Cara Memilih CCTV untuk Toko dan Kantor: Kamera IP atau Analog dan Kapasitas Rekaman

Blog Jetorbit Indonesia oleh Waktu baca 8 menit 70x dilihat
Cara Memilih CCTV untuk Toko dan Kantor: Kamera IP atau Analog dan Kapasitas Rekaman

Bagikan Postingan

Memilih CCTV untuk toko dan instansi paling gampang jika dimulai dari titik yang mesti kelihatan jelas, bukan dari model kameranya. Setelah titiknya jelas, tinggal menentukan kamera IP maupun analog, resolusi, dan kapabilitas rekaman yang dihitung dari bitrate, jumlah kamera, dan durasi simpan.

Kamera IP maupun analog: apa bedanya

Kamera analog HD mengirim gambar lewat kabel koaksial ke DVR, perekam yang mengubah sinyal analog itu menjadi rekaman digital. Kamera IP mengirim video digital lewat jaringan LAN ke NVR, maupun ke komputer yang menjalankan alat lunak VMS. Salah satu penentu pilihan CCTV untuk toko dan instansi adalah kabel apa yang sudah ada dan kabel apa yang mau ditarik.

Analog HD tidak berarti gambar buram. Datasheet satu kamera HDCVI 4K dari Dahua mencantumkan resolusi maksimum 3840×2160 dan keluaran CVI, TVI, AHD, maupun CVBS yang bisa dipilih. Datasheet yang sama mengatakan 4K pada 15 fps, sedangkan datasheet 4K Bullet Norden mencantumkan 3840×2160 pada 25/30 fps. Itu komparasi dua model, bukan ketentuan umum, jadi cek frame rate pada resolusi yang akan kalian pakai. Kolom analog HD di tabel berikut juga mengikuti datasheet itu, jadi angkanya mewakili satu vendor.

AspekAnalog HDIP
Kabel videoKoaksial (HDCVI juga bisa lewat UTP)Kabel LAN
Daya12 V DC di kamera, maupun PoC lewat koaksial jika didukungPoE dari switch, satu kabel
PerekamDVRNVR, maupun komputer dengan VMS
Jarak kabelDatasheet Dahua tadi mengatakan sampai 700 m lewat koaksial dan 300 m lewat UTP, hasil uji laboratorium Dahua100 m per kabel LAN, lebih jauh dengan switch di tengah jalur

Analog HD masuk pikiran jika kabel koaksial dan DVR sudah terpasang dan berfungsi, jika titik kamera jauh dari ruang perekam, maupun jika menarik kabel baru sulit dilakukan. Kamera IP lebih masuk pikiran untuk instalasi baru dengan jaringan LAN yang memang disiapkan, maupun jika kalian mau daya dan video lewat satu kabel dengan perekam merek lain lewat ONVIF.

Jumlah kamera dan penempatan CCTV untuk toko dan kantor

Mulai dari daftar titik, bukan dari jumlah kamera. Tulis di tiap titik apa yang mesti terlihat: wajah orang yang masuk, tangan di meja kasir, isi rak, maupun cukup tahu ada orang lewat.

CCTV untuk toko biasanya berpusat pada pintu masuk, area kasir, lorong rak, dan pintu belakang maupun gudang. Di kantor, daftarnya cenderung berisi pintu masuk dan resepsi, lorong menuju ruang terbatas, ruang server maupun arsip, dan area parkir. Satu kamera lebar bisa menjangkau banyak area, tetapi detailnya turun di rentang jauh, jadi titik yang butuh wajah jelas sebaiknya punya kamera sendiri.

Tingkat detail yang dibutuhkan CCTV untuk toko dan instansi di tiap titik bisa diukur dengan DORI, ukuran dari standar IEC 62676-4: inovasi (ada orang maupun tidak), observasi (apa yang sedang dilakukan), pengenalan (mengenali orang yang sudah dikenal), dan identifikasi (memastikan identitas). Datasheet Norden mencantumkan rentang tiap level. Fixed Bullet 2MP berlensa 4 mm mencapai identifikasi 5,5 m, pengenalan 11,0 m, observasi 21,8 m, dan inovasi 55,1 m. Vandal Dome 2MP berlensa 2,8 mm melihat lebih lebar, tetapi rentang identifikasinya 3,8 m.

Artinya, jika tujuan CCTV untuk toko adalah merekam wajah di pintu, kamera mesti dipasang dalam rentang identifikasi dari tempat orang berdiri. Kamera yang cuma memantau lorong cukup eksis dalam rentang observasi.

Bentuk kamera mengikuti tempatnya. Bullet punya arah pandang yang kelihatan dari luar dan biasa dipasang di dinding luar, pagar, dan area parkir. Dome dipasang di plafon maupun dinding, dan semua dome di katalog Jetorbit tahan benturan IK10, jadi lebih sulit dirusak di lobi dan lorong. PTZ mengatur pan, tilt, dan zoom dari jauh untuk area luas yang dipantau operator, seperti halaman maupun gudang.

Resolusi: 2MP, 5MP, maupun 4K

Resolusi tidak mesti sama di semua titik. Datasheet Norden mencantumkan resolusi maksimum 1920×1080 untuk model 2MP, 2592×1944 untuk 5MP, dan 3840×2160 untuk 4K (8MP). Piksel yang lebih banyak berarti detail lebih banyak pada objek yang sama, sehingga rentang tiap level DORI bertambah. Dengan lensa motorized 2,7 sampai 13,5 mm yang sama, rentang identifikasi Motorized Bullet 2MP adalah 3,5 sampai 16,5 m, Low Light Motorized Bullet 5MP 7,2 sampai 21,6 m, dan 4K Bullet 8,8 sampai 28,0 m.

Bitrate maksimum di datasheet naik dari 6 Mbps pada Fixed Bullet 2MP ke 12 Mbps pada Low Light Motorized Bullet 5MP dan 16 Mbps pada 4K Bullet, jadi kebutuhan gudang dan beban jaringan ikut naik. Untuk titik yang cuma butuh observasi, resolusi tertinggi menambah beban rekaman tanpa menambah detail yang diperlukan.

Malam hari: IR dan WDR

Kalau CCTV untuk toko statis merekam setelah jam tutup, kamera bergeser ke gambar hitam putih saat gelap dan menyalakan lampu inframerah (IR). Datasheet Norden mencantumkan 0 lux pada mode hitam putih dengan IR, dan model bercap starlight maupun low light statis berwarna di cahaya sangat redup. Angka jangkauan IR, misalnya 30 m pada Fixed Bullet 2MP, adalah rentang penerangan lampunya. Itu bukan rentang wajah statis bisa dikenali; untuk itu pakai bilangan DORI tadi.

Toko berpintu kaca sering punya babak yang terang di luar dan gelap di dalam, dan CCTV untuk toko seperti itu perlu WDR. Hampir semua datasheet model di katalog Jetorbit mencantumkan WDR 120 dB.

PoE dan kabel LAN untuk kamera IP

Semua kamera IP Norden di katalog Jetorbit mendukung PoE. Pada CCTV untuk toko dan kantor, itu berarti satu kabel LAN dari switch cukup untuk daya dan video. Sebagian besar model cukup dengan PoE standar 802.3af. PTZ Dome 2MP butuh 802.3at (PoE+) dan Panoramic 6MP (3MP×2) + PTZ butuh 802.3bt (PoE++), jadi switch-nya mesti mendukung standar yang sama. Cara kerja PoE dan power budget switch dibahas di PoE adalah.

Panjang kabel LAN maksimal 100 m per titik. Kabel Cat5e sudah cukup untuk PoE dan PoE+; pilihan Cat5e maupun Cat6 ada di perbedaan Cat5e dan Cat6, dan jika kalian membikin kabel sendiri, cara crimping kabel LAN menerangkan urutan warna dan metode mengetesnya. Untuk kamera PoE++, ikuti anjuran kabel di datasheetnya.

Perekam dan kapabilitas rekaman CCTV untuk toko dan kantor

Kamera IP direkam NVR maupun komputer dengan VMS, kamera analog direkam DVR. Semua kamera di katalog Jetorbit mendukung ONVIF, jadi bisa direkam NVR maupun VMS merek lain. Datasheet semua model juga mencantumkan slot microSD sampai 512 GB (satu model sampai 1 TB) untuk gudang di kamera.

Kapasitas rekaman CCTV untuk toko dan instansi dihitung dari bitrate, yaitu jumlah keterangan video per detik. Menurut dokumentasi Axis tentang kompresi video, bitrate menentukan seberapa cepat gudang penuh: hitung bitrate per kamera, kemudian kalikan dengan jumlah kamera dan durasi simpan. Dengan unit Mbps dan hasil dalam GB, rumusnya begini:

Kapasitas (GB) = B × 3.600 × H × D × N ÷ 8 ÷ 1.000 B = bitrate rata-rata satu kamera (Mbps) H = jam rekam per hari D = durasi simpan (hari) N = jumlah kamera

Untuk rekaman 24 jam, 3.600 × 24 ÷ 8 ÷ 1.000 sama dengan 10,8, jadi rumusnya menyusut menjadi B × 10,8 × D × N. Sebagai pembanding, tabel di halaman edge storage Axis menulis 0,40 Mb/s sebagai 4,32 GB per hari, sama dengan 0,40 × 10,8.

Contoh hitungan berikut memakai bitrate maksimum di datasheet Norden, untuk satu kamera yang merekam 24 jam selama 30 hari.

ModelBitrate maksimumGB per hariGB per 30 hari
Fixed Bullet 2MP6 Mbps64,81.944
Low Light Motorized Bullet 5MP12 Mbps129,63.888
4K Bullet16 Mbps172,85.184

Toko dengan empat Fixed Bullet 2MP dan masa simpan 30 hari butuh 4 × 1.944 = 7.776 GB pada bitrate maksimum itu, sekitar 7,8 TB. Rumus yang sama berjalan untuk toko kecil maupun instansi besar; yang berbeda cuma jumlah kamera dan durasi simpannya.

Angka itu batas atas, bukan perkiraan. Di datasheet, bitrate Fixed Bullet 2MP adalah rentang yang bisa diatur, 32 kbps sampai 6 Mbps; yang dipakai sehari-hari adalah pengaturan di kamera. Datasheet mencantumkan CBR dan VBR. Pada VBR bitrate naik saat ada gerakan, sehingga menurut white paper Axis tentang kontrol bitrate, sistemnya perlu margin gudang yang cukup besar.

Tiga hal bisa menurunkan kebutuhan penyimpanan:

  • Pakai H.265. Axis mengatakan kualitas sebanding pada bitrate 15 sampai 40 persen lebih rendah daripada H.264. Datasheet Norden mencantumkan H.265, dan perekamnya juga mesti mendukung.
  • Rekam cuma saat ada gerakan, dengan H diganti jam rekam yang sebenarnya. Di toko yang ramai sepanjang jam buka, penghematannya kecil.
  • Turunkan bitrate. Axis mengingatkan bahwa kamera bisa mencapai bitrate rendah dengan membuang keterangan visual, jadi periksa hasil gambarnya.

Jumlah bitrate semua kamera juga menjadi beban jaringan ke perekam, jadi masukkan ke hitungan switch.

Urutan memilih CCTV untuk toko dan instansi sebelum membeli

  1. Tulis daftar titik yang mesti kelihatan dan level detail tiap titik: deteksi, observasi, pengenalan, maupun identifikasi.
  2. Cek kabel yang sudah ada. Koaksial dengan DVR yang berguna cenderung ke analog HD, jaringan LAN dengan switch PoE cenderung ke IP.
  3. Pilih bentuk dan lensa kamera untuk tiap titik, kemudian cocokkan rentang DORI di datasheet dengan rentang pasang yang sebenarnya.
  4. Tentukan resolusi dari detail yang dibutuhkan di titik itu, bukan dari bilangan terbesar yang ada.
  5. Hitung kapabilitas dengan rumus tadi, pakai bitrate maksimum sebagai skenario terburuk, dan tambahkan margin.
  6. Samakan standar PoE kamera dengan switch, cek power budget-nya, dan pastikan tiap kabel LAN tidak lebih dari 100 m.

Model kamera IP Norden yang bisa dipakai sebagai CCTV untuk toko dan kantor, beserta rincian dan harganya, ada di halaman CCTV IP Norden di Jetorbit. Semua modelnya bergaransi 5 tahun, mendukung ONVIF, dan berstandar IP66/IP67 dengan ketahanan benturan IK10. Jarak DORI dan bitrate yang dipakai di artikel ini bisa dicocokkan dengan rincian dari datasheet di halaman tiap model.

Artikel Lainnya Blog Jetorbit Indonesia
↑
Close Right Ads
Close Left Ads