Di antara hiruk-pikuk premiere, standing ovation, dan perebutan Palme d’Or utama, ada satu penghargaan di Cannes Film Festival yang justru bekerja lebih sunyi—namun mempunyai berat historis yang tidak kalah besar: Honorary Palme d’Or.
Berbeda dari kejuaraan resmi yang menilai movie tertentu dalam satu tahun, Honorary Palme d’Or berbincang tentang sesuatu yang lebih luas—legasi. Ia diberikan kepada figur yang dianggap tidak hanya berkontribusi pada sinema, tetapi juga membentuk langkah bumi memahami dan mengimajinasikan movie itu sendiri.
Pada Cannes 2026, pilihan penerima penghargaan ini terasa signifikan lantaran memperlihatkan pergeseran langkah Cannes mendefinisikan “kebesaran”.
Tiga Nama, Tiga Bentuk Legasi
Tahun ini, Honorary Palme d’Or diberikan kepada tiga figur dengan latar belakang yang sangat berbeda: Peter Jackson, Barbra Streisand, dan John Travolta.
Pilihan ini bukan kebetulan. Ketiganya merepresentasikan tiga jalur berbeda menuju status “ikon” dalam sinema global.
Peter Jackson, misalnya, selama ini identik dengan trilogi The Lord of the Rings—sebuah proyek yang tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga mendefinisikan ulang skala dan kemungkinan dalam filmmaking modern. Dengan memadukan teknologi, world-building, dan narasi epik, Jackson mengubah blockbuster dari sekadar intermezo menjadi pengalaman sinematik yang ambisius secara artistik.
Sementara itu, Barbra Streisand membawa dimensi lain: seorang seniman multidisipliner yang melampaui pemisah medium. Sebagai aktris, penyanyi, sutradara, dan produser, Streisand bukan hanya berkontribusi pada industri, tetapi juga membuka ruang baru bagi representasi wanita dalam posisi imajinatif di Hollywood. Legasinya tidak hanya estetis, tetapi juga struktural.
John Travolta, di sisi lain, merepresentasikan konsep reinvention. Dari ikon budaya pop di era 1970-an hingga tokoh yang terus beradaptasi dengan lanskap industri yang berubah, Travolta menunjukkan bahwa keberlanjutan pekerjaan juga merupakan corak legasi. Penghargaan ini terasa seperti pengakuan terhadap daya tahan dan evolusi, bukan hanya puncak prestasi.

Dari Arthouse ke Pop Culture
Yang membikin Cannes 2026 menarik adalah gimana ketiga nama ini, secara kolektif, mengaburkan pemisah antara arthouse prestige dan popular cinema.
Selama bertahun-tahun, Cannes dikenal sebagai tembok sinema auteur—film-film yang personal, eksperimental, dan seringkali jauh dari arus utama. Namun dalam beberapa tahun terakhir, terlihat adanya pergeseran: pagelaran ini mulai merangkul figur-figur yang sebelumnya dianggap terlalu “mainstream”.
Pemberian Honorary Palme d’Or kepada Peter Jackson menjadi simbol paling jelas dari perubahan ini. Dahulu, blockbuster berskala besar sering diposisikan sebagai antitesis dari pagelaran cinema. Kini, justru diakui sebagai bagian dari perkembangan bahasa sinema itu sendiri.
Hal yang sama bertindak untuk Streisand dan Travolta. Keduanya berasal dari tradisi Hollywood yang kuat—sesuatu yang dulu sering dijaga jaraknya oleh Cannes. Namun kini, pengaruh budaya pop tidak lagi dilihat sebagai sesuatu yang “lebih rendah”, melainkan sebagai kekuatan yang membentuk khayalan kolektif penonton global.
Legasi sebagai Konstruksi
Pada akhirnya, Honorary Palme d’Or bukan hanya tentang menghormati masa lalu. Ia adalah perangkat kuratorial.
Dengan memilih siapa yang layak menerima penghargaan ini, Cannes secara tidak langsung:
- menentukan siapa yang masuk ke dalam kanon sejarah sinema,
- membentuk narasi tentang apa yang dianggap penting,
- dan mempengaruhi gimana generasi berikutnya bakal memandang film.
Dengan kata lain, legasi bukan sesuatu yang netral. Ia dikonstruksi—dipilih, disorot, dan dipertahankan melalui lembaga seperti pagelaran film. Cannes, dalam konteks ini, tidak hanya menjadi saksi sejarah sinema. Ia adalah salah satu penulisnya.
Siapa yang Layak Diingat?
Cannes 2026 menunjukkan bahwa arti “besar” dalam sinema terus berubah.
Tidak lagi terbatas pada style tertentu, aliran tertentu, alias apalagi medium tertentu. Legasi sekarang mencakup spektrum yang lebih luas—dari penemuan teknis hingga akibat budaya, dari ekspresi individual hingga pengaruh global.
Honorary Palme d’Or menjadi refleksi dari perubahan ini. Ia bukan sekadar penghargaan kehormatan, tetapi pernyataan tentang arah sinema itu sendiri.
Dan mungkin pertanyaan paling krusial yang tersisa adalah: bukan hanya siapa yang layak menerima penghargaan ini hari ini—tetapi siapa yang bakal dipilih untuk diingat di masa depan.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·