Jakarta -
Supaya anak tetap merasa dekat dengan orang tua apalagi sampai menjelang dewasa, ada beberapa karakter pengasuhan yang diterapkan sejak awal. Seperti apa?
Ya, tidak sedikit orang tua yang berambisi untuk bisa tetap dekat dengan anak meski mereka sudah tumbuh dewasa dan menjalani kehidupannya sendiri.
Salah satu corak kedekatan yang dianggap berarti adalah saat anak sering menghubungi orang tua. Bukan lantaran sedang memerlukan bantuan, melainkan sekadar mau menyapa, berbagi cerita, alias menanyakan kabar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut para psikolog, kebiasaan tersebut bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Ada pola hubungan dan langkah mengasuh yang telah dibangun sejak anak tetap kecil, sehingga membikin mereka merasa kondusif hingga dewasa.
Ciri orang tua yang selalu dekat dengan anak meski sudah dewasa
Menurut psikolog Dr. Kathryn Smerling, ada beberapa aspek yang membikin sebagian anak yang telah dewasa tetap dekat dengan orang tua. Salah satunya adalah style komunikasi. Dengan kata lain, perihal ini berangkaian dengan ikatan yang telah dibangun orang tua berbareng anak sejak kecil.
Namun, jika selama masa tumbuh kembang orang tua justru menjadi penghalang bagi anak untuk berkembang alias menemukan jati diri, maka seiring bertambah dewasa anak condong menjaga jarak.
Berikut ciri-ciri orang tua yang selalu dekat dengan anak meski sudah dewasa seperti dikutip beragam sumber:
1. Punya rasa mau tahu terhadap kehidupan anak
Seorang anak yang telah dewasa bakal lebih sering menghubungi orang tuanya jika dia merasa orang tuanya betul-betul tertarik dengan kehidupannya.
Oleh lantaran itu, menunjukkan rasa mau tahu terhadap kehidupan anak adalah perihal yang sebaiknya dilakukan sejak awal dan secara konsisten.
"Orang tua kudu memahami apa yang menjadi minat anak," kata Dr. Smerling, seperti dikutip dari Parade.
Ia menambahkan bahwa orang tua juga perlu memberikan respons yang positif terhadap hal-hal yang diminati anak.
Sebagai contoh, anak sebenarnya tidak menyukai olahraga, tetapi Bunda terus memaksanya ikut klub renang. Kondisi seperti ini sangat mungkin menimbulkan rasa kecewa alias apalagi kebencian di kemudian hari.
2. Tidak terlalu mencampuri urusan anak
Menahan diri untuk tidak selalu menyampaikan pendapat memang tidak mudah. Namun dalam situasi ini, sesekali memilih untuk tak bersuara justru merupakan langkah yang baik sebagai bagian dari pola asuh yang tidak terlalu mencampuri urusan anak.
"Banyak orang tua merasa seolah-olah mereka bakal selalu mempunyai kendali penuh atas anak-anaknya. Hal ini dapat membikin mereka melanggar batas pribadi sehingga anak merasa tidak nyaman," imbuh Smerling.
Sebagai gantinya, dia menyarankan agar orang tua menerapkan pola asuh yang tidak mengganggu kemandirian anak, ialah dengan mendengarkan secara aktif tanpa langsung memberikan pendapat.
3. Tidak menghakimi
Smerling menuturkan bahwa anak yang semakin dewasa perlu merasa kondusif dan diterima sepenuhnya, sebelum akhirnya memutuskan untuk menghubungi orang tua.
Sikap tidak menghakimi membantu menciptakan rasa aman. Hal ini juga pola asuh krusial agar anak merasa diterima apa adanya.
Orang tua perlu memberi ruang yang cukup bagi anak agar mereka dapat mengekspresikan diri dengan bebas, tanpa merasa sedang dihakimi.
4. Menghormati keputusan anak
"Hubungan yang dilandasi rasa saling menghormati memungkinkan tumbuhnya kepercayaan dan keterbukaan untuk saling berbagi, apalagi di kemudian hari," ungkap psikolog Dr. Meera Khan, PsyD.
5. Tidak memaksakan kemauan kepada anak
Sikap menghakimi sering muncul ketika orang tua tidak memandang anak sebagaimana dirinya, melainkan sebagaimana yang mereka inginkan.
Namun, para psikolog sepakat bahwa memaksakan kemauan pribadi kepada anak bukanlah dasar yang baik untuk membangun hubungan yang sehat dengan anak yang telah dewasa.
"Orang tua perlu mengikuti perkembangan anak sesuai tahap usianya dan memberi mereka ruang untuk menjadi pribadi yang mandiri," ujar Khan.
Pisahkan identitas diri orang tua dari identitas anak, biarkan mereka berkembang menjadi perseorangan yang utuh.
6. Membiasakan kemandirian melalui parallel play
Parallel play adalah ketika dua orang berada di tempat yang sama, tetapi masing-masing melakukan aktivitasnya sendiri. Misalnya bermain di kotak pasir yang sama, tapi tidak saling kontak langsung.
Menurut Smerling, parallel play dapat membantu anak merasa diperlakukan sebagai perseorangan yang setara dalam hubungan dengan orang tua.
7. Membangun secure attachment
Membangun secure attachment alias kelekatan yang kondusif dapat membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, tanpa kehilangan kedekatan emosional dengan orang tua.
Artinya, anak merasa terikat secara emosional dan percaya bahwa orang tuanya bakal selalu ada untuknya dalam keadaan apa pun.
Namun di saat yang sama, orang tua juga memberi kebebasan yang cukup. Dengan begitu, mereka bisa melepas anak untuk menjalani kehidupannya sendiri."
8. Mengutamakan hubungan saling timbal balik
Sebagian orang tua tetap beranggapan bahwa anak yang semestinya selalu menghubungi orang tua terlebih dahulu.
"Itu adalah pandangan yang sangat tradisional tentang gimana hubungan semestinya berjalan, ialah ketika anak sudah tinggal terpisah, maka merekalah yang kudu lebih dulu menghubungi orang tua," kata Smerling.
Ia beranggapan bahwa yang lebih tepat adalah membangun hubungan yang saling timbal kembali (reciprocal relationship). Jadi, tak masalah jika orang tua juga bisa menghubungi anak terlebih dahulu.
Hubungan yang saling timbal kembali membikin anak merasa lebih berdikari dan tidak takut dihakimi.
"Orang tua perlu memberikan pilihan kepada anak. Namun, tidak perlu mengarahkan pilihan tersebut alias terlalu memaksakan," tuturnya.
Itulah penjelasan tentang ciri-ciri orang tua yang selalu dekat dengan anak meski sudah dewasa. Bunda termasuk salah satunya?
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·