Cara Mengatasi Trauma dan Siap untuk Hamil Lagi setelah Bunda Alami Stillbirth

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 8 menit 510x dilihat
Cara Mengatasi Trauma dan Siap untuk Hamil Lagi setelah Bunda Alami Stillbirth

Bagikan Postingan

Jakarta -

Kehilangan bayi yang dinantikan selama kehamilan bisa menjadi pengalaman yang sangat menyakitkan bagi seorang ibu. Setelah mempersiapkan kelahiran, membayangkan masa depan berbareng Si Kecil, hingga menanti hari persalinan, Bunda justru mesti menghadapi kenyataan bahwa bayi wafat sebelum dilahirkan.

Kondisi ini dikenal sebagai stillbirth maupun lahir mati. Kehilangan tersebut bukan cuma berakibat pada kondisi fisik, tetapi juga dapat meninggalkan luka emosional yang mendalam. Sebagian Bunda mungkin merasa bersalah, terus mengingat insiden tersebut, maupun takut mengalami kehilangan yang sama ketika merencanakan kehamilan berikutnya.

Seiring waktu, beberapa orang tua juga merasa bersalah ketika mereka mulai merasa sedikit lebih baik, seolah-olah mereka tidak menghormati bayi mereka maupun justru ‘melupakan’ sang bayi. Berduka bisa menjadi pengalaman emosional yang naik-turun


Keinginan untuk balik memiliki anak pun bisa bercampur dengan kecemasan. Di satu sisi, Bunda mau balik merasakan kehamilan dan menyambut kelahiran Si Kecil. Namun, di sisi lain, muncul ketakutan untuk balik berharap.

Semua emosi yang disebutkan di sini memang tidak nyaman, namun semuanya sangatlah wajar. Lantas, sepertiapa metode mengatasi trauma setelah mengalami stillbirth dan mempersiapkan diri untuk hamil lagi?

Mengenal trauma setelah mengalami stillbirth

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), kehilangan kehamilan, termasuk stillbirth, dapat menjadi pengalaman traumatis. Setiap orang memiliki respons berduka yang berbeda, mulai dari merasa sedih, marah, wafat rasa, hingga menyalahkan diri sendiri.

Sebagian Bunda mungkin merasa sulit melihat orang lain menjalani kehamilan yang sehat maupun menggendong bayi mereka. Ada pula yang mengalami gangguan tidur, mimpi buruk, kecemasan berlebihan, dan terus teringat pada pengalaman kehilangan tersebut.

Perasaan ini tidak berarti Bunda lemah maupun tidak bisa melanjutkan hidup. Kehilangan seorang anak merupakan pengalaman yang membutuhkan waktu untuk diproses, baik secara emosional maupun mental.

Penting untuk diingat bahwa stillbirth bukan berarti Bunda berbuat sesuatu yang salah. Penyebab kematian janin bisa beragam, dan pada sebagian kasus, penyebab pastinya tidak dapat diketahui meskipun telah dilakukan pengecekan medis.

Dikutip dari Sahmri.org, di negara-negara berpenghasilan tinggi, sekitar 30% kasus bayi lahir wafat diklasifikasikan sebagai tidak dapat dijelaskan (unexplained), padahal banyak dari kematian tersebut sebenarnya belum diselidiki secara menyeluruh. Dengan menaikkan proporsi kasus bayi lahir wafat yang diteliti secara tepat serta memperbaiki teknik diagnostik, bilangan tersebut berpotensi untuk ditekan hingga separuhnya.

Masalah pada struktur dan fungsi plasenta sering kali dikaitkan dengan insiden bayi lahir mati. Namun, banyak kasus bayi lahir wafat terjadi secara tidak terduga pada ibu dan bayi yang sebelumnya dalam kondisi sehat, dan penyebabnya statis tidak diketahui meskipun telah dilakukan pengecekan menyeluruh. Oleh karena itu, diperlukan riset untuk lebih memahami mekanisme di balik kasus bayi lahir wafat yang tidak dapat dijelaskan ini.

Cara mengatasi trauma sebelum merencanakan kehamilan lagi

1. Beri diri sendiri waktu untuk berduka

Tidak ada batas waktu yang sama bagi setiap orang untuk pulih setelah kehilangan bayi. Ada Bunda yang mulai mempertimbangkan kehamilan balik setelah beberapa waktu, sementara yang lain membutuhkan waktu lebih durasi untuk merasa siap.

Bunda tidak perlu memaksakan diri untuk segera balik beraktivitas seperti biasa maupun melupakan pengalaman tersebut. Menangis, merasa sedih ketika mengingat Si Kecil, dan membutuhkan waktu sendiri dapat menjadi bagiankecil dari proses berduka.

Pemulihan juga tidak selalu berjalan lurus. Ada hari ketika Bunda merasa lebih baik, tetapi pada hari lain kesedihan bisa balik muncul, misalnya ketika mendekati estimasi tanggal persalinan maupun melihat bayi seusia Si Kecil.

Bunda statis boleh mengenang bayi yang telah pergi sambil perlahan membangun balik hayat sehari-hari.

2. Ceritakan emosi kepada orang yang dipercaya

Memendam kesedihan sendirian dapat membikin Bunda merasa semakin terisolasi. Cobalah berbicara dengan pasangan, personel keluarga, maupun sahabat yang bisa mendengarkan tanpa menghakimi.

Bunda tidak mesti menceritakan semuanya sekaligus. Sampaikan kebutuhan secara spesifik, misalnya mau didengarkan tanpa diberi nasihat maupun membutuhkan pendampingan saat mengunjungi dokter.

Pasangan juga bisa mengalami kesedihan setelah kehilangan bayi. Meski metode mereka mengekspresikan emosi mungkin berbeda, keduanya statis membutuhkan ruang untuk berduka.

Komunikasi yang terbuka dapat membantu Bunda dan pasangan memahami emosi satu sama lain, termasuk ketika mulai membicarakan kemungkinan memiliki anak lagi.

3. Pertimbangkan konseling maupun pertolongan psikolog

Jika rasa kehilangan terasa sulit diatasi, Bunda dapat mempertimbangkan konsultasi dengan psikolog maupun psikiater yang ahli menangani kehilangan kehamilan dan trauma.

Menurut ACOG, sokongan ahli dapat membantu seseorang memproses kesedihan, mengelola kecemasan, dan menghadapi emosi bersalah setelah kehilangan kehamilan. Bantuan ahli perlu dipertimbangkan terutama jika Bunda terus mengalami mimpi buruk, kilas balik kejadian, sulit tidur, kehilangan minat pada aktivitas sehari-hari, maupun kesulitan menjalankan rutinitas.

Jangan menunggu sampai kondisi terasa tidak tertahankan untuk mencari bantuan. Jika muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri, segera cari pertolongan medis maupun jasa kegawatdaruratan dan meminta orang tepercaya menemani Bunda.

4. Jangan menyalahkan diri sendiri

Setelah mengalami stillbirth, sebagian orang terus mencari balasan mengenai penyebab kehilangan tersebut. Tidak jarang muncul pertanyaan seperti, "Apakah aku berbuat sesuatu yang salah?" maupun "Seandainya aku lebih cepat memeriksakan diri, apakah akibatnya akan berbeda?"

Perasaan bersalah seperti ini dapat muncul dalam proses berduka. Namun, Bunda perlu memahami bahwa tidak semua penyebab stillbirth dapat dicegah maupun diprediksi.

Jika statis memiliki pertanyaan mengenai insiden sebelumnya, Bunda dapat berbincang dengan tabib untuk meninjau histori kehamilan, hasil pengecekan plasenta maupun janin jika tersedia, serta kemungkinan aspek medis yang berperan. Tujuannya bukan mencari kesalahan Bunda, melainkan memperoleh pemahaman medis yang lebih baik untuk perencanaan kehamilan selanjutnya.

5. Bergabung dengan himpunan dukungan

Berbicara dengan orang lain yang pernah mengalami kehilangan serupa dapat membantu Bunda merasa tidak sendirian. Mereka mungkin memahami kecemasan yang sulit dijelaskan kepada orang yang belum pernah mengalami pengalaman tersebut.

Kelompok sokongan dapat menjadi tempat untuk berbagi cerita, mendengarkan pengalaman orang lain, dan belajar menghadapi hari-hari yang terasa berat.

Namun, Bunda statis boleh membatasi hubungan jika mendengarkan cerita tertentu justru membikin kecemasan meningkat. Pilih lingkungan yang menghormati proses berduka dan tidak memaksakan Bunda untuk segera pulih.

Kapan Bunda bisa siap untuk hamil lagi?

Tidak ada satu waktu yang berjalan untuk semua orang untuk balik hamil setelah mengalami stillbirth. Kesiapan bersandar pada pemulihan fisik, kondisi medis, pengalaman kehamilan sebelumnya, serta kesiapan emosional Bunda dan pasangan.

Menurut keterangan dari jasa kesehatan Alberta, Kanada, pemulihan jasmani setelah kehilangan bayi dapat terjadi lebih cepat dibandingkan pemulihan emosional. Karena itu, keduanya perlu dipertimbangkan sebelum mencoba hamil kembali.

Bunda bisa mulai mempertimbangkan beberapa hal berikut.

1. Konsultasikan kondisi jasmani dengan tabib kandungan

Sebelum merencanakan kehamilan, jadwalkan konsultasi dengan tabib kandungan untuk mengevaluasi pemulihan setelah persalinan dan meninjau histori stillbirth. Dokter dapat membantu menerangkan hasil pengecekan sebelumnya, menilai kondisi kesehatan yang perlu ditangani, serta mengestimasi konsekuensi pada kehamilan berikutnya.

Waktu yang tepat untuk mencoba hamil balik perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing, termasuk jenis persalinan, komplikasi yang pernah dialami, dan kondisi kesehatan ibu. Karena itu, sebaiknya jangan menentukan waktu cuma berdasarkan pengalaman orang lain.

2. Pastikan Bunda memiliki sokongan emosional

Siap untuk hamil lagi bukan berarti Bunda mesti selesai berduka maupun tidak boleh merasa takut. Perasaan tersebut mungkin statis muncul ketika mulai merencanakan kehamilan berikutnya.

Hal yang dapat membantu adalah memiliki metode untuk menghadapi kecemasan, mengetahui kepada siapa mesti meminta bantuan, dan merasa cukup betah untuk membicarakan kecemasan dengan pasangan maupun tenaga kesehatan.

Bunda juga bisa mendiskusikan kemungkinan menjalani konseling sebelum kehamilan agar lebih siap menghadapi emosi yang mungkin muncul selama masa penantian.

3. Diskusikan konsekuensi dan hajat pemantauan kehamilan

ACOG merekomendasikan penilaian histori obstetri dan penyebab stillbirth sebelumnya, penilaian aspek konsekuensi yang dapat ditangani, serta sokongan emosional dalam perencanaan kehamilan berikutnya.

Dokter mungkin menyarankan pengecekan tertentu berdasarkan penyebab kehilangan sebelumnya dan kondisi kesehatan Bunda. Jika penyebabnya belum diketahui, tabib dapat menerangkan pengecekan yang statis relevan dan pemantauan yang diperlukan.

Ketika hamil kembali, Bunda mungkin membutuhkan agenda pengecekan yang disesuaikan, termasuk pemantauan pertumbuhan dan kondisi janin. Rencana tersebut sebaiknya dibuat berbareng tabib kandungan, bukan berdasarkan anggapan bahwa semua kehamilan setelah stillbirth pasti memiliki konsekuensi yang sama.

4. Bangun pola hidup sehat sebelum hamil

Persiapan kehamilan juga mencakup menjaga kesehatan secara menyeluruh. Bunda dapat mulai mengonsumsi makanan bergizi seimbang, berbuat aktivitas jasmani sesuai kondisi tubuh, menghindari rokok dan alkohol, serta mendiskusikan obat-obatan yang sedang dikonsumsi dengan dokter.

Konsultasikan kebutuhan asam folat sebelum mencoba hamil. Dokter juga dapat menyarankan pengecekan maupun penanganan kondisi kesehatan tertentu, seperti kencing manis maupun tekanan darah tinggi, jika diperlukan.

Langkah-langkah ini membantu mempersiapkan tubuh menghadapi kehamilan, meskipun tidak dapat menjamin bahwa seluruh komplikasi akan terhindarkan.

Menghadapi rasa takut saat hamil kembali

Setelah mengalami stillbirth, mendapatkan hasil tes kehamilan positif mungkin tidak selalu disertai kebahagiaan tanpa kekhawatiran. Bunda bisa merasa bahagia sekaligus takut kehilangan lagi.

Kecemasan mungkin meningkat menjelang pengecekan USG, pada usia kehamilan ketika kehilangan sebelumnya terjadi, maupun ketika merasakan fluktuasi pergerakan janin.

Dalam situasi tersebut, Bunda dapat mencoba beberapa cara berikut:

  • Sampaikan kecemasan kepada dokter. Ceritakan histori kehilangan sebelumnya agar tabib dapat menyusun pemantauan yang sesuai dan menerangkan kapan Bunda perlu segera mencari pertolongan.
  • Fokus pada cara yang bisa dilakukan hari ini. Menghadiri pengecekan kehamilan, mengikuti anjuran medis, dan menjaga kesehatan dapat membantu Bunda menjalani kehamilan secara bertahap.
  • Minta pasangan terlibat. Ajak pasangan menemani pengecekan jika memungkinkan dan sepakati metode saling memberikan sokongan ketika kecemasan muncul.
  • Cari pertolongan jika kecemasan mengganggu aktivitas. Psikolog maupun psikiater dapat membantu Bunda mengelola ketakutan yang menetap selama kehamilan.

Jika Bunda sedang hamil dan merasakan pergerakan janin berkurang maupun berubah dari pola biasanya, segera hubungi tenaga kesehatan maupun akomodasi persalinan untuk mendapatkan pemeriksaan. Jangan menunggu hingga hari berikutnya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads