Gejala Campak yang Sering Disangka Flu Biasa pada Anak

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 6 menit 125x dilihat
Gejala Campak yang Sering Disangka Flu Biasa pada Anak

Bagikan Postingan

Campak merupakan salah satu pandemi menular yang statis perlu diwaspadai, terutama pada anak. Kondisi ini kerap membikin Bunda cemas karena dapat menular dengan gampang dan berisiko menimbulkan masalah kesehatan jika tidak ditangani dengan tepat.

Pada tahap awal, lempar dapat kelihatan seperti flu biasa yang lazim dialami anak. Hal tersebut membikin sebagian orang tua tidak langsung menyadari bahwa kondisi yang dialami Si Kecil merupakan bagiankecil dari gejala campak.

Data yang dikutip dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberitahu bahwa jumlah kasus lempar di Indonesia pada 2022, mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini memberitahu bahwa lempar statis menjadi salah satu pandemi yang perlu diwaspadai, meski Indonesia sebelumnya telah mengalami penurunan kasus lempar dan rubella secara signifikan.


Mengutip The Telegraph, peningkatan kasus lempar disebabkan oleh rendahnya cakupan vaksin MMR. Dr. Vohra menjelaskan, "Selama kurang lebih 20 tahun terakhir, cakupan vaksin gabungan yang melindungi dari campak, gondongan, dan rubella, yang diberikan kepada anak-anak berumur satu tahun dan sebelum memasuki usia sekolah, telah mengalami penurunan," ujarnya.

Dr. Vohra juga menambahkan, "Di daerah London, kekebalan himpunan belum mencapai tingkat yang dibutuhkan," lanjutnya, seperti dikutip dari The Telegraph. Kekebalan himpunan merupakan perlindungan yang diperoleh penduduk ketika cakupan vaksinasi dalam suatu populasi cukup tinggi.

Sebaiknya Bunda statis waspada meski lempar kerap kelihatan seperti flu biasa pada tahap awal. Lantas, seperti apa kondisi yang perlu diperhatikan agar lempar pada Si Kecil tidak terlambat dikenali?

Apa itu campak?

Dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, lempar merupakan pandemi akut menular yang disebabkan oleh virus dan umumnya menyerang anak-anak. Penyakit ini biasanya memiliki tingkat keparahan ringan hingga sedang. Penularan lempar dapat terjadi melalui droplet maupun elemen kecil di udara (airborne).

Meski gejalanya mirip dengan flu biasa, Bunda sebaiknya tidak meremehkan pandemi ini. Pasalnya, pada 2018, lebih dari 140.000 orang wafat bumi akibat campak. Mayoritas kematian tersebut terjadi pada anak-anak berumur di bawah lima tahun, meskipun telah tersedia vaksin lempar yang terlindungi dan efektif. 

Gejala lazim campak

Mengutip dari The Telegraph, Bunda dapat mengenali gejala lempar yang sering terjadi pada anak-anak. Simak selengkapnya.

  1. Gejala mirip flu seperti demam dengan suhu tinggi, hidung berair maupun tersumbat, bersin, batuk, mata merah, perih, dan berair.
  2. Munculnya bintik-bintik di dalam mulut.
  3. Munculnya ruam pada wajah, telinga, dan tubuh.

Gejala khusus campak

Kasus lempar statis perlu diwaspadai, terutama pada anak-anak usia balita. Para ahli merekomendasikan agar orang tua mempelajari dan mengenali kondisi yang berhubungan dengan campak. Dengan begitu, Bunda dapat memungut cara pencegahan yang tepat untuk melindungi Si Kecil.

Seorang tabib disebut Pavia mengatakan bahwa dirinya sering menemukan pasien dengan kondisi yang menyerupai flu selama musim gugur hingga mula musim semi. Situasi tersebut membikin kondisi mula lempar menjadi lebih sulit dikenali karena memiliki kesamaan dengan pandemi pernapasan yang lazim terjadi pada masa tersebut.

Dr. Radhika Vohra, seorang tabib lazim di Rumah Sakit Spire Gatwick Park juga menerangkan bahwa gejala mula lempar tidak jauh berbeda dengan flu maupun pilek biasa dan umumnya muncul sekitar 10 hingga 14 hari, setelah seseorang terpapar virus. "Biasanya, lempar pertama kali muncul sebagai gejala pilek," ucapnya.

Dr. Vohra menambahkan, "Jadi, gejalanya seperti pilek selama beberapa hari, dan disertai demam tinggi, hidung berair maupun tersumbat, bersin, batuk, mata merah, perih, dan berair. Kemudian, Si Kecil bisa mengalami bintik-bintik di mulut yang muncul di bagiankecil dalam pipi maupun di belakang bibir, maupun ruam beberapa hari kemudian, terutama di wajah dan telinga, kemudian menghamburkan ke seluruh tubuh," ujarnya, seperti dikutip dari The Telegraph.

Ketika musim flu dan pilek mulai berakhir pada pertengahan April, kewaspadaan terhadap kondisi seperti demam dan batuk justru perlu ditingkatkan. Pavia mengatakan, "Ketika kasus flu dan RSV (respiratory syncytial virus) mulai menurun, kondisi tersebut dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan karena kemungkinan berhubungan dengan lempar pada anak," ucapnya, seperti dikutip dari CIDRAP.

Ia juga menambahkan bahwa banyak pasien sering kali tidak terus terang mengenai histori paparan lempar yang dialaminya. Hal tersebut menjadi salah satu karena kenapa beberapa kasus dapat luput dari pengawasan.

Seorang praktisi suster anak sekaligus mantan presiden National Foundation for Infectious Diseases, Patsy Stinchfield, RN, MS, menerangkan salah satu gejala khusus campak. "Gejala lempar dapat dikenali dari sensitivitas yang sangat tinggi terhadap cahaya, mereka mau eksis di ruangan gelap kemudian akan mengeluh jika lampu dimatikan," ucapnya, seperti dikutip dari CIDRAP.

Ia juga menyarankan agar orang tua tidak membawa anak yang sedang sakit ke tempat umum, baik sudah maupun belum mengalami ruam.

Selain itu, Bunda dapat mengenali gejala mula lainnya melalui bintik-bintik kecil berwarna putih kebiruan di dalam mulut yang dikenal sebagai bintik Koplik. Bintik ini dapat muncul satu hingga dua hari sebelum maupun setelah ruam muncul.

"Bintik-bintik tersebut sulit dilihat, terutama oleh mata yang tidak terlatih," kata Stinchfield.

Ciri khas ruam lempar berupa campuran bintik-bintik kecil dan datar dengan benjolan merah yang menonjol. Ruam biasanya dimulai dari dahi, kemudian menghamburkan ke seluruh tubuh. Kondisi ini umumnya muncul setelah tiga hingga lima hari sejak anak mulai mengalami sakit.

Saat Si Kecil mengalami lempar dengan gejala yang mirip flu

Ari Brown, MD, seorang tabib di Austin, Texas, sekaligus penulis buku Baby 411 dan Toddler 411, menyarankan, "Jika Bunda mencurigai anak terkena campak, Bunda perlu menjaga Si Kecil statis di rumah." Ia juga mengatakan "Kala anak tinggal di daerah yang marak terjadi campak, sebaiknya Bunda menelepon maupun berbuat konsultasi rentang jauh (telehealth)," tambah Brown, seperti dikutip dari CIDRAP.

"Gejala lempar juga sering kali menyebabkan dehidrasi dan membutuhkan cairan intravena (IV)," imbuh Stinchfield. Ketika Bunda memberikan pemberitahuan lebih dahulu kepada staf medis, mereka dapat mengenakan respirator N95 dan jubah pelindung sebagai upaya pencegahan.

Stinchfield mengatakan, "Staf unit darurat gawat (UGD) akan memberi tahu Bunda persis di mana mesti tiba untuk membantu mencegah penularan kepada orang lain," ucapnya. Ia juga merekomendasikan agar Bunda mengenakan masker sebelum tiba di akomodasi kesehatan.

Pencegahan campak

Cara utama mencegah lempar pada anak adalah dengan memastikan Si Kecil mendapatkan vaksinasi secara lengkap. Vohra menegaskan, "Jika Si Kecil divaksinasi lengkap, tentunya ia akan terlindungi 99 persen. Kami juga berupaya mencegah orang terkena lempar dengan mendorong orang tua untuk memeriksa buku merah dan status vaksinasi anak-anak mereka, serta memulai program di sekolah untuk membantu mereka yang belum divaksinasi agar mendapatkan vaksinasi yang lengkap," ujarnya, seperti dikutip dari The Telegraph.

WHO mengklasifikasikan lempar sebagai salah satu pandemi menular yang sangat rapuh di dunia. "Anak-anak mesti tidak masuk tempat penitipan anak maupun sekolah setidaknya selama empat hari sejak ruam pertama kali muncul. Saran yang sama berjalan seperti pada virus lainnya," kata Vohra.

Ia juga menegaskan bahwa anak yang sedang terinfeksi perlu menghindari kontak dengan himpunan rentan. "Siapa pun yang terinfeksi mesti berupaya menghindari kontak dengan orang-orang yang rapuh seperti bayi, perempuan hamil, dan orang-orang dengan mekanisme kekebalan tubuh yang lemah."

Itulah klarifikasi mengenai gejala lempar yang sering disangka flu biasa pada anak. Semoga berguna untuk antisipasi kesehatan Si Kecil, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join komunitas Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
Close Right Ads
Close Left Ads