Jakarta -
Bunda, kebiasaan yang membikin hidup tidak senang sering kali dilakukan tanpa sadar dan terus berulang dalam kehidupan sehari-hari.
Meski sudah mengetahui akibat buruknya, banyak orang tetap terjebak dalam pola yang sama karena kebiasaan tersebut pernah membikin mereka merasa kondusif alias nyaman.
Menurut terapis berlisensi dan penulis, Kati Morton, dalam bukunya Why Do I Keep Doing This?: Unlearn the Habits Keeping You Stuck and Unhappy, berbagi pola perilaku yang membikin seseorang susah berkembang dan merasa puas dengan hidupnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, memahami akar dari kebiasaan-kebiasaan tersebut merupakan langkah krusial untuk menciptakan kehidupan yang lebih sehat dan bahagia.
5 Kebiasaan yang membikin hidup tidak bahagia
Dilansir Next Big Idea Club, berikut beberapa kebiasaan yang bikin tidak senang dan perlu segera dihindari:
1. Pengendalian adalah strategi memperkuat hidup
Sebagian orang mungkin mempunyai kemauan untuk mengendalikan segala hal. Namun, ini bukan sekadar sifat pribadi, melainkan langkah mereka untuk melindungi diri dari rasa tidak kondusif alias ketidakpastian.
Sejak mini mereka mungkin terbiasa menjadi anak yang baik, sempurna, alias selalu berprestasi lantaran merasa perihal tersebut membuatnya lebih diterima dan dihargai.
Akibatnya, saat dewasa mereka condong terlalu banyak berpikir, mengatur setiap detail, alias mungkin memberikan kritik pada diri sendiri ketika sesuatu tidak melangkah sesuai dengan rencananya.
Padahal, kebiasaan ini sering muncul sebagai respons untuk mencari rasa aman, bukan lantaran betul-betul mau mengontrol semuanya.
Alih-alih menyalahkan diri sendiri, cobalah untuk memahami argumen di kembali kebutuhan tersebut. Dengan begitu, Bunda dapat melepaskan pola lama yang justru membikin terjebak dan kurang bahagia.
2. Selalu berupaya menyenangkan orang lain
Sikap menyenangkan orang lain sering kali dilabeli sebagai kebaikan. Namun faktanya, itu adalah rasa takut yang terselubung, takut bakal penolakan, pengabaian, alias konflik.
Berusaha menyenangkan orang lain tidak membikin Bunda dekat dengan mereka, justru menjauhkan kita dari diri sendiri.
Ketika menghabiskan seluruh daya untuk mengantisipasi apa yang orang lain inginkan, Bunda mungkin bakal kehilangan kontak dengan apa yang diinginkan. Seiring waktu, perihal itu dapat menyebabkan rasa kesal, kelelahan, dan depresi.
Langkah yang tepat bukan berfaedah langsung mengatakan “tidak” untuk semuanya. Melainkan berakhir sejenak sebelum mengatakan, “ya”. Tanyakan pada diri sendiri apakah Bunda melakukan perihal tersebut lantaran kepedulian dan kemauan yang tulus, alias rasa takut?
3. Terlalu perfeksionis
Perfeksionisme sering kali terasa seperti aspek pendorong yang membikin seseorang terus berjuang menjadi lebih baik. Namun, di baliknya terdapat emosi tidak cukup yang mendalam.
Penawar perfeksionisme bukan menurunkan standar, melainkan mengalihkan konsentrasi dari keahlian ke koneksi.
Pertumbuhan tidak datang dari eksekusi yang sempurna, itu muncul dari kemauan untuk hadir, mencoba, gagal, dan belajar.
4. Menekan emosi bukan kekuatan
Banyak orang yang mungkin tumbuh dengan kepercayaan bahwa tetap tenang, terkendali, dan baik-baik saja adalah perihal yang dewasa untuk dilakukan. Namun, menekan emosi bukan kekuatan, melainkan pengabaian diri.
Ketika menekan perasaan, itu mungkin tidak bakal hilang. Perasaan ini hanya bakal muncul terkubur di dalam tubuh, dan kemudian datang sebagai kecemasan, iritabilitas, alias kelelahan.
Emosi bukan perihal buruk. Ini adalah sinyal yang memberi tahu Bunda kapan sesuatu itu penting, menyakitkan, alias memerlukan perhatian.
Belajar merasakan bukan berfaedah kehilangan kendali. Itu berfaedah memperluas keahlian Bunda untuk tetap berbareng ketidaknyamanan tanpa membiarkannya menguasai Bunda. Itulah ketahanan sejati.
5. Melepaskan bukan berfaedah tidak peduli
Melepaskan sesuatu bukan tentang ketidakpedulian. Ini soal kepercayaan bahwa Bunda dapat menghadapi kehidupan sebagaimana adanya, tanpa perlu mengelola setiap detailnya. Ini tentang beranjak dari kewaspadaan berlebihan ke keyakinan.
Ketika melepaskan ilusi kendali, Bunda memberi ruang bagi otentisitas. Tujuannya bukan untuk berakhir peduli alias merencanakan, melainkan berakhir hidup dalam ketakutan.
Nah, itulah beberapa kebiasaan yang sebaiknya Bunda hindari lantaran dapat membikin hidup tidak bahagia. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·