Cerita Semut Dan Merpati Beserta 5 Dongeng Lain Yang Penuh Pesan Moral

Apr 30, 2026 07:55 PM - 1 jam yang lalu 47

Dongeng bisa menjadi salah satu jenis cerita yang disukai anak-anak, lantaran kaya bakal pesan moral. Salah satunya dari cerita tentang Semut dan Merpati nih, Bunda.

Dikutip dari laman Kemenkes RI, dongeng dipahami sebagai cerita imajiner yang tidak betul-betul terjadi, baik narator maupun pendengarnya. Dongeng tidak terikat oleh pengaturan aktor, waktu, dan tempat yang konvensional dan realistis. 

Jenis cerita ini diceritakan terutama untuk hiburan, meskipun banyak juga dongeng yang menggambarkan kebenaran, mengandung aliran moral, apalagi berkarakter satir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Sementara itu, dikutip dari kitab Pendidikan Anak Usia Dini: Stimulasi dan Aspek Perkembangan Anak oleh Dadan Suryana, kegiatan mendongeng juga memberikan pengalaman belajar untuk anak berlatih mendengarkan. 

Melalui kegiatan ini, anak memperoleh beragam info tentang pengetahuan, nilai, sikap untuk dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh cerita dongeng yang kaya pesan moral

Membaca dan mendengar cerita membantu anak mengenal bunyi, kata, dan bahasa, serta mengembangkan keahlian literasi dini. Termasuk dari cerita dongeng, Bunda. 

Saat mendengar alias membaca dongeng, khayalan dan rasa mau tahu anak bakal juga turut berkembang. Berikut contoh cerita dongeng Semut dan Merpati, serta dongeng-dongeng lain yang penuh pesan moral:

1. Semut dan Burung Merpati

Seekor semut turun ke sungai mini untuk minum. Tiba-tiba ombak datang, menyeretnya dan hampir-hampir membuatnya tenggelam. 

Burung merpati yang sedang membawa ranting memandang semut tenggelam langsung melemparkan ranting itu ke sungai, untuk membantu semut menggapainya. Lalu semut duduk di atas ranting tadi dan selamat.

Kemudian datang seorang pemburu, bakal melempar jaring ke arah merpati dan menjeratnya. Semut terketuk hatinya untuk membalas budi pada merpati.

Ia merangkak mendekati si pemburu dan menggigit kakinya. Pemburu itu mengaduh kesakitan dan menjatuhkan jaringnya, sehingga merpati bisa meloloskan diri dan melesat terbang.

Pesan moral: 

Pentingnya saling tolong-menolong dan membalas kebaikan orang lain. Jangan juga meremehkan keahlian diri sendiri, lampau biasakan untuk melakukan baik lantaran ini bisa kembali pada diri nantinya.

Cerita dongeng ini dikutip dari kitab Si Kecil Filip Pergi Sekolah: 60 Dongeng Anak Rusia, oleh A. Fahrurodji.

2. Kisah Semut dan Kepompong

Seekor semut merayap dengan gesit di bawah sinar matahari. Memanjat pohon dan menelusuri ranting dengan lincah.

Dia sedang mencari makanan saat tiba-tiba dia memandang kepompong tergantung di selembar daun. Kepompong itu terlihat mulai bergerak-gerak sedikit, tanda apa yang ada di dalamnya bakal segera keluar.

Gerakan-gerakan dari kepompong tersebut menarik perhatian semut yang baru pertama kali ini memandang kepompong yang bisa bergerak-gerak. Dia mendekati dan berkata:

"Aduh iba sekali Anda ini," kata semut itu dengan nada antara iba dan menghina.

"Nasibmu malang sekali, sementara saya bisa lari ke sana kemari sekehendak hatiku. Dan jika saya mau saya bisa memanjat pohon yang tertinggi sekalipun, Anda terperangkap dalam kulitmu, hanya bisa menggerakkan sedikit saja tubuhmu."

Kepompong mendengar semua yang dikatakan oleh semut, tapi dia tak bersuara saja tidak menjawab.

Beberapa hari kemudian, saat semut kembali ke tempat kepompong tersebut, dia terkejut saat memandang kepompong itu sudah kosong. Yang ada hanya tinggal cangkangnya.

Saat dia sedang bertanya-tanya dalam hati apa yang terjadi dengan isi dari kepompong itu, tiba-tiba dia merasakan embusan angin dan adanya kepakan sayap kupu-kupu bagus di belakangnya.

"Wahai semut, lihatlah diriku sekarang baik-baik," kupu-kupu yang bagus menyapa semut yang tertegun melihatnya.

"Akulah makhluk yang kau kasihani beberapa hari lalu. Saat itu, saya tetap ada di dalam kepompong. Sekarang kau boleh sesumbar bahwa kau bisa berlari sigap dan memanjat tinggi. Tapi mungkin saya tidak bakal peduli, lantaran saya bakal terbang tinggi dan tidak mendengar apa yang kau katakan."

Sambil berbicara demikian, kupu-kupu itu terbang tinggi ke udara, meniti embusan angin dan dalam sekejap lenyap dari pandangan sang semut.

Pesan moral:

Jangan merendahkan orang lain lantaran terlihat mempunyai kondisi yang lemah dan tidak berdaya. Ini lantaran setiap orang bisa berubah dan berkembang menjadi lebih baik di masa depan.

Cerita ini dikutip dari kitab Strategi Pengembangan Bahasa pada Anak oleh Dra. Lilis Madyawati, M.Si.

3. Singa dan Tikus

Seekor singa sedang tidur ketika seekor tikus berlari melewati badan singa. Lalu singa itu terbangun dan menangkapnya.

Tikus memohon-mohon agar singa melepaskan dia dengan berjanji bakal melakukan baik padanya, lampau lantaran kasihan, dia melepaskan tikus itu.

Suatu hari pemburu menangkap singa dan mengikatnya dengan tali pada sebuah pohon. Si tikus mendengar singa mengaum kesakitan.

Ia berlari mendatanginya dan menggigiti tali seraya berkata: "Kamu ingat, dulu Anda tertawa dan tidak berpikir bahwa saya bisa melakukan baik padamu. Dan sekarang Anda lihat, seekor tikus pun bisa melakukan kebaikan."

Pesan moral:

Sebisa mungkin melakukan oke kepada siapa saja, lantaran kebaikan itu bisa kembali kepada kita dari mana saja.

Cerita ini dikutip dari buku Si Kecil Filip Pergi Sekolah: 60 Dongeng Anak Rusia, oleh A. Fahrurodji.

4. Tupai yang Sombong

 Tupai yang SombongDongeng Lucu Sebelum Tidur: Tupai yang Sombong/Foto: HaiBunda/Dwi Rachmi

Di suatu hutan, hiduplah seekor tupai yang sombong. Ia sering sekali mengejek hewan lainnya di hutan, salah satunya kura-kura dan kancil.

Ketika kura-kura dan kancil sedang asik bermain menangkap bola, tanpa sengaja bola yang dia lemparkan tersangkut ke pohon di samping mereka. Namun, mereka berdua kebingungan gimana mengambil bola tersebut.

Tiba-tiba tupai keluar dari kembali pohon sembari meloncat kesana kemari dan berbicara "Haha, iba sekali kalian!" ujarnya. Tupai kemudian mengambil bola yang tersangkut. Namun, ketika kura-kura meminta bola tersebut, tupai malah mengejeknya dan menyombongkan diri.

Sampai akhirnya kancil dan kura-kura pun memilih pulang lantaran jenuh memandang tingkah tupai yang sombong. Kancil pun berteriak bahwa bola tersebut direlakannya untuk tupai.

Tupai itu terkejut mendengar teriakkan kancil dan kehilangan konsentrasinya. Sehingga, dia tergelincir ke batang pohon dan terjatuh ke kubangan sisa air hujan. Akhirnya, tupai terjatuh ke dalam kubangan.

Sedangkan bola yang dipegangnya di ambil oleh kura-kura dan kancil. Sementara, kura-kura dan kancil tidak bisa menahan diri untuk tertawa memandang tubuh tupai dipenuhi dengan lumpur.

Pesan moral:

Janganlah menjadi anak yang sombong. Kita semua tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kesombongan hanya bakal membikin kita dijauhi banyak orang.

5. Gajah dan Semut 

Di masa lalu, ada lebih banyak rimba daripada sekarang, dan gajah liar sangat banyak. Pada suatu ketika, semut merah dan semut hitam sedang menggali tanah ketika seekor gajah liar muncul.

Gajah itu berkata, "Mengapa Anda menggali di sini? Aku bakal menginjak-injak semua pekerjaanmu."

Jawab semut, "Mengapa Anda berbincang seperti ini? Jangan memandang rendah kami lantaran kami kecil. Mungkin kami lebih baik darimu dalam beberapa hal."

Gajah itu berkata, "Jangan bicara omong kosong, tidak ada yang bisa mengalahkanku. Aku dalam segala perihal adalah hewan terbesar dan terkuat di muka bumi."

Kemudian semut berkata, "Baiklah, mari kita berkompetisi dan siapa yang bakal menang. Kecuali Anda menang, kami tidak bakal mengakui bahwa Anda adalah yang tertinggi."

Mendengar perihal ini, gajah menjadi marah dan berteriak, "Baiklah, mari kita mulai sekarang juga."

Gajah itu berlari dengan sekuat tenaga dan ketika lelah, dia memandang ke bawah tanah dan ada dua semut.

Jadi dia mulai lari lagi. Ketika dia berakhir dan memandang ke bawah, ada dua semut di tanah jadi dia berlari lagi. Tetapi di mana pun dia berhenti, dia memandang semut, dan akhirnya dia berlari sejauh itu hingga meninggal dari kelelahan.

Ada pepatah bahwa semut lebih banyak di bumi ini daripada jenis makhluk hidup lainnya, dan yang terjadi adalah kedua semut itu tidak pernah berlari sama sekali tetapi tetap di tempatnya.

Setiap kali gajah memandang ke tanah, dia memandang beberapa semut berlarian dan berpikir bahwa mereka adalah dua semut yang pertama, dan karenanya gajah berlari terus-menerus.

Pesan moral:

Sikap sombong gajah membuatnya bertindak tanpa berpikir dan akhirnya merugikan dirinya sendiri hingga kelelahan. Jadi, kerendahan hati dan kecerdikan lebih krusial daripada kesombongan dan kekuatan bentuk semata.

Cerita dongeng ini dikutip dari kitab Kumpulan Dongeng Gajah oleh Yoyok Rahayu Basuki.

6. Kebati, Kelelawar yang Baik Hati

Di sebuah rimba Nusa Tenggara Barat, hiduplah sekelompok komodo, burung kakak tua, musang, kelelawar dan beberapa jenis hewan lainnya. 

Mereka hidup rukun dan saling berdampingan. Di antara masyarakat hutan, ada seekor kelelawar yang terkenal baik hati. Kelelawar tersebut biasa dipanggil Kebati. 

Ia suka membantu masyarakat rimba yang sedang mendapat kesulitan. 

Suatu malam, terdengar tante burung kakak tua meminta tolong. "Toloooong!! Toloooooong!! Tolooooong!!".

Mendengar perihal itu kelelawar segera mendatangi tante burung kakak tua. "Ada apa Bibi, malam-malam begini berteriak meminta tolong?" tanya Kebati.

"Anakku sakit dan saya tidak bisa pergi mencari obat lantaran cuaca di luar gelap," ungkap tante kakak tua sembari meneteskan air mata.

Bibi kakak tua sangat sayang pada anak-anaknya. Namun dia tidak dapat melakukan apa-apa malam itu. Cuaca di luar gelap dan udara dinginnya tidak seperti hari-hari biasa. Mungkin perihal itu yang menjadikan anaknya demam tinggi.

Sebagai orang tua tentu tante kakak tua sangat panik. Ia tidak dapat melakukan apa-apa selain bermohon dan meminta support kepada masyarakat hutan.

Melihat perihal itu Kebati kemudian menanyakan obat yang dibutuhkan kepada tante kakak tua. "Obat yang dibutuhkan bisa diambil di mana? Biar saya yang mengambilnya," tanya Kebati sembari menatap tante kakak tua.

"Obat itu ada di perbatasan hutan. Cukup jauh tempatnya dari sini. Obat itu berjulukan daun katuk. Mustahil untuk mengambilnya di cuaca gelap seperti ini," ungkap tante kakak tua padanya.

"Tunggu sebentar! Aku bakal mengambilkannya untuk anakmu, Bi." kata Kebati seraya bergegas terbang untuk mencari tanaman yang dimaksud.

Di malam yang dingin, Kebati terbang menuju perbatasan hutan. Dalam kegelapan, dia mengandalkan keahlian ekolokasi yang dimilikinya. 

Ia bisa mengeluarkan bunyi berfrekuensi tinggi untuk dipantulkan ke barang yang ada di sekitarnya dan dipantulkan kembali ke telingga.

Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, sampailah Kebati di perbatasan hutan. Ia mulai mencari daun katuk dengan keahlian ekolokasinya.

Setelah menemukan daun katuk yang dia cari, Kebati segera pulang, untuk memberikan daun itu kepada tante kakak tua.

Betapa senang tante kakak tua memandang Kebati datang membawa daun katuk. Tanpa buang waktu, tante kakak tua segera meramu daun katuk sebagai obat demam untuk anaknya. 

Setelah meminum ramuan obat daun katuk, anaknya pun sembuh. Pagi harinya, Bibi kakak tua berjamu ke rumah Kebati. 

Bibi mengucapkan terimakasih dan memberikan bermacam-bermacam buah segar yang baru dipetiknya. Bibi kakak tua dan masyarakat rimba semakin sayang pada Kebati, buah kepribadiannya yang baik hati.

Pesan moral:

Ketika kita melakukan kebaikan, maka orang lain bakal memberikan jawaban kebaikan tanpa kita sadari di awal.

Dongeng ini dikutip dari kitab 5 Dongeng Anak Dunia oleh Dedik Dwi Prihatmoko, yang diterbitkan oleh Kemendikbud RI.

7. Ikan Koi yang Sombong

 ikan koi yang sombongDongeng anak: ikan koi yang sombong/Foto: HaiBunda/Dara Dinanti Firzada

Di sebuah kolam yang jernih, hiduplah seekor ikan koi berjulukan Kila. Kila mempunyai corak yang sangat indah. sisiknya berwarna emas dengan guratan merah seperti mentari terbit. 

Karena keindahannya, Kila sering kali merasa dirinya lebih dahsyat dari ikan-ikan koi lainnya di kolam itu.

"Lihatlah sungguh cantiknya aku," kata Kila suatu hari kepada teman-temannya. "Sisikku berbinar-binar seperti kekayaan karun. Tidak ada satu pun dari kalian yang bisa menandingiku!"

Koko, Rara, dan Ciko teman-temannya, hanya tersenyum mendengar ucapan Kila. Mereka tidak mau bertengkar, meski dalam hati merasa sedih lantaran selalu diremehkan.

Suatu hari, Kila memandang sesuatu yang mengapung di atas kolam. Itu adalah biji dari tanaman liar yang jatuh ke dalam air. Bentuknya unik, dan Kila penasaran. "Pasti lezat dimakan," pikirnya.

Tanpa berpikir panjang, Kila melahap biji itu. Awalnya tidak terjadi apa-apa, tetapi beberapa jam kemudian perut Kila mulai terasa sakit. Sisiknya yang berbinar-binar mulai memudar, dan tubuhnya terasa lemas. Kila tidak bisa berenang secepat biasanya.

"Kila, ada apa denganmu?" tanya Bima khawatir.

"Aku merasa sangat sakit," jawab Kila dengan bunyi lemah. "Aku tidak tahu kenapa."

Rara memandang sesuatu yang tersangkut di insang Kila. "Kila, Anda menyantap sesuatu yang bukan makananmu, ya? Ini berbahaya!" katanya.

Meski pernah diremehkan, teman-teman koi lainnya tidak membiarkan Kila menderita. Mereka segera membantu Kila membersihkan insangnya dan mencarikan tanaman air yang bisa membantu memulihkan kesehatan Kila.

Selama berminggu-minggu, mereka menjaga Kila, memastikan dia makan dengan baik dan tidak terlalu banyak bergerak agar lekas sembuh.

Lama-kelamaan, Kila mulai pulih, meski sisiknya tidak seindah dulu. Ia merasa malu kepada teman-temannya. "Maafkan aku," kata Kila dengan tulus. "Aku sudah sombong dan sering meremehkan kalian. Tapi kalian tetap menolongku saat saya dalam kesulitan. Terima kasih."

"Kami adalah teman, Kila," jawab Ciko. "Tidak peduli gimana sikapmu sebelumnya, kami bakal selalu membantumu."

Sejak hari itu, Kila berubah menjadi ikan koi yang rendah hati. Ia sadar bahwa keelokan sejati tidak hanya berasal dari luar, tetapi juga dari hati yang baik dan penuh syukur.

Pesan moral:

Penting untuk selalu bersikap rendah hati dan tidak sombong pada sesama. Cerita dikutip dari Kampung Dongeng Tangsel.

8. Si Kancil Mencuri Mentimun

Suatu hari Kancil jalan-jalan ke ladang mentimun milik manusia. Lalu Kancil tergiur untuk mengambil dan memakannya. Lalu dia terus menyantap mentimun sampai kenyang.

Sore harinya, Pak Tani pemilik ladang datang ke ladang dan sangat marah memandang timun-timunnya telah lenyap dan ladangnya berantakan. Esoknya Kancil datang lagi ke ladang untuk meminta maaf dan berupaya menyentuh kaki Pak Tani.

Ternyata yang disentuhnya bukanlah Pak Tani melainkan orang-orangan sawah yang sudah dilumuri oleh getah pohon, sehingga membikin Kancil terperangkap dan tidak bisa berjalan.

Saat Pak Tani datang, Pak Tani langsung menangkap Kancil dan membawa Kancil pulang ke rumah dan mengurungnya dengan rasa marah.

Pesan moral:

Penting untuk memahami bahwa kita tidak boleh mengambil milik orang lain tanpa izin, karena itu merupakan perbuatan mencuri dan bakal membikin orang yang dicuri marah.

Itulah penjelasan tentang cerita-cerita dongeng yang penuh pesan moral. Sebisa mungkin sediakan waktu rutin untuk membaca kitab berbareng Si Kecil, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Selengkapnya