Diduga Insider Polymarket Raup Rp9,7 Miliar dari Prediksi Gencatan Senjata AS-Iran

Berita Bitcoin, Kripto dan Bisnis Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 2 menit 121421x dilihat
Diduga Insider Polymarket Raup Rp9,7 Miliar dari Prediksi Gencatan Senjata AS-Iran

Kincai Media – Sekelompok akun yang diduga mempunyai info lebih awal (insider) dilaporkan meraup untung besar di pasar prediksi Polymarket terkait kemungkinan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.

Analisis on-chain dari Bubblemaps menyebut kelompok tersebut menghasilkan lebih dari US$ 600.000 alias sekitar Rp 9,7 miliar hanya dalam satu hari perdagangan.

Keuntungan itu datang dari serangkaian kontrak yang memprediksi waktu gencatan senjata; akun-akun yang teridentifikasi, seperti “djijaij83jdo4jdlwjflsg”, “Elonfax89678”, dan “Skoobidoobnj”, dilaporkan meraih sekitar US$ 611.000 usai pengumuman dari Donald Trump.

Mereka memasang taruhan pada skenario gencatan senjata terjadi sebelum 7 April dan 15 April, yang pada akhirnya terbukti benar.

Tidak semua taruhan sukses: kelompok ini sempat menanggung kerugian hampir US$ 50.000 akibat prediksi dengan tenggat waktu yang meleset.

Menurut Bubblemaps, akun-akun tersebut aktif sejak 2024 dan secara konsisten sering tepat memprediksi peristiwa militer besar, termasuk serangan mendadak yang melibatkan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.

Pada periode sebelumnya, mereka bahkan tercatat meraup untung hingga US$ 1,2 juta dari taruhan terkait tindakan militer tersebut.

"Cluster ini telah berulang kali memenangkan taruhan mengenai operasi militer yang tidak terduga," kata perwakilan Bubblemaps.

Meski pola kemenangan mereka menimbulkan kecurigaan, Bubblemaps menegaskan belum ditemukan bukti definitif bahwa akun-akun itu memiliki akses ke informasi rahasia.

Firma itu mengatakan besarnya ukuran taruhan dan ketepatan timing belum cukup untuk membuktikan adanya insider trading, tetapi rekam jejak yang konsisten memicu spekulasi bahwa mereka mungkin memiliki akses informasi lebih baik dibanding trader biasa.

Kasus ini menambah daftar kontroversi terkait dugaan insider trading di platform pasar prediksi. Gubernur California, Gavin Newsom, sebelumnya mengkritik praktik semacam ini dan menuding potensi penyalahgunaan informasi oleh pihak internal pemerintahan.

Beberapa platform, termasuk Kalshi, merespons dengan memperketat aturan — antara lain melarang politisi dan pihak terkait tertentu berpartisipasi pada pasar prediksi sensitif.

Kasus serupa tercatat sebelumnya: ada trader yang meraup lebih dari US$ 430.000 dari prediksi politik di Venezuela, serta insiden individu yang memanfaatkan informasi militer rahasia untuk trading.

Koalisi Prediction Markets yang mencakup perusahaan seperti Coinbase dan Robinhood menegaskan penggunaan informasi non-publik dalam trading adalah ilegal dan mendorong pengawasan regulator serta penerapan Know Your Customer (KYC) untuk mencegah penyalahgunaan.

Artikel Lainnya Berita Bitcoin, Kripto dan Bisnis

Bagikan Postingan