“Anaconda” (2025) mencoba menghidupkan kembali salah satu monster movie paling ikonik era 90-an. Dengan pendekatan reboot, movie ini jelas mau memanfaatkan nostalgia sembari menyesuaikan diri dengan selera penonton modern. Sayangnya, upaya tersebut terasa separuh hati. Alih-alih merevolusi mitos ular raksasa, movie ini justru terjebak dalam formula lama yang sudah usang dan kehilangan daya kejut.
Plot “Anaconda” tetap berpusat pada sekelompok karakter yang terjebak di daerah rimba terpencil dan kudu memperkuat hidup dari ancaman ular raksasa yang mematikan. Premis ini sebenarnya tidak salah. Monster movie memang berjuntai pada konsep sederhana: manusia versus alam buas. Namun problem utama movie ini terletak pada pengembangan cerita yang dangkal dan mudah ditebak. Setiap bentrok seolah bergerak sesuai template lama, mulai dari karakter yang ceroboh, pengorbanan yang terasa dipaksakan, hingga twist yang bisa ditebak sejak awal.
Script movie ini condong klise. Dialog terasa generik dan sering kali terdengar seperti potongan dari movie survival lain. Karakter-karakter tidak diberi latar belakang yang cukup kuat untuk membikin penonton peduli pada nasib mereka. Motivasi mereka sering kali kabur dan berubah-ubah sesuai kebutuhan plot. Ini membikin ketegangan yang semestinya menjadi kekuatan utama movie monster justru melemah, lantaran penonton tidak mempunyai keterikatan emosional dengan siapa pun.
Screenplay juga kandas memanfaatkan potensi psikologis dari situasi teror. Film lebih memilih jumpscare murahan dan momen kejut instan daripada membangun atmosfer mencekam secara perlahan. Alih-alih ketegangan yang meningkat secara organik, “Anaconda” terasa seperti rangkaian set piece yang disambung tanpa ritme yang jelas. Banyak segmen yang semestinya bisa menjadi momen ikonik justru berlalu begitu saja tanpa akibat berarti.

Dari sisi sinematografi, movie ini sebenarnya mempunyai beberapa momen visual yang cukup solid. Lanskap rimba tropis ditampilkan dengan skala yang megah, memberi kesan terisolasi dan berbahaya. Namun, pencahayaan yang terlalu gelap dan penggunaan pengaruh kabut berlebihan sering kali justru mengaburkan perincian penting. Beberapa segmen serangan ular susah dinikmati lantaran framing yang kacau dan editing yang terlalu cepat. Ketimbang menciptakan rasa takut, movie ini justru membikin penonton frustrasi.
Efek visual menjadi komponen yang paling disorot, sekaligus paling problematis. CGI anaconda terlihat cukup perincian dalam beberapa segmen jarak dekat, tetapi kualitasnya tidak konsisten. Pada momen tertentu, aktivitas ular tampak kaku dan tidak alami, menghancurkan ilusi ancaman yang semestinya mematikan. Ketika monster utama terasa artifisial, seluruh fondasi movie otomatis goyah.
Akting para pemain juga tidak sepenuhnya meyakinkan. Beberapa tokoh berupaya menampilkan emosi ketakutan dan kepanikan, tetapi naskah yang lemah membikin performa mereka terasa berlebihan alias justru datar. Tidak ada karakter yang betul-betul menonjol. Bahkan tokoh utama pun kandas meninggalkan kesan mendalam. Interaksi antarkarakter terasa mekanis, seolah hanya berfaedah sebagai pengisi waktu sebelum serangan berikutnya.
Pacing movie tidak seimbang. Paruh awal terasa terlalu lambat dengan banyak perbincangan eksposisi yang tidak perlu, sementara paruh akhir dipadatkan dengan rentetan tindakan yang terasa terburu-buru. Alih-alih klimaks yang memuaskan, movie justru berhujung dengan resolusi yang terasa instan dan tidak berakibat emosional.
Secara tematik, “Anaconda” sebenarnya mencoba menyentuh rumor pemanfaatan alam dan keserakahan manusia. Namun tema ini hanya menjadi lapisan tipis yang tidak pernah dieksplorasi secara mendalam. Film tampak ragu untuk betul-betul mengkritik perilaku manusia terhadap lingkungan, dan lebih memilih kembali ke pola monster movie konvensional.
Sebagai reboot, movie ini kandas memberikan argumen kuat kenapa “Anaconda” perlu dihidupkan kembali. Tidak ada pendekatan baru yang signifikan, baik dari sisi cerita, karakter, maupun style visual. Film ini terasa seperti jenis modern dari sesuatu yang sudah pernah kita tonton, tanpa penemuan berarti.
“Anaconda” (2025) mungkin bakal menghibur penonton yang hanya mencari tontonan ringan tanpa ekspektasi tinggi. Namun bagi pencinta movie monster yang berambisi pada teror yang lebih pandai dan segar, movie ini terasa mengecewakan. Ia terlalu aman, terlalu berjuntai pada nostalgia, dan kandas membangun identitas baru.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·