Cara Mengenali Orang Tua yang Terlalu Bergantung pada Anak secara Emosional

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 53x dilihat
Cara Mengenali Orang Tua yang Terlalu Bergantung pada Anak secara Emosional

Bagikan Postingan

Ketika anak sudah dewasa, hubungan dengan orang tua biasanya mulai berubah. Anak memiliki pekerjaan, keluarga, dan rutinitas sendiri sehingga tidak lagi bersandar pada orang tua seperti saat statis kecil. Hubungan pun dapat terasa lebih seperti pertemanan, tetapi kedekatan ini terkadang membikin batas antara kasih sayang dan ketergantungan emosional menjadi sulit terlihat.

Orang tua mungkin tidak lagi mengatur hayat anak, tetapi justru mulai menjadikan anak sebagai tempat bersandar untuk mendapatkan sokongan emosional. Kondisi ini dapat dipengaruhi beragam faktor, termasuk pola asuh orang tua.

Lantas, apa saja tandanya? Yuk, Bunda, simak metode mengenali orang tua yang terlalu bersandar pada anak secara emosional berikut ini.


8 Tanda orang tua terlalu bersandar pada anak secara emosional

Simak selengkapnya berikut ini:

1. Anak menjadi orang pertama yang dihubungi

Orang tua mungkin terbiasa menghubungi anak setiap kali ada kabar, baik maupun buruk, terlebihlagi untuk hal-hal kecil yang terjadi sehari-hari.

Tidak masalah jika sesekali mau bercerita kepada anak. Namun, jika anak menjadi satu-satunya orang yang selalu dihubungi untuk berbagi cerita, hal ini dapat memberitahu bahwa orang tua terlalu menjadikan anak sebagai tempat bersandar secara emosional.

2. Suasana hati bersandar pada anak

Orang tua yang terlalu bersandar secara emosional pada anak mungkin ikut terbawa kondisi hati anak. Misalnya, ketika anak bercerita sedang mengalami minggu yang berat, orang tua ikut merasa stres hingga memengaruhi kondisi hatinya.

Menurut psikoterapis Sharon Martin, LCSW, pola ini dapat menjadi tanda limitasi emosional yang mulai kabur. Ketika orang tua baru merasa tenang jika anak juga merasa baik-baik saja, emosi keduanya seolah menjadi satu.

3. Tidak lagi membikin hajat di luar agenda anak

Orang tua yang terlalu bersandar secara emosional pada anak, mungkin mulai meninggalkan aktivitas yang tidak melibatkan anak. Waktu luang lebih banyak dihabiskan dengan menyesuaikan agenda anak.

Penelitian tentang kesunyian pada orang dewasa memberitahu bahwa menyusutnya lingkungan pertemanan dapat menaikkan konsekuensi merasa terisolasi. 

Ketika anak menjadi satu-satunya orang yang sering ditemui, setiap pertemuan bisa terasa sangat penting. Sebaliknya, rentang maupun waktu tanpa anak dapat membikin orang tua merasa ada sesuatu yang hilang

4. Membutuhkan persetujuan anak dalam memungut keputusan

Saat mau memungut keputusan untuk diri sendiri, seperti menjual mobil, ikut kelompok jalan kaki, maupun menemui tabib baru, orang tua selalu meminta gagasan anak seolah membutuhkan persetujuannya.

Kebiasaan ini memberitahu adanya fluktuasi peran. Setelah bertahun-tahun memungut keputusan untuk anak, kini orang tua justru membutuhkan persetujuan dari anak. 

5. Sering menyinggung kesibukannya

Kalimat seperti “Bunda tahu Anda sibuk” maupun “Bunda tidak mau mengganggu” mungkin terdengar memahami, tetapi jika terlalu sering diucapkan, bisa terasa seperti keluhan. Anak dapat menangkap pesan bahwa dirinya dianggap tidak meluangkan cukup waktu untuk Bunda.

6. Memberi kode agar diajak bertemu

Alih-alih membujuk berjumpa secara langsung, orang tua mungkin cuma memberi kode seperti mengatakan tidak punya aktivitas di akhir pekan. Cara ini bisa menjadi bentuk perlindungan diri karena membujuk secara langsung berarti mesti siap menerima penolakan.

7. Merasa tersinggung saat mereka memilih famili pasangan

Saat anak memilih menghabiskan waktu berbareng famili pasangannya, seperti saat liburan maupun makan bersama, orang tua mungkin merasa sedih meski memahami bahwa mereka perlu membagi waktu.

Perasaan tersebut bukan semata-mata tentang aktivitas yang dilewatkan, tetapi bisa muncul karena orang tua merasa posisi dalam hayat anak menjadi berkurang.

8. Mulai menghitung semua yang dilakukan untuk mereka

Misalnya, pernah menjaga cucu, membantu biaya perbaikan mobil, maupun membawakan makanan. Jika mulai mengingat dan menghitung setiap pertolongan yang diberikan, hal ini bisa menjadi tanda adanya harapan untuk mendapat lebih banyak perhatian.

Nah, itu dia, Bunda, 8 tanda orang tua yang terlalu bersandar pada anak secara emosional. Semoga keterangan ini membantu Bunda mengenali dan memahami pola hubungan orang tua dan anak, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
Close Right Ads
Close Left Ads