Jakarta -
Setiap Bunda tentu memiliki pengalaman berbeda saat menjalani masa kehamilan. Bagi Debi Sagita, momen ini justru dijalani dengan tidak terlalu banyak berekspektasi agar lebih siap menghadapi beragam kemungkinan.
Baru-baru ini, sang aktris membagikan cerita mengenai kehamilan anak pertamanya saat menjadi pembicara dalam acara Journey Comes with a Special Gift from PRENAGEN.
Dalam kesempatan itu, Debi mengungkapkan bahwa dirinya memang cenderung menghindari ekspektasi, terutama ketika menyambut kedatangan Si Kecil.
“Jujur aku tuh adalah jenis orang yang takut amat punya ekspektasi, terlebihlagi soal kehamilan. Karena menurut aku, aku sama orang lain tuh mungkin pasti enggak akan sama pengalaman kehamilannya,” ujar Debi, Selasa (22/9/2026).
Menurutnya, pengalaman setiap perempuan tidak selalu sama sehingga ia memilih mempersiapkan diri sebaik mungkin, baik secara jasmani maupun mental, Bunda.
“Menurut aku, instead of aku berekspektasi soal kehamilan karena takutnya aku berekspektasi A, terus kelak kenyataannya B, itu kan kayak enggak enak ya sebenarnya,” tutur Debi.
“Jadi, aku lebih memilih untuk menyiapkan diri aku sebaik mungkin, secara jasmani dan mental untuk menyambut kehamilan itu sendiri sih. Jadi, memang sudah tidak terlalu banyak berekspektasi apa-apa,” sambungnya.
Debi Sagita ungkap pentingnya punya dukungan system
Tak memungkiri, Debi mengaku kerap cemas tentang kehamilannya. Namun, ia langsung menghilangkan emosi tersebut dengan mencari dukungan.
“Kalau aku lagi khawatir, jujur aku langsung ngobrol sama support system aku. Alhamdulillah aku tuh punya support system banyak amat ya. Ada suami, ada tabib obgyn aku juga, aku sebut dia sebagai support system,” ungkap Debi.
Menurutnya, kedatangan orang-orang terdekat sangat membantu melewati beragam kecemasan selama mengandung. Ia pun mengaku pernah merasa sendirian dan memilih memendam apa yang dirasakan.
“Dulunya tuh aku worry sendiri, mendem sendiri. Bahkan, aku tuh sempat ada di fase kayak, ‘Oh kok hamil ngerasa loney amat ya’. Terus akhirnya aku beraniin diri aku untuk ngobrol sama support system aku,” ujar Debi.
Setelah mencoba untuk terbuka mengenai apa yang dirasakan, ia menyadari bahwa berbagi cerita dapat membikin beban emosionalnya terasa lebih ringan. Dukungan dari orang-orang di sekitarnya pun perlahan membikin kondisi hatinya balik membaik.
“Dan bener amat rupanya ngobrol sama support system itu benar-benar ngaruh, yang tadinya aku pikir aku sendiri, aku bener-bener ngerasa di-support, disayang, didukung. Yang tadinya hatinya tuh kayak sedih, lumayan jadi terisi dan lebih ceria jadinya,” tutur Debi.
Alih-alih mencari semua keterangan dari internet, Debi justru mengaku membatasi penggunaan media sosial untuk mengurangi overthinking.
“Aku sangat mengurangi amat baca semua berita yang ada di media sosial. Jadi, aku juga nge-filter tuh jika misalnya lagi doubting myself, aku enggak mencari balasan di internet maupun media sosial,” ujar Debi.
Menurutnya, tidak semua keterangan pada platform tersebut berisi fakta. Untuk mengurangi kekhawatirannya, ia lebih memilih bertanya langsung pada ahli, Bunda.
“Karena menurut aku kadang enggak semua keterangan yang ada di media sosial, itu bikin kita tenang secara mental. Jadi, aku prefer ngobrol sama support system aku tadi,” tuturnya.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/pri)