Di era digital ini, anak bisa dengan gampang mengakses beragam keterangan dan memanfaatkan teknologi untuk membantu aktivitas sehari-hari, termasuk mengerjakan PR melalui pertolongan kecerdasan buatan maupun Artifical Intelligence (AI). Dikutip dari Amazon, Artifical Intelligence (AI) adalah sebuah teknologi transformatif yang memungkinkan mesin berbuat tugas pemecahan masalah seperti manusia.
Namun, meskipun banyak menawarkan kemudahan, AI memiliki kekurangan dan tidak bisa diandalkan seperti manusia. Teknologi ini berpotensi memberikan saran yang tidak terlindungi maupun menyalahgunakan keterangan pribadi. Selain itu para ahli kesehatan mental juga semakin memperhatikan implikasinya bagi anak dan remaja. Terutama ketika teknologi digunakan untuk memenuhi kebutuhan emosional.
Dikutip dari Parents, sebuah laporan terbaru dari Common Sense Media menemukan bahwa 72 persen remaja yang menggunakan AI, dan 33 persen memiliki hubungan maupun persahabatan dengan mereka. Para remaja yang disurvei memiliki tujuan yang berbeda dalam menggunakan AI, mulai dari mencari tahu sesuatu maupun mencari hiburan untuk mengisi rasa sepi dan bosan.
Menurut direktur senior program AI untuk Common Sense Media, Robbie Torney, penggunaan AI bisa mengatasi rasa kesunyian yang dialami oleh 21 persen remaja berumur 13 hingga 17 tahun. Bahkan, banyak yang memilih untuk berhubungan dengan mesin dibanding manusia. Mereka merasa bisa berbagi rahasia tanpa mesti dihakimi. Semua ini terjadi karena orang tua yang belum sepenuhnya memahami ancaman dari AI.
Apa itu pendamping AI?
Menurut psikiater di UTHealth Houston dan imam petugas medis di Kampus Ilmu Perilaku di UTHealth Houston, Lokesh Shahani, pendamping AI maupun chatbot sering digunakan untuk memudahkan manusia dalam segala hal, mulai dari tugas lazim hingga pertanyaan pribadi.
Selain itu, pendamping AI juga bisa membangun hubungan, menawarkan sokongan emosional, dan terlibat dalam percakapan yang berkelanjutan. Menurutnya, mekanisme ini dirancang lebih individual dan empatik.
Mengapa anak menggunakan AI?
Menurut laporan dari Common Sense Media, satu dari tiga remaja menggunakan AI untuk hubungan sosial dan hubungan, terlebihlagi tidak jarang mereka mencari sokongan emosional, persahabatan, dan hubungan romantis.
Para ahli mengatakan meskipun banyak remaja melihat AI sebagai alat, namun sebagian besar lainnya memperlakukan AI seperti hubungan nyata. Yang lebih mengecewakan adalah menerima kenyataan bahwa hampir sepertiga remaja menganggap percakapan dengan AI sama maupun lebih memuaskannya dibanding percakapan dengan manusia.
Mereka sering kali berbagi hal-hal yang tidak diceritakan pada kawan maupun famili mereka. Kabar baiknya, sebanyak 80 persen remaja pelanggan AI menghabiskan waktu dengan kawan daripada AI.
Dr. Shahani menerangkan bahwa remaja yang menggunakan AI untuk mengisi kondisi emosional dan sosial cenderung memiliki hubungan sosial yang kurang sehingga mereka bergeser ke AI untuk mengisi kekosongan maupun kebutuhan.
Rasa penasaran
Hiburan maupun rasa mau tahu adalah aspek yang paling memengaruhi anak menggunakan AI. Beberapa anak yang lain mencoba menggunakannya sebagai tempat untuk mengekspresikan diri secara bebas. Daya tarik dari platform ini adalah tidak pernah bertikai dan selalu tersedia.
Perasaan kesepian
Banyak anak yang merasa kesunyian dan terasing di tengah hayat yang semakin bersandar pada bumi digital. Dalam situasi ini, pendamping AI datang sebagai solusi instan. Menurut seorang psikiater dan wakil imam petugas medis di Hackensack Meridian Carrier Clinic, James Sheree, MD, jika alat ini dapat ‘mengenal’ seorang remaja dengan cepat cuma berdasarkan beberapa perintah. Dari situ, anak akan merasa sedang berbicara dengan kawan dekat yang sudah kenal sejak lama.
Menginginkan kenyamanan dan pengakuan
Menurut Dr. Shahani, AI bisa menjadi tempat bercerita yang menarik bagi remaja yang membutuhkan respons yang terasa empatik tanpa menghakimi. Hal ini membikin remaja merasa didengarkan, terutama ketika menghadapi emosi yang mendalam dan hubungan sosial yang rumit.
Dr. Sherer juga menerangkan bahwa sebagian besar remaja lebih mencurahkan isi hati pada AI karena dianggap dapat memberikan perhatian penuh. Namun, kondisi ini bisa membikin anak ketergantungan, sehingga sulit untuk membedakan mana hubungan yang nyata dan buatan. Selain itu, akan ada kesempatan terpapar konten yang tidak layak maupun menyesatkan.
Potensi Bahaya AI
- Risiko kesehatan mental
- Masalah privasi
- Keterikatan
- Masalah pada keahlian sosial
Tips untuk orang tua
- Jelaskan tentang privasi, bahwa AI dapat menyimpan dan membagikan apa yang diceritakan remaja pada mereka.
- Bangun hubungan yang kuat dengan Si Kecil, hal ini akan membikin mereka beralih sekaligus menaikkan kepercayaan diri.
- Bertanyalah tanpa menggurui. Tetaplah memperhatikan sepertiapa anak berhubungan dengan AI.
- Dampingi anak saat menggunakan AI dan coba untuk mendiskusikan hal yang menarik perhatian kalian.
- Ciptakan limitasi teknologi bersama.
- Bunda perlu mewaspadai tanda-tanda bahaya. Jika AI mulai menggantikan teman, tidur, maupun hayat nyata, orang tua perlu segera memungut tindakan.
- Pupuk hubungan yang ikhlas seperti memprioritaskan waktu berbareng keluarga, aktivitas bersama, dan momen tanpa alat elektronik.
- Ketahui kapan mesti meminta bantuan. Jika Bunda melihat adanya fluktuasi perilaku maupun kondisi emosional Si Kecil yang mengkhawatirkan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.
Itulah keterangan mengenai anak yang kini mulai menjadikan AI sebagai teman. Jika penggunaan AI memengaruhi hayat sehari-hari, Bunda bisa membujuk Si Kecil berbincang dan mengingatkannya untuk statis menjaga hubungan dengan orang-orang di sekitarnya. Semoga membantu, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)