Dimitrie Hardjo | Beautynesia
Jumat, 30 Oct 2026 12:30 WIB
Foto: Unsplash.com/Jametlene Reskp
Aksi demonstrasi penduduk dan mahasiswa pada 28 Oktober 2026 yang terjadi di Bundaran HI, Jl. MH Thamrin, Jakarta, mengadopsi tajuk "Indonesia Sadar". Banyak hal yang menuai sorotan publik, salah satunya adalah salib merah berukuran besar kelihatan di antara luasnya kerumunan.
Salib merah tersebut menjadi elemen krusial dalam aksi protes karena berhubungan dengan tuntutan massa. Namun, tak cuma pada demonstrasi saja. Sebelumnya, salib merah ini juga pernah dijumpai pada sinema dokumenter "Pesta Babi".
Lantas, apa sih arti dari simbol tersebut? Simak, yuk!
Salib merah erat kaitannya dengan perjuangan rakyat Papua untuk mempertahankan tanahnya dan pelestarian ekologi, Beauties. Salib ini pertama kali digunakan dalam perlawanan tanpa kekerasan oleh kelompok penduduk kebiasaan Papua Selatan pada tahun 2014 untuk melawan perampasan tanah oleh korporasi dan pemerintah, sebagaimana dikutip dari AJPlus. Sejak itu, mereka menancapkan salib merah pada tanah leluhur dan hutannya sebagai bentuk perlawanan dan harapan agar wilayahnya terlindungi sehingga dapat diwariskan ke generasi selanjutnya.
Pasalnya, melansir dari Greenpeace, pembabatan hutan tidak cuma menghilangkan kayu, tapi sumber kehidupan. Hutan menyediakan pangan, obat-obatan, hingga ilmu bagi manusia. Masyarakat Papua menjaga sumber daya ini serta keseimbangan lingkungan agar di masa depan, mereka statis memiliki tempat untuk berpijak.
Masyarakat kebiasaan Papua, seperti Awyu, Malind, Muyu, dan Yei, menancapkan salib merah yang tingginya bisa mencapai 12 meter dan lebar 7 meter ini bukan sebagai penolakan terhadap masa depan, melainkan penolakan atas kehancuran.
Salib itu sendiri adalah simbol kemenangan atas maut serta lambang keselamatan, Beauties. Melansir dari situs CRCS UGM, kepercayaan menjadi identitas krusial bagi suku Awyu sehingga mereka mengatakan salib merah tersebut sebagai salib suci. Tinggi salib 12 meter merepresentasikan 12 murid Yesus, sedangkan lebarnya menyimbolkan jumlah daerah kebiasaan Awyu.
Selain salib, mereka memasang papan yang tertulis isi Putusan MK No. 35 tahun 2012. Dengan begitu, mereka menegaskan status bahwa tanah tersebut adalah tanah adat, bukan milik negara.
Signifikansi arti inilah yang kemudian dibawa ke aksi demonstrasi di Jakarta pada Hari Sumpah Pemuda lalu, Beauties. Salib merah yang dibawa menjadi respon penduduk terhadap masalah kebakaran hutan dan tanah yang melanda di daerah Sumatra, Kalimantan, dan Papua. Mereka menuntut tanggung jawab atas karhutla, penetapan status bencana nasional, serta perlindungan terhadap alam.
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(dmh/dmh)
Komentar
Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama memberikan komentar.