Jakarta -
Perjuangan mendapatkan Si Kecil tidak selalu punya akhir seperti yang diharapkan. Ada Bunda yang sukses dalam satu kali program, tapi ada juga yang kudu melewati perjalanan panjang, penuh harapan, air mata, dan keputusan berat.
Salah satunya kisah seorang Bunda yang memutuskan mengakhiri perjuangan program bayi tabung (IVF) setelah menjalani 24 kali pengambilan sel telur (ovum pick-up/OPU) dan 7 kali transfer embrio. Setelah bertahun-tahun mencoba, dia akhirnya memilih berakhir dan menerima perjalanan yang sudah dia lalui.
Keputusan ini tentu bukan perihal mudah. Bagi banyak pasangan, IVF bukan hanya tentang prosedur medis, tetapi juga perjalanan emosional yang panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keputusan terbaik
Park Gun dan Han Young, pasangan asal Korea membagikan kisah perjuangannya mengikuti program IVF. Ternyata Han Young telah mencoba program bayi tabung secara terus menerus selama dua tahun terakhir. Yang mengejutkan, Han Young mengungkapkan bahwa dia menjalani 24 pengambilan sel telur dan tujuh upaya transplantasi selama dua tahun.
"Saya bertambah berat badan dan kembung. Tetapi saya tidak beristirahat, saya menjalani 24 pengambilan sel telur dan beberapa transplantasi secara berturut-turut selama dua tahun. Tubuh saya betul-betul kelelahan," kata Han Young dikutip dari Chosun.
Han Young mengaku, saat ini dia belum bisa terbuka tentang prosesnya mengikuti program IVF. Ia cemas mendapatkan komentar dari banyak orang dengan komentar-komentar yang tidak dia inginkan. Han Young mengumumkan, bahwa dia sudah melakukan yang terbaik dan mencapai batasnya.
Apa itu OPU dalam program IVF?
Dalam program bayi tabung alias IVF (in vitro fertilization), OPU adalah singkatan dari ovum pick-up, ialah prosedur untuk mengambil sel telur (ovum) dari ovarium Bunda agar bisa dipertemukan dengan sperma di laboratorium.
Sederhananya, OPU adalah tahap ketika master 'memanen' sel telur yang sudah matang untuk kemudian diproses menjadi embrio.
Sebelum OPU dilakukan, Bunda biasanya bakal menjalani tahap stimulasi ovarium. Dokter memberikan obat hormon untuk membantu ovarium menghasilkan beberapa folikel (kantung berisi sel telur), lantaran dalam IVF diharapkan ada lebih dari satu sel telur yang bisa diambil.
Setelah folikel berkembang cukup matang, master melakukan prosedur OPU:
- Bunda diberikan obat bius alias sedasi agar tidak merasakan sakit selama tindakan.
- Dokter menggunakan perangkat berbentuk jarum tipis yang dipandu dengan USG transvaginal.
- Jarum tersebut masuk melalui memek menuju ovarium untuk mengambil cairan folikel yang berisi sel telur.
- Sel telur kemudian dibawa ke laboratorium untuk diperiksa dan dibuahi dengan sperma pasangan.
- Setelah pembuahan berhasil, embrio yang berkembang bisa dipindahkan kembali ke rahim melalui proses transfer embrio.
Kenapa perjalanan IVF bisa sangat panjang?
Banyak yang mengira IVF hanya soal 'mempertemukan sel telur dan sperma'. Padahal, keberhasilannya dipengaruhi banyak faktor, seperti:
- Usia dan kualitas sel telur,
- Kualitas sperma,kondisi rahim,
- Kualitas embrio,
- Respons tubuh terhadap obat stimulasi,
- Faktor genetik embrio.
Tidak semua sel telur yang diambil bakal menjadi embrio, dan tidak semua embrio bakal sukses menempel di rahim. Penelitian menunjukkan bahwa jumlah sel telur yang didapat dalam satu kali OPU memang berasosiasi dengan kesempatan mendapatkan embrio, tetapi bukan satu-satunya penentu keberhasilan. Kualitas sel telur dan embrio tetap menjadi aspek penting.
24 Kali OPU, apakah itu umum?
Setiap perjalanan IVF berbeda. Ada pasien yang menjalani beberapa siklus, sementara lainnya memerlukan lebih banyak percobaan.
OPU sendiri merupakan prosedur yang sering dilakukan dalam teknologi reproduksi berbantu (assisted reproductive technology/ART). Studi mengenai OPU menunjukkan prosedur ini menjadi bagian krusial dari IVF, tetapi hasil akhirnya tetap dipengaruhi kondisi masing-masing pasien.
Melalui perjalanan sebanyak itu, tentu ada beban bentuk dan emosional yang besar.
Mulai dari suntikan hormon, pemeriksaan rutin, menunggu hasil laboratorium, sampai menghadapi kemungkinan embrio tidak berkembang alias transfer tidak berhasil.
IVF bukan hanya perjuangan fisik, tapi juga mental
Banyak pasangan yang menjalani IVF menggambarkan proses ini seperti naik roller coaster emosi.
- Ada angan saat memandang embrio terbentuk.
- Ada rasa resah saat menunggu hasil transfer.
- Ada rasa kehilangan ketika hasil tes kehamilan tidak sesuai harapan.
Karena itu, support emosional selama menjalani IVF menjadi bagian penting. Perjalanan ini tidak hanya memerlukan kesiapan tubuh, tetapi juga kesiapan hati.
Ketika Bunda memilih berhenti
Kadang sebuah keputusan untuk berakhir adalah corak penerimaan setelah seseorang memberikan seluruh upaya terbaiknya. Perjalanan IVF seperti ini menunjukkan bahwa perjuangan menjadi Bunda dan Ayah mempunyai banyak bentuk. Ada yang berhujung dengan kehamilan, ada yang memerlukan jalan berbeda, dan ada pula yang sampai pada titik menerima bahwa perjalanan mereka sudah cukup. Setiap cerita punya waktu masing-masing.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·