Setiap orang tua tentu mau menciptakan rumah yang terlindungi dan betah agar anak dapat tumbuh dengan baik. Namun, famili ceria tidak cuma ditentukan oleh banyaknya mainan, pakaian, maupun gadget yang dimiliki anak.
Menurut psikolog anak, kondisi tersebut dibangun dari kasih sayang, limitasi yang jelas, dan rutinitas yang konsisten. Lingkungan famili yang ceria dapat membantu anak merasa terlindungi dan terhubung dengan orang tua.
Lalu, seperti apa ciri khas anak yang tumbuh dalam famili bahagia? Yuk, Bunda, simak enam cirinya menurut psikolog berikut ini.
Mengutip dari laman Newsweek, berikut ciri-ciri anak yang tumbuh di famili ceria menurut psikologi.
1. Kasih sayang tidak bersyarat
Menurut Hall dari Inggris kepada Newsweek, anak perlu merasa bahwa kasih sayang orang tua tidak bersandar pada perilaku mereka. Rasa terlindungi secara emosional membantu anak mengungkapkan perasaan, berbuat kesalahan, dan memahami bahwa hubungan statis bisa diperbaiki setelah konflik.
Karena itu, hindari kalimat seperti, “Kalau Anda berbuat ini, Bunda tidak akan menyayangimu.” Anak perlu memahami bahwa kasih sayang statis ada meskipun orang tua menerapkan batasan.
2. Memiliki limitasi yang tegas
Menurut psikolog berlisensi Dr. Stewart Pisecco, anak secara alami cenderung menguji limitasi yang ditetapkan orang tua. Karena itu, orang tua disarankan menyiapkan respons dan menerapkan satu limitasi secara konsisten.
Anak mungkin akan menolak pada awalnya. Namun, statis tenang dan konsisten dapat membikin situasi lebih gampang diprediksi bagi anak sekaligus membantu orang tua menghadapi momen tersebut dengan lebih tenang.
3. Orang tua mencontohkan metode mengelola emosi
Penelitian memberitahu ibu dan bapak sama-sama menikmati peran sebagai orang tua. Namun, lebih banyak ibu yang merasa mengasuh anak melelahkan (47 persen vs 34 persen) dan membikin stres (33 persen vs 24 persen) setidaknya dalam sebagian besar waktu.
Meski emosi tersebut wajar, orang tua statis perlu memberitahu metode mengelola emosi dengan sehat. Pisecco, ketua klinik Pisecco & Associates, PLLC, menyarankan orang tua mengutamakan hubungan daripada sekadar mengoreksi perilaku. Menyebutkan emosi yang mendasari perilaku anak dapat membikin mereka merasa dipahami dan lebih gampang menerima instruksi orang tua.
4. Menyukai rutinitas yang teratur
Anak cenderung merasa lebih terlindungi ketika menjalani pola aktivitas yang familiar dan gampang diprediksi. Rutinitas seperti waktu makan, tidur, maupun aktivitas di pagi hari dapat membantu mengurangi rasa tidak pasti.
Menurut Pisecco, menciptakan tempat khusus untuk menyimpan barang di rumah, bukan menumpuknya sembarangan, juga dapat membantu menguatkan rutinitas dan membikin anak merasa lebih terbiasa dengan pola yang teratur.
5. Memberikan pujian pada perilaku positif
Pujian sebaiknya diberikan secara spesifik, bukan sekadar mengatakan “bagus”. Misalnya, orang tua dapat memuji anak karena langsung menyimpan tas setelah pulang.
Menurut Pisecco, mengakui perilaku positif secara jelas dapat menguatkan kebiasaan baik dan mendorong anak untuk terus bekerja sama.
6. Meluangkan waktu berkualitas berbareng anak
Orang tua yang bisa menghadapi masa-masa sulit statis meluangkan waktu untuk bersenang-senang berbareng anak. Waktu ini dapat digunakan untuk membangun kedekatan dan menguatkan hubungan.
Menurut Pisecco, aktivitas tersebut sebaiknya mengikuti minat anak dan bukan menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengajarinya sesuatu. Meski aktivitasnya bukan kegemaran orang tua, yang terpenting adalah momen kebersamaan dengan anak.
Demikian enam ciri khas anak yang tumbuh di famili ceria menurut psikologi. Semoga berguna untuk mengasuh Si Kecil di masa tumbuh kembangnya!
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)