Hermes Agent adalah framework AI agent otonom open-source dari Nous Research yang dirilis pada Februari 2026 di bawah lisensi MIT.
Berbeda dari chatbot AI biasa yang hanya aktif selama sesi percakapan berlangsung, Hermes Agent dirancang sebagai layanan yang terus berjalan di server pribadi alias prasarana self-hosted. Sistem ini menggunakan large language model (LLM) sebagai mesin penalaran, dilengkapi beragam tool untuk hubungan pengguna, serta sistem memori berlapis yang bisa mempertahankan konteks antar sesi.
Memang sudah banyak asisten AI yang bisa menjawab pertanyaan dengan sangat baik untuk sebuah pertanyaan. Namun, asisten AI saat ini umumnya kesulitan menangani workflow yang berjalan selama berhari-hari alias memerlukan konteks jangka panjang. Nah, Hermes Agent dibangun dengan prinsip persistensi sehingga bisa menyimpan memori, mengembangkan skill yang bisa digunakan ulang, dan tetap bekerja di latar belakang tanpa perlu terus diawasi pengguna.
Metode ini menandai pergeseran dari hubungan AI yang berkarakter sementara menuju workflow AI berdikari yang melangkah secara berkepanjangan dan terus berkembang seiring waktu.
Apa itu Hermes Agent?
Hermes Agent adalah framework AI agent open-source berlisensi MIT yang bisa melangkah 24/7 di lingkungan self-hosted.
Framework ini dirancang untuk menangani tugas multi-langkah secara berdikari dengan memanfaatkan beragam tool, seperti terminal dan browser, sekaligus menyimpan memori lintas sesi agar konteks pekerjaan tetap terjaga.
Nous Research, laboratorium AI di kembali family model Hermes, Nomos, dan Psyche, merilis Hermes Agent pada Februari 2026 sebagai framework pemasok otonom pertamanya.
Hermes Agent melangkah sebagai proses latar belakang (background process). Agent ini bisa menerima petunjuk melalui platform seperti Telegram, Discord, alias Slack, lampau menjalankan tool langsung di perangkat pengguna. Bahkan setelah jendela chat ditutup, pemasok tetap bisa melanjutkan pekerjaannya.
Karena itu, Hermes Agent bisa mempertahankan konteks, mengembangkan skill yang bisa digunakan kembali, dan terus berkembang dari waktu ke waktu.
Dibandingkan dengan AI agent open-source lain, Hermes Agent lebih berfokus pada infrastruktur. Framework ini ditujukan bagi pengguna yang mau menjalankan AI agent sendiri di server pribadi (VPS) alias server rumahan, bukan berjuntai pada jasa cloud terkelola.
Dengan kata lain, Hermes Agent dirancang menjadi bagian dari prasarana pribadi pengguna, bukan sekadar aplikasi berbasis browser alias asisten coding yang tertanam di IDE.
Cara kerja Hermes Agent
Hermes Agent bekerja dengan menerima input, merencanakan tindakan menggunakan LLM, menjalankan tool yang diperlukan, menyimpan hasil ke memori, lampau mengulangi proses tersebut hingga tugas selesai.
Untuk menjalankannya, Anda memerlukan lingkungan self-hosted seperti VPS alias backend serverless. Setelah proses penginstalan dilakukan, Hermes Agent bakal menyiapkan environment Python sekaligus membikin direktori utama pemasok di ~/.hermes/.
Secara umum, alur kerja Hermes Agent terdiri dari beberapa tahap berikut:
- Menerima input. Tugas masuk ke agent melalui CLI, platform chat yang terhubung, alias tugas otomatis yang dijalankan menggunakan cron job.
- Perencanaan tugas dengan LLM. Agen mengirim permintaan ke model bahasa yang sudah dikonfigurasi sembari mempertimbangkan memori yang tersedia dan tool yang bisa digunakan. Berdasarkan konteks tersebut, model menentukan langkah berikutnya.
- Eksekusi tool. Setelah rencana dibuat, agent menjalankan tool yang diperlukan, seperti terminal, penyunting file, browser web, alias server MCP. Hasil dari setiap tool kemudian dimasukkan kembali ke dalam loop kerja agen.
- Penyimpanan dan pengambilan memori. Hermes Agent menyimpan hasil, fakta, dan proses penalaran ke database lokal. Apabila diperlukan, pemasok juga bisa membikin file memori terkurasi agar sesi berikutnya mempunyai konteks yang relevan.
- Iterasi dan operasi berkelanjutan. Proses ini terus berulang hingga tugas selesai. Setelah itu, agent tidak dimatikan, tapi tetap aktif dan menunggu petunjuk berikutnya.
Secara keseluruhan, sistem ini memungkinkan Hermes Agent menjalankan workflow yang berkelanjutan lintas tugas, platform, dan sesi penggunaan.

Apa yang membedakan Hermes Agent dari AI agent lainnya
Hermes Agent adalah AI agent self-hosted yang dirancang untuk terus berjalan, bekerja secara otonom, dan berkembang seiring waktu.
Framework ini sudah dilengkapi sistem memori, skill, messaging, dan penjadwalan bawaan sehingga Anda tidak perlu membangun semuanya dari nol. Anda juga bisa mengganti LLM, menambahkan tool baru, alias menyesuaikan perilaku agent melalui file SOUL.md.
Yang membikin Hermes Agent berbeda adalah kemampuannya untuk belajar dari tugas yang sudah diselesaikan. Setelah sebuah tugas selesai dikerjakan, Hermes Agent bakal merekam proses tersebut lampau mengubahnya menjadi skill yang bisa digunakan kembali untuk tugas berikutnya.
Misalnya, Anda meminta Hermes Agent memperbaiki deployment yang gagal. Kalau agent sukses menyelesaikannya melalui beberapa langkah troubleshooting, proses tersebut bakal disimpan sebagai skill. Jadi, saat masalah serupa muncul lagi di masa depan, agent sudah mempunyai referensi tentang solusi yang sebelumnya berhasil.
Pendekatan seperti ini masih jarang ditemukan di kebanyakan tool AI saat ini. Sebagian besar tool AI biasanya hanya masuk ke salah satu dari tiga kategori berikut: chatbot yang menjawab satu pertanyaan dalam satu sesi, asisten coding di IDE yang hanya bekerja di dalam editor, alias framework orkestrasi seperti LangChain yang menyediakan building block, tetapi pengelolaan memori, penjadwalan, dan proses pembelajarannya tetap kudu Anda bangun sendiri.
Hermes Agent vs. OpenClaw
Hermes Agent dan OpenClaw sama-sama merupakan AI agent otonom yang bisa dijalankan secara self-hosted. Namun, keduanya punya konsentrasi yang berbeda.
Hermes Agent lebih berfokus pada proses belajar jangka panjang melalui pembuatan skill yang bisa digunakan ulang. Sementara itu, OpenClaw lebih konsentrasi pada eksekusi tugas secara langsung melalui percakapan bahasa alami.
Berikut komparasi Hermes Agent dan OpenClaw secara lebih mendetail:
| Aspek | Hermes Agent | OpenClaw |
| Fokus utama | Peningkatan diri melalui pembuatan skill secara mandiri | Eksekusi tugas langsung melalui bahasa alami |
| Model memori | Memori empat tingkat, file prompt, arsip SQLite, skill, dan provider eksternal | Memori percakapan jangka panjang |
| Persistensi | Siklus kerja berkepanjangan dengan tugas teragendakan dan support cron | Asisten yang selalu aktif |
| Otonomi | Merencanakan, menjalankan, dan menulis pengarsipan skill sendiri | Menafsirkan petunjuk lampau bertindak di prasarana pengguna |
| Model hosting | Mesin lokal, VPS, alias backend serverless seperti Modal dan Daytona | Mesin lokal, Raspberry Pi, alias VPS |
Kalau sudah menggunakan OpenClaw, Anda juga bisa beranjak ke Hermes Agent tanpa kehilangan konfigurasi dan pekerjaan yang sudah ada.
Cukup jalankan perintah berikut saat proses setup awal:
hermes claw migratePerintah tersebut bakal mengimpor pengaturan, memori, skill, serta API key yang sebelumnya digunakan di OpenClaw. Dengan begitu, Anda tidak perlu mengatur ulang hubungan provider LLM, platform messaging, maupun konteks yang sudah terkumpul sebelumnya.
Hermes Agent vs. Paperclip
Hermes Agent dan Paperclip sebenarnya bekerja di lapisan yang berbeda, jadi keduanya lebih cocok digunakan sebagai pelengkap daripada pesaing langsung.
Dalam praktiknya, Hermes Agent berfaedah sebagai AI agent utama yang digunakan sehari-hari. Sementara itu, Paperclip berkedudukan sebagai lapisan orkestrasi untuk mengelola koordinasi antar agent.
Artinya, Anda bisa menjalankan beberapa instance Hermes Agent sebagai worker di dalam organisasi Paperclip.
Berikut komparasi Hermes Agent dan Paperclip:
| Aspek | Hermes Agent | Paperclip |
| Peran | AI agent tunggal yang persisten | Platform orkestrasi multi-agent |
| Unit kerja | Satu agent dengan memori dan skill | Banyak agent dengan peran, tujuan, dan tugas tertentu |
| Struktur | AI pribadi yang terus berkembang | Hierarki bergaya organisasi dengan sistem tata kelola |
| Cocok untuk | Produktivitas individu, automasi developer, dan riset | Workflow end-to-end lintas tim agent |
| Interaksi | Platform messaging, CLI, dan cron job | Dashboard, sistem tugas, dan shared context |
Kalau Anda tertarik membangun organisasi AI komplit menggunakan Paperclip dan Hermes Agent, Anda bisa mengikuti tutorial kami tentang cara setting Paperclip.
Fitur utama Hermes Agent
Hermes Agent menggabungkan beragam fitur yang biasanya ditawarkan secara terpisah oleh pemasok AI lainnya, seperti:
- Eksekusi 24/7 yang konsisten. Setelah dijalankan sebagai jasa systemd, Hermes Agent bakal terus aktif untuk menerima pesan, menjalankan cron job terjadwal, dan melanjutkan pekerjaan setelah reboot. Fitur ini membikin workflow jangka panjang jadi lebih praktis, misalnya untuk membikin ringkasan riset setiap malam, generate code semalaman, alias mengirim laporan mingguan tanpa kudu memulai chat baru setiap kali.
- Pengambilan keputusan otonom dan pembuatan skill. Kalau Hermes Agent menyelesaikan tugas kompleks yang melibatkan banyak tool call, agent bakal menyimpan proses tersebut sebagai skill yang bisa digunakan ulang. Skill ini disimpan sebagai file Markdown di direktori ~/.hermes/skills/ dan mengikuti standar terbuka agentskills.io sehingga kompatibel dengan agent lain yang mendukung format serupa. Anda juga bisa mengimpor skill buatan organisasi dari Skills Hub menggunakan slash command seperti /gif-search alias /github-pr-workflow. Menariknya lagi, Hermes Agent juga bisa memperbarui skill miliknya sendiri ketika workflow yang lama sudah tidak relevan.
- Penyimpanan memori jangka panjang. Hermes Agent menggunakan sistem memori empat lapis untuk mempertahankan konteks dalam jangka panjang. File MEMORY.md dan USER.md digunakan untuk menyimpan info lingkungan dan preferensi pengguna yang otomatis dimuat ke system prompt di awal sesi. Selain itu, Hermes Agent juga menyimpan seluruh riwayat sesi di database SQLite ~/.hermes/state.db dengan support pencarian teks penuh FTS5 agar info lama bisa dipanggil kembali dengan cepat. Direktori skill berfaedah sebagai memori prosedural, sedangkan provider eksternal seperti Honcho, Mem0, OpenViking, alias Supermemory bisa digunakan untuk kebutuhan pemodelan pengguna jangka panjang.
- Integrasi tool dan API. Hermes Agent mempunyai lebih dari 40 tool bawaan yang mencakup pencarian web, eksekusi terminal, operasi file seperti read_file dan patch, browser automation, image recognition, image generation, text-to-speech, hingga delegasi sub-agent. Tool tersebut bakal terdaftar secara otomatis saat diimpor. Jadi, Anda juga bisa menambahkan tool sendiri melalui plugin di direktori pengguna, proyek, alias pip.
- Kompatibilitas dengan beragam LLM. Hermes Agent mendukung beragam endpoint yang kompatibel dengan OpenAI API, termasuk Nous Portal, OpenRouter, Anthropic, maupun instance Ollama lokal. Karena itu, Anda punya elastisitas untuk memilih model sesuai kebutuhan dan prasarana yang digunakan.
- Dukungan MCP bawaan. Hermes Agent mendukung integrasi MCP (Model Context Protocol) secara bawaan. Anda bisa menghubungkan server MCP melalui stdio maupun HTTP, menentukan tool mana yang boleh diakses, lampau mengelolanya melalui satu file config.yaml.
- Deployment self-hosted yang fleksibel. Hermes Agent bisa dijalankan di beragam platform yang mendukung Python 3.11, termasuk Linux, macOS, WSL2 di Windows, hingga Android melalui Termux. Framework ini juga mendukung enam backend terminal berbeda untuk menjalankan command, mulai dari local runtime untuk performa tinggi, Docker untuk isolasi, SSH untuk server remote, hingga backend serverless seperti Daytona, Singularity, dan Modal. Untuk penggunaan di VPS, Docker biasanya menjadi opsi paling kondusif lantaran container berfaedah sebagai lapisan isolasi tambahan.
Apa saja contoh penggunaan (use case) utama Hermes Agent?
Hermes Agent umumnya digunakan untuk automasi development, riset dan kajian data, workflow terjadwal, hingga asisten AI pribadi. Semua use case ini memanfaatkan keahlian Hermes Agent untuk terus berjalan, mempertahankan konteks antar sesi, dan mengotomatisasi tugas teknis multi-langkah tanpa perlu banyak intervensi pengguna.

Dalam workflow development, Hermes Agent bisa membantu mengulas pull request, menjalankan testing, sampai menangani proses refactor yang berjalan lama tanpa kehilangan konteks pekerjaan sebelumnya.
Untuk riset dan kajian data, Hermes Agent bisa menggabungkan browsing, eksekusi kode, dan sistem memori untuk mengumpulkan, memproses, lampau meninjau kembali info dari waktu ke waktu.
Hermes Agent juga mendukung workflow teragendakan melalui sistem automasi bawaan, misalnya untuk mengirim laporan berkala alias pembaruan otomatis melalui Telegram maupun Discord.
Sebagai asisten pribadi, Hermes Agent bisa menyesuaikan diri dengan preferensi pengguna, mengingat pekerjaan sebelumnya, dan membantu menyederhanakan tugas-tugas berulang.
Tentu saja, ini baru sebagian mini dari use case yang bisa dijalankan Hermes Agent. Kalau mau memandang contoh penggunaan lainnya, Anda bisa membaca pedoman komplit kami tentang contoh penggunaan Hermes Agent.
Batasan Hermes Agent
Meski menawarkan elastisitas dan kontrol yang tinggi, Hermes Agent tetap mempunyai beberapa batas yang perlu diperhatikan.
- Beban teknis. Karena melangkah secara self-hosted, Anda perlu mengelola infrastrukturnya sendiri. Artinya, Anda tetap memerlukan pemahaman dasar tentang Linux, systemd, container, alias tool server lainnya untuk troubleshooting.
- Risiko keamanan. AI agent otonom yang mempunyai akses terminal dan API key tentu membawa akibat keamanan tambahan. Hermes Agent memang sudah mempunyai beberapa sistem pengaman, seperti blokir command rawan dan prompt sudo. Namun, perlindungan ini tetap bisa dilewati tergantung konfigurasi container yang digunakan. Karena itu, keamanan host, isolasi credential, dan monitoring log tetap menjadi tanggung jawab pengguna.
- Penggunaan resource. Konfigurasi ringan memang bisa melangkah di VPS murah. Namun, workload yang lebih berat seperti browser automation alias sub-agent paralel bakal meningkatkan penggunaan CPU, RAM, dan token LLM dengan cepat. Dalam skala besar, perihal ini bisa berakibat langsung pada biaya prasarana dan penggunaan model AI.
- Keterbatasan model AI. Keandalan Hermes Agent tetap berjuntai pada model AI yang digunakan. Framework ini memerlukan model dengan context window besar, minimal sekitar 64K token. Meski begitu, masalah seperti halusinasi, salah membaca output tool, alias kehilangan alur logika multi-langkah tetap bisa terjadi.
- Latensi proses pembelajaran. Hermes Agent tidak langsung membikin skill baru setiap kali menjalankan tugas. Proses pembelajaran biasanya baru terjadi setelah agent menyelesaikan workflow yang cukup kompleks. Kalau workflow yang dijalankan terlalu bervariasi, agent juga bakal lebih susah menemukan pola yang bisa dipelajari ulang.
- Keterbatasan platform. Hermes Agent belum mendukung Windows secara native dan tetap memerlukan WSL2 untuk menjalankannya. Selain itu, meski Android didukung melalui Termux, beberapa fitur media dan bunyi tetap mempunyai keterbatasan kompatibilitas.
Meski begitu, semua batas ini bukan berfaedah Hermes Agent susah digunakan. Hanya saja, framework ini memang lebih cocok untuk pengguna teknis yang sudah terbiasa mengelola prasarana sendiri, bukan untuk pengguna yang mencari asisten AI yang sepenuhnya terkelola dan siap pakai.
Bagaimana langkah mulai menggunakan Hermes Agent?
Untuk mulai menggunakan Hermes Agent, Anda perlu menyiapkan sistem self-hosted, menginstal dependensi yang dibutuhkan, mengonfigurasi provider LLM, lampau menjalankannya sebagai jasa yang terus aktif.
Hal pertama yang perlu ditentukan adalah letak deployment agent. Kalau hanya dijalankan di perangkat pribadi yang aktif sesekali, faedah persistensi Hermes Agent jadi kurang terasa. Karena itu, VPS biasanya menjadi pilihan yang lebih ideal.
Kalau mau proses setup yang lebih praktis, Anda juga bisa menggunakan VPS Hermes Agent siap pakai agar tidak perlu menyiapkan runtime secara manual.
Namun, jika mau melakukan setup sendiri, Anda bisa mulai dengan menyiapkan sistem Linux, macOS, alias WSL2 dengan Python 3.11 yang sudah terinstal.
Docker sebenarnya berkarakter opsional, tapi tetap disarankan lantaran memberikan lapisan isolasi tambahan untuk backend terminal.
Setelah menyiapkan Docker, jalankan installer resmi Hermes Agent melalui terminal:
curl -fsSL https://raw.githubusercontent.com/NousResearch/hermes-agent/main/scripts/install.sh | bashProses ini bakal menginstal beragam keterbatasan utama seperti uv, Python, Node.js, ripgrep, dan ffmpeg, sekaligus membikin direktori ~/.hermes/.
Setelah selesai, Anda bisa mulai mengonfigurasi Hermes Agent dengan memilih provider LLM melalui perintah hermes model, menghubungkan platform messaging seperti Telegram alias Discord lewat pengaturan gateway, lampau mengaktifkan provider memori eksternal menggunakan perintah hermes memory setup andaikan diperlukan.
Setelah semuanya siap, jalankan Hermes Agent sebagai jasa systemd agar tetap aktif setelah reboot. Anda juga disarankan untuk memantau log dan riwayat sesi secara berkala guna memastikan agent menerima input dan menjalankan tugas sesuai yang diharapkan.
Untuk pedoman penginstalan yang lebih lengkap, Anda bisa membaca tulisan kami tentang cara setting Hermes Agent di VPS langkah demi langkah.

Semua konten tutorial di website ini telah melalui peninjauan menyeluruh sesuai standar dan komitmen editorial Hostinger.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·