Autisme Lebih Banyak Dialami Anak Laki-Laki, Ternyata Bisa Berawal dari Plasenta Ibu

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 8 menit 142x dilihat
Autisme Lebih Banyak Dialami Anak Laki-Laki, Ternyata Bisa Berawal dari Plasenta Ibu

Bagikan Postingan

Jakarta -

Risiko autisme pada bayi bisa mengintai selama kehamilan. Namun katanya, autisme lebih banyak dialami anak laki-laki, rupanya bisa dimulai dari plasenta ibu.

Autisme merupakan kondisi evolusi yang kompleks yang memengaruhi metode seseorang berinteraksi, berkomunikasi, dan berperilaku. Meskipun penyebab autisme sebagian besar statis belum diketahui, para ilmuwan telah membikin kemajuan signifikan dalam memahami faktor-faktor yang dapat berkontribusi pada perkembangannya. Salah satu sektor riset yang sedang terjadi adalah peran kehamilan dalam evolusi autisme.

Dari beragam aspek yang menjadi penyebabnya, salah satu aspek yang paling lazim dalam evolusi autisme adalah genetika.  Penelitian memberitahu bahwa autisme cenderung menurun dalam keluarga, dan ada elemen keturunan yang kuat dalam kemunculannya. 


Selain aspek keturunan, penyebab lainnya yaitu disebabkan aspek lingkungan. Penting diketahui bahwa, aspek lingkungan yang terjadi selama kehamilan juga dapat berkontribusi pada konsekuensi anak. Faktor-faktor ini, yang memengaruhi lingkungan prenatal, dapat memengaruhi sepertiapa otak bayi berkembang. 

Faktor penyebab autisme

Berikut ini beberapa aspek lingkungan utama yang mungkin mengenai dengan autisme selama kehamilan:

1. Kondisi kesehatan ibu

Kesehatan ibu memainkan peran krusial dalam evolusi janin. Beberapa kondisi medis selama kehamilan telah dikaitkan dengan peningkatan konsekuensi autisme termasuk kencing manis gestasional, obesitas, gangguan autoimun, dan infeksi.

2. Usia ibu dan komplikasi kehamilan

Usia ibu telah diidentifikasi sebagai aspek konsekuensi potensial untuk autisme. Studi memberitahu bahwa ibu yang lebih tua, yaitu mereka yang berumur 35 tahun ke atas, lebih mungkin memiliki anak dengan autisme. Meskipun karena pasti dari hubungan ini belum sepenuhnya dipahami, hal ini mungkin mengenai dengan fluktuasi pada sel telur seiring waktu, yang dapat menaikkan konsekuensi mutasi genetik.

Komplikasi kehamilan, seperti preeklamsia (tekanan darah tinggi) dan perdarahan, juga dapat menaikkan konsekuensi autisme. Komplikasi ini dapat memengaruhi mengerti oksigen dan nutrisi ke janin yang sedang berkembang, berpotensi mengganggu evolusi otak.

3. Paparan racun dan polutan

Paparan racun dan polutan lingkungan selama kehamilan adalah aspek lain yang dapat berkontribusi pada evolusi autisme. Studi memberitahu bahwa paparan bahan kimia tertentu selama kehamilan dapat berakibat negatif pada evolusi otak janin. Beberapa racun lingkungan yang mengenai peningkatan konsekuensi autisme adalah pestisida, logam berat, polusi udara, dan lainnya seperti dikutip dari halaman Bluejayaba.

4. Obat-obatan yang diminum selama kehamilan

Beberapa obat yang diminum selama kehamilan juga dapat menaikkan konsekuensi autisme pada anak-anak. Beberapa obat, terutama yang memengaruhi mekanisme saraf pusat, dapat mengganggu evolusi otak. Misalnya saja obat anti kejang, obat psikiatri, dan lainnya. 

Benarkah autisme lebih banyak menyerang anak laki-laki?

Kehamilan yang berjalan mulus tak berarti terlindungi dari konsekuensi kesehatan. Sering kali, gangguan kesehatan seperti intimidasi autisme juga mengintai pada kehamilan seseorang. Bahkan katanya, terkena infeksi tertentu saat hamil juga dikaitkan dengan kemungkinan lebih tinggi bahwa anak tersebut nantinya akan didiagnosis menderita autisme.

Namun, sebagian besar janin yang terpapar peradangan tersebut berkembang secara normal, sehingga peningkatan konsekuensi itu sendiri tidak pernah bisa menerangkan kenapa satu janin terdampak sementara yang lain tidak.

Para peneliti di Cold Spring Harbor Laboratory melaporkan bahwa pada tikus, perbedaan tersebut muncul dalam waktu satu hari, dan cuma terjadi pada tikus jantan.

Tim peneliti memberikan senyawa peniru infeksi virus kepada tikus hamil, kemudian memeriksa setiap janin 24 jam kemudian. Sekira 30 persen di antaranya sudah memberitahu evolusi yang tidak normal. Tidak ada satu pun dari janin tersebut yang berjenis gender betina.

Ternyata, aspek pembedanya adalah plasenta. Pada janin yang mengalami gangguan perkembangan, batas pertemuan antara jaringan induk dan jaringan janin itu sendiri telah mulai rusak.

"Untuk benar-benar memahami gangguan spektrum autisme, kita mesti melihat lebih jauh dari sekadar otak," ujar Lucas Cheadle, seorang guru besar madya di laboratorium tersebut.

Dilanjutkan Cheadle bahwa penelitiannya memberitahu bahwa aktivasi mekanisme kekebalan tubuh ibu dan fluktuasi di dalam plasenta merupakan pintu masuk menuju autisme bagi individu-individu tertentu. Tetapi sebenarnya, tidak ada infeksi yag menyerang tikus-tikus tersebut. Kenyataannya adalah bahwa mekanisme kekebalan tubuh mereka bereaksi seolah-olah ada infeksi yang terjadi.

Dalam praktiknya, penyuntikan dilakukan pada hari ke-12.5 masa kehamilan seperti dikatakan para penulis. Waktu ini sederajat dengan akhir trimester kedua pada manusia. Sehari kemudian, Rene Sanchez Martin, seorang peneliti pascadoktoral di laboratorium Cheadle beserta rekan-rekannya menimbang dan mengukur setiap janin dari setiap himpunan kelahiran.

Sekira 30 persen janin memberitahu setidaknya satu kelainan, sementara tidak ada satu pun janin pada himpunan kontrol (yang disuntik larutan garam/saline) yang mengalaminya. Beberapa janin memiliki bermutu badan di bawah bilangan normal.

Sementara itu, janin lainnya mengalami kelainan bentuk tengkorak, tidak memiliki daun telinga luar maupun alas kumis, memiliki tulang belakang dan ekor yang bengkok, maupun mengalami perdarahan di bawah kulit. Waktu pemberian suntikan sama pentingnya dengan kandungan zat di dalamnya.

Dari praktik tersebut, peradangan yang terjadi pada hari ke-14.5 tidak banyak memengaruhi janin, sedangkan peradangan pada hari ke-9,5 berakibat buruk baik pada janin jantan maupun betina. Hanya rentang waktu di sekitar hari ke-12,5 yang menghasilkan pola akibat khusus pada janin jantan.

Hanya janin jantan yang berdampak

Para peneliti mengelompokkan janin yang terdampak berdasarkan tingkat keparahannya, kemudian memeriksa jenis gender masing-masing. Namun faktanya, tidak ditemukan janin betina dalam kedua himpunan tersebut.

Jika dihitung dengan metode lain, sekitar 60 persen janin jantan dari induk yang mengalami peradangan memberitahu masalah evolusi tertentu, sementara tidak ada satu pun janin betina yang mengalaminya.

Tim peneliti mengulangi percobaan ini pada galur tikus laboratorium yang berbeda dan memperoleh hasil yang sama.

Autisme didiagnosis pada anak lelaki sekitar empat kali lebih sering dibandingkan pada anak perempuan, namun belum ada yang bisa memastikan penyebab pastinya.Terkait hal tersebut, Cheadle mengatakan bahwa waktu terjadinya perbedaan pada tikus-tikus ini adalah hal yang paling menarik perhatiannya.

"Ini benar-benar menarik, karena kita mengamati tahapan usia sebelum terjadinya lonjakan hormon. Tahapan ini mendahului diferensiasi seksual di otak dan beragam daerah tubuh lainnya. Jadi, mengejutkan bahwa perbedaan berbasis jenis gender sudah muncul sedini itu," ujarnya.

Kerusakan ditemukan pada plasenta

Berbicara mengenai plasenta, sebenarnya plasenta tikus terdiri dari tiga lapisan. Satu lapisan berasal dari rahim induk, dan satu lapisan lainnya memuat jaringan tempat pertukaran nutrisi serta gas antara darah induk dan darah janin. Di antara kedua lapisan tersebut terdapat area perbatasan yang terbentuk dari sel-sel janin itu sendiri.

Melalui analisis aktivitas gen pada 197.237 inti sel, tim peneliti menemukan adanya aktivasi mekanisme peradangan di seluruh plasenta janin jantan yang terdampak. Perubahan paling mencolok terjadi pada sel-sel di area perbatasan.

Sel-sel tersebut menurunkan aktivitas gen yang mengodekan kolagen dan laminin, yaitu protein yang berguna menyatukan jaringan. Selain itu, sel-sel tersebut juga menurunkan produksi hormon, yang merupakan bagiankecil dari mekanisme plasenta dalam menjaga mekanisme kekebalan tubuh induk agar statis tenang.

Hasil pengamatan pada irisan jaringan yang diberi pewarna harmonis dengan keterangan genetik tersebut. Plasenta dari janin jantan yang terdampak memberitahu adanya perdarahan, kongesti (penumpukan darah), dan jaringan wafat di area perbatasan serta lapisan induk yang berdampingan dengannya.

Kondisi ini tidak ditemukan pada kerabat jantan yang berkembang normal maupun pada janin betina. Selain itu, tikus jantan dan betina yang tidak diberi perlakuan tampak serupa sebelum penyuntikan dilakukan.

Diperlukan satu sinyal peradangan

Cairan di dalam kantung ketuban dipenuhi oleh sel-sel kekebalan tubuh dan molekul pembawa sinyal peradangan. Empat belas dari molekul pembawa pesan tersebut muncul cuma pada individu jantan yang mengalami evolusi tidak normal, bukan pada kerabat jantan yang sehat maupun pada individu betina mana pun.

Salah satunya adalah interleukin-6 yaitu sinyal yang digunakan tubuh untuk memicu respons peringatan saat terjadi infeksi dan molekul ini termasuk yang produksinya paling kuat terpicu.

Karenanya, tim peneliti mengulang seluruh prosedur tersebut dengan memberikan antibodi penetral interleukin-6 kepada induk fauna satu jam sebelum pemberian poly(I:C).

Hasilnya, peradangan statis terjadi, namun kelainan pada janin dan kerusakan plasenta tidak terjadi. Hal ini mengindikasikan bahwa interleukin-6 berpartisipasi krusial dalam memunculkan kelainan pada percobaan ini, dan bukan sekadar merupakan produk sampingan.

Tim peneliti juga menganalisis ulang keterangan yang telah dipublikasikan mengenai plasenta yang disumbangkan oleh perempuanyang pernah menderita COVID-19 saat hamil. 

Beberapa gen yang aktivitasnya meningkat pada sel-sel area perbatasan plasenta tikus juga meningkat pada sel-sel manusia, dan kedua himpunan sel tersebut sama-sama menurunkan aktivitas gen kolagen.

Penjelasan mula Cheadle dimulai dari apa yang dibawa janin laki-laki

Embrio lelaki memproduksi protein khusus lelaki yang dapat dikenali sebagai barang luar oleh mekanisme kekebalan tubuh ibu, dan plasenta yang sehat mengekang reaksi tersebut seperti dikutip dari halaman Earth.

Menurut pandangan ini, peradangan menghilangkan hambatan tersebut, sehingga sel-sel kekebalan tubuh ibu dapat menjangkau janin yang sebelumnya mereka toleransi.

Sementara itu, pada janin perempuan tidak memproduksi protein khusus lelaki yang sama, hal ini mungkin membantu plasenta mereka dalam meredam reaksi kekebalan tubuh.

"Mungkin ada mekanisme perlindungan pada janin perempuan yang bisa dimanfaatkan untuk membantu janin laki-laki. Kami sedang berupaya memahami sepertiapa autisme muncul pada kedua jenis kelamin," ujar Cheadle.

"Bukti yang ada memberitahu bahwa kemungkinan terdapat mekanisme yang berbeda. Slain itu, kesenjangan lainnya terletak pada aspek waktu. Setiap janin dalam riset ini diperiksa satu hari setelah penyuntikan, sehingga tidak ada fauna yang dipelihara hingga dewasa ataupun diuji perilakunya."

Laboratorium lain telah mengaitkan interleukin-6 dengan perilaku menyerupai autisme pada tikus dewasa, namun riset ini tidak memantau akibat kerusakan plasenta terhadap evolusi otak di tahap selanjutnya.

Terkait perbedaan metode kerja plasenta janin perempuan statis menjadi pertanyaan yang belum terjawab, dan laboratorium Cheadle berencana untuk terus meneliti anak tikus jantan maupun betina.

Guna menjawab pertanyaan ini berarti perlu menemukan mekanisme perlindungan pada janin perempuan, kemudian menguji apakah mekanisme tersebut dapat diaktifkan pada janin laki-laki.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
Close Right Ads
Close Left Ads