetek enggak ada lecet, merah, dipegang nyaman, menyusui tetap oke, dan produksi tidak berubah, kita enggak mengarah ke mastitis, itu bisa lantaran jangkitan saluran pernapasan, pencernaan, dan lainnya."
3. Mastitis yang tidak ditangani bisa menjadi abses
Bunda yang mengalami mastitis perlu secepatnya mendapat penanganan medis. Bila dibiarkan, mastitis bisa berubah menjadi bisul payudara, ialah kondisi benjolan di tetek yang berisi nanah.
"Payudara kudu segera dikosongkan pada mastitis, kadang perlu diberikan antibiotik jika sudah infeksi," kata Anastasia.
"Setelah penanganan 24 hingga 48 jam tidak kunjung membaik, malah ada benjolan besar, ditekan ada cairan, dan lebih nyeri, kita dapat berprasangka ke arah abses. Itu ada dua kemungkinan penanganan, yakni antibiotik diganti dan dilihat apakah ada perubahan perbaikan, alias jika tidak dapat dirujuk ke ahli bedah untuk USG. Kalau bisul berat, itu bisa di-drainase, alias insisi," lanjutnya.
4. Penanganan mastitis bisa dengan kompres air hangat dan daun kol
Kompres hangat dan dingin dapat digunakan saat Bunda terkena mastitis. Namun, penggunaannya di waktu yang berbeda.
Menurut Anastasia, kompres alias mandi air hangat dapat dilakukan sebelum menyusui alias pumping. Sementara itu, kompres dingin dengan daun kol bisa diterapkan usai menyusui.
"Mandi air hangat bisa membantu melancarkan aliran asi, dengan melebarkan pembuluh-pembuluh darah di saluran ASI agar rileks. Cara ini boleh dilakukan saat tetek tidak ada rasa nyeri," kata Anastasia.
"Kalau ada nyeri, kompres sebaiknya di-setop dan konsentrasi ke kompres dingin dengan daun kol. Cara ini biasanya dilakukan setelah menyusui alias pumping untuk mengurangi bengkak, radang, dan nyeri," lanjutnya.
5. ASI yang tercampur darah lantaran mastitis tetap bisa diberikan ke bayi
Kunci dari penanganan mastitis adalah tetap menyusui alias memberikan ASI ke bayi. Rasa ASI yang keluar saat terjadi mastitis memang dapat berbeda. Namun, ASI ini tetap dianggap kondusif untuk diberikan ke Si kecil.
"Komposisi ASI saat mastitis memang bisa terasa asin. Tapi, tidak apa-apa untuk dikonsumsi oleh bayi dan tetap bermanfaat, jadi ini tidak beracun. Pada saat mastitis, justru disarankan untuk direct breastfeeding," ujar Anastasia.
Hal yang sama juga bertindak pada ASI yang bercampur dengan darah. Bunda tetap bisa memberikannya ke anak tanpa kudu takut kandungannya berubah. "Kalau ASI ada darah juga boleh diberikan ke baby-nya," ungkap Anastasia.
Demikian kebenaran dan mitos seputar mastitis selama menyusui. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·