Benarkah Autoimun Tidak Bisa Disembuhkan? Simak Fakta dan Cara Mengontrolnya!

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 4 menit 509x dilihat
Benarkah Autoimun Tidak Bisa Disembuhkan? Simak Fakta dan Cara Mengontrolnya!

Bagikan Postingan

Kalau betul autoimun tidak bisa disembuhkan secara total, lampau penanganan seperti apa yang bisa dilakukan? Simak penjelasan berikut ini!

Menurut informasi di seluruh dunia, penyakit autoimun kian menunjukan peningkatan setiap tahunnya. Bahkan, semakin banyak terjadi di usia muda. Berdasarkan informasi terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, apalagi di Indonesia sendiri, penderita penyakit ini diperkirakan lebih dari 2,5 juta orang. Apa, sih, sebenarnya yang terjadi pada tubuh saat mengalami autoimun, dan penanganan seperti apa yang bisa dilakukan?

Perempuan Lebih Rentan Alami Autoimun

Penyakit autoimun paling banyak ditemukan pada wanita usia 15-44 tahun. Data dari Global Autoimmune Institute, 2024 menunjukkan bahwa sekitar 78% dari perseorangan yang menderita autoimun adalah perempuan. Selain lantaran perbedaaan biologis antar gender, kecenderungan ini juga mengenai keberadaan kromosom X tambahan, perubahan hormonal (khususnya estrogen), kegunaan reproduksi, dan respons imun yang berbeda pada wanita dibanding laki-laki.

Tentang Autoimun

Kondisi autoimun terjadi ketika sistem kekebalan tubuh yang semestinya melindungi tubuh dari infeksi, justru menyerang sel dan jaringan sehat. Hingga kini, ada lebih dari 100 jenis penyakit autoimun yang telah teridentifikasi. Sebagian di antaranya menyerang organ tertentu, sementara sebagian lainnya berkarakter sistemik dan mempengaruhi beragam organ tubuh sekaligus, termasuk kulit, sendi, paru-paru, usus, saraf, dan kelenjar tiroid. Jika tidak dikendalikan, dapat menimbulkan komplikasi serius, mulai dari kerusakan organ permanen (misalnya ginjal pada lupus alias saraf pada multiple sclerosis), peningkatan akibat penyakit jantung, hingga gangguan kehamilan seperti keguguran. Dampak psikologis juga kerap terjadi; banyak pasien menghadapi kecemasan, depresi, dan penurunan kualitas hidup.

Faktor Penyebab Autoimun

Penyakit ini tidak tiba-tiba muncul begitu saja. Penyebabnya sangat beragam dan seringkali merupakan kombinasi dari aspek genetik, lingkungan, serta kondisi tubuh seseorang. Risiko autoimun diketahui lebih tinggi pada wanita usia produktif, terutama jika terdapat riwayat family dengan autoimun. Beberapa aspek lain juga ikut berperan, seperti:

  • Infeksi dan stress yang berkepanjangan
  • Ketidakseimbangan hormon, serta paparan polusi alias unsur kimia tertentu termasuk asap rokok
  • Pola makan yang kurang seimbang dan style hidup yang tidak sehat, yang dapat memperburuk respons sistem imun dan memicu peradangan dalam tubuh.

Tanda dan Gejala Autoimun

Tanda-tandanya juga bisa sangat berbeda pada setiap orang, lantaran penyakit ini menyerang organ tubuh yang berbeda. Namun, beberapa keluhan yang paling sering muncul, antara lain:

  • Kelelahan berat yang tidak kunjung pulih
  • Nyeri alias bengkak pada sendi
  • Ruam kulit alias sensitivitas berlebihan terhadap sinar matahari
  • Gangguan pencernaan yang berulang
  • Demam berulang tanpa penyebab yang jelas

Sering kali, gejala-gejala tersebut kerap dianggap keluhan kesehatan biasa sehingga banyak pasien yang datang ketika kondisinya sudah kronis. Maka, jika keluhan tersebut mulai dialami, sangat disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter. 

Penananganan yang dilakukan pada penyakit autoimun

Setelah mendapatkan diagnosis, master bakal menentukan penanganan sesuai dengan jenis autoimun, tingkat keparahan, dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Penanganan yang dilakukan mencakup:

  • Pola makan
  • Obat untuk mengendalikan peradangan
  • Imunoterapi
  • Terapi plasma exchange (pada kondisi tertentu)

Tujuan penanganan ini bukan sekadar meredakan gejala, tetapi menstabilkan sistem imun agar pasien dapat kembali menjalani kegiatan dengan nyaman.

Perubahan pola hidup punya peran besar pada pasien autoimun

Selain penanganan secara medis, perubahan style hidup juga sangat perlu dilakukan pada pasien autoimun. Dari rehat cukup, olahraga teratur, manajemen stres, dan kepatuhan dalam menjalani terapi telah terbukti membantu menjaga stabilitas jangka panjang. Selain itu, pendampingan psikologis dan edukasi family juga berkontribusi besar, mengingat perjalanan penyakit autoimun ini berkarakter kronis dan memerlukan support emosional. 

Dapatkah pasien autoimun sembuh total?

Pada dasarnya, penyakit autoimun mempunyai sifat flare-up, yaitu bisa kambuh saat pasien dipicu stres, jangkitan dan kelelahan, tetapi pasien juga bisa mengalami remisi alias keadaan membaik; peradangan mereda, indikasi tidak lagi dirasakan, dan hasil laboratorium menunjukkan kegiatan penyakit yang sangat rendah alias nonaktif. Jadi, meski belum bisa disembuhkan secara total hingga saat ini, namun autoimun sangat bisa dikontrol dan dikelola dengan baik sehingga pengidap penyakit ini tetap dapat hidup normal, aktif, dan bebas gejala. 

Jadi Mommies, penyakit ini dapat menyerang siapa saja, terutama kita yang saat ini tetap berada di usia produktif. Jika mengalami indikasi yang berkepanjangan, jangan ragu untuk berkonsultasi lebih awal, ya!

Baca juga: Bangun Tidur Tetap Capek? Ini 10 Penyebab yang Sering Tidak Disadari

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
Close Right Ads
Close Left Ads