9 Kebiasaan Orang Tua Toxic yang Berpengaruh pada Tumbuh Kembang Anak

Jul 01, 2026 01:00 PM - 1 bulan yang lalu 33101

Kata toxic seringkali digunakan untuk menggambarkan hubungan yang tidak sehat. Kata ini juga dapat digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mungkin berperilaku menyakiti orang lain. Perilaku alias kata-kata negatif mereka yang berulang dapat menyebabkan emosi stres alias kecemasan.

Bunda mungkin pernah berjumpa seseorang dengan sifat-sifat seperti ini di tempat kerja, dalam hubungan, alias di antara golongan teman. Tetapi apa yang kudu dilakukan jika rupanya itu terjadi pada kita sendiri sebagai orang tua?

Dikutip dari laman Psych Central, sifat toxic bisa jadi lembut dan susah diidentifikasi, terutama ketika seseorang mempunyai hubungan dekat dengan orang tersebut. Bisa jadi, selama ini kita tidak sadar tentang apa yang telah kita lakukan pada anak dan rupanya kebiasaan tersebut toxic.


Children see, children do. Anak-anak layaknya spons alias kertas polos yang mana jika kita melakukan kebiasaan toxic, maka mereka bakal menirunya alias malah menjadi pengalaman traumatis bagi mereka. Dan itu bakal terus berakibat hingga mereka dewasa nanti.

Jangan sampai terjadi, berikut 9 kebiasaan toxic yang berpengaruh ke tumbuh kembang anak.

1. Tidak mengelola emosi sendiri

Sebagai orang tua, wajar untuk mengalami emosi yang intens. Wajar jika ada kalanya kita kelelahan dalam mendidik anak. Tetapi ketika orang tua tidak bisa mengelolanya secara efektif, ledakan emosi dapat berakibat besar pada anak-anak.

Misalnya, tidak sehat jika anak-anak terus-menerus cemas tentang keadaan emosi orang tuanya alias ketika mereka merasa kudu berhati-hati di sekitar orang tuanya.

“Anak-anak memerlukan konsistensi emosional agar merasa kondusif dan mengembangkan keahlian mengatasi masalah yang sehat,” jelas Cynthia Edwards-Hawver, PsyD, seorang psikolog berlisensi, dikutip dari Parents.

2. Tidak punya batas yang jelas 

Menurut Tirrell De Gannes, PsyD, psikolog klinis berlisensi di Thriving Center of Psychology, krusial untuk mempunyai batas yang jelas dan sehat dengan anak-anak. Contoh kurangnya batas adalah terlalu banyak berbagi tentang kehidupan pribadi dan kesulitan pada waktu yang tidak tepat, terlalu terlibat dalam kehidupan anak, dan mengganggu alias tidak mengizinkan privasi.

"Masalah batas dalam pengasuhan dapat menyebabkan anak-anak menjadi sangat berjuntai dan kurang bisa menyelesaikan masalah sendiri," ungkap Dr. De Gannes.

Kurangnya batas juga dapat membikin anak-anak merasa kurang mau terhubung dengan orang tua mereka, lantaran mereka mungkin merasa memerlukan ruang dari orang tua yang terlalu mendominasi alias terlalu emosional.

3. Tidak memahami bahwa anak mempunyai jalannya sendiri

Sebagai orang tua, kita mempunyai hatikecil untuk membantu anak-anak kita membikin keputusan yang baik dan mencapai kesuksesan dalam hidup. Namun, jika dilakukan terlalu berlebihan apalagi ke ekstrem dapat menjadi toxic.

“Sifat toxic terbesar yang saya lihat dilakukan orang tua yang penuh kasih sayang secara tidak sengaja adalah tidak memahami bahwa anak mereka mempunyai jalan dan tujuan hidup sendiri,” kata Dawn Friedman, MSEd, LPCC, seorang konselor klinis ahli berlisensi, yang mengkhususkan diri dalam kekhawatiran anak.

Orang tua yang orang tuanya sendiri tidak datang untuk mereka di masa mini mungkin lebih condong mengendalikan anak-anak mereka. Penting untuk membiarkan anak-anak membikin keputusan sendiri dalam hidup dan mengakui kesalahan mereka sendiri, sehingga mereka dapat mengembangkan kemandirian dan kepercayaan diri yang mereka butuhkan untuk berkembang sendiri.

4. Terlalu mengontrol

Ada beberapa orang tua yang mencoba mempertahankan kendali atas nyaris setiap aspek kehidupan anak mereka. Terlalu mengontrol anak-anak dapat menjadi karakter parenting yang sangat toxic.

Seperti memantau dengan ketat siapa yang berbaur dengan anak , melacak setiap gerak-gerik mereka saat tidak di rumah, alias hanya mengizinkan mereka mengonsumsi media yang telah disetujui sebelumnya. Pola pengasuhan helikopter, dan pengasuhan yang ketat justru dapat menghasilkan anak-anak yang lebih pemberontak.

5. Memanfaatkan rasa bersalah anak

Memanfaatkan rasa bersalah adalah praktik yang dilakukan banyak orang tua yang buruk, menurut Dr. De Gannes. Orang tua mungkin berpikir mereka hanya membimbing anak-anak mereka, tetapi sebenarnya mereka memanipulasi anak-anak untuk membikin pilihan yang menurut mereka benar, tanpa betul-betul mengajarkan keahlian hidup yang berharga.

“Membuat anak merasa bersalah untuk mencegah mereka membikin keputusan yang tidak  setujui menyebabkan anak-anak merasa tidak bisa membikin keputusan sendiri alias lebih suka membikin keputusan secara diam-diam, sehingga support dan intervensi tidak mungkin diterima ketika paling dibutuhkan,” jelasnya.

6. Gaslighting

Gaslighting adalah perihal yang sangat dilarang dalam pengasuhan Gaslighting dapat terlihat seperti orang tua yang secara konsisten mengabaikan, memutarbalikkan, alias secara terang-terangan menyangkal pengalaman anak. Ini dapat melibatkan mengatakan hal-hal seperti, “Itu tidak terjadi,” “Kamu terlalu sensitif,” alias “Kamu terlalu membesar-besarkan masalah.” Gaslighting “mengajari anak untuk meragukan persepsi dan emosi mereka sendiri.

7. Mengomentari tubuh alias kebiasaan makan mereka

Mengomentari jenis tubuh alias berat badan anak adalah contoh parenting yang toxic. Bahkan, jika kita mengatakan sesuatu yang menurut kita berkarakter pujian, terlalu konsentrasi pada anak-anak dapat membikin mereka merasa tertekan untuk terlihat dengan langkah tertentu. Citra tubuh yang positif sebenarnya berasal dari mengajarkan mereka bahwa hidup sehat dan bahagia.

8. Memaksa anak memilih salah satu antara orang tua

Perilaku pengasuhan yang toxic lainnya yang kudu dihindari adalah membikin anak merasa perlu memilih pihak salah satu di antara orang tua. Hal ini paling umum terjadi pada orang tua yang bercerai. Namun, perihal itu juga dapat terjadi di rumah tangga di mana terdapat banyak bentrok antara orang tua. 

Orang tua perlu menghindari melibatkan anak-anak mereka dalam bentrok alias masalah orang tua, lantaran melibatkan mereka dapat menyebabkan banyak kekhawatiran dan rasa bersalah yang tidak perlu bagi anak-anak.

9. Membuat anak berpikir bahwa keberadaannya mengganggu orang lain 

Contoh lain dari pola pengasuhan yang toxic adalah ketika orang tua membikin anak-anak berpikir bahwa keberadaannya dapat mengganggu orang lain alias membikin orang lain tak nyaman. Misalnya ucapan seperti, “Setiap kali Anda berada di ruangan, Anda usik deh” alias “Kamu selalu membikin semua orang merasa terganggu.”

Perkataan semacam ini merendahkan kepribadian anak, dan dapat membikin mereka menginternalisasi pendapat bahwa kehadiran mereka adalah beban dan tidak diinginkan. Mereka dapat mulai percaya bahwa hanya dengan keberadaan mereka, mereka mempunyai akibat negatif pada orang-orang di sekitar mereka.”

Demikian beberapa kebiasaan toxic orang tua yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak. Di antara meminta anak-anak memilih salah satu orang tua hingga mengomentari tubuh hingga pilihan mereka. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Selengkapnya