Mengenal Proses Oogenesis pada Proses Pembentukan Sel Telur Perempuan

Aug 08, 2026 07:25 AM - 2 jam yang lalu 11

Jakarta -

Setiap wanita terlahir dengan jutaan bakal sel telur yang bakal menjadi bagian krusial dalam proses reproduksi. Namun, tidak semua bakal sel telur tersebut bakal berkembang hingga matang dan siap dibuahi. Di kembali proses ini terdapat sistem biologis yang disebut oogenesis.

Meski terdengar rumit, memahami proses oogenesis dapat membantu Bunda mengenal gimana tubuh mempersiapkan kehamilan. Selain itu, Bunda juga bisa mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi kualitas sel telur sehingga dapat menjaga kesehatan reproduksi sejak dini.

Apa itu oogonium?

Oogonium adalah sel induk yang nantinya bakal berkembang menjadi sel telur alias ovum. Sel ini sudah mulai terbentuk saat bayi wanita tetap berada di dalam kandungan ibunya.


Pada masa perkembangan janin, jumlah oogonium mencapai jutaan. Namun, sebagian besar bakal mengalami kematian alami sebelum bayi lahir. Saat lahir, bayi wanita diperkirakan mempunyai sekitar 1-2 juta bakal sel telur. Jumlah tersebut terus berkurang hingga memasuki masa pubertas, menyisakan sekitar 300.000-500.000 sel.

Sepanjang usia reproduksi, hanya sekitar 400-500 sel telur yang betul-betul bakal matang dan dilepaskan melalui proses ovulasi. Hal ini menunjukkan bahwa persediaan sel telur wanita memang terbatas sejak lahir.

Mengenal proses oogenesis

Oogenesis adalah proses pembentukan, pertumbuhan, dan pematangan sel telur yang berjalan di ovarium. Proses ini dimulai sejak masa janin, kemudian berakhir sementara selama bertahun-tahun, dan kembali bersambung ketika wanita memasuki masa pubertas.

Setiap bulan, hormon reproduksi bakal merangsang beberapa sel telur untuk berkembang. Namun, biasanya hanya satu sel telur yang sukses matang dan dilepaskan saat ovulasi. Jika berjumpa dengan sperma, sel telur bakal dibuahi dan berkembang menjadi embrio. Sebaliknya, jika tidak terjadi pembuahan, sel telur bakal luruh berbareng darah menstruasi.

Menurut kitab Langman's Medical Embryology, proses oogenesis bermaksud menghasilkan sel telur dengan jumlah kromosom yang tepat agar nantinya dapat membentuk embrio yang sehat setelah berjumpa dengan sperma.

Perbedaan spermatogenesis dan oogenesis

Meski sama-sama berfaedah menghasilkan sel reproduksi, proses pembentukan sperma dan sel telur mempunyai beberapa perbedaan.

Spermatogenesis terjadi di testis dan baru dimulai saat laki-laki memasuki masa pubertas. Produksi sperma berjalan terus-menerus setiap hari dan satu sel induk dapat menghasilkan empat sel sperma.

Sementara itu, oogenesis berjalan di ovarium dan sudah dimulai sejak wanita tetap berada di dalam kandungan. Setiap siklus menstruasi umumnya hanya satu sel telur yang matang dan siap dilepaskan.

Tahapan proses oogenesis

Proses oogenesis berjalan melalui beberapa tahapan krusial berikut.

1. Fase penggandaan (proliferasi)

Tahap pertama terjadi ketika janin wanita tetap berkembang di dalam kandungan. Pada fase ini, sel induk alias oogonium membelah diri melalui proses mitosis sehingga jumlahnya bertambah sangat banyak.

Selanjutnya, oogonium mulai berkembang menjadi oosit primer yang nantinya bakal melanjutkan proses pematangan.

2. Fase pertumbuhan (oosit primer)

Setelah terbentuk, oosit primer mengalami pertumbuhan dan mulai menyimpan beragam nutrisi yang dibutuhkan andaikan suatu saat terjadi kehamilan.

Pada tahap ini, proses pembelahan sel berakhir sementara dan dapat berjalan hingga bertahun-tahun. Oosit primer baru bakal kembali aktif setelah wanita memasuki masa pubertas.

3. Fase pematangan (masa pubertas dan menstruasi)

Ketika Bunda memasuki usia reproduksi, hormon FSH dan LH mulai bekerja merangsang pematangan sel telur setiap bulan.

Beberapa oosit primer bakal berkembang menjadi oosit sekunder. Namun, biasanya hanya satu folikel yang menjadi dominan dan menghasilkan sel telur matang.

Sel telur kemudian dilepaskan dari ovarium melalui proses ovulasi. Jika tidak dibuahi dalam waktu sekitar 12-24 jam, sel telur bakal mengalami degenerasi dan keluar berbareng darah menstruasi.

4. Fase fertilisasi (pembuahan)

Apabila sel telur berjumpa dengan sperma di saluran tuba fallopi, proses pembelahan sel bakal selesai dan terbentuk ovum matang.

Selanjutnya, inti sperma dan inti ovum bakal berasosiasi membentuk zigot. Zigot inilah yang nantinya berkembang menjadi embrio dan kemudian menjadi janin selama kehamilan.

Faktor yang memengaruhi kualitas dan jumlah sel telur

Selain usia, ada beragam aspek yang dapat memengaruhi jumlah maupun kualitas sel telur.

Beberapa di antaranya meliputi:

  • Bertambahnya usia, terutama setelah 35 tahun.
  • Gangguan hormon.
  • Sindrom ovarium polikistik (PCOS).
  • Endometriosis.
  • Penyakit autoimun tertentu.
  • Kebiasaan merokok.
  • Konsumsi alkohol berlebihan.
  • Obesitas.
  • Kurang tidur.
  • Stres berkepanjangan.
  • Paparan polusi alias unsur kimia berbahaya.
  • Riwayat kemoterapi alias radioterapi.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), kualitas sel telur bakal menurun secara alami seiring bertambahnya usia. Hal ini juga dapat meningkatkan akibat gangguan kesuburan maupun kelainan kromosom pada janin.

Cara menjaga kesehatan reproduksi dan sel telur

Meski jumlah sel telur tidak dapat ditambah, Bunda tetap bisa menjaga kualitasnya dengan menerapkan pola hidup sehat.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya antioksidan.
  • Memenuhi kebutuhan masam folat, vitamin D, unsur besi, dan omega-3.
  • Berolahraga secara rutin.
  • Menjaga berat badan tetap ideal.
  • Tidur yang cukup setiap malam.
  • Menghindari rokok dan alkohol.
  • Mengelola stres dengan baik.
  • Melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara berkala, terutama jika sedang merencanakan kehamilan.
  • Gaya hidup sehat juga membantu menjaga keseimbangan hormon reproduksi sehingga proses ovulasi dapat berjalan secara optimal.

Hormon yang memengaruhi proses oogenesis

Keberhasilan proses oogenesis dipengaruhi oleh beberapa hormon yang saling bekerja sama.

  • Follicle Stimulating Hormone (FSH) berfaedah merangsang pertumbuhan folikel serta membantu pematangan sel telur.
  • Luteinizing Hormone (LH) berkedudukan memicu ovulasi alias pelepasan sel telur dari ovarium.
  • Estrogen membantu menebalkan lapisan rahim agar siap menerima hasil pembuahan.
  • Progesteron mempertahankan kondisi rahim setelah ovulasi dan mendukung awal kehamilan andaikan terjadi pembuahan.

Sementara itu, Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH) yang diproduksi hipotalamus mengatur pelepasan hormon FSH dan LH dari kelenjar hipofisis.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya