Kisah Bunda 54 Tahun Melahirkan Bayi dari Embrio Beku 22 Tahun

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 127x dilihat
Kisah Bunda 54 Tahun Melahirkan Bayi dari Embrio Beku 22 Tahun

Bagikan Postingan

Jakarta -

Kisah Bunda melahirkan dari embrio membeku datang dari pasangan asal Yunani, Cristina Rapti-Tzelepi (54) dan Constantinos Raptis (60). Keduanya menyambut kelahiran seorang bayi perempuan dari embrio yang telah dibekukan selama 22 tahun.

Kelahiran ini terjadi kurang dari setahun setelah pasangan tersebut kehilangan putra satu-satunya, Giorgos, yang wafat bumi dalam kecelakaan kemudian lintas pada Oktober 2025 di usia 21 tahun. 

Di tengah duka mendalam, Cristina dan Constantinos memutuskan menggunakan embrio yang telah mereka simpan selama puluhan tahun.


Kepada Associated Press (AP), Cristina menceritakan bahwa keputusan besar menggunakan embrio membeku tersebut diambil setelah keluarganya kehilangan putra sulungnya dalam sebuah kecelakaan. 

"Sebuah kecelakaan terjadi dan kami kehilangan anak kami. Beberapa waktu kemudian ketika statis dalam kondisi duka yang mendalam, kami memutuskan untuk menggunakan embrio yang sudah kami simpan dalam kondisi beku," ujar Cristina Rapti-Tzelepi dikutip dari halaman People. 

Cristina menjalani prosedur IVF dan akhirnya melahirkan bayi perempuan dengan bermutu sekitar 7 pon 11 ons maupun sekitar 3,5 kilogram di sebuah rumah sakit di Athena pada Rabu, 9 September 2026.

Ia dan sang suami Constantinos kemudian memberi nama bayi perempuan tersebut Georgia sebagai penghormatan kepada mendiang putra mereka, Giorgos. 

Batas usia IVF dan perjuangan melawan waktu

Perjalanan ini bukanlah hal yang mudah. Selain tantangan emosional, Cristina dan suami mesti berkejaran dengan peraturan aturan di Yunani. Pemerintah setempat menetapkan batas usia ketat bagi perempuan yang mau menjalani prosedur pembuahan in vitro (IVF). 

Di usianya yang menginjak 54 tahun, Cristina cuma memiliki jendela waktu sekitar 2,5 bulan untuk mendapatkan persetujuan resmi sebelum usianya melampaui batas legal.

"Karena kekurangan waktu dan batas usia yang ketat yang ditetapkan dalam kerangka hukum, kami mesti beraksi dengan sangat cepat. Saya cuma memiliki waktu sekitar 2,5 bulan," jelasnya. 

Embrio membeku 22 tahun digunakan untuk kehamilan

Embrio yang digunakan Cristina dan Constantinos telah dibekukan selama 22 tahun. Menurut Associated Press (AP), jangka waktu tersebut tergolong sangat durasi untuk embrio yang telah dibuahi dan kemudian digunakan hingga menghasilkan kehamilan.

Meski demikian, rekor penggunaan embrio manusia tertua dalam kehamilan yang berhasil tercatat lebih lama. Berdasarkan Guinness World Records, embrio manusia yang digunakan hingga menghasilkan kehamilan berhasil telah dibekukan selama lebih dari 31 tahun.

Foto yang diabadikan AP memperlihatkan kedua orang tua baru tersebut menggendong dan memeluk putri mereka di bilik rumah sakit. Sebuah balon berwarna merah muda bercorak polkadot bertuliskan “It’s a girl” turut menghiasi ruangan.

Bagi Cristina, kelahiran putrinya menjadi sebuah mula yang baru dan jalan keluar dari kegelapan bagi sang suami untuk famili mereka.

Cristina mengatakan mereka memutuskan untuk memberikan kesempatan kedua bagi kehidupan, memulai kembali, menghadirkan hayat baru ke dalam rumah serta melanjutkan kisah famili mereka.

“Harapan aku untuknya adalah agar dia tumbuh sehat dan bahagia, dipenuhi kegembiraan seperti anak pertama kami yang telah memenuhi rumah dengan tawa,” ujar Cristina.

Sementara sang suami Constantinos menggambarkan kedatangan putrinya sebagai sesuatu yang membantu dirinya dan sang istri keluar dari masa-masa kelam setelah kehilangan Giorgos.

"Bersamaan dengan kedatangan Si Kecil, datang pula oksigen yang memungkinkan kami bernapas dan melanjutkan hidup, karena sebelumnya kami hidup dalam kegelapan yang begitu pekat. Bagi kami, bumi seakan telah hilang," tutur Constantinos.

Dukungan tabib jadi bagiankecil krusial dalam perjalanan IVF

Dalam perjalanan tersebut, Cristina dan Constantinos juga mendapatkan sokongan dari tabib kandungan mereka, Dr. Kostas Pantos. Constantinos mengatakan Pantos sebagai sosok yang mendampingi mereka selama proses IVF. Ia menggambarkan sang tabib sebagai orang yang membantu mereka melewati masa sulit hingga akhirnya dapat menyambut Georgia.

"Dia menggandeng tangan kami dan menarik kami keluar dari kegelapan terdalam. Kami berhasil keluar dari kegelapan itu dan aku percaya kini statis banyak hal yang mesti kami jalani dalam hidup," kata Constantinos mengenai Pantos di bilik rumah sakit sambil menggendong putrinya. 

Cristina mengakui bahwa proses tersebut bukanlah perjalanan yang mudah. Menurutnya, pengalaman menjalani prosedur tersebut terasa penuh tekanan. Namun, sokongan dari keluarga, tabib dan seluruh tim medis membantu mereka melewati beragam tantangan.

"Ini adalah pengalaman yang penuh tekanan, tetapi dengan kekuatan dari dalam diri kami, serta sokongan tabib dan seluruh timnya di sisi kami, kami berhasil melewati setiap rintangan," tuturnya. 

Kisah Bunda melahirkan dari embrio membeku selama lebih dari 22 tahun ini menjadi perhatian karena memperlihatkan perjalanan panjang sebuah embrio sejak dibuat melalui IVF hingga akhirnya digunakan untuk menghasilkan kehamilan.

Semoga informasinya menginspirasi ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
Close Right Ads
Close Left Ads