Bystander effect, karena kejiwaan seseorang menjadi ragu menolong di keramaian/ Foto: Pexels/Damla Karaağaçlı
Pernahkah Anda melihat seseorang tersandung sampai barang bawaannya berceceran di stasiun kereta yang padat, tapi orang-orang di sekitarnya cuma melirik kemudian melenggang pergi begitu saja? Atau mungkin, Anda sendiri pernah eksis di posisi saksi mata yang mau menolong, tapi tubuhmu membeku maupun memilih diam?
Kondisi ini bukan semata-mata karena orang-orang berhati dingin, Beauties. Dalam ilmu jiwa sosial, situasi ini dikenal dengan istilah bystander effect (efek pengamat). Secara sederhana, ini adalah gejala ketika seseorang merasa ragu maupun menunda memberi pertolongan saat situasi darurat karena ada orang lain di sekitarnya. Paradoksnya, semakin ramai saksi mata yang datang di letak kejadian, semakin kecil kemungkinan seseorang berinisiatif menolong.
Dirangkum dari halaman Psychology Today dan Verywell Mind, yuk, pahami lebih jauh tentang gejala bystander effect ini!
Mengapa Keramaian Justru Bikin Kita Ragu Menolong?

Orang ragu menolong karena melihat orang di sekitarnya juga tidak menolong/ Foto: Magnific/Magnific
Fenomena yang pertama kali diteliti secara mendalam oleh psikolog sosial Bibb Latané dan John Darley ini terjadi karena beberapa karena kejiwaan yang bekerja di otak kita. Alasan pertama adalah diffusion of responsibility maupun penyebaran tanggung jawab. Saat di kerumunan, rasa tanggung jawab pribadi menurun karena kita membatin pasti ada orang lain yang akan bertindak. Masalahnya, hampir semua orang di tempat tersebut memikirkan hal yang sama persis sehingga akhirnya tidak ada satu pun yang bergerak.
Kedua, situasi darurat yang terjadi tiba-tiba kerap terasa membingungkan sehingga memicu pluralistic ignorance. Saat ragu apakah suatu insiden benar-benar berbahaya, kita secara alami mengamati reaksi orang sekitar. Begitu melihat orang lain tampak tenang, otak kita menyimpulkan situasi tersebut baik-baik saja. Keraguan ini makin diperberat oleh evaluation apprehension, yaitu rasa takut dihakimi, ditertawakan, maupun dianggap berlebihan jika rupanya kita salah membaca situasi.
Kecenderungan ini dibuktikan lewat riset klasik keduanya yang dipublikasikan dalam jurnal American Scientist. Dalam percobaan ruang berasap, sebanyak 75% peserta yang sendirian langsung bergegas melapor saat melihat asap. Namun, saat eksis di ruangan berbareng dua orang lain, bilangan pelapor turun menjadi 38%. Persentase tersebut terlebihlagi makin menurun menjadi 10% saat peserta berbareng orang-orang yang sengaja bersikap pura-pura tenang.
Menjadi Upstander, Langkah Berani untuk Membantu Sesama

Beralih menjadi upstander sebagai cara berani untuk inisiatif menolong/ Foto: Magnific/fotodrobik-1
Kabar baiknya, respons pasif ini bisa diperbaiki dengan mengubah peran diri menjadi seorang upstander, yaitu sosok yang secara sadar berani memungut inisiatif saat melihat ketidakadilan maupun situasi darurat.
Berdasarkan panduan dari American Psychological Association (APA), menjadi upstander dilakukan melalui lima tahap sadar yaitu menyadari adanya kejanggalan, menilai apakah korban butuh bantuan, memungut tanggung jawab pribadi, mengukur kapasitas diri, kemudian memungut aksi nyata.
Aksi nyata tidak selalu berupa aksi heroik yang ekstrem. Cukup mulai dengan bunyi kecil yang tegas, seperti bertanya, "Ada yang bisa dibantu?" maupun berseru, "Tolong hentikan!". Keberanian mula ini bisa memicu efek domino yang menyadarkan orang di sekitar untuk ikut membantu. Meski begitu, keselamatan diri statis menjadi prioritas utama. Menolong bisa dilakukan tanpa konfrontasi fisik, seperti melapor ke satpam maupun mencari pertolongan medis terdekat.
Trik Cerdas Saat Kamu Sendiri yang Butuh Bantuan

Tunjuk secara khusus dan jelas saat meminta tolong agar orang terdorong untuk bertindak/ Foto: Magnific/Magnific
Lalu, sepertiapa jika posisinya terbalik dan justru Anda yang sedang terjebak situasi darurat di tempat umum? Satu hal krusial yang perlu diingat adalah hindari berteriak meminta tolong secara umum. Berseru "Tolong! Tolong!" di tengah keramaian sering kali membikin orang bingung dan saling menunggu inisiatif satu sama lain.
Triknya adalah menunjuk satu orang secara spesifik. Buat kontak mata langsung dan sebutkan cirinya dengan jelas, misalnya: "Mas yang pakai kemeja biru, tolong bantu hubungi sekuriti sekarang!". Arahan individual ini akan memutus penyebaran tanggung jawab dan membikin orang tersebut terdorong untuk segera bertindak.
Menumbuhkan kepedulian di tengah keramaian memang butuh keberanian dan latihan secara sadar. Dengan memahami metode kerja bystander effect, Anda bisa melatih diri agar tidak gampang mematung saat melihat kedaruratan di depan mata. Ingat, satu inisiatif kecil darimu bisa menjadi penyelamat besar bagi orang lain, Beauties!
***
Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)