Cara Pindah Hosting Tanpa Website Mati: Urutan dari Persiapan sampai Selesai

Blog Jetorbit Indonesia oleh Waktu baca 8 menit 502x dilihat
Cara Pindah Hosting Tanpa Website Mati: Urutan dari Persiapan sampai Selesai

Bagikan Postingan

Pindah hosting tanpa website wafat bisa dilakukan jika urutannya benar: situs disalin dan diuji di hosting baru selagi domain statis mengarah ke hosting lama, kemudian domain diarahkan ke server baru. Hosting durasi dibatalkan paling akhir, setelah email dan semua yang bersandar padanya terbukti aman.

Kalau kalian butuh cara teknis WordPress lewat cPanel, seperti backup database dan mengedit wp-config.php, panduannya ada di cara pindah hosting WordPress. Yang dibahas di sini adalah urutan di sekelilingnya, dan urutan itu sama untuk situs apa pun. Masih ragu perlu pindah hosting maupun tidak? Baca dahulu tanda-tanda sudah saatnya mengganti hosting.

Urutan pindah hosting agar website statis hidup

Selama pindah hosting, ada dua server yang mesti bisa melayani situs kalian dengan isi yang sama. Penyebabnya cache DNS. Setiap record punya TTL (time to live), yaitu durasi sebuah balasan DNS boleh disimpan sebelum ditanyakan lagi. Menurut dokumentasi Cloudflare tentang TTL, bilangan itu menentukan berapa durasi record di-cache dan berapa durasi pembaruan sampai ke pengguna. Jadi setelah DNS diganti, sebagian pengunjung statis ke server durasi dan sebagian sudah ke server baru. Urutannya:

  1. Inventaris isi hosting durasi dan catat siapa yang mengelola DNS domain.
  2. Turunkan TTL record DNS beberapa hari sebelum pindah hosting.
  3. Salin situs ke hosting baru.
  4. Uji situs di hosting baru sebelum DNS diganti.
  5. Bekukan fluktuasi konten, kemudian sinkron terakhir.
  6. Ganti A record maupun nameserver.
  7. Pantau, kemudian periksa email dan SSL.
  8. Simpan hosting durasi sampai semuanya aman, baru batalkan.

Inventaris dahulu apa saja yang ada di hosting lama

Daftar ini mencegah kejutan di hari pindah hosting. Catat:

  • tempat domain didaftarkan dan tempat DNS-nya dikelola (registrar, hosting lama, maupun jasa DNS seperti Cloudflare), karena jawabannya menentukan metode kalian mengganti DNS nanti;
  • semua record di area DNS, yaitu A, CNAME, MX, dan TXT, termasuk milik subdomain;
  • aplikasi dan database yang berjalan, komplit dengan varian PHP maupun runtime-nya;
  • akun email di server durasi beserta ukuran kotak suratnya;
  • sertifikat SSL yang terpasang;
  • cron job dan tugas teragendakan lain;
  • pengalihan (redirect) dan pengaturan khusus di .htaccess maupun konfigurasi web server.

Email dan cron job gampang terlewat karena tidak tampak di halaman situs, dan baru ketahuan hilang setelah situs berpindah.

Turunkan TTL beberapa hari sebelum pindah hosting

TTL record yang akan kalian ubah menentukan berapa durasi pengunjung statis diarahkan ke server durasi setelah DNS diganti. Turunkan TTL record A untuk domain dan www ke bilangan kecil, kemudian tunggu selama TTL yang lama. Misalnya TTL lamanya satu hari: turunkan paling lambat sehari sebelum pindah hosting, karena selama itu resolver statis boleh menyimpan balasan lama.

Catat harga awalnya agar bisa dikembalikan, dan turunkan juga TTL record MX jika email ikut dipindah. Untuk pergantian nameserver, yang berjalan adalah TTL di sisi registrar. Dokumentasi Google Cloud DNS menyarankan mencatat TTL itu karena menentukan berapa durasi sampai nameserver baru mulai dipakai.

Salin situs ke hosting baru

Tahap pertama pindah hosting adalah menyalin berkas, database, dan akun email ke hosting baru selagi situs durasi statis berjalan normal. Untuk berkas, kalian bisa memakai fitur backup dan restore di panel, FTP maupun SFTP, maupun rsync lewat SSH. Rsync cuma mengirim selisih antara arsip sumber dan arsip yang sudah ada di tujuan, jadi gampang diulang saat sinkron terakhir. Impor database, sesuaikan kredensialnya di konfigurasi aplikasi, samakan varian PHP maupun runtime dengan server lama, kemudian pasang ulang cron job dari daftar inventaris.

Alamat situs di pengaturan aplikasi tidak perlu diubah. Pengujian berikutnya memakai nama domain yang sama.

Uji situs di hosting baru lewat arsip hosts

Berkas hosts di komputer kalian bisa mengarahkan satu nama domain ke IP server baru, cuma di komputer itu. Microsoft menerangkan bahwa komputer memeriksa arsip hosts lebih dahulu sebelum bertanya ke DNS, dan mengatakan migrasi website sebagai salah satu kegunaannya untuk melihat tampilan situs di server baru.

  1. Ambil alamat IP server baru dari keterangan akun hosting baru.
  2. Buka arsip hosts dengan hak administrator. Di Windows letaknya di %SystemRoot%\System32\drivers\etc\hosts (biasanya C:\Windows\System32\drivers\etc\hosts), di macOS dan Linux di /etc/hosts.
  3. Tambahkan satu baris berisi IP, kemudian nama domain: 203.0.113.10 contoh.com www.contoh.com. Ganti IP dan domainnya dengan milik kalian.
  4. Simpan, tutup browser sepenuhnya, kemudian buka situs kalian. Komputer ini kini membaca server baru, sedangkan pengunjung lain statis ke server lama.
  5. Coba fungsi pentingnya: login, formulir, keranjang dan pembayaran, unggah berkas, kiriman email dari situs, dan halaman yang paling sering dikunjungi.

Kalau SSL belum terpasang di server baru, browser bisa memperingatkan sertifikat selama pengujian. Itu wajar dan dibahas di bagiankecil SSL. Data uji seperti pesanan percobaan ikut tersimpan di database baru, jadi hapus maupun timpa lewat sinkron terakhir.

Bekukan perubahan, kemudian sinkron terakhir

Antara duplikat pertama dan hari pindah hosting, situs durasi terus menerima keterangan baru: komentar, pesanan, pendaftaran, unggahan. Pilih jam paling sepi pengunjung, kemudian hentikan sementara aktivitas menulis di situs lama, seperti checkout, pendaftaran, dan komentar, sementara halaman statis bisa dibaca. Sebagian aplikasi punya mode baca-saja untuk ini.

Setelah itu ekspor database sekali lagi, impor ke server baru, dan sinkronkan arsip yang berubah. Uji ulang lewat arsip hosts. Pembekuan ini yang menjaga tidak ada keterangan tertinggal di server lama, dan lamanya cuma sepanjang proses sinkron.

Ganti A record maupun nameserver

Dua metode ini berbeda jangkauannya saat pindah hosting. A record memetakan nama domain ke alamat IPv4, dan AAAA ke IPv6. Mengubahnya cuma mengganti alamat tujuan: DNS statis dikelola di tempat sekarang, dan record lain seperti MX dan TXT tidak tersentuh. Ganti A record untuk domain, www, dan subdomain yang ikut pindah.

NS record menunjuk server mana yang menjadi otoritas DNS untuk domain. Mengganti nameserver berarti memindahkan seluruh pengelolaan area DNS ke pemasok lain, dan record yang tidak ikut disalin ke area baru hilang dari balasan DNS. Cloudflare mengingatkan bahwa pemindaian otomatis tidak dijamin menemukan semua record, jadi cocokkan daftar inventaris satu per satu sebelum nameserver diganti.

Kalau DNS kalian dikelola di tempat yang tidak ikut pindah, seperti registrar maupun Cloudflare, ganti A record saja. Kalau nameserver domain statis milik hosting lama, kalian bisa statis memakainya dan mengubah A record di sana, dengan syarat hosting durasi tidak dibatalkan. Atau pindahkan nameserver setelah semua record disalin. Berapa durasi peralihan sampai ke semua pengunjung mengikuti TTL yang kalian atur sebelumnya, bukan satu bilangan tetap.

Email dan record MX

Record MX menentukan ke server mana email untuk domain kalian dikirim. Cloudflare mengatakan MX diperlukan agar email sampai ke mail server, dan menurut RFC 5321 pengirim mencoba tujuan dengan bilangan preferensi paling kecil lebih dulu.

Kalau email kalian dikelola jasa lain seperti Google Workspace, MX tidak perlu diubah ketika kalian pindah hosting. Pastikan saja record MX dan TXT-nya ikut utuh, terutama jika yang diganti adalah nameserver. Kalau email ada di hosting lama, buat akun yang sama di hosting baru, salin isi kotak suratnya, baru ubah MX ke server baru.

Selama TTL MX berjalan, email baru bisa mendarat di server durasi maupun baru, jadi periksa kotak surat durasi sampai kalian percaya tidak ada lagi email masuk ke sana. Periksa juga record TXT untuk SPF dan DKIM. SPF mendaftar IP dan domain yang berkuasa mengirim email atas nama domain kalian, jadi alamat server pengirim yang baru perlu masuk ke sana.

SSL di hosting baru

Penerbit sertifikat cuma-cuma seperti Let’s Encrypt memeriksa kendali domain, salah satunya dengan meminta sebuah arsip dari web server lewat nama domain (tantangan HTTP-01). Selama domain statis mengarah ke server lama, permintaan itu sampai ke server lama, jadi sertifikat di server baru biasanya baru bisa terbit setelah DNS berpindah. Cek HTTPS di server baru segera setelah A record diganti, dan meminta sertifikat diterbitkan dari panel hosting jika browser statis memperingatkan.

Ada jalan lain: pengesahan lewat record TXT (tantangan DNS-01) tidak membutuhkan web server, sehingga bisa dikerjakan sebelum DNS berpindah, selama panel maupun pemasok DNS kalian mendukungnya.

Pantau setelah DNS diganti

Setelah pindah hosting, hapus baris di arsip hosts tadi agar komputer kalian ikut DNS yang sebenarnya, kemudian buka situs dari jaringan lain, misalnya HP dengan keterangan seluler. Kalau komputer statis menampilkan server lama, bersihkan cache DNS lokal dengan cara flush DNS. Lihat log akses di kedua server: selama server durasi statis menerima pengunjung, peralihan belum selesai. Pesanan maupun keterangan tulis yang masuk ke server durasi pada masa ini perlu dipindahkan manual ke server baru.

Rencana mundur saat pindah hosting

Selama server durasi tidak kalian ubah, hajat mundurnya sederhana: kembalikan A record ke IP lama, dan pengunjung balik ke sana secepat peralihan tadi, yaitu mengikuti TTL. Karena itu TTL statis rendah sampai kalian yakin. Dengan begitu, downtime akibat server baru yang bermasalah umumnya berakhir dalam rentang TTL itu setelah A record dikembalikan. Setelah situs baru stabil, kembalikan TTL ke harga awal. Cloudflare mencatat bahwa TTL yang lebih panjang mempercepat pelacakan DNS karena akibatnya lebih sering diambil dari cache.

Batalkan hosting durasi cuma setelah ini semua terpenuhi:

  • log akses server durasi sudah sepi;
  • email masuk dan keluar sudah dicoba di server baru, dan kotak surat durasi tidak menerima email lagi;
  • cron job dan jasa lain sudah berjalan di server baru;
  • backup terakhir hosting durasi sudah tersimpan di luar server itu;
  • nameserver sudah dipindah jika sebelumnya statis milik hosting lama.

Kalau tujuan pindah hosting kalian adalah Jetorbit

Untuk situs di hosting, Jetorbit membantu pindah hosting dari tempat lain ke Cloud Hosting: beli paketnya, kemudian hubungi tim dukungan yang akan memindahkan website kalian. SSL cuma-cuma ikut selama paket aktif. Kalau yang dipindahkan adalah VPS, Migrasi VPS di Managed Service memindahkan website, database, dan email ke Cloud VPS Jetorbit, menguji server baru lebih dulu, kemudian mengubah DNS setelah pengujian. Server durasi statis melayani pengunjung selama proses. Siapkan akses ke VPS durasi dan DNS domain, daftar aplikasi, database, akun email, serta cron job yang aktif, dan jam trafik paling sepi.

Artikel Lainnya Blog Jetorbit Indonesia
↑
Close Right Ads
Close Left Ads