Orang yang suka menyendiri bukan berfaedah kesepian, Bunda. Ada orang yang justru merasa nyaman ketika menghabiskan waktu seorang diri. Suka menyendiri dan merasa kesenyapan merupakan dua perihal yang berbeda, lho.
Penelitian mengenai kemauan seseorang untuk menyendiri menunjukkan bahwa orang yang menikmati kesendirian tidak selalu sesuai dengan stereotip sebagai pribadi yang bermasalah alias antisosial. Bahkan, beberapa karakter kepribadian tertentu justru terlihat pada orang yang nyaman menghabiskan waktu seorang diri.
Ciri orang yang suka menyendiri tetapi bukan berfaedah kesepian
Orang yang suka menyendiri merasa nyaman dengan kesendiriannya, bukan lantaran merasa kesepian.
Melansir Psychology Today, Anneli Rufus dalam bukunya yang berjudul Party of One: The Loners’ Manifesto, mengungkapkan bahwa penyendiri sejati adalah orang yang menikmati waktu ketika sedang sendiri.
Sementara itu, orang yang menyendiri lantaran terpaksa justru dapat merasa dikucilkan dan ditolak. Kondisi tersebut dapat memicu kemarahan alias permusuhan pada sebagian orang.
Karena itu, krusial untuk memahami bahwa suka menyendiri tidak selalu berfaedah seseorang merasa kesepian.
Salah satu makna "sendiri" adalah menghabiskan waktu seorang diri. Hal ini berangkaian dengan Desire for Being Alone, ialah skala yang dikembangkan untuk mengukur kemauan seseorang menghabiskan waktu sendirian.
Penelitian tentang preference for solitude juga menunjukkan bahwa kecenderungan menikmati waktu sendiri merupakan karakter yang dapat berbeda pada setiap orang.
Preferensi terhadap kesendirian tidak bisa disamakan begitu saja dengan introversi alias ketidakmampuan bersosialisasi. Seperti apa karakter orang yang suka menyendiri? Berikut beberapa di antaranya yang dirangkum dari beragam sumber.
1. Merasa relaks saat sendirian
Pada sebagian orang, waktu sendiri justru menjadi kesempatan untuk beristirahat dari beragam kegiatan sosial. Mereka bisa membaca buku, menonton film, mengerjakan hobi, alias sekadar menikmati suasana rumah tanpa merasa kudu membujuk orang lain.
Dalam skala Desire for Being Alone yang dibahas Psychology Today, orang dengan kemauan menyendiri yang tinggi condong menyetujui pernyataan seperti merasa rileks ketika sendirian dan menyukai kondisi betul-betul sendiri.
Jadi, memilih menghabiskan waktu seorang diri tidak selalu berfaedah sedang menjauh dari orang lain.
2. Tetap bisa menjalin hubungan sosial
Suka menyendiri bukan berfaedah seseorang tidak menyukai orang lain alias tidak bisa menjalin hubungan sosial.
Penelitian yang membahas preferensi terhadap kesendirian menunjukkan bahwa kecenderungan menikmati waktu sendiri merupakan perihal yang berbeda dari sekadar sifat introvert-ekstrovert.
Dalam penelitian awal mengenai preference for solitude, preferensi menyendiri apalagi dapat memprediksi kecenderungan seseorang menghabiskan waktu sendiri di luar pengaruh introversi-ekstroversi.
Ini artinya, seseorang bisa saja senang menghabiskan waktu seorang diri sekaligus tetap mempunyai keluarga, teman, komunitas, alias lingkungan sosial yang dekat.
3. Menikmati kegiatan yang dilakukan seorang diri
Pada sebagian orang, kesendirian bukan sekadar kondisi ketika sedang tidak berbareng orang lain. Waktu tersebut juga dapat digunakan untuk melakukan kegiatan yang memang mereka sukai.
Penelitian mengenai positive solitude menggambarkan kesendirian yang dipilih secara sadar untuk melakukan kegiatan yang bermakna, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun kognitif.
Penelitian lain pada orang dewasa yang lebih tua juga menemukan bahwa menikmati kesendirian dan merasa produktif ketika sendirian berangkaian dengan beberapa aspek kesejahteraan subjektif.
Karena itu, orang yang suka menyendiri belum tentu sedang menghindari orang lain. Ini bisa jadi lantaran mereka memang menikmati kegiatan yang dilakukan ketika sedang sendiri.
4. Tidak otomatis merasa kesepian
Sendirian dan kesenyapan merupakan dua perihal yang berbeda. Seseorang bisa saja menghabiskan waktu seorang diri tanpa merasa kehilangan hubungan sosial.
Dalam penelitian mengenai positive solitude, pengalaman menyendiri yang positif mempunyai beberapa karakteristik, ialah dilakukan atas pilihan sendiri, terasa menyenangkan, dan dianggap bermakna. Konsep ini juga digunakan untuk membedakannya dari corak kesendirian yang tidak diinginkan.
Namun, menikmati kesendirian bukan berfaedah seseorang kebal terhadap rasa kesepian. Pengalaman seseorang ketika sendiri tetap dapat dipengaruhi oleh kebutuhan sosial, kondisi psikologis, serta apakah kesendirian tersebut memang dipilih alias tidak.
5. Bisa merasa lebih tenang setelah punya waktu untuk diri sendiri
Untuk orang tertentu, waktu sendiri dapat menjadi kesempatan untuk memulihkan diri setelah menjalani beragam aktivitas.
Penelitian mengenai pengalaman solitude menemukan bahwa rasa nyaman ketika sendirian berangkaian dengan karakter pribadi dan langkah seseorang memandang waktu yang dihabiskan seorang diri.
Penelitian lain pada orang tua yang mempunyai anak juga menemukan bahwa pada hari ketika mereka mendapatkan waktu untuk diri sendiri, mereka mengalami lebih sedikit emosi negatif dan tanda pemulihan stres yang lebih baik.
Jadi, kebutuhan untuk mempunyai waktu sendiri tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang sedang menarik diri dari lingkungan sosial.
6. Tetap datang dalam kehidupan sosial yang dianggap penting
Menikmati kesendirian bukan berfaedah seseorang kudu menghilang dari kehidupan sosial.
Seseorang tetap bisa menghadiri kegiatan keluarga, berjumpa teman, menjalankan kegemaran berbareng orang lain, alias menjaga hubungan dengan orang-orang yang dianggap penting.
Penelitian juga menunjukkan bahwa pengalaman menikmati kesendirian tidak sesederhana membagi orang menjadi introvert yang suka sendiri dan ekstrovert yang suka bersosialisasi.
Dalam penelitian terhadap mahasiswa, introversi apalagi tidak terbukti memprediksi preferensi alias motivasi seseorang untuk menikmati waktu sendiri.
Dengan kata lain, seseorang bisa menikmati kesendirian sekaligus tetap mempunyai hubungan sosial yang bermakna.
Suka menyendiri berbeda dengan kesepian
Kesendirian tidak kudu selalu dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Ada orang yang merasa energinya kembali setelah mempunyai waktu untuk diri sendiri. Sebaliknya, ada juga orang yang berada di tengah banyak orang tetapi tetap merasa tidak mempunyai hubungan yang bermakna.
Oleh lantaran itu, memandang seseorang yang sering sendiri lampau langsung menyimpulkan bahwa dia kesenyapan tentu kurang tepat.
Penelitian tentang kemauan untuk menyendiri apalagi menunjukkan bahwa orang yang memang menikmati waktu sendiri tidak selalu mempunyai karakter kepribadian negatif, seperti yang sering diasumsikan masyarakat.
Dalam studi yang dirangkum Bella DePaulo, mereka condong mempunyai tingkat neurotisisme yang lebih rendah dan lebih terbuka terhadap pengalaman dibandingkan stereotip tentang seorang penyendiri.
Pada akhirnya, apakah seseorang suka menyendiri, senang bersosialisasi, alias berada di antara keduanya merupakan bagian dari kepribadian yang kompleks. Jadi, jika Bunda sesekali lebih memilih menikmati waktu sendiri, itu tidak otomatis menandakan Bunda sedang kesepian.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)