Jakarta -
Bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) merupakan salah satu teknologi reproduksi berbantu yang dilakukan dengan mempertemukan sel telur dan sperma di laboratorium. Jika terjadi pembuahan dan embrio berkembang dengan baik, embrio kemudian dipindahkan ke dalam rahim.
Proses bayi tabung tidak hanya terdiri dari satu prosedur. Ada beberapa tahapan mulai dari stimulasi ovarium, pengambilan sel telur, pembuahan, perkembangan embrio, hingga transfer embrio ke rahim.
Setiap tahapan juga mempunyai tujuan dan akibat masing-masing. Karena itu, protokol IVF dapat berbeda antara satu pasangan dan pasangan lainnya sesuai usia, penyebab infertilitas, kondisi ovarium, kualitas sperma, serta riwayat pengobatan sebelumnya.
5 Tahapan program bayi tabung
Dikutip dari News Medical, berikut tahapannya, Bunda:
1. Stimulasi ovarium
Tahapan bayi tabung biasanya diawali dengan stimulasi ovarium. Pada tahap ini, master memberikan obat hormonal untuk merangsang ovarium agar menghasilkan beberapa sel telur dalam satu siklus.
Selama stimulasi, perkembangan folikel biasanya dipantau melalui USG dan, pada kondisi tertentu, pemeriksaan hormon. Tujuannya untuk mengetahui respons ovarium terhadap obat sekaligus menentukan waktu yang tepat untuk pengambilan sel telur. Respons setiap wanita terhadap stimulasi bisa berbeda. Ada yang menghasilkan banyak folikel, sementara sebagian lainnya menghasilkan lebih sedikit.
Salah satu perihal yang menjadi perhatian master selama stimulasi adalah akibat ovarian hyperstimulation syndrome (OHSS), ialah kondisi ketika ovarium memberikan respons berlebihan terhadap obat stimulasi.
Sebuah penelitian yang menganalisis lebih dari 214 ribu siklus teknologi reproduksi berbantu (ART) menemukan bahwa OHSS dapat berangkaian dengan karakter tertentu pasien dan berasosiasi dengan peningkatan akibat kehamilan multipel serta beberapa luaran kehamilan yang kurang baik.
Karena itu, pemantauan selama stimulasi krusial untuk membantu master menyesuaikan dosis obat dan mengurangi akibat komplikasi.
2. Pengambilan sel telur
Ketika folikel sudah berkembang dan sel telur dinilai siap, master bakal melakukan prosedur pengambilan sel telur alias egg retrieval.
Prosedur ini umumnya dilakukan dengan support USG transvaginal. Jarum unik diarahkan menuju folikel untuk mengambil cairan yang mengandung sel telur.
Selanjutnya, sel telur dibawa ke laboratorium untuk diperiksa dan dipersiapkan untuk proses pembuahan. Pengambilan sel telur termasuk prosedur yang relatif aman, tetapi tetap mempunyai kemungkinan komplikasi seperti perdarahan, infeksi, alias cedera pada organ di sekitar ovarium. Komplikasi serius memang tergolong jarang.
Sebuah studi di Finlandia yang melibatkan 9.175 wanita yang menjalani IVF menemukan bahwa komplikasi serius seperti OHSS, kehamilan ektopik, dan keguguran dapat terjadi setelah terapi IVF, sementara jangkitan dan perdarahan tergolong jarang.
3. Pembuahan dan perkembangan embrio
Setelah sel telur sukses diambil, tahap berikutnya adalah pembuahan. Sel telur dapat dipertemukan dengan sperma di laboratorium. Pada kondisi tertentu, master dapat menggunakan metode intracytoplasmic sperm injection (ICSI), ialah memasukkan satu sperma secara langsung ke dalam sel telur.
Tidak semua sel telur yang diambil bakal sukses dibuahi. Begitu pula, tidak semua hasil pembuahan bakal berkembang menjadi embrio yang dapat ditransfer.
Embrio kemudian dipantau perkembangannya di laboratorium. Dokter dan mahir embriologi bakal menilai perkembangan embrio sebelum menentukan embrio yang bakal digunakan untuk transfer. Pada tahap ini, jumlah dan kualitas embrio menjadi salah satu pertimbangan krusial dalam menentukan strategi transfer.
4. Transfer embrio ke rahim
Tahap berikutnya adalah transfer embrio. Embrio yang dipilih bakal dimasukkan ke dalam rahim menggunakan kateter tipis yang melewati memek dan leher rahim. Prosedur ini biasanya dilakukan tanpa operasi besar.
Setelah embrio berada di rahim, diharapkan terjadi proses implantasi sehingga kehamilan dapat berkembang. Jumlah embrio yang ditransfer menjadi pertimbangan krusial lantaran transfer lebih dari satu embrio dapat meningkatkan kemungkinan kehamilan kembar.
Kehamilan multipel sendiri mempunyai akibat lebih tinggi dibandingkan kehamilan tunggal. Sebuah meta-analisis terhadap studi kohort menemukan bahwa kehamilan multipel yang berasal dari teknologi reproduksi berbantu berangkaian dengan peningkatan akibat komplikasi kehamilan dan luaran kehamilan yang kurang baik. Karena itu, pada pasien tertentu master dapat merekomendasikan single embryo transfer, ialah transfer satu embrio untuk mengurangi akibat kehamilan multipel.
5. Tes kehamilan dan pemantauan
Setelah transfer embrio, Bunda perlu menunggu waktu yang dianjurkan master sebelum melakukan tes kehamilan. Jika terjadi implantasi dan perkembangan kehamilan, pemeriksaan hormon kehamilan dapat menunjukkan hasil positif. Selanjutnya, master bakal melakukan pemantauan untuk memastikan kehamilan berkembang di dalam rahim.
Yang perlu diingat, tidak adanya indikasi setelah transfer embrio bukan berfaedah IVF gagal. Sebaliknya, munculnya indikasi tertentu juga belum dapat memastikan kehamilan. Obat hormonal yang digunakan selama proses IVF juga dapat menyebabkan beberapa sensasi tubuh yang mirip dengan indikasi awal kehamilan.
Syarat menjalani program bayi tabung yang perlu diketahui
Tidak semua pasangan yang mengalami kesulitan mendapatkan keturunan kudu langsung menjalani IVF. Dokter biasanya melakukan pertimbangan terlebih dulu untuk mengetahui penyebab infertilitas dan menentukan terapi yang paling sesuai.
Menurut American Society for Reproductive Medicine (ASRM), pertimbangan infertilitas pada wanita perlu mempertimbangkan beberapa aspek, termasuk ovulasi, struktur dan patensi saluran reproduksi, serta pertimbangan sperma pasangan laki-laki.
Usia wanita juga menjadi aspek penting. ASRM menyebut bahwa usia wanita merupakan salah satu prediktor terpenting terhadap kesuburan. Karena itu, keputusan menjalani IVF sebaiknya tidak hanya berasas usia, tetapi juga mempertimbangkan penyebab infertilitas, kondisi reproduksi, kualitas sperma, riwayat pengobatan, serta kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Berapa lama waktu untuk program bayi tabung?
Durasi program bayi tabung dapat berbeda pada setiap pasien. Satu siklus IVF mencakup beberapa tahapan, mulai dari stimulasi ovarium hingga pengambilan sel telur, pembuahan, perkembangan embrio, dan transfer embrio.
Namun, sebelum memulai siklus tersebut, pasangan biasanya perlu menjalani konsultasi dan pemeriksaan terlebih dahulu. Jika diperlukan, master juga dapat menunda transfer embrio dan membekukan embrio untuk digunakan pada siklus berikutnya.
Jadi, lama program bayi tabung tidak selalu sama dengan lama sejak konsultasi pertama sampai dinyatakan hamil.
Apa saja ciri-ciri bayi tabung yang berhasil?
Setelah transfer embrio, beberapa Bunda mungkin merasakan:
- payudara lebih sensitif;
- mudah lelah;
- kram ringan;
- perubahan suasana hati;
- mual;
- atau tidak merasakan perubahan apa pun.
Namun, indikasi tersebut belum dapat digunakan sebagai tanda pasti keberhasilan IVF. Satu-satunya langkah untuk mengetahui apakah terjadi kehamilan adalah melakukan pemeriksaan kehamilan sesuai waktu yang dianjurkan dokter. Jadi, Bunda tidak perlu panik jika belum merasakan tanda-tanda tertentu setelah transfer embrio, seperti dikutip dari NHS.uk.
Skrining sebelum penyelenggaraan program bayi tabung
Sebelum IVF, master bakal melakukan pertimbangan untuk mengetahui kondisi sistem reproduksi dan aspek lain yang dapat memengaruhi kesuburan.
ASRM merekomendasikan pertimbangan yang mencakup kondisi ovulasi, saluran reproduksi perempuan, dan pemeriksaan sperma pasangan laki-laki.
1. Tes persediaan ovarium
Pemeriksaan persediaan ovarium bermaksud memperkirakan respons ovarium terhadap stimulasi. Pemeriksaan yang dapat digunakan antara lain:
- Anti-Müllerian hormone (AMH)
- Antral follicle count (AFC) melalui USG
- FSH dan estradiol pada kondisi tertentu
Namun, ada satu perihal krusial yang perlu diketahui Bunda. Hasil AMH rendah tidak otomatis berfaedah seseorang tidak bisa hamil.
ASRM menjelaskan bahwa pemeriksaan persediaan ovarium lebih berfaedah untuk memperkirakan respons ovarium terhadap stimulasi dan membantu perencanaan terapi, bukan sebagai satu-satunya penentu keahlian seseorang untuk hamil.
2. Skrining infeksi
Sebelum menjalani prosedur reproduksi berbantu, klinik dapat melakukan pemeriksaan jangkitan tertentu sesuai protokol klinik dan kondisi pasangan. Pemeriksaan ini krusial untuk menjaga keamanan pasien serta proses penanganan sel telur, sperma, dan embrio. Jenis pemeriksaan dapat berbeda tergantung kondisi kesehatan dan kebijakan akomodasi kesehatan.
3. Tes kondisi tuba
Dokter dapat mengevaluasi kondisi tuba fallopi, terutama untuk mengetahui apakah terdapat sumbatan.
Salah satu pemeriksaan yang dapat digunakan adalah hysterosalpingography (HSG). Pemeriksaan lain yang dapat digunakan adalah sonohysterography alias hysterosalpingo-contrast sonography.
ASRM memasukkan pertimbangan patensi tuba sebagai bagian dari pertimbangan infertilitas pada perempuan.
4. Tes prolaktin dan hormon tiroid
Pemeriksaan thyroid-stimulating hormone (TSH) dapat membantu mendeteksi gangguan tiroid yang berpotensi mengganggu kesuburan andaikan tidak ditangani. Namun, pemeriksaan prolaktin tidak selalu diperlukan untuk semua perempuan.
ASRM merekomendasikan pemeriksaan prolaktin terutama pada wanita yang mengalami kondisi seperti keluarnya cairan dari tetek (galaktorea), menstruasi yang jarang, alias tidak menstruasi.
Jadi, pemeriksaan hormon sebaiknya dilakukan berasas indikasi medis, bukan semata-mata lantaran sedang menjalani IVF.
5. Tes sperma
Evaluasi kesuburan juga perlu dilakukan pada pasangan laki-laki. Analisis sperma dapat memberikan info mengenai jumlah, pergerakan, dan corak sperma. ASRM menekankan pentingnya pertimbangan pasangan laki-laki secara paralel ketika pasangan menjalani pemeriksaan infertilitas. Hasil pemeriksaan tersebut nantinya dapat membantu master menentukan metode pembuahan yang paling sesuai.
Apa yang kudu dilakukan setelah prosedur IVF?
Setelah transfer embrio, Bunda mungkin merasa mau banyak berebahan lantaran takut embrio 'turun' alias keluar. Padahal, penelitian tidak menunjukkan bahwa bed rest setelah transfer embrio meningkatkan kesempatan kehamilan.
Salah satu randomized controlled trial terhadap 164 siklus IVF membandingkan pasien yang beristirahat selama 30 menit dengan pasien yang langsung pulang setelah transfer. Penelitian tersebut tidak menemukan perbedaan berarti dalam nomor kehamilan maupun kehamilan berlanjut.
Bahkan, dikutip dari systematic review dan meta-analysis yang mencakup empat randomized controlled trial dengan total 757 wanita menemukan bahwa bed rest setelah transfer embrio tidak meningkatkan nomor kehamilan klinis maupun kelahiran hidup.
Artinya, Bunda tidak perlu takut bergerak setelah transfer embrio selama master tidak memberikan larangan khusus. Setelah prosedur, Bunda dapat:
- Menggunakan obat sesuai resep dokter
- Mengikuti agenda pemeriksaan
- Menjaga asupan makanan bergizi
- Menghindari rokok dan alkohol
- Melakukan kegiatan ringan sesuai rekomendasi dokter
- Menghubungi master jika mengalami keluhan berat
Risiko dalam prosedur alias tahapan program bayi tabung
Meskipun IVF telah digunakan secara luas, prosedur ini tetap mempunyai sejumlah risiko.
1. Ovarian hyperstimulation syndrome (OHSS)
OHSS merupakan salah satu komplikasi yang dapat muncul akibat stimulasi ovarium. Gejalanya dapat berupa:
- Perut terasa membesar alias kembung
- Nyeri perut;mual dan muntah
- Peningkatan berat badan akibat penumpukan cairan
- Sesak napas
- Berkurangnya produksi urine
Dalam penelitian besar yang mencakup lebih dari 214 ribu siklus ART, OHSS ditemukan pada sebagian pasien dan dikaitkan dengan peningkatan akibat luaran kehamilan tertentu.
2. Kehamilan multipel
Transfer lebih dari satu embrio dapat meningkatkan kemungkinan kehamilan kembar. Masalahnya, kehamilan multipel mempunyai akibat lebih tinggi terhadap komplikasi kehamilan dan persalinan.
Meta-analisis terhadap studi kohort menunjukkan bahwa kehamilan multipel setelah ART mempunyai akibat lebih tinggi terhadap beragam komplikasi kehamilan dan luaran perinatal dibandingkan kehamilan tunggal. Karena itu, jumlah embrio yang ditransfer perlu didiskusikan dengan dokter.
3. Kehamilan ektopik
Kehamilan ektopik terjadi ketika embrio berkembang di luar rongga rahim, paling sering di tuba fallopi. Sebuah kajian terhadap 68.851 kehamilan klinis dari registri ART Jepang menemukan adanya hubungan antara beberapa protokol stimulasi ovarium dan peningkatan akibat kehamilan ektopik, meskipun aspek lain juga perlu diperhitungkan.
4. Perdarahan dan infeksi
Prosedur pengambilan sel telur juga mempunyai akibat seperti perdarahan alias infeksi, meskipun komplikasi tersebut relatif jarang. Dalam studi berbasis registrasi di Finlandia, jangkitan dan perdarahan tercatat sebagai komplikasi yang jarang setelah IVF.
5. Komplikasi pada kehamilan
Kehamilan yang diperoleh melalui IVF juga dapat disertai beberapa akibat kehamilan, termasuk preeklamsia dan komplikasi lain.
Namun, krusial untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa seluruh akibat tersebut disebabkan oleh IVF. Infertilitas, usia ibu, kondisi kesehatan sebelum hamil, dan kehamilan multipel juga dapat berperan. Studi mengenai akibat IVF menekankan bahwa hubungan antara ART dengan sejumlah komplikasi kehamilan perlu dilihat berbareng karakter pasien dan penyebab infertilitasnya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)