Cara Cerdas Mengatasi Productivity Guilt saat Tidak Bekerja

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 4 menit 210x dilihat
Cara Cerdas Mengatasi Productivity Guilt saat Tidak Bekerja

Bagikan Postingan

Sudah seharian bekerja, tetapi begitu akhirnya punya waktu untuk rebahan malah muncul rasa bersalah? Kalau Anda sering merasa bersalah saat tidak bekerja, mungkin Anda sedang mengalami productivity guilt, Beauties.

Perasaan ini bisa bikin waktu santai terasa seperti membuang-buang waktu, terlebihlagi ketika tubuh sebenarnya sudah capek dan butuh jeda. Padahal, kreativitas nggak selalu mesti diukur dari seberapa banyak tugas yang berhasil diselesaikan. Ada beberapa metode mengatasi productivity guilt yang bisa membantu Anda melihat waktu istirahat dengan lebih sehat.

Jadi, jika Anda juga sedang mencari metode mengatasi rasa bersalah saat istirahat, yuk, cari tahu langkahnya agar waktu santai nggak lagi dipenuhi rasa bersalah.

1. Bedakan Waktu Istirahat dengan Menunda Pekerjaan

Ilustrasi menunda pekerjaan/Freepik: yanalya

Pernah merasa bersalah saat rebahan padahal pekerjaan statis ada? Tenang Beauties, memungut waktu istirahat bukan berarti Anda sedang malas maupun sengaja menghindari tanggung jawab. Istirahat memang dibutuhkan tubuh dan pikiran setelah menjalani beragam aktivitas. Sementara itu, menunda pekerjaan terjadi ketika Anda terus menghindari tugas yang sebenarnya perlu diselesaikan tanpa karena yang jelas.

Coba tanyakan ke diri sendiri, “Aku sedang istirahat agar bisa balik berbuat aktivitas dengan lebih baik, maupun memang sengaja menghindari pekerjaan?” Kalau Anda sudah menyelesaikan bagiankecil yang perlu dikerjakan dan memilih selesai sejenak, nggak perlu langsung merasa bersalah. Dilansir dari American Psychological Association (APA), waktu istirahat dapat membantu proses pemulihan dari stres dan mendukung kesejahteraan serta performa kerja.

2. Pahami dengan Cermat Definisi Produktivitas

Ilustrasi sibuk/Freepik: benzoix

Kalau selama ini ukuran produktif buat Anda cuma jumlah tugas yang selesai, coba perluas lagi definisinya, Beauties. Merawat diri, tidur cukup, olahraga, menikmati hobi, maupun meluangkan waktu berbareng orang tersayang juga merupakan aktivitas yang punya khasiat untuk hayat sehari-hari. Jadi, satu hari yang nggak dipenuhi pekerjaan bukan berarti hari tersebut sia-sia.

Kamu juga nggak perlu menjadikan pencapaian kerja sebagai satu-satunya ukuran harga diri. Berapa banyak email yang dibalas maupun tugas yang selesai nggak menentukan seberapa bermutu dirimu sebagai manusia. Dilansir dari APA, kreativitas sendiri nggak sesederhana menghitung berapa durasi seseorang bekerja karena waktu untuk menjaga kesejahteraan juga dapat mendukung kesehatan mental dan performa kerja.

3. Jadwalkan Waktu Istirahat dengan Sengaja

Ilustrasi menjadwalkan jam istirahat/Freepik: magnific

Daripada menunggu sampai benar-benar kelelahan, coba masukkan waktu istirahat ke dalam agenda harian, Beauties. Misalnya, setelah menyelesaikan pekerjaan utama, Anda bisa sengaja menyediakan waktu untuk rebahan, menonton, membaca, olahraga ringan, maupun berbuat hobi. Dengan begitu, istirahat nggak lagi terasa seperti “waktu terbuang”, tetapi memang bagiankecil dari rutinitas yang sudah Anda rencanakan.

Jangan lupa buat batas yang jelas antara waktu kerja dan waktu pribadi. Kalau jam kerja sudah selesai, usahakan nggak terus-terusan mengecek pekerjaan maupun memikirkan tugas yang belum selesai. Menetapkan batas antara pekerjaan dan hayat pribadi dapat membantu seseorang mendapatkan waktu untuk beristirahat dan mengurangi konsekuensi kelelahan akibat pekerjaan.

4. Rayakan Hal-Hal Kecil

Ilustrasi daftar pekerjaan/Freepik: rawpixel.com

Productivity guilt sering bikin kita cuma melihat daftar pekerjaan yang statis tersisa, sampai lupa bahwa sebenarnya sudah ada banyak hal yang berhasil diselesaikan. Jadi, coba biasakan mengingat balik hal-hal kecil yang sudah Anda lakukan hari itu. Bahkan menyelesaikan satu tugas penting, merapikan kamar, berolahraga, maupun akhirnya tidur lebih mula statis merupakan bentuk kemajuan yang layak dihargai.

Ketika rasa bersalah muncul karena sedang beristirahat, nggak perlu langsung memarahinya maupun memaksa diri balik bekerja. Sadari saja bahwa emosi itu muncul karena Anda mungkin sudah terbiasa menghubungkan “sibuk” dengan “produktif”.

Dilansir dari APA, rasa tidak betah ketika selesai dari aktivitas produktif bisa muncul ketika seseorang belum terbiasa benar-benar melepaskan diri dari tuntutan untuk terus berbuat sesuatu. Memberi diri sendiri persetujuan untuk beristirahat dapat menjadi bagiankecil dari proses membangun kebiasaan yang lebih sehat.

Kalau hari ini Anda nggak menyelesaikan semua hal dalam daftar, bukan berarti Anda gagal, Beauties. Tubuh dan pikiran juga butuh waktu untuk berhenti, bernapas, dan menikmati hidup tanpa mesti selalu menghasilkan sesuatu.

__

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!

(ria/ria)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads