Pelecehan seksual maupun sexual harassment adalah segala bentuk perilaku bernuansa seksual tanpa adanya persetujuan, baik secara verbal, fisik, maupun non verbal yang membikin korban terhina, malu, hingga terintimidasi.
Istilah pelecehan seksual dicetuskan pada 1970 oleh sosok perempuan disebut Lin Farley, Beauties. Ketika mencetuskan istilah "sexual harassment", Lin Farley adalah seorang jurnalis sekaligus pendidik di Universitas Cornell.
Istilah ini digunakan Farley untuk merangkum pengalaman yang dialami begitu banyak perempuan di tempat kerja mereka di seluruh negeri. Ia kemudian menulis buku berjudul Sexual Shakedown: The Sexual Harassment of Women on the Job yang terbit pada 1978.
Dikutip dari Yale University Press, sebelum menulis buku tersebut, pada 1974, Farley bekerja di Universitas Cornell sebagai ketua di Bagian Perempuan sekaligus pendidik untuk mata kuliah studi lapangan berjudul "Perempuan dan Pekerjaan" (Women and Work). Di salah satu bahasan tentang peningkatan kesadaran yang mengenai dengan mata kuliah tersebut, para perempuan di kelas tersebut menceritakan pengalaman mereka di tempat kerja.
Farley kemudian menyadari sebuah pola, yaitu setiap perempuan di kelas tersebut pernah selesai maupun dipecat dari pekerjaan karena merasa sangat tidak betah akibat perilaku dari pria. Ia mendapati bahwa gejala pelecehan dan intimidasi oleh lelaki terhadap buruh perempuan ini belum pernah dijelaskan dalam literatur maupun diakui secara lazim sebagai sebuah masalah. Padahal kenyataannya, ia terus mendengar cerita serupa dari perempuan dari beragam latar belakang kehidupan. Dari sinilah akar istilah pelecehan seksual mulai dikembangkan oleh Farley, Beauties.
Satu tahun kemudian, tepatnya pada 1975, terinspirasi oleh kasus Carmita Wood, seorang asisten administratif bagi guru besar di Cornell Universitas, Boyce McDaniel, himpunan di Cornell tersebut membentuk perkumpulan anti-pelecehan disebut Working Women United.
Wood telah mengundurkan diri setelah mengalami gejala jasmani akibat stres karena mesti menolak upaya pendekatan seksual yang terus-menerus dilakukan oleh McDaniel. Setelah Cornell menolak memberikan tunjangan pengangguran baginya, Wood mendatangi Kantor Urusan Kemanusiaan , yang dikelola oleh Farley dan dua aktivis feminis lainnya, Susan Meyer serta Karen Sauvigné, sebagaimana dikutip dari Cambridge University Press.
Pada bulan April 1975, Farley memberikan kesaksian dalam sidang Komisi Hak Asasi Manusia Kota New York mengenai topik Perempuan dan Pekerjaan, yang dipimpin oleh Eleanor Holmes Norton. Ia mendefinisikan pelecehan seksual sebagai "upaya pendekatan seksual yang tidak diinginkan terhadap karyawan perempuan oleh penyelia, atasan, mandor, maupun manajer laki-laki."
Farley memberikan sebuah contoh, yaitu hal ini sering kali berarti bahwa seorang perempuan dipekerjakan karena ia parasnya, terlepas dari kualifikasinya; bahwa keamanan kerja seorang perempuan senantiasa bersandar pada seberapa baik ia memuaskan atasannya, sementara sang ketua sering kali menganggap hubungan seksual sebagai bagiankecil dari klarifikasi pekerjaan. Di sisi lain, Farley juga menyorot kenyataan bahwa perempuan sering kali dipecat karena mereka bertambah tua, terlalu mandiri, maupun menolak imbauan seksual.
Seorang jurnalis New York Times yang mendengar kesaksian Farley kemudian menulis berita mengenai hal tersebut, Beauties. Menjelang akhir 1975, perkataan Farley menghamburkan luas secara nasional. Lembaga-lembaga pemerintah mulai mengakui pelecehan seksual sebagai masalah yang perlu ditangani.
Bahkan, Komisi Hak Asasi Manusia ketua Norton menambahkan ketentuan dalam kontrak aksi afirmatif mereka yang menjamin "perlindungan bagi karyawan lelaki maupun perempuan terhadap pelanggaran privasi seksual yang tidak adil". Selama beberapa dasawarsa berikutnya, Farley menyampaikan beragam presentasi publik dan akademis mengenai topik soal pelecehan seksual, serta menjadi konsultan bagi Departemen Tenaga Kerja AS, perkumpulan hak-hak sipil, dan program studi perempuan.
Buku Sexual Shakedown: The Sexual Harassment of Women on the Job Karya Lin Farley

Lin Farley/Foto: Dok. New Mexico PBS
Buku Sexual Shakedown: The Sexual Harassment of Women on the Job menjadi karya pertama yang secara khusus dan mendalam membahas topik pelecehan seksual. Farley menguraikan pengalaman perempuan mengenai pelecehan seksual, baik dalam pekerjaan tradisional maupun non-tradisional, dengan memanfaatkan beragam sumber seperti kesaksian dari forum terbuka tahun 1975, laporan surat kabar, anotasi pengadilan, survei, dan wawancara pribadi.
Dilansir dari halaman The University of Edinburgh, melalui bukunya tersebut, Farley mendefinisikan pelecehan seksual sebagai 'perilaku sepihak dari lelaki yang tidak diinginkan, yang memaksa perempuan untuk dipandang sekadar berdasarkan peran seksualnya daripada kapasitasnya sebagai pekerja'.
Farley banyak mengutip pernyataan perempuan yang mengalami pelecehan seksual serta membahas tingkat insiden dan akibat ekonomi dari pelecehan tersebut. Farley juga membahas langkah-langkah aturan dan beragam metode lain untuk memerangi pelecehan seksual. Sepanjang buku ini, ia menekankan pandangannya bahwa pelecehan seksual pada dasarnya berakar pada mekanisme patriarki.
Hadirnya istilah pelecehan seksual yang dicetuskan oleh Farley ini menjadi momen penting, Beauties. Sebab, penyalahgunaan dominasi yang dialami begitu banyak perempuan di tempat kerja akhirnya memiliki julukan resmi. Banyak orang menyadari bahwa mereka tidak sendirian, bahwa perempuan lain mengalami hal yang sama, dan muncul optimisme besar bahwa adat kerja akan berubah.
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)