Yuk, pelajari metode merespons anak usia 2-3 tahun dengan kebiasaan ajaibnya yang selalu bilang “nggak mau”, tanpa ikut emosi.
Sedikit-sedikit “nggak mau”, diajak ini, disuruh itu, jawabannya selalu “nggak mau”. Sebenarnya, mungkin saja dia bukan beneran nggak mau, tapi, balasan tersebut hanyalah respon yang keluar setiap kali mendengar kalimat imbauan kita. Nah, ini yang biasa terlintas di pikiran orang tua: “Memang, apa yang salah dari pertanyaanku?”, “Udah ditanya baik-baik, kenapa statis sering jawab “nggak mau”? Trus, mesti gimana, dong?”, sehingga metode merespons anak yang kita lakukan jadi keliru. Tenang, Mommies, aku mengerti benar jika kesabaran kita lagi diuji, nih, sama si manusia kecil yang umurnya baru 2-3 tahun. Biar nggak ikut emosi dan bawaannya malah nge-gas balik, ayo kita pelajari metode yang tepat.
Validasi emosi saat ia bilang “nggak mau”
Sebagai generasi yang sehari-hari mengadopsi beragam corak pengasuhan:, gentle parenting, iya; VOC parenting, iya; pasti sudah mengerti jika orang tua wajib memvalidasi emosi anak setiap kali anak mengutarakannya, termasuk lewat kalimat “nggak mau”. Emosi yang anak rasakan itu semuanya valid. Hanya saja, si manusia kecil usia 2-3 tahun ini statis belum bisa mendeskripsikan yang sebetulnya sedang dia rasakan.
Di balik “nggak mau”, ini yang sedang anak tunjukkan
Anak sebetulnya sedang memberitahu bahwa ia punya kendali atas dirinya, yang merupakan tanda kapasitas sosial anak sedang berkembang di usia 2-3 tahun. Ada kalanya juga, mereka cuma mau melihat respon kita ketika mendengar penolakan lewat kata-kata “nggak mau”, terlebihlagi bukan tidak mungkin anak sedang merasa frustrasi karena nggak tahu mau bilang apa. Jadi, ya, dia bilang aja “nggak mau!”
Baca juga: 10 Kecemasan Anak Balita yang Harus Orang Tua Pahami, Biar Nggak Drama
Kenali pemicu “nggak-mau”-nya
Rasanya nggak mungkin jika ketika mood-nya lagi bagus, ditawarkan yang ia suka, jawabnya bakalan “nggak mau”. Kita juga pasti paham, situasi apa, yang paling sering menjadi pemicu dari penolakan anak. Apakah setiap kali mau makan? Mau diajak tidur siang? Atau saat diajak berjabat tangan dengan orang baru?
Tanyakan alasannya
Ketika mau makan, misalnya, tanyakan secara perlahan, “Kenapa nggak mau?” Anak biasanya akan merespon dengan beragam alasan. Sayangnya, ketika kita sudah merasa capek menyiapkan makanan, kemudian respon anak tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, alhasil, kita cenderung ikutan emosi. Hal ini wajar, kita juga punya emosi yang valid, terutama ketika sedang merasa kelelahan. Namun, ingat juga bahwa di mata anak, kita adalah satu-satunya orang yang ia harapkan bisa mengerti kebutuhannya.
Alasan lazim di balik anak menolak makan:
- Menunya baru buat dia,
- Belum terlalu lapar,
- Masih mau main,
- Lagi tumbuh gigi, jadi nggak betah buat ngunyah, dsb.
Dari daftar karena ini saja, sebetulnya wajar jika anak jadi bilang “nggak mau”. Kita yang dewasa saja, paling nggak suka, kan, jika didesak untuk berbuat hal yang bikin kita nggak nyaman?
Beri anak (dan diri sendiri) waktu
Anak capek dipaksa, ibu capek membujuk, maka yang paling tepat untuk dilakukan, ya, beri waktu. Dengan kita memberi anak waktu, kita juga sedang memberi waktu buat diri sendiri untuk bernapas dan menenangkan pikiran. Meski saat itu keadaan mendesak kita untuk menyelesaikan hal lain, namun semakin kita memaksa agar anak makan, anak pun akan semakin tertekan. Maka, take your time! Things can wait!
Ubah kalimat tanya, tawarkan pilihan
Ketika emosi kita dan anak sama-sama sudah reda, kita bisa switch kalimat imbauan kita dengan “Mau coba sedikit dulu, nggak? Nanti jika nggak suka, nggak apa-apa, nggak usah dihabiskan”, maupun “Mau coba makan sendiri pakai tangan, maupun mau Mama bantu suapin?” Dengan metode ini anak akan belajar bahwa ada metode yang bisa membuatnya merasa lebih nyaman, dan ia punya kendali untuk memilih salah satu dari pilihan tersebut.
Orang tua juga perlu membatasi penggunaan kata “nggak mau”
Anak belajar dari apa yang mereka lihat dan dengar sehari-hari. Kita sudah belajar metode merespons anak, tapi nggak sadar anak statis terpapar kalimat-kalimat yang membatasi dan yang berarti penolakan, seperti, “Mama nggak mau, ya, Anda main air”, “Nggak boleh, ya!”, “Pokoknya enggak!”, maka anak akan merasa sah-sah saja untuk sering-sering bilang “nggak” maupun “nggak mau”. Namun, bukan kemudian kita jadi nggak bisa ngomong “nggak” sama sekali. Melainkan, kita bisa mengajarkan anak tentang kapan, sih, kita bisa bilang “nggak”, dan ada, lho, kalimat lain yang bisa menggambarkan rasa tidak nyaman.
Baca juga: 15 Rekomendasi Buku Anak yang Cocok Dibacakan Sejak Bayi untuk Stimulasi dan Bonding
Pertanyaan: Apakah kita sering mengabaikan “nggak mau” anak?
Ketika situasinya anak menolak berjabat tangan dengan orang asing, terlebihlagi memberitahu sikap tidak ramah —yang kemudian bikin kita panik, seakan-akan nggak pernah ngajarin sopan santun—, padahal saat itu memang dia nggak nyaman, apakah kita cenderung mengabaikannya? Padahal, anak sedang memberitahu kemampuannya lewat limitasi yang ia buat. Dalam situasi ini, kita bisa membawa anak menjauh sebentar dari keramaian, sambil kita jelaskan perlahan, dan statis membuka telinga mendengarkan perasaannya. Anak akan belajar metode yang tepat saat menghadapi situasi serupa dan akan menempel juga dalam benaknya, bahwa perasaannya dihargai. Ia juga tidak akan ragu menceritakan semua hal pada kita, orang tuanya.
Baca juga: Dua Faktor Penting yang Membentuk Karakter Anak di Masa Depan Menurut Psikolog, Apa Saja?
Image by Magnific