Perhiasan ASI Jadi Kenangan Menyusui Si Kecil yang Layak Diabadikan

Aug 07, 2026 09:35 PM - 1 jam yang lalu 3

Jakarta -

Bagi setiap Bunda, perjalanan menyusui adalah pengalaman yang begitu spesial dan penuh makna. Sejak Si Kecil lahir, setiap proses yang dijalani menghadirkan cerita dan perjuangan masing-masing.

Mulai dari momen-momen awal belajar menyusui, menjalin ikatan dengan bayi, menghadapi beragam tantangan, hingga akhirnya bisa menikmati sesi menyusui yang nyaman dan penuh kedekatan. Bahkan ketika tiba saatnya menyapih, setiap tahap menjadi bagian dari perjalanan yang tak terlupakan.

Tak hanya menjadi langkah memenuhi kebutuhan nutrisi Si Kecil, menyusui juga menghadirkan ikatan emosional yang begitu kuat antara Bunda dan bayi. Karena itulah, setiap momen, perjuangan, dan kenangan selama menyusui layak disimpan dan dikenang sebagai bagian berbobot dari perjalanan menjadi seorang ibu.


Berangkat dari itulah, dr. Margaret Mutiaratirta Sugondo, IBCLC, CIMI seorang Bunda sekaligus konsultan laktasi mendirikan Mammary.id dengan akun IG resmi @mammary.id.

Mammary.id merupakan produsen perhiasan ASI (breastmilk jewelry) dan DNA jewelry di Indonesia. Di sini, ASI alias komponen DNA lain seperti rambut alias tali pusat disulap menjadi corak perhiasan seperti cincin dan liontin untuk mengabadikan momen perjuangan menyusui.

Awal mula berdirinya Mammary.id

"Karena, pengalaman saya menjadi ibu menyusui selama 7 tahun lebih dan telah lama berkecimpung di bumi ibu dan anak sebagai konsultan laktasi. Saya banyak berinteraksi dengan para ibu menyusui," ujar dr. Margaret dalam wawancara eksklusif berbareng Kincai Media.

Ia pun mengakui sebagai ibu menyusui pasti bakal menghadapi masa-masa berat di awal. "Banyak perjuangannya. Ada yang alamin mastitis, tetek bengkak, puting lecet, dan lainnya hingga masa penyapihan setelah 2 tahun," tuturnya.

Sejak itulah, dr Margaret merasa mau sekali mengabadikan perjalanan menyusui para Bunda. "Kebetulan, saya sendiri pun merasa proses menyusui itu sangat bagus jadi perlu banget untuk diabadikan," ucapnya. Dari situlah ia kemudian merintis produksi perhiasan ASI Mammary.id tepatnya pada 2021 saat pandemi COVID-19 tetap berlangsung.

Selain ASI, ada item lain dari Si Kecil yang bisa diabadikan lho, sebut saja rambut, tali pusar, gigi, hingga barang-barang Si Kecil yang penuh kenangan seperti bedong bayi, topi, apalagi test pack.

"Bagi beberapa orang, semua itu mungkin tampak asing untuk diawetkan, tapi tentu tidak bagi si ibu, apalagi jika itu merupakan bagian dari bayi dan dirinya yang penuh dengan kenangan. Perhiasan ASI membikin ibu bisa membikin ibu membawa beragam kenangan itu ke manapun dia pergi dan kapan pun," tambah dr Margaret.

Mammary.idPerhiasan ASI/ Foto: dok. Mammary.id

Proses pembuatan perhiasan ASI

Berbekal kuliah di bagian kedokteran dan sempat belajar pengetahuan kimia dan farmasi, dr Margaret pun menjelaskan tahapan pembuatan perhiasan ASI.

"Yang kita lakukan itu sebenarnya adalah proses pengawetan. Jadi jika ASI, yang kita preserve itu sebenarnya yang paling krusial adalah warnanya. Banyak ibu-ibu yang tanya, 'Kalau ASI-nya sudah lama gimana, Dok? Masih bisa dipakai enggak?' Nah, yang dimaksud lama itu kan memang sudah enggak boleh diminum bayi. Tapi jika buat perhiasan, kita enggak memandang dari situ. Yang kita lihat adalah warnanya sudah berubah alias belum," terangnya.

Ia melanjutkan jika ASI sudah berjamur, warnanya sudah kecokelatan alias kehitaman, tentu sudah enggak bisa dipakai. Karena yang bakal diambil tentu warna dari ASI-nya sendiri.

Dalam proses pengawetannya, biasanya ASI bakal disterilkan terlebih dulu lampau dikeringkan menjadi bubuk. Lanjut, dikeraskan dan kombinasi dengan resin unik agar hasilnya keras. Dibutuhkan waktu sekitar 4 sampai 6 minggu untuk menghasilkan satu perhiasan ASI. Itu pun tergantung tingkat kerumitan perhiasannya.

"Karena kadang ada yang minta dilukis pakai rambut, jadi rambutnya kudu dimasukkan satu per satu. Atau misalnya mau dibuat pakai tali pusar, itu juga kudu dibentuk sesuai kreasi tertentu," jelas dr Margaret.

Mammary.idPerhiasan ASI/ Foto: Dok. Mammary.id

Kisah menyentuh dari konsumen perhiasan ASI

Dr. Margaret kemudian membagikan kisah menyentuh dari salah satu konsumennya. Saat dilahirkan, bayi tersebut kudu menjalani perawatan di ruang NICU lantaran mengalami kelainan kongenital. Meski kudu terpisah dari sang bayi, ibu itu tetap berjuang memberikan ASI sebagai corak kasih sayang dan harapannya agar sang bayi dapat bertahan.

Di tengah perjuangan tersebut, dia memutuskan mau mengabadikan perjalanan menyusuinya melalui perhiasan ASI. Sebelum membuatnya, dia menceritakan terlebih dulu argumen di kembali keputusannya itu kepada Dr. Margaret.

Namun, takdir berbicara lain. Setelah menjalani perjuangan panjang, sang bayi akhirnya meninggal dunia. ASI yang sebelumnya sukses diperah dan diberikan untuk bayinya kemudian dipreservasi menjadi perhiasan ASI sebagai kenang-kenangan yang penuh makna.

"Bagi ibu tersebut, perhiasan ASI menjadi pengingat bakal bayi yang pernah dia susui sekaligus simbol perjuangannya selama mendampingi sang anak di NICU," tutur Dr. Margaret. Menurutnya, kisah itu menjadi salah satu cerita paling mengharukan yang pernah dia dengar dari konsumennya.

Dr. Margaret mengungkapkan banyak ibu yang rupanya mempunyai kemauan besar untuk mengabadikan perjalanan mereka berbareng Si Kecil. Bagi mereka, kenangan tersebut terasa begitu berbobot sehingga tidak cukup hanya diabadikan melalui foto.

"Sebagian besar ibu membikin perhiasan ASI sebagai langkah untuk mengenang momen menyusui yang pernah mereka lalui berbareng anak. Setiap tetes ASI menyimpan cerita, perjuangan, dan kasih sayang yang mau terus mereka ingat," ujarnya.

Tak sedikit pula yang menjadikan perhiasan ASI sebagai sumber penyemangat. Bahkan, ada ibu yang sejak awal beriktikad mewariskannya kepada sang anak sebagai simbol cinta dan perjuangan yang pernah dia lalui.

"Mereka mau suatu hari kelak anaknya tahu, 'Ini adalah salah satu corak perjuangan Bunda saat membesarkanmu,'" kata Dr. Margaret.

Karena itu, beberapa ibu memilih menggunakan emas sebagai bahan perhiasannya. Selain lebih awet, perhiasan tersebut diharapkan dapat menjadi kenang-kenangan berbobot yang bisa disimpan lintas generasi dan diwariskan kepada anak di masa depan.

Bagaimana, apakah Bunda juga tertarik membikin perhiasan dari ASI?

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya