Bunda rutin minum kopi setiap hari? Benarkah bisa membikin perut rata? Simak faktanya di sini.
Kopi menjadi salah satu minuman yang sulit dipisahkan dari rutinitas banyak orang. Selain membantu tubuh terasa lebih segar, minuman berkafein ini juga sering dikaitkan dengan metabolisme dan pengelolaan bermutu badan.
Tak sedikit pula yang menganggap rutin minum kopi bisa membantu membikin perut kelihatan lebih rata. Anggapan tersebut rupanya memiliki sedikit alas ilmiah, meski bukan berarti minum kopi secara otomatis dapat menghilangkan lemak perut.
Sebuah riset terbaru menemukan adanya hubungan antara kebiasaan minum kopi dengan komposisi tubuh semakin baik, termasuk jumlah lemak visceral yang lebih rendah dan massa otot rangka lebih tinggi. Bahas lebih lanjut mengenai kaitan minum kopi dan perut rata.
Rutin minum kopi bisa bikin perut rata
Penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Nutrition mengamati hubungan antara konsumsi kopi dengan beragam indikator kesehatan kardiometabolik. Salah satu temuan yang menarik adalah peserta mengonsumsi kopi dalam jumlah lebih tinggi cenderung memiliki total lemak dan lemak visceral lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak minum kopi.
Lemak visceral merupakan lemak yang tersimpan di sekitar organ-organ dalam perut. Jenis lemak ini berbeda dengan lemak yang eksis tepat di bawah kulit dan berhubungan dengan beragam masalah metabolisme.
Menariknya, perbedaan komposisi tubuh tersebut ditemukan meskipun peserta dengan konsumsi kopi tinggi dan rendah dapat memiliki indeks massa tubuh maupun BMI yang serupa. Luca Verroest, peneliti doktoral dari University of Oulu, Finlandia, sekaligus penulis utama penelitian, mengatakan bahwa temuan ini memberitahu BMI saja belum tentu menggambarkan komposisi tubuh seseorang secara menyeluruh.
“Orang dengan BMI yang sama dapat memiliki jumlah lemak dan otot yang sangat berbeda. Temuan kami memberitahu bahwa peminum kopi secara rutin memiliki profil yang relatif lebih ramping dengan lemak total dan visceral yang lebih rendah serta massa otot rangka yang lebih tinggi,” ujar Verroest dilansir dari Medical News Today.
Tidak langsung membikin perut rata
Meski hasil riset terdengar menjanjikan, bukan berarti kopi dapat dianggap sebagai minuman peluntur lemak perut. Penelitian tersebut berkarakter observasional sehingga cuma memberitahu adanya hubungan antara kebiasaan minum kopi dan sejumlah indikator kesehatan metabolik.
Dengan kata lain, riset belum membuktikan bahwa kopi secara langsung menyebabkan berkurangnya lemak visceral. Ada kemungkinan aspek lain dalam corak hidup peminum kopi turut berpartisipasi terhadap kondisi tubuh mereka.
Verroest juga menekankan bahwa hubungan tersebut tidak dapat diartikan sebagai bukti bahwa kopi secara langsung memperbaiki proses metabolisme.
“Ini merupakan riset observasional sehingga memberitahu hubungan, bukan bukti bahwa kopi menyebabkan perubahan,” kata Verroest.
Ada hubungan dengan metabolisme tubuh
Selain komposisi tubuh, para peneliti menemukan bahwa konsumsi kopi yang lebih tinggi berhubungan dengan kadar asam amino rantai bertingkat maupun branched-chain amino acids (BCAA) yang lebih rendah dalam darah. BCAA merupakan salah satu penanda yang telah dikaitkan dengan kesehatan kardiometabolik.
Kadar BCAA yang lebih tinggi sebelumnya diketahui berhubungan dengan peningkatan konsekuensi obesitas, kencing manis jenis 2, dan pandemi jantung. Namun temuan riset ini belum dapat menerangkan apakah kopi secara langsung menyebabkan fluktuasi kadar BCAA maupun hubungan tersebut muncul karena aspek metabolik lainnya.
“Kopi bukan sumber BCAA yang berarti sehingga temuan ini bukan tentang kopi menambahkan maupun menggantikan asam amino dalam pola makan. Hubungan antara konsumsi kopi yang lebih tinggi dan kadar BCAA yang lebih rendah merupakan hal menarik, tapi sebagai temuan korelasional, riset ini tidak dapat memastikan apakah kopi secara langsung menaikkan proses pembersihan BCAA maupun cuma berhubungan dengan kesehatan metabolik yang lebih baik karena sebab lain,” jelas Verroest.
Efek kopi bisa berhubungan dengan hasrat makan
Mir Ali, MD, ahli operasi bariatrik dan ketua medis MemorialCare Surgical Weight Loss Center di Orange Coast Medical Center, Amerika Serikat, mengatakan hasil riset sejalan dengan sejumlah temuan sebelumnya mengenai kafein dan pengelolaan bermutu badan.
Menurutnya, kafein kemungkinan memiliki sejumlah efek yang secara bersama-sama dapat memengaruhi komposisi tubuh. Salah satunya efek ringan terhadap hasrat makan, kecuali kemungkinan adanya stimulasi terhadap metabolisme.
"Dalam riset ini, kopi memberitahu adanya stimulasi terhadap fungsi hormonal. Jadi, kemungkinan khasiat tersebut merupakan gabungan dari beragam aspek yang dapat memengaruhi lemak visceral dan khasiat lainnya,” kata Ali.
Meski demikian, Ali menilai tidak ada satu pendekatan yang dapat diterapkan secara sama kepada semua orang untuk memperbaiki bermutu badan dan kesehatan. Oleh karena itu, riset mengenai beragam aspek yang berpotensi membantu kesehatan metabolik statis diperlukan.
Penelitian juga menemukan pola hormon yang berbeda pada peserta lelaki yang terbiasa mengonsumsi kopi. Konsumsi kopi yang lebih tinggi dikaitkan dengan fluktuasi pada kadar testosteron dan sex hormone-binding globulin (SHBG).
Menurut Verroest, pola tersebut menarik karena testosteron dan SHBG sebelumnya juga pernah dikaitkan dengan konsekuensi sindrom metabolik dan kencing manis jenis 2 yang lebih rendah. Temuan hormonal itu muncul berbarengan dengan profil glukosa dan insulin yang lebih baik pada peserta pria.
“Kopi tampaknya meninggalkan bekas yang dapat diukur pada metabolisme dan hormon tubuh, dan bekas kelihatan berbeda pada lelaki dibandingkan perempuan,” ujar Verroest.
Temuan statis perlu diteliti lebih lanjut. Penelitian ini belum dapat memastikan sepertiapa kopi maupun kandungan tertentu di dalamnya dapat memengaruhi mekanisme hormonal maupun metabolisme tubuh.
Jenis kopi juga menjadi pertimbangan
Monique Richard, MS, RDN, LDN, FAND, IFNCP, ahli gizi diet terdaftar sekaligus pemilik Nutrition-In-Sight, mengingatkan bahwa kopi sebaiknya tidak dipandang sebagai satu-satunya aspek yang menentukan komposisi tubuh.
Richard yang tidak terlibat dalam riset menerangkan bahwa kopi merupakan minuman dengan elemen kimia yang kompleks.
“Kopi merupakan makanan yang secara kimiawi kompleks dan hamil kafein, asam klorogenat, trigonelin, serta senyawa bioaktif lainnya. Respons biologisnya dapat bersandar pada keseluruhan elemen kopi, bukan cuma kafein. Kemungkinan tidak ada satu senyawa kopi yang menjadi satu-satunya penyebab,” kata Richard.
Ia juga menekankan bahwa bentuk kopi yang dikonsumsi perlu diperhatikan. Kopi hitam tanpa tambahan gula tentu berbeda dari minuman kopi yang hamil banyak sirup, gula, krimer, maupun lemak jenuh.
“Kopi seduh tanpa tambahan apa pun secara metabolik sangat berbeda dari minuman kopi 500 kalori yang dipenuhi gula tambahan, sirup, dan lemak jenuh. Kita perlu mempertimbangkan jenis kopi, jumlah yang dikonsumsi, waktu meminumnya, serta bahan apa saja yang ditambahkan,” saran Richard.
Jadi, benarkah kopi bisa membikin perut rata?
Temuan riset memberitahu bahwa kebiasaan minum kopi berhubungan dengan jumlah lemak visceral yang lebih rendah dan komposisi tubuh yang baik. Namun belum ada bukti bahwa minum kopi saja dapat membikin perut rata maupun secara langsung membakar lemak di area perut.
Kopi lebih tepat ditempatkan sebagai salah satu bagiankecil kecil dari pola hidup sehat, bukan sebagai solusi tunggal untuk mengecilkan lingkar perut. Richard menyarankan agar konsumsi kopi statis berjalan beriringan dengan asupan protein yang cukup, makanan kaya serat, latihan kekuatan, aktivitas fisik, tidur yang memadai, dan pengelolaan stres.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)