Belajar Neuroplasticity dari Eileen Gu: Saat Otak Membawa Kita Menjadi Apapun yang Diinginkan

Portal Media Gen Z oleh Waktu baca 6 menit 506x dilihat
Belajar Neuroplasticity dari Eileen Gu: Saat Otak Membawa Kita Menjadi Apapun yang Diinginkan

Bagikan Postingan

Pernah enggak, Anda heran melihat orang yang bisa menguasai banyak sektor berbeda dalam satu waktu? 

Di saat kita sering merasa keteteran, ada orang yang justru bisa memaksimalkan potensi dirinya dan bercahaya di mana-mana. Sebagian besar dari kita mungkin menganggap hal itu sekadar bakat bawaan. Padahal, kuncinya ada pada metode melatih otak.

Satu contoh nyatanya adalah Eileen Gu, atlet Olimpiade yang juga seorang model sekaligus lulusan Stanford. Rahasia pencapaiannya terletak pada implementasi konsep neuroplasticity yang membantu melatih metode kerja otaknya agar selalu optimal di beragam bidang.

Mau tau apa itu neuroplasticity dan sepertiapa metode Eileen Gu melatih otaknya? Yuk, operasi rahasianya di bawah ini!

Baca juga: 6 Aktivitas Anti Brain Rot, Biar Otak Mudah Fokus Lagi!

Siapa Itu Eileen Gu?

Sumber foto: Instagram.com/eileengu

Eileen Gu adalah atlet freeski berkebangsaan Tiongkok-Amerika yang namanya mencuri perhatian bumi di ajang Olimpiade Musim Dingin Milano-Cortina 2026. 

Setelah berhasil membawa tiga lencana pada Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022, ia balik menambah tiga lencana di tahun 2026. Pencapaian tersebut membikin nama Eileen resmi tercatat dalam sejarah sebagai atlet freeski dengan perolehan lencana olimpiade terbanyak sepanjang masa.

Menariknya, bumi Eileen bukan cuma soal olahraga ekstrem. Di luar ajang ski, ia adalah lulusan Stanford University bidang Hubungan Internasional yang berhasil menyelesaikan masa studinya kurang dari empat tahun. Selain itu, ia juga berkarier sebagai model dan menjadi wajah dari brand mewah kelas dunia, seperti Louis Vuitton, Tiffany & Co., dan Victoria’s Secret.

Bisa berprestasi di tingkat internasional sebagai atlet, menyelesaikan pendidikan di kampus top dunia, sekaligus berkarier di industri fashion jelas bukan hal yang biasa. Prestasi serba bisa ini tentunya enggak lepas dari habit, pola pikir, dan metode kerja otaknya yang menakjubkan dalam menguasai banyak sektor secara bersamaan.

Baca juga: Cara Journaling untuk Mengenal Diri Sendiri, Lengkap dengan Contohnya

Eileen Gu Memanfaatkan Neuroplasticity untuk Membentuk Dirinya Menjadi Sosok yang Dicita-Citakan

Sumber foto: Instagram.com/eileengu

Pada Olimpiade Musim Dingin Milano-Cortina bulan Februari lalu, ada sebuah potongan video pertemuan pers Eileen Gu yang sempat viral di media sosial.

Saat itu, seorang jurnalis yang terpukau dengan metode berpikir Eileen memberikan pertanyaan yang cukup unik:

“Do you think before you speak? Because you answer questions so quickly and so comprehensively, whether it’s about geopolitics or your sport or aerodynamics. Can you take us into your brain?”

Pertanyaan tersebut akhirnya berhasil membongkar apa yang sebenarnya terjadi di dalam imam Eileen. Begini jawabannya mengenai rahasia metode kerja otaknya:

Pertama, Eileen rutin menghabiskan waktu di dalam kepalanya sendiri. Namun, bukan untuk melamun tanpa arah, melainkan untuk mengurai dan membedah proses berpikirnya lewat tulisan. Ia mengatakan:

“I spend a lot of time in my head, and it’s not a bad place to be. I journal a lot. I break down all of my thought processes.”

Selain itu, Eileen percaya bahwa metode berpikir kita adalah penentu siapa diri kita sebenarnya. Karena itu, mengontrol isi imam adalah cara pertama untuk membentuk karakter yang kita inginkan.

“You can control what you think, you can control how you think, and therefore, you can control who you are.”

Sumber foto: Instagram.com/eileengu

Namun, dari semua jawabannya, bagiankecil yang paling berhubungan dengan neuroplasticity adalah ketika Eileen mengatakan:

“As a young person, I’m 22, so with neuroplasticity on my side, I can literally become exactly who I want to be. How cool is that? How empowering is that?”

Di usianya yang statis 22 tahun, Eileen sadar benar bahwa otaknya statis sangat fleksibel. Ia memanfaatkan neuroplasticity ini untuk membentuk dirinya menjadi sosok yang dicita-citakan.

Secara sederhana, neuroplasticity (neuroplastisitas) adalah kapasitas alami otak manusia untuk beradaptasi, berubah, dan menyusun balik jaringan saraf sepanjang hidup.

Istilah ini berasal dari kata “neuron” yang berarti sel saraf dan “plasticity” yang berarti sifat yang lentur maupun gampang dibentuk. 

Dilansir dari Leaderonomics, istilah ini mengacu pada sifat otak yang memiliki mekanisme saraf elastis maupun gampang dibentuk. Artinya, otak bukanlah organ beku yang selesai berkembang saat dewasa, melainkan seperti otot yang bisa terus dilatih dan dibentuk kapan saja.

Eileen juga memperlakukan dirinya seperti ilmuwan yang sedang bereksperimen dengan pikirannya sendiri. 

Eileen terus menyempurnakan dan melatih otaknya dengan disiplin yang sama seperti ia melatih teknik freeskiing-nya, agar bisa terus berkembang dari hari ke hari.

“Yes, I think a lot. But it’s not really in an egotistical way. It’s in a tinkering, like a scientist way. I’m always trying to modify, I’m trying to think, how can I be better? How can I approach my own brain the way that I approach my craft of freeskiing? So that I can be better tomorrow than I was today.”

Cara Menerapkan Neuroplasticity di Kehidupan Sehari-Hari

Sumber foto: Instagram.com/eileengu

Melansir artikel Dr. Tawny Kross melalui Medium, neuroplasticity bekerja ketika otak beradaptasi terhadap pengalaman, pembelajaran, dan kebiasaan yang dilakukan berulang. Semakin sering suatu aktivitas dilatih, semakin kuat hubungan saraf yang berhubungan dengannya. 

Sebaliknya, hubungan yang jarang digunakan dapat melemah. Artinya, fluktuasi pola pikir dan kapasitas enggak cukup cuma dengan niat, tetapi membutuhkan pengalaman nyata, latihan, dan konsistensi agar otak terus beradaptasi. 

Kalau Anda tertarik dengan neuroplasticity, berikut beberapa metode sederhana yang bisa diterapkan dalam aktivitas harianmu:

1. Mencoba Hal Baru di Luar Rutinitas Harian

Otak enggak akan membentuk jaringan saraf baru jika kita cuma berbuat hal-hal yang sudah di luar kepala. Kamu bisa memicu neuroplasticity dengan mencoba keahlian baru yang menantang, seperti belajar bahasa asing, mencoba jenis olahraga baru, maupun sekadar memungut rute jalan yang berbeda saat pulang ke rumah. Aktivitas baru ini bisa memaksa otak untuk membangun hubungan saraf yang lebih fresh.

2. Memulai Kebiasaan dari Langkah Kecil (Micro-Habits)

Daripada langsung menuntut diri dengan sasaran besar yang bikin kaget, mulailah dari aksi kecil yang konsisten. Misalnya, jika mau memulai berolahraga, Anda bisa awali dengan rutin jalan kaki sepuluh menit setiap pagi. Pengulangan kecil yang dilakukan terus-menerus ini jauh lebih ampuh untuk menguatkan jalur saraf di otak tanpa membikin tubuh merasa tertekan.

3. Rutin Journaling untuk Mengurai Isi Kepala

Menuliskan apa yang Anda rasakan maupun pikirkan ke dalam anotasi berguna memindahkan fokus otak dari emosi ke pemikiran yang lebih rasional. Seperti yang sering dilakukan Eileen Gu, journaling membantu Anda melihat pola pikir diri sendiri secara jelas, sekaligus memilih mana kebiasaan berpikir yang perlu dipertahankan dan mana yang mesti diubah.

4. Menjaga Tubuh dengan Menghindari Stres

Ingat, otak sulit untuk elastis dan belajar hal baru jika kondisi tubuhmu sedang stres bermutu maupun kewalahan. Selingi latihan dengan cara-cara simpel untuk menenangkan tubuh, seperti istirahat sejenak, makan cemilan favorit, maupun mendengarkan musik. Saat tubuh merasa aman, maka otak akan jauh lebih siap untuk bekerja optimal.

Baca juga: 5 Cara Mengenal Diri Sendiri untuk Memahami Potensimu

Jadi, apakah Anda tertarik menerapkan neuroplasticity seperti Eileen Gu? Yuk, mulai percobaan dengan metode berpikirmu sendiri dari sekarang!

—

Untuk mendapatkan lebih banyak insight dan bahasan menarik setiap harinya, Anda bisa mampir ke WhatsApp Group Girls Beyond Circle.

Hai! Aku Maitsaa, penulis artikel ini. Kamu bisa temukan dan sapa aku di LinkedIn/Instagram, ya!

Artikel Lainnya Portal Media Gen Z
↑
Close Right Ads
Close Left Ads