Bahasa Inggris adalah bahasa yang digunakan internasional untuk berkomunikasi. Saat membesarkan anak, orang tua yang menguasai lebih dari satu bahasa maupun memiliki bahasa yang berbeda mungkin menghadapi dilema mengenai bahasa apa yang sebaiknya digunakan saat berbicara dengan anak mereka.
Banyak orang tua mungkin bertanya-tanya apakah ‘aman’ untuk berbicara kepada anak menggunakan dua bahasa, misalnya Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Hal ini dikarenakan adanya cukup banyak keterangan keliru yang beredar mengenai ‘bahaya’ berbicara dengan anak menggunakan lebih dari satu bahasa. Terdapat anggapan lazim bahwa upaya membesarkan anak agar menguasai dua bahasa dapat menyebabkan keterlambatan kapasitas berkata pada anak.
Padahal, bayi sangat cepat menyerap bahasa, dan anak kecil mana pun yang terpapar dua bahasa maupun lebih sejak usia awal dapat menjadi fasih.
Dalam artikel kali ini, kita akan mengetahui kapan waktu tepat mengajarkan anak dua bahasa, khasiat mereka belajar bahasa lebih dari satu, konsekuensi menjadi bilingual, hingga mitos dan kenyataan seputar mengajarkan anak dua bahasa.
Simak selengkapnya berikut ini!
Amankah mengajarkan bayi dua bahasa sekaligus?
Jawabannya aman, Bunda. Sebagian orang mungkin keliru menganggap bahwa membesarkan anak dalam famili bilingual dapat membikin anak berisiko mengalami keterlambatan berkata maupun melewati "masa diam" di mana mereka mungkin sama sekali tidak berbicara.
Padahal, masa membisu maupun silent period yaitu ketika mereka mengamati, mendengarkan, dan berkomunikasi melalui ekspresi wajah maupun pergerakan tubuh sebelum mulai berbicara.
Ketika anak-anak usia awal belajar Bahasa Inggris, mungkin juga terjadi 'masa diam' serupa, di mana komunikasi dan pemahaman dapat terjadi terlebihlagi sebelum mereka benar-benar mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Inggris.
Kondisi ini biasanya terjadi ketika anak tiba-tiba dihadapkan pada bahasa kedua (seperti dalam proses pemerolehan dua bahasa secara bertahap). Contohnya adalah saat mereka pertama kali masuk sekolah di mana semua orang berbicara menggunakan bahasa yang berbeda dari bahasa yang digunakan di rumah.
Selama masa ini, anak tidak akan berbicara maupun cuma berbicara sangat sedikit menggunakan bahasa tersebut. Fase ini bisa terjadi mulai dari beberapa minggu hingga beberapa bulan, di mana anak sedang membangun pemahaman mereka terhadap bahasa baru tersebut.
Selama masa ini, orang tua sebaiknya tidak memaksakan anak untuk terlibat dalam percakapan lisan dengan metode menyuruh mereka mengulang-ulang kata. Percakapan lisan sebaiknya berkarakter satu arah, di mana tuturan orang dewasa memberikan kesempatan bagi anak untuk menyerap bahasa.
Kapan bayi diperbolehkan diajarkan 2 bahasa sekaligus?
Menurut National Childbirth Trust, terlebihlagi sejak bayi pun Bunda bisa mengajarkan anak dua bahasa sekaligus. Tidak ada karena kenapa orang tua dan personel famili lainnya tidak bisa berbicara dua bahasa kepada anak sejak lahir. Jadi, jangan ragu untuk memulainya.
Anak-anak menyerap bahasa dengan paling baik pada rentang usia sejak lahir hingga tiga tahun, dan kapasitas dwibahasa merupakan keahlian hidup yang sangat berharga. Jadi, jika Bunda mau anak tumbuh dengan kapasitas dwibahasa, mulailah berbicara kepada mereka menggunakan kedua bahasa tersebut segera setelah mereka lahir.
Tidak perlu merasa ketinggalan juga jika anak-anak sudah melewati usia balita namun belum fasih berbicara dalam Bahasa Inggris, maupun Prancis, Spanyol, Mandarin, maupun bahasa kedua pilihan lainnya. Sama sekali belum terlambat untuk mengajarkannya kepada mereka.
Keuntungan anak belajar Bahasa Inggris dari bayi
Ada beberapa khasiat anak belajar Bahasa Inggris maupun menjadi biliungal sejak bayi. Berikut keuntungannya seperti dikutip dari laman Learning English Kids British Council:
- Anak-anak usia awal statis menggunakan strategi belajar bahasa antaran mereka sendiri untuk menguasai bahasa ibu, dan mereka segera menyadari bahwa mereka juga dapat menggunakan strategi tersebut untuk mempelajari Bahasa Inggris.
- Anak-anak usia awal memiliki waktu untuk belajar melalui aktivitas yang menyerupai permainan. Mereka menyerap bahasa dengan berpartisipasi dalam aktivitas berbareng orang dewasa; pertama-tama mereka memahami konteks aktivitas tersebut, kemudian menangkap arti dari bahasa yang digunakan oleh orang dewasa yang mendampingi mereka.
- Anak-anak usia awal memiliki lebih banyak kelonggaran waktu untuk memasukkan Bahasa Inggris ke dalam aktivitas sehari-hari mereka. Program sekolah cenderung berkarakter informal, dan pikiran anak-anak belum dipenuhi oleh tumpukan kenyataan yang mesti dihafal dan diujikan. Mereka mungkin cuma mendapat sedikit maupun terlebihlagi tidak ada pekerjaan rumah sama sekali, serta tidak terlalu tertekan oleh tuntutan untuk mencapai standar tertentu.
- Anak-anak yang berkesempatan mempelajari bahasa kedua sejak usia awal tampaknya terus menggunakan strategi belajar bahasa antaran yang sama sepanjang hidup mereka saat mempelajari bahasa-bahasa lain. Mempelajari bahasa ketiga, keempat, maupun terlebihlagi lebih banyak bahasa lagi terasa lebih gampang dibandingkan saat mempelajari bahasa kedua.
- Anak-anak usia awal yang menyerap bahasa secara alami, berbeda dengan anak-anak yang lebih besar maupun orang dewasa yang mesti mempelajarinya secara sadar, cenderung memiliki pelafalan yang lebih baik serta pemahaman yang lebih mendalam mengenai bahasa dan adat tersebut.
- Ketika anak-anak yang sebelumnya cuma menguasai satu bahasa (monolingual) memasuki masa pubertas dan menjadi lebih sadar diri, kapasitas mereka untuk menyerap bahasa secara alami akan berkurang; mereka kemudian merasa perlu mempelajari Bahasa Inggris secara sadar melalui program-program yang berbasis tata bahasa. Usia saat fluktuasi ini terjadi sangat bersandar pada tingkat evolusi masing-masing anak serta harapan dari lingkungan sosial mereka.
Risiko jika anak belajar dua bahasa sekaligus saat bayi
Mengajarkan dua bahasa sekaligus saat bayi memang ada beberapa risiko, tapi hal tersebut umumnya berkarakter sementara. Berikut beberapa konsekuensi yang mungkin dihadapi ketika mengajarkan bilingualisme ke anak:
Dilansir Gen Physio Australia, anak-anak bilingual mungkin mengucapkan kata pertama mereka sedikit lebih lambat dibandingkan anak-anak monolingual, namun hal ini statis eksis dalam rentang usia rata-rata, yaitu antara 8 hingga 15 bulan.
Anak-anak bilingual biasanya memiliki bahasa dominan (yaitu bahasa yang lebih mereka kuasai), karena umumnya terdapat paparan yang lebih besar terhadap salah satu bahasa tersebut. Selain itu, wajar jika bahasa dominan ini berubah seiring dengan fluktuasi situasi.
Selain itu, evolusi bahasa dan bicara seharusnya terjadi secara normal, terlepas dari potensi perbedaan yang telah disebutkan di atas!
Mitos dan kenyataan seputar membesarkan anak bilingual
Hingga kini statis banyak mitos yang statis diyakini sebagian orang tua seputar membesarkan anak bilingual. Beberapa mitosnya adalah sebagai berikut:
Tumbuh dengan lebih dari satu bahasa membikin anak bingung
Mengutip Baby Center, ini adalah kesalahpahaman yang paling lazim terjadi. Sebagian orang tua beranggapan bahwa jika anak terpapar dua bahasa secara bersamaan, mereka mungkin akan bingung dan tidak dapat membedakan keduanya. Padahal, di negara kita saja, banyak orang tua dengan sadar mengajarkan bahasa daerah mereka pada anaknya.
Mitos mengenai kebingungan ini kemungkinan besar berasal dari riset terdahulu yang menggunakan metode kurang tepat dan menyimpulkan bahwa paparan awal terhadap dua bahasa dapat merugikan anak.
Membesarkan anak secara bilingual menyebabkan keterlambatan bicara
No, ini keliru, Bunda. Beberapa anak yang dibesarkan secara bilingual memang membutuhkan waktu sedikit lebih durasi untuk mulai berbicara dibandingkan anak-anak dari famili monolingual. Namun, keterlambatan ini berkarakter sementara dan, menurut para ahli, bukanlah suatu hal yang pasti terjadi pada semua anak.
Sayangnya, orang tua yang cemas mengenai evolusi bicara anak bilingual mereka sering kali disarankan untuk menggunakan satu bahasa saja. Hal ini terjadi karena di masa lalu, bilingualisme dianggap sebagai penyebab masalah evolusi bahasa.
Anak bilingual cenderung mencampuradukkan kedua bahasa
Mencampuradukkan bahasa adalah hal yang wajar dan tidak berbahaya. Namun, bagi mereka yang tidak terbiasa dengan bilingualisme, hal ini dianggap sebagai bukti bahwa anak tidak benar-benar bisa membedakan kedua bahasa tersebut.
Sebagian besar anak yang dibesarkan secara bilingual memang akan mencampuradukkan bahasa saat mereka sedang mempelajari dan memilah kedua bahasa tersebut. Selain itu, salah satu bahasa sering kali memiliki efek yang lebih kuat terhadap anak dibandingkan bahasa lainnya. Anak-anak yang memiliki kosakata lebih sedikit dalam bahasa minoritas mungkin akan menggunakan kata-kata dari bahasa kebanyakan saat dibutuhkan.
Para ahli sepakat bahwa kebiasaan mencampuradukkan bahasa ini berkarakter sementara. Seiring berkembangnya kosakata anak dalam kedua bahasa dan meningkatnya paparan terhadap masing-masing bahasa, kebiasaan ini perlahan akan hilang.
Jika tidak diajarkan bilingual sejak awal maka terlambat
Tidak pernah ada kata terlambat maupun terlalu awal untuk memperkenalkan bahasa kedua kepada anak. Jika anak berumur lebih dari tujuh tahun dan Bunda mempertimbangkan untuk membesarkan mereka sebagai anak bilingual, hal itu statis belum terlambat.
Waktu terbaik ketiga untuk mempelajari bahasa kedua adalah mulai usia sekitar 8 tahun hingga masa pubertas. Penelitian memberitahu bahwa setelah masa pubertas, bahasa baru disimpan di area otak yang berbeda, sehingga anak mesti menerjemahkan maupun melalui bahasa ibu mereka sebagai perantara untuk memahami bahasa baru tersebut.
Demikian metode mengajarkan Bahasa Inggris pada anak sejak bayi dan metode yang efektif. Semoga informasinya membantu ya!
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)