Kehilangan adalah pengalaman yang tak terelakkan dalam hidup. Cepat alias lambat, setiap orang bakal menghadapi perpisahan—baik lantaran kematian, perceraian, putusnya hubungan, maupun perubahan yang memaksa kita meninggalkan masa lalu. Tidak ada langkah yang betul alias salah untuk berduka. Setiap orang mempunyai waktunya sendiri untuk menerima kehilangan.
Sinema telah lama menjadi medium yang bisa menerjemahkan emosi tersebut dengan begitu jujur. Film-film tentang duka bukan hanya mengisahkan kesedihan, tetapi juga tentang gimana manusia perlahan menemukan harapan, mengampuni diri sendiri, dan belajar melanjutkan hidup. Alih-alih menawarkan jawaban instan, film-film ini membujuk penonton memahami bahwa rasa kehilangan bakal selalu menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Berikut adalah 10 movie terbaik tentang kehilangan dan berbaikan dengan duka yang layak ditonton setidaknya sekali seumur hidup.

1. Manchester by the Sea (2016)
Lee Chandler menjalani hidup yang tertutup dan penuh penyesalan setelah tragedi besar menghancurkan keluarganya. Ketika kakaknya meninggal dunia, dia kudu kembali ke kampung laman untuk menjadi wali keponakannya. Kepulangan itu memaksanya menghadapi luka yang selama ini berupaya dia kubur.
Karya Kenneth Lonergan ini merupakan salah satu potret duka paling realistis dalam sejarah sinema. Film ini tidak menawarkan pengobatan yang dramatis, melainkan menunjukkan bahwa ada luka yang mungkin tidak pernah betul-betul sembuh, tetapi tetap bisa dijalani. Penampilan Casey Affleck yang memenangkan Oscar menjadi pusat emosinya.

2. Drive My Car (2021)
Seorang tokoh dan sutradara teater kehilangan istrinya secara mendadak. Dua tahun kemudian, dia menerima pekerjaan di Hiroshima dan membangun hubungan yang perlahan membuka luka lama berbareng seorang pengemudi muda yang juga menyimpan trauma.
Film pemenang Oscar Film Internasional ini membahas duka dengan langkah yang tenang dan kontemplatif. Melalui dialog, keheningan, dan perjalanan di dalam mobil, movie ini menunjukkan bahwa menerima kehilangan berfaedah belajar hidup berdampingan dengan kenangan, bukan menghapusnya. Berfokus pada hidup seorang duda yang ditinggal meninggal sang istri, “Drive My Car” tampil penuh rasa dengan bungkusan sinema puitis.
3. A Monster Calls (2016)
Connor, seorang anak laki-laki berumur 12 tahun, menghadapi realita bahwa ibunya menderita penyakit terminal. Di tengah rasa takut dan kesepian, dia dikunjungi oleh sesosok monster tua yang setiap malam menceritakan kisah-kisah penuh makna.
Meski dikemas sebagai fantasi, movie ini merupakan eksplorasi yang sangat jujur tentang rasa kehilangan. Visual yang bagus berpadu dengan emosi yang menghancurkan, mengingatkan bahwa menerima realita sering kali menjadi langkah paling susah dalam proses berduka.
4. Rabbit Hole (2010)
Sepasang suami istri berupaya mempertahankan pernikahan mereka setelah kehilangan anak semata wayang dalam sebuah kecelakaan. Masing-masing menghadapi kesedihan dengan langkah yang sangat berbeda.
Film ini memperlihatkan gimana duka dapat mempererat sekaligus menghancurkan hubungan. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya betul alias salah; hanya dua orang yang sama-sama berupaya memperkuat di tengah kehilangan yang tak terbayangkan.
5. After Yang (2021)
Sebuah family berupaya memperbaiki robot pendamping mereka yang rusak. Dalam prosesnya, sang ayah menemukan bahwa “Yang” menyimpan kenangan dan kehidupan jiwa yang jauh lebih kompleks daripada yang pernah mereka bayangkan.
Film fiksi ilmiah karya Kogonada ini bukan tentang teknologi, melainkan tentang memori, keluarga, dan makna kehilangan. Lembut, filosofis, dan sangat menyentuh.

6. The Farewell (2019)
Seorang wanita muda kembali ke Tiongkok ketika keluarganya memutuskan untuk merahasiakan penyakit terminal sang nenek. Di kembali ketidakejujuran tersebut, setiap personil family menghadapi rasa kehilangan dengan caranya masing-masing.
Film ini menawarkan perspektif budaya Timur tentang kematian dan keluarga. Alih-alih berfokus pada kesedihan semata, The Farewell menunjukkan gimana cinta sering kali diwujudkan melalui pengorbanan dan kebersamaan.
7. Still Alice (2014)
Alice, seorang guru besar linguistik, didiagnosis menderita Alzheimer onset dini. Sedikit demi sedikit dia kehilangan ingatan, identitas, dan kehidupannya yang selama ini dia bangun.
Ini bukan hanya kisah tentang penyakit, tetapi juga tentang kehilangan diri sendiri. Penampilan Julianne Moore yang memenangkan Oscar membikin movie ini menjadi pengalaman emosional yang susah dilupakan.
8. Coco (2017)
Miguel, seorang anak laki-laki yang bercita-cita menjadi musisi, tanpa sengaja memasuki Dunia Orang Mati dan menemukan rahasia besar tentang keluarganya.
Meski merupakan movie animasi, Coco menjadi salah satu karya paling bagus tentang kematian, kenangan, dan pentingnya mengingat orang-orang yang telah tiada. Film ini menunjukkan bahwa seseorang tidak betul-betul pergi selama dia tetap hidup dalam ingatan orang yang mencintainya.

9. Ordinary People (1980)
Sebuah family kaya berupaya melanjutkan hidup setelah kematian salah satu anak mereka dalam kecelakaan perahu. Trauma yang tidak pernah dibicarakan perlahan menghancurkan hubungan mereka.
Pemenang Oscar Film Terbaik ini memperlihatkan bahwa duka yang dipendam sering kali lebih menghancurkan daripada duka yang diungkapkan. Sebuah drama family yang tetap relevan hingga hari ini.
10. Departures (2008)
Seorang pemain cello yang kehilangan pekerjaannya tanpa sengaja menjadi nokanshi, pekerjaan yang mempersiapkan jenazah sebelum pemakaman menurut tradisi Jepang. Pekerjaan itu mengubah langkah pandangnya terhadap kehidupan dan kematian.
Pemenang Oscar Film Berbahasa Asing Terbaik ini menawarkan refleksi yang hangat tentang kematian sebagai bagian alami dari kehidupan. Dengan sinematografi yang elegan dan emosi yang tertahan, Departures mengajarkan bahwa menghormati kematian juga berfaedah menghargai kehidupan.
Duka Tidak Pernah Benar-Benar Pergi
Tidak ada movie yang bisa menghapus rasa kehilangan. Namun, film-film terbaik dapat menemani kita memahami bahwa duka adalah bagian dari menjadi manusia. Mereka menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai langkah berbeda untuk menghadapi kehilangan—ada yang memilih diam, ada yang melarikan diri, ada pula yang perlahan belajar menerima.
Pada akhirnya, berbaikan dengan duka bukan berfaedah melupakan orang alias perihal yang telah hilang. Berdamai berfaedah menerima bahwa kenangan bakal selalu hidup berbareng kita, membentuk siapa diri kita hari ini. Dan mungkin, di situlah kekuatan terbesar sinema: mengingatkan bahwa apalagi dalam kesedihan terdalam, selalu ada ruang bagi angan untuk tumbuh kembali.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·